Translate - Language

id Indonesian zh-CN Chinese (Simplified) nl Dutch en English tl Filipino fr French de German it Italian ja Japanese ko Korean ms Malay th Thai

Review Buku First They Killed My Father - Loung Ung

Published: Wednesday, 17 January 2018 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

 

Judul : First They Killed My Father

Penulis : Loung Ung

Jenis Buku : Novel based on true story

Penerbit : Harper Perennial

Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman :  288 halaman

Dimensi Buku :  20.32 x 13.46 x 1.52 cm

Harga : Rp. 158.000

Edisi Bahasa Inggris

National Bestseller

Now a Netflix film by Angelina Jolie

Available at Periplus Setiabudhi Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi)

 

Sekelumit Tentang Isi

Loung Ung tinggal di Phnom Penh bersama keluarganya hingga ia berusia 5 tahun. Ia gadis kecil yang ceria, penuh vitalitas hidup, mencintai kehidupan kota, dan menikmati dinamika keluarganya. Ayahnya seorang pejabat berpengaruh di pemerintahan. Ketika ibunya mulai mengkhawatirkan Loung Ung akan menjadi sumber kekacauan, ayahnya justru melihat ia sebagai gadis kecil yang cerdas.

Tahun 1975 Pasukan Pol Pot’s Khmer Rouge memasuki kota di bulan April. Loung Ung dan banyak warga memberikan semangat dan bertepuk tangan saat konvoi pasukan memasuki kota tanpa menyadari peperangan yang akan segera terjadi kemudian. Tak sampai hari berganti, keluarga Loung Ung bergegas berkemas dan mengungsi dari rumah mereka di Phnom Penh. Bersama ratusan bahkan ribuan warga kota, mereka melakukan perjalanan yang sangat melelahkan, di bawah tatapan dan hardikan tajam tentara Khmer Rough yang kejam.

Keluarga Ung berpindah dari desa ke desa untuk menyembunyikan identitas diri, strata hidup mereka, pendidikan mereka, dan status ayah Ung yang dulunya pejabat pemerintahan. Kian waktu mereka menghadapi situasi yang makin sulit, kelaparan, tidak memiliki tempat tinggal, terserang penyakit, dianiaya dan ditindas oleh pasukan Khmer Rough.

Jiwa Ung yang pemberani dan tak kenal menyerah mencoba untuk bertahan hidup di tengah deraan derita dan putus asa. Sebagai gadis yang berusia lima tahun saat tragedi itu mulai terjadi, Loung Ung sesungguhnya cuma seorang gadis kecil biasa yang masih membutuhkan perlindungan dan cinta kasih keluarganya. Tapi kemudian ayah yang sangat dicintainya dibawa pergi tentara dan tak pernah kembali. Lalu saudaranya meninggal dunia dalam penderitaan yang tak terperi, kakaknya dianiaya, bahkan ibu dan adiknya dibunuh. Loung hidup sangat menderita baik fisik maupun mentalnya.

Dengan cepat Ung menyadari pilihan hidupnya cuma bertahan atau mati, mendendam agar memiliki alasan untuk melanjutkan hidup, atau runtuh dan menyerah dalam kelaparan dan penderitaan. Satu per satu anggota keluarga Ung yang tersisa terpisah satu sama lain. Sementara Loung Ung terpilih untuk dilatih menjadi child soldier di suatu perkemahan penampungan para pekerja untuk anak yatim piatu, saudara-saudaranya dikirim untuk bekerja di perkemahan yang jauh berbeda. Kehidupan Loung di sana tidak lantas menjadi lebih baik. Ia masih selalu kelaparan hingga hampir mati karenanya. Lalu akhirnya tentara Vietnam memasuki Kamboja dan menghancurkan Khmer Rouge.

Dapatkah Loung Ung selamat dari periode pembantaian Khmer Rough? Akankah Loung Ung bertemu kembali dengan saudara-saudaranya yang masih hidup? Bagaimana akhir dari kisah ini secara keseluruhan?

Sebuah kisah nyata dari gadis kecil bernama Loung Ung yang mengajarkan tentang keberanian, pengorbanan untuk keluarga, cinta kasih yang tulus sesama saudara, harapan yang tak pernah padam dalam situasi tersulit sekalipun, serta inspirasi perjuangan hidup yang sesuangguhnya, yang terjadi di masa kejahatan perang dan pembantaian manusia yang di luar nalar, benar-benar kisah yang tak terlupakan.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

 

Jika kita memperhatikan siluet tubuh gadis di cover buku ini, seketika kita mengerti betapa masih kecilnya Loung Ung saat semua tragedi ini terjadi. Berdiri dengan wajah sedikit menunduk, bungkuk, berpakaian sederhana serba hitam, tubuh ringkihnya terlihat begitu menderita baik lahir maupun batin. Sementara di depan dan di belakang badanya ada teror yang selalu mengancam untuk mengancurkannya hingga tak bersisa. Pilihan judulnya “First They Killed My Father” seolah memberikan petunjuk pada pembaca, itulah awal mula penderitaan yang Loung Ung alami. Baginya ayahnya adalah cinta kasihnya yang paling abadi, demikian arti Ung pula bagi ayahnya.

Sedikit tak paham kenapa ada warna pink di disain cover itu. Sebagai warna kontras mungkin, atau ada arti yang lainnya, entahlah. Tepat di bagian atas disebutkan bahwa buku ini akan segera diangkat menjadi film di Netflix dan diproduseri oleh Angelina Jolie, yang mana segera menarik perhatian saya, bahwa buku ini bukan buku dengan kisah yang biasa. Rezim Pol Pots dengan tentara Khmer Rough sudah berakhir, tapi kejahatan perang, pembantai ribuan manusia, dan jejak-jejak kekejamannya tak pernah terlupakan bahkan mungkin tak akan pernah termaafkan. Dunia harus mengetahui ini semua. 

  

Tokoh dan Karakter

Tokoh utama cerita adalah gadis kecil bernama Loung Ung, yang cerdas, punya semangat dan keberanian, daya juangnya tinggi, meski dalam beberapa kesempatan ia juga memiliki kelemahan. Lagi pula siapa yang tak khilaf dalam situasi kelaparan yang mendera.

Ayah Loung (Pa), pria yang baik, berbudi, lemah lembut, berpendidikan, kuat, dan figur ayah serta suami bagi keluarganya. Hingga di akhir hayatnya pun ia terlihat tegar dan tak pernah kehilangan akal serta emosinya, cinta kasihnya bahkan masih terasa jauh setelah kepergiannya.

Ibu Loung Ung (Ma) berkepribadian lebih emosional, terbiasa dengan hidup mapan dan serba ada membuatnya tak perlu bekerja keras dalam kehidupannya. Tapi dengan segera ia bangkit menjadi seorang ibu yang penuh pengorbanan untuk anak-anaknya. Tak peduli betapa hancur badan dan jiwanya, anak-anak memerlukannya untuk bertahan hidup, untuk perlindungan, untuk kasih sayang. Ibu Loung Ung menjadi pahlawan keluarganya dengan caranya sendiri. 

Kakak beradik Ung yang berjumlah hingga 7 orang memiliki karakter yang berbeda-beda. Mulai dari Kiev, Meng, hingga si bungsu Geak yang usianya kala itu masih 3 tahun, tergambarkan dengan jelas lewat kalimat-kalimat yang dituturkan penulis di dalam bukunya. Sedangkan tokoh-tokoh lainnya seperti paman, bibi, saudara sepupu, teman, bapak ibu angkat, dan lain sebagainya, juga terdapat dalam kisah ini, memperkuat tiap bagian dalam alur cerita. 

 

Alur dan Latar

Sebagian besar kisah Loung Ung memiliki alur maju, dimulai dari kehidupan normal Loung Ung semasa kecilnya Phnom Penh hingga kehidupannya setelah perang usai. Meski demikian memang ada sedikit kilas balik di tengah-tengah cerita, yang berfungsi untuk memberikan penjelasan atau penekanan terhadap suatu cerita tertentu.

Latar cerita sebagian besar berpusat pada tempat-tempat Loung Ung hidup. Mulai dari kota Phnom Penh, rumah mereka yang besar di kota, gubug reyot di tepian hutan, situasi perkemahan penampungan, rumah sakit, dan lain-lain.

Penggambaran latar yang sangat baik menunjang cerita hingga kita bisa mengimajinasikannya tanpa kesulitan. Berikut saya kutipkan deskripsi latar rumah Loung Ung di Phnom Penh yang terhitung besar dan cukup mewah.

We have a big family, nine at all: Pa, Ma, three boys, and four girls. Fortunately, we have a big apartment that houses everyone comfortably. Our apartment is built like a train, narrow in the front with rooms extending out to the back. We have many more rooms than the other houses I've visited. The most important room in our house is the living room, where we often watch television together . It is very spacious and has an unusually high ceiling to leave room for the loft that my three brothers share as their bedroom. A small hallway leading to the kitchen splits Ma and Pa's bedroom from the room my three sisters and I share. The smell of fried  garlic and cooked rice fills our kitchen when the family takes their usual places around a mahogany table where we each have our won high-backed teak chair. From the kitchen ceiling the electric fan spins continuously, carrying these familiar aromas all around our house - even into our bathroom. We are very modern - our bathroom is equipped with amenities such as a flushing toilet, an iron bathup, and running water.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Halaman pujian di bagian awal buku dari Queen Noor segera menarik perhatian saya. Kita mengetahui bahwa jika ini benar Queen Noor of Jordan yang dimaksud, maka beliau adalah tokoh penting di dunia internasional karena perannya di bidang hak asasi umat manusia dan korban-korban perang. Pujian yang selanjutnya diberikan oleh Patrick Leahy, seorang senator di Amerika Serikat yang peduli pada hak asasi manusia dan penindasannya juga memberikan kesan yang kuat pada diri saya bahwa buku ini berisi kisah yang penting untuk disimak dalam sejarah kekelaman umat manusia beserta ambisinya yang salah kaprah.

"This is a story of the triumph of a child's indomitable spirit over the tyranny of the Khmer Rouge; over a culture where children are trained to become killing machine. Loung's subsequent campaign against land mines in a result of witnessing firsthand how her famished neighbors, after dodging soldiers bullets, risked their lives to traverse unmapped minefields in search of food. Despite the heartache, I could not put the book down until I reached the end. Meeting Loung in person merely reaffirmed my admiration for her."

-Queen Noor.

 

"In this gripping narrative Loung Ung describes the unfathomable evil that engulfed Cambodia during her childhood, the courage that enabled her family to survive, and the determination that has made her an eloquent voice for peace and justice in Cambodia. It is a tour de force strengthens our resolve to prevent and punish crimes against humanity."

- U.S. Senator PATRICK LEAHY, congressional leaders on human rights and a global ban on land mines

 

Selagi saya menduga-duga seberapa jauh buku ini akan berisi kisah nyata, karena ada juga novel (fiksi) yang diangkat dari kisah nyata, saya lalu menemukan tulisan ini di halaman selanjutnya. Sebuah catatan dari penulis yang serta merta menghilangkan keraguan saya seketika. Ini jelas sebuah kisah nyata dari awal hingga akhir.

From 1975 to 1979 - through execution, starvation, disease, and forced labor - the Khmer Rouge systematically killed an estimated two million Cambidians, almost a fourth of the country's population.

This is a story of survival: my own and my family's. Though these events constitute my experience, my story mirrors that of millions of Cambodians. If you had been living in Cambodia during this period, this would be your story too.

 

Meski belum mengenal tokoh-tokoh yang ada dalam buku, saya mencoba memperhatikan gambar pohon keluarga yang tertera di halaman selanjutnya. Kelak ketika sedang menyimak jalan cerita, sesekali ada waktu dimana saya melihat kembali gambar pohon keluarga ini dan merenungkan kehidupan yang sedang mereka jalani waktu itu.

 

Picture : Pohon Keluarga Loung Ung

 

Ada peta Kamboja membantu saya untuk lebih mengenal lokasi kejahatan perang ini terjadi.

Picture : Peta Kamboja

 

Di awal cerita, ketika kehidupan Loung Ung belum ternodai peperangan, ada beberapa adegan yang terasa hangat dan normal dalam kehidupan sehari-hari. Banyak pengetahuan tentang kultur Kamboja yang dijelaskan di dalam buku ini. Membaca buku First They Killed My Father menambah wawasan saya tentang budaya masyarakat Kamboja. Pada dasarnya mereka tak jauh berbeda dengan penduduk Indonesia. Pria berambut panjang secara kultur terlihat mencurigakan, yang rapi jali dianggap memiliki personaliti yang lebih baik. Tapi ada juga yang benar-benar unik atau baru saya ketahui, contohnya yang berkaitan dengan sedikit mitos seperti di bawah ini.

At five I also know I am a pretty child, for I have heard adults say to Ma many times how ugly I am. "Isnt she ugly?" her friends would say to her. "What black, shiny hair, look at her brown, smooth skin! That heart-shaped face makes one want to reach out and pinch those dimpled apple cheeks. Look at those full lips and her smile! Ugly!"

"Don’t thell me I am ugly," I would scream at them, and they would laugh.

That was before Ma explained to me that in Cambodia people don't outright compliment a child. They dont want to call attention to the child. It is believed that evil spirits easily get jealous when they hear a child being complimented, and they may come and take away the child to the other world.

Page 6 

Long, greasy hair is unacceptable for girls in Cambodia and is a sign that one does not take care of her appearance. Men with long hair are looked down upon and regarded with suspicion. I it believed that men who wear their hair long must have something to hide

 

Segera setelah tentara Khmer Rouge memasuki Phnom Penh, kengerian mulai mencekam. Narasi Loung Ung mewakili emosi-emosi tersebut dengan sangat baik. Salah satu keberhasilan buku ini jelas bukan cuma karena isi cerita nyatanya yang penuh tragedi, tapi juga karena telah sangat ditunjang oleh kemampuan penulisnya dalam merangkai narasinya.

"Take a little as you can! You will not need your city belonging. You will be able to return in three days! No one can stay here!The U.S. will bomb the city! Leave and stay in the country for a few days! Leave now!" The soldiers blast these messages repeatedly. I clap my hands over my ears and I hide my face against Keav's chest, feeling her arms tighten around my small body. The soldiers wave their guns above their heads and fire shots into the air to make sure we all understand their threats  are real. Aftger each round of rifle fire, people push and shove one another in a panicked frenzy trying to evacuate the city. I am riddled with fear, but I am lucky my family has a truck in which we can all ride safely away from the panicked crowds.

Page 22.

 

Tak berhenti di situ, kengerian-kengerian lainnya datang susul menyusul.

"It is worse than anyone could have imagined," the father says to the mother after returning from his village, "One couple was hiding in their dug-out bomb shelter, which is only a hole in the ground. The soldiers threw a grenade in it, killing them both. We also found many of the victims' heads, hanging by the hair in front of their door or tossed about in the streets. The Khmer Rouge soldiers surely feel these people betrayed them by staying with the Youns."

Page 198

 

Beberapa bahkan betul-betul sadis, salah satunya di peristiwa yang saya kutipkan di bawha ini, yakni ketika kebencian dan keinginan balas dendam membutakan nurani manusia.

"I know this Khmer Roughe soldier!" she screams. In her left hand she holds a nine-inch knife. It is copper brown, rusty, and dull. "He was the Khmer Rouge soldier in my village. He killed my husband and baby! I will avenge them!"

Another woman then pushes her way out of the crowd. "I also know him. He killed my children and grandchildren. Now I am alone in the world." The second woman is older, perhaps sixty or seventy. She is thin and wears black clothes. In her hand she holds a hammer, in wooden handle worn and splintered. One man takes the women aside while the others continue to speak to the audience. I am no longer listening. I am fixated on the prisoner. He looked up briefly when the two women came forth, but now he is back in position, head down, eyes to the ground.

I watch without emotion as the old woman walks slowly up to him, her hammer in hand. Above us the black clouds move with her, showing where she goes. She stands in front of him, staring at the top of his head. I want to shield my eyes from what's about to happen, but I cannot. The old woman's hands shake as she raises the hammer high above her head and brings it crashing down into the prisoner's skull. He screams a loud, shrill cry, that pierces my heart like a stake, and i imagine that this, maybe, is how Pa died. The soldier's head hangs, bobbing up and down like a chicken's. Blood gushes out of his wound, flowing down his forehead, ears, and dripping from his chin. 

Page 206

 

Situasi-situasi yang menyedihkan kental terasa di tiap bagiannya. Tak ada lagi kesenangan dan kegembiraan, kehidupan semakin menderita bagi semua korban perang di masa itu.

"Many old and sick people did not make it today," Khouy offers grimly. "I saw them on the side of the streets still in their bloody hospital robes. Some were walking and others were pushed in carts or hospital beds by their relatives."

Page 26

 

Bagian ini adalah bagian yang paling membuat saya sedih dan menghancurkan hati saya, yakni ketika perang menyebabkan penderitaan dalam kehidupan anak-anak dan bayi. Saya tak bisa menghilangkan bayang-bayang putra saya sendiri, merefleksikan tiap situasi dengan pengandaian “bagaimana jika itu putra saya yang tengah menderita dan kelaparan?”, dan “bagaimana putra saya bisa hidup dalam situasi kejam seperti itu”.

Ma puts Geak down next to me and tell me to keep an eye on her. Sitting next to her, I am struck by how pale she looks. Breathing quietly, she fights to keep her eyelids open, but in the end she loses and falls to sleep. Her growling stomach talks as mine grumbles in return. Knowing there will be nothing to eat for a while, I lie down on a small bundle of clothes next to her and rest my head on another. 

Page 32

 

atau ketika satu per satu anggota keluarga meninggal dunia akibat penganiyaan tentara Khmer Rouge. Saya bersedih untuk Loung Ung dan keluarganya.

"as long as we don't know for certain that your pa is dead, I will always have hope that he is alive somewhere," Ma declares to us the next morning. My hearth hardens at her words, knowing I cannot allow myself the luxury of hope. To hope is to let pieces of myself die. To hope is to grieve his absence and acknowledge the emptiness in my soul without him.

Page 108

 

Di dalam buku ini ada juga narasi yang berisi sejarah. Sehingga teman-teman bisa mendapatkan gambaran yang lebih global dan faktual tentang kondisi Kamboja sebelum dan setelah rezim Pol Pot beserta pasukan Khmer Roughnya menguasai negara tersebut.

Led by Prince Sihanouk, Cambodia, then a French colony, became an independent nation in 1953. Throughout the 1950s and 1960s, Cambodia prospered and was self-sufficient. However, many people were not happy with Prince Sihanouk's goverment. Many regarded the Sihanouk government as corrupt and self-serving, where the poor got poorer and the rich became richer. Various nationalistic factions sprang up to demand reforms. One of the groups, a secret Communist faction - the Khmer Rouge - launched an armed struggle against the Cambodian government.

Page 40

 

Fakta-fakta pada situasi perang mengguncangkan pikiran saya. Ketika teman dan tetangga tak dapat membantu dan seolah mencari keselamatan untuk diri mereka sendiri, lebih disebabkan karena tekanan situasi dan ketiadaan pilihan, bukan karena tidak adanya belas kasihan dan setia kawan.

"Pa, they're our friends. They wouldn’t tell on us and get us in trouble!"

"Friendship does not matter, they may not have a choice." Pa is very solemn as he speaks to me. I do not understand what he means but decide not to pursue this line of questioning.

Page 46

 

Ketika kelaparan melanda dan tidak ada bahan makanan, cara-cara mereka mencari makanan terasa berada di luar imajinasi. Tapi ini tentu nyata karena ini kisah nyata.

Weeks go by and still it rains. The rain floods the village and the water rises to Pa's waist, drowning many animals. Pa tells us the flood is why all huts are built on stilts, high off the ground. Cold and hungry, the only food we have to eat are the fish and rabbits that float by. Pa ties a fish net to a long stick to catch them as they pass by in the rushing water beside our hut.

Page 53

 

Foto-foto keluarga yang terdapat di bagian tengah buku memberikan gambaran visual yang jelas tentang keluarga Loung Ung. Beberapa episode hidupnya direkam lewat foto-foto tersebut. Apakah ada foto-foto di kamp penyiksaan atau foto korban perang? Saya tak akan cerita ya. Silakan teman-teman mencari tahu sendiri dengan membaca buku ini.

Picture : Foto Keluarga Loung Ung

 

Lalu, di halaman terakhir ada keterangan tentang penulis buku ini, lalu kesan-kesan penulis saat menyelesaikan bukunya. Ada beberapa surat yang ditujukan oleh pembaca buku untuk penulis dan sedikit sinopsi tentang buku Loung Ung yang lainnya.

Dari sudut isi, buku First Day Killed My Father telah memiliki cerita yang memang tidak biasa dan mengguncangkan hati dan pikiran banyak pembacanya. Kepedihan dan derita yang nyata dari seorang anak berusia 5 tahun beserta keluarganya di masa perang dan pembantaian penduduk Kamboja, tersampaikan dengan baik di buku ini. Dari sudut kualitas narasi, alur cerita, penokohan, serta unsur-unsur lainnya, buku First They Killed My Father juga memilikinya. Maka keberhasilan buku ini memang merupakan hasil dari kombinasi dua faktor tersebut.

Saya teringat dengan buku Diary Anne Frank yang memuat kisah nyata kehidupan Anne yang bersembunyi bersama keluarganya di sebuah lantai dua bangunan kantor di Jerman sana untuk menghindari kekejaman Nazi, ada sedikit kemiripan dengan buku ini dari sisi topik cerita. Bedanya kisah Loung Ung menjadi sangat menggugah karena pengalaman yang diceritakan adalah masa-masa penuh penindasan yang nyata terjadi di masa itu. Sedangkan di buku Anne Frank hanya sekilas disinggung masa setelah keluarga Anne Frank ditangkap, porsi cerita lebih banyak di kehidupan mereka saat bersembunyi di loteng tersebut. Pernahkan teman-teman membaca buku Diary Anne Frank?

Pada intinya dua buku ini adalah buku yang menceritakan kisah sejarah yang sebenarnya dari dua masa kejahatan perang rezim tertentu. Buku ini menjadi bernilai karena merekam kisah hidup korban yang mewakili ribuan korban lainnya yang mati maupun yang bertahan hidup. Kita belajar banyak dari sejarah, kita belajar banyak dari menyimak buku-buku seperti ini.

 

Picture : Halaman terakhir ada keterangan tentang penulis buku ini

dan kesan-kesan penulis saat menyelesaikan bukunya. 

 

 

Picture : Surat dari pembaca buku

 

 Picture : Sinopsis buku Loung Ung selanjutnya

 

Siapa Loung Ung

Loung Ung adalah aktivis hak asasi manusia yang juga seorang dosen. Ia adalah spokes person untuk program kampanye pembebasan lahan untuk dunia yang lebih damai. Ung lahir di Phnom Penh, Kamboja. Anak keenam dan tujuh bersaudara. Tanggal lahirnya tidak jelas karena Khmer Rouge menghancurkan banyak arsip penduduk saat rezim mereka berkuasa. Pada usia 10 tahun, ia melarikan diri dari Kamboja sebagai salah satu orang yang berhasil selamat dari area pembantaian rezim Pol Pot Khmer Rouge. Setelah berhasil tinggal di Amerika dan mendapatkan kewarganegaraan di sana, ia menulis dua buah buku tentang kisah nyata hidupnya dari tahun 1975 hingga 2003. Buku yang ditulisnya juga mewakili kisah-kisah kelam banyak korban perang di Kamboja.

First They Killed My Father dipublikasikan oleh HarperCollins pada tahun 2000 dan segera menjadi national bestseller dan pada tahun 2001 memenangkan penghargaan "Excellence in Adult Non-fiction Literature” dari Asian/Pasific American Librarian Association. Setelah itu buku ini diterjemahkan ke dalam 9 bahasa dan di publikasikan di 12 negara.

Buku keduanya yang berjudul Lucky Child: A Daughter of Cambodia Reunites with the Sister She Left Begind, menceritakan kehidupannya yang berlanjut setelah ia tinggal di Amerika Serikat berikut pengalaman keluarganya yang juga selamat setelah Rezim Pol Pot hancur dari tahun 1980 hingga 2003. Buku ini dipublikasikan oleh HarperCollins di tahun 2005.

Buku First They Killed My Father mendapatkan rating 4,4 di situs Amazon, dan 4,31 di Goodreads. Banyak orang tersentuh oleh kisah Loung Ung, terguncang emosinya, dan tersadarkan bahwa di luar sana umat manusia belum sepenuhnya merdeka dan selamat dari kekejaman perang.

 

Rekomendasi

Saya rekomendasikan buku ini untuk pembaca usia dewasa yang menyukai kisah nyata berlatar sejarah, yang ingin mengetahui situasi masa rezim Pol Pot dan pasukan Khmer Rough saat berkuasa dan melakukan pembantaian pada ribuan penduduk Kamboja, yang mencari bacaan yang dapat memberikan wawasan sekaligus mampu menyentuh hati dan nurani, didukung oleh kualitas unsur-unsur cerita yang baik. Loung Ung, gadis kecil berusia lima tahun, berjuang untuk selamat selama masa penganiayaan, pembantaian, dan penindasan tentara Khmer Rough berlangsung. Kisahnya tidak cuma menginspirasi tapi juga menyadarkan banyak hal pada kita tentang hak asasi manusia dan penodaannya.

 

My Rating : 5/5

 

 

0
0
0
s2sdefault

Review Buku Lincoln in The Bardo - George Saunders

Published: Tuesday, 16 January 2018 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

Judul : Lincoln in The Bardo

Penulis : George Saunders

Jenis Buku : Novel

Penerbit : Random House

Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman :  368 halaman

Harga : Rp. 140.000

Edisi Bahasa Inggris

Man Booker Prize Winner

Available at Periplus Setiabudhi Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi)

 

Sekelumit Tentang Isi

Pada bulan Februari tahun 1892 dilatarbelakangi Perang Dunia yang saat itu masih berlangsung sengit, Presiden Lincoln mengalami tragedi dalam hidupnya dengan meninggalnya satu-satunya putra yang ia sangat cintai, young Willie, yang saat itu masih berusia 11 tahun. Willie dimakamkan di pemakaman Georgetown. Segera setelah itu suratkabar melaporkan presiden Lincoln didapati datang berulangkali ke lokasi pemakaman untuk memeluk dan menimang jenazah anaknya.

Ayah yang berduka ini tak dapat melepaskan putranya pergi. Cinta dan dukanya begitu besar hingga menenggelamkan kesadarannya. Sementara itu roh Willie pun menjadi tidak bisa pergi ke alam selanjutnya.

Father promised, the boy said. How would that be, if he came back and found me gone?”

Page 106

 

Berada di antara The Bardo, yang dalam tradisi Tibet berarti suatu kehidupan transisi antara fase mati dan menuju kehidupan di alam selanjutnya, jiwa Willie menghadapi perjuangannya sendiri untuk tetap tinggal demi ayahnya atau pergi ke fase selanjutnya.

Sementara itu roh-roh yang terjebak dan memilih untuk tetap tinggal di alam sementara di pemakaman Georgetown mengamati fenomena ayah dan anak tersebut. Roger Bevins, Hans Vollan, dan Reverend Everly Thomas adalah tiga roh tertua di sana yang pada akhirnya memutuskan untuk mendorong Willie untuk segera pergi bersama malaikat ke alam selanjutnya.

If your father comes, the Reverend said, we will tell him you had to leave. Explain to him that it was for the best

  • roger bevins iii

Page 107

 

Diberitakan pula bahwa kondisi ibu Wilie, Mary Linlcoln, semakin buruk setelah putranya meninggal dunia.

Mrs. Lincoln was unable to leave her room or rise from bed for many weeks after the tragedy.

  • Sloane, op.cit.

Page 182

 

Duka ayah Willie yang membawanya datang berulangkali ke pemakaman anaknya, membuat roh-roh yang ada di sana menjadi tesadarkan, betapa sanak famili mereka sudah meninggalkan mereka dan tidak pernah berkunjung kembali menunjukkan cinta dan kasih sayang mereka seperti saat mereka masih hidup.

Sebagian roh bahkan tak sadar jika mereka sudah mati. Bagi mereka kehidupan seolah berlanjut seperti biasa, yang justru itulah yang membuat mereka menjadi semakin terjebak di dalam the Bardo. Kehadiran jiwa Willie yang masih murni, menarik mereka ke dalam suatu pemahaman baru dan memancing ingatan lama. Mereka yang akhirnya menyadari, kemudian memutuskan untuk pergi dan siap menuju alam selanjutnya.

Tentu saja iblis tak tinggal diam, ada pertempuran terjadi. Selagi malaikat turun dan membukakan jalan bagi mereka yang telah menerima kondisi kematian mereka.

Akankah Presiden Lincoln merelakan Willie pergi? Apakah keputusan Willie kemudian? Bagaiman cara Roger Bevins, Hans Vollan, dan Reveren Everly Thomas membantu Wilie untuk pergi ke alam baka? Apakah mereka juga akhirnya siap untuk pergi ke sana? Roh siapa saja kah yang akhirnya tetap tinggal di pemakaman?

Dan pada akhirnya, pertanyaan terpenting dari kisah ini adalah How do we live and love when we know that everything we love must end?”

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Disain cover buku yang dominan warna biru toska dengan ilustrasi gambar pemandangan alam terbuka yang dipenuhi cahaya membawa saya pada suatu kesan akan kehidupan baru. Mungkin itu erat kaitannya dengan kisah buku ini dimana Willie dan roh-roh lainnya sedang berada di kehidupan transisi setelah kematian dan hendak menuju alam selanjutnya tempat di mana roh-roh tenang dalam cahaya yang terang.

Buku ini mengisahkan cerita yang sangat emosional, hingga kesan di atas pun baru saya dapatkan setelah selesai membaca bukunya dan baru kemudian memperhatikan kembali disain covernya. Coba teman-teman nanti pikirkan, apakah kita punya pendapat yang sama atau berbeda? Yang pasti mau covernya seperti apapun, khusus untuk Lincoln in The Bardo, saya memang sudah tertarik dengan buku ini karena ini buku juara Man Booker Prize 2017 yang review Amazonnya luar biasa bertolak belakang satu dengan yang lainnya. Jelas ini salah satu karya yang fenomenal. 

Picture : Ilustrasi gambar pemakaman Georgetown menjadi pembuka kisah Lincoln in the Bardo

 

Tokoh dan Karakter

Tokoh-tokoh yang ada di buku bisa kita kategorikan menjadi dua, yakni yang hidup dengan yang mati. Tokoh yang masih hidup tentu saja ada Presiden Lincoln, Mary Lincoln (hanya disinggung sedikit di dalam cerita), orang-orang disekitar presiden seperti pejabat sejawat, staff, dan teman-teman yang testimoni dan kesan-kesannya dituliskan di dalam buku sebagai bagian dari saksi mata saat periode kisah ini berlangsung.

Sedangkan tokoh yang sudah mati paling tidak ada tiga yang utama, roh Roger Bevins, Hans Vollan, dan Reverend Everly Thomas. Tiga roh ini lah yang paling banyak muncul narasinya di dalam buku. Satu dengan yang lainnya saling sahut-menyahut, ribut mengomentari segala hal, hingga kepala kita agak sedikit “sakit” karena kata-kata mereka. Selain mereka bertiga, ada beberapa roh lain yang juga berbicara, tapi porsinya hanya sedikit saja.

Meskipun gaya narasi yang unik ini, terutama saat roh-roh gentayangan sedang berbicara, terasa rumit dan kadang mengacaukan alur cerita, pada akhirnya saya memutuskan George Saunders berhasil membuat tiap tokohnya memiliki karakter yang ajeg dan sama sekali tidak mengawang-awang. Bahkan asal-usul dan alasan kenapa roh-roh tersebut terjebak atau memilih tinggal di masa transisi serta hidup “gentayangan” pun dijelaskan di dalam buku.

 

Alur dan Latar

Jelas bahwa Lincoln in The Bardo memiliki alur cerita kombinasi. Kadang maju kadang mundur. Mungkin inilah salah satu penyebab beberapa pembaca merasa kurang nyaman dan kesulitan memahami sudut pandang cerita yang disuguhkan dari bab awal hingga akhir. Kita akan butuh fokus yang lebih kuat untuk dapat memahami konteks bacaan, baru kemudian bisa memetakan alur cerita dengan lebih baik, dan setelah itu barulah bacaan bisa kita mengerti dan dinikmati. Dari keunikan alur cerita saja, Lincoln in The Bardo, jelas menantang untuk pembaca yang mencari pengalaman baru dan tantangan dalam membaca. Sementara sebagian yang lain kemungkinan akan merasa sangat lelah dan kemudian memutuskan berhenti untuk membaca.

Bagian terbaik lainnya dari buku ini adalah ke-brilianan ide George Saunders dalam memadukan model narasi teater dan novel ke dalam bukunya. Berlatarbelakang sejarah perang dunia yang nyata, para arwah yang resah, serta tragedi keluarga Lincoln, George Saunder mengolah itu semua menjadi sebuah cerita yang menggugah dan menguras emosi kita.

Sebagian besar kisah berlatar White House dan Georgetown cemetery. Berbeda dengan novel-novel lainnya yang mendeskripsikan latar dari sudut pandang orang tertentu (pertama, kedua, atau ketiga), latar pada buku ini dideskripsikan oleh beberapa orang sekaligus. Kuncinya adalah menempatkan kita sebagai seseorang yang seperti sedang mendengar “orang-orang berbicara menceritakan kesannya masing-masing”, mungkin cara ini akan membantu kita untuk bisa menempatkan diri dengan benar dari sudut seorang pembaca buku.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Harus diakui saat pertama kali membaca buku ini saya merasa bingung dengan model narasinya. Mengapa? Karena tak jelas siapa yang berbicara, tahu-tahu muncul nama-nama orang yang saya bahkan tidak tahu itu siapa :D. Setelah sampai pada halaman 10 saya lalu berhenti membaca dan membuka-buka review orang-orang di situs Amazon untuk sekadar mencari arahan. Baru setelah membaca review mereka saya memiliki pijakan sendiri untuk memulai membaca lagi dari awal.

Picture : Tiba-tiba ada nama-nama yang muncul, hans vollman dan roger bevins iii,

yang saya tidak tahu itu siapa

 

Keunikan lain dari buku ini adalah bab-babnya yang menggunakan huruf Romawi. Mungkinkah ini disebabkan karena latar cerita yang terjadi di tahun 1892? Bagaimana menurut teman-teman.

Picture : Bab dengan huruf Romawi

 

Lalu, ketika membaca bagian inilah untuk pertama kalinya saya mulai menduga ini buku yang emosional, dan seiring makin banyaknya halaman yang saya baca, mau tak mau saya setuju dengan pendapat reviewer di situs Amazon serta para kritikus dan tokoh-tokoh yang memberikan testimoni untuk karya ini bahwa melalui bukunya ini, George Saunders jelas telah berhasil menghadirkan suatu kisah yang sangat menggugah pikiran dan perasaan kita dengan ide cara bercerita yang benar-benar baru.

We embraced the boy at the door of his white stome home.

  • hand vollman

He gave us a shy smile, not untouched by trepidation at what was to come.

  • the reverend every thomas

Go on, Mr. Bevins said gently. It is for the best.

  • hans vollman

Off you go, Mr. Vollman said. Nothing left for you here.

  • roger bevins iii

Goodbye then, the lad said.

Nothing scary about it, Mr. Bevins said. Perfectly natural.

  • hans vollman

Then it happened.

  • roger bevins iii

An extraordinary occurrence.

  • hans vollman

Unprecedented, really.

  • the reverend every thomas

The boy's gaze moved past us.

  • hans vollman

He seemed to catch sight of something beyond.

  • roger bevins iii

His face lit up with joy.

  • hans vollman

Father, he said.

  • the reverend everly thomas.

Page 42.

# di bagian ini, Willie sebenarnya sudah siap pergi meninggalkan the Bardo. Tiga roh yang ada sudah mendorongnya untuk pergi. Namun Willie tiba-tiba berubah pikiran. “Wajah Willie dibanjiri rasa bahagia,” kata tiga roh tersebut, yakni ketika Willie melihat ayahnya datang ke pemakamannya untuk pertama kalinya.

 

Kneeling before the box, the man looked down upon the lads

  • the reverend everly thomas

He looked down upon the lad's form in the sick-box.

  • hans vollman

Yes.

  • The reverend everly thomas

At which point, he sobbed.

  • hans vollman.

He had been sobbing all along.

  • roger bevins iii

He emitted a single, heartrending sob.

  • hans vollman.

Or gasp, I heard it as more of a gasp. A gasp of recognition.

  • the reverend everly thomas

Of recollection.

  • hans vollman

Of suddenly remembering what had been lost.

  • the reverend everly thomas

And touched the face and hair fondly.

  • hans vollman

As no doubt he had many times done when the boy was –

  • roger bevins iii

Less sick.

  • hans vollman

A gasp of recognition, as if to say: Here he is again, my child, just as he was. I have found him again, he who was so dear to me.

  • the reverend everly thomas

Who was still so dear.

  • hans vollman

Yes.

  • roger bevins iii

The lost having been quite recent.

  • the reverend everly thomas

Page 47.

# Presiden Lincoln datang, menimang Willie, mengusap rambutnya penuh cinta, raut mukanya penuh kedukaan serta rasa kehilangan yang begitu besar, hingga roh-roh yang ada merasa tercekat akan suatu perasaan yang telah lama hilang dari dalam diri mereka.

 

Kesedihan yang dinarasikan oleh banyak orang juga menguatkan emosi yang ada di dalam cerita. Ketika mereka menjadi saksi hidup periode presiden Lincoln mengalami tragedi Willie, kesan-kesan dan kesaksian yang mereka berikan terasa nyata dan membuat kisah ini menjadi lebih sedih lagi.

At about 5 o’clock this afternoon, I was lying half asleep on the sofa in my office, when his entrance aroused me. "Well, Nicolay," said he choking with emotion, "my boy is gone - he is actually gone! and bursting into tears, turned and went into his own offiice.

  • In "With Lincoln in the White House," by John G. Nicolay, edited by Michael Burlingame.

 

I assisted in washing him and dressing him, and then laid him on the bed, when Mr. Lincoln came in. I never saw a man so bowed down with grief. He came to the bed, lifted the cover from the face of his child, gazed at it long and lovingly, and earnestly, murmuring, "My poor boy, he was too good for this earth. God has called him home. I know that he is much better off in heaven, but then we loved him so. It is hard, hard so have him die!"

  • Keckley, op.cit.

Page 49

 

Great sobs choked his utterance. He buried his head in his hands, and his tall frame was convulsed with emotion. I stood at the food of the bed, my eyes full of tears, looking at the man in silent, awe-stricken wonder. His grief unnerved him, and made him a weak, passive child. I did not dream that his rugged nature could be so moved. I shall never forget those solemn moments - genius and greatness weeping over love's lost idol.

  • Keckley, op.cit.

Page 50

 

Willie anak yang baik semasa hidupnya. Tak heran jiwanya begitu murni dan kematiannya menjadi tragedi.

Wille Lincoln was the most lovable boy I ever know, bright, sensible, sweet-tempered and gentle-mannered.

  • In "Tad LIncoln's Father" by Julia Taft Rayne

He was the sort of child people imagine their children will be. before they have children

  • Randall, op.cit

 

Di dalam buku ini kadang Willie yang membawakan sendiri narasinya. Bagian ini juga terasa sangat menyentuh emosi saya. Bagaimana Wilie merasakan cinta ayahnya yang begitu besar, mendengar bisikan-bisikan ayahnya di pemakamannya, kedukaan ayahnya yang dalam atas kepergiannya.

Mouth at the worm's ear, Father said:

We have loved each other well, dear Willie, but now, for reasons we cannot understand, that bond has been broken. But out bond can never be broken. As long as I live, you will always be with me, child.

Then let out a sob

Dear Father crying. That was hard to see. And no matter how I patted & kissed & made to concole, it did no.

You were a joy, he said. Please know that. Know that you were a joy. To us. Every minute, every season, you were a - you did a good job. A good job of being pleasure to know.

Chapter XXI

 

Tak selalu kesedihan yang diceritakan di buku ini. Meski rasanya muskil, ternyata percakapan antar roh kadang-kadang terasa ada lucunya juga. Meski kita harus pandai menempatkan diri agar bisa mengerti lelucan para hantu ini.

Again pushen aside?

Because I am small?

  • abigail blass

Perhaps it is because you are so dirty.

  • roger bevins iii

I live close to the ground, sir. As I believe you –

  • abigail blass

Page 80

 

Percakapan tentang malaikat dan iblis juga menarik untuk disimak, bagaimana penampakan mereka dan peran mereka dalam kisah ini.

At one moment, the angels stepping end masse back into a ray of moonlight to impress me with their collective radiance, I glanced up and saw, spread out around the white stone home, a remarkable tableau of suffering; dozens of us, frozen in misery; cowed, prone, crawling, winging before the travails of the particularized onslaught each was under going

  • the reverend everly thomas

Page 91

 

Dan ketika klimaks terjadi, narasinya dibawahkan oleh para hantu. Menakjubkan menyimak percakapan-percakapan mereka seperti di bawah ini contohnya.

Now came the critical moment.

  • roger bevins iii

Boy and father must interact.

  • hans vollman

This interaction must enlighten the boy; must permit or encourage him to go

  • roger bevins iii

Or all was lost

  • the reverend everly thomas

Chapter LXVII

 

Father. Here I am.

What should I

If you tell me to go   I will

If you tell me stay   I will

I wait upon your advice   Sir)

I listened for Father's reply

Chapter LXXXV

 

Saya terkejut dan senang ketika di akhir halaman saya menemukan adanya tulisan khusus readers guide yang berisi Reading Group Questions and Topics for Discussion. Contohnya saya tuliskan satu di bawah ini.

The presence of a child in the bardo is rare, but what other things about Willie make him different from the other ghosts?

 

Picture : Halaman yang berisi bahan diskusi buku

 

Halaman ini membuat saya berpikir, buku Lincoln in The Bardo tidak hanya merupakan buku berkualitas tapi juga buku yang sangat berguna untuk dijadikan bahan diskusi literasi (kemungkinan besar di tingkat dewasa, misal di SMA atau perguruan tinggi).

Mengenai gaya penuturannya yang unik, pilihan bahasanya yang punya sentuhan emosional yang dalam, dan ide cara penyampaian ceritanya yang benar-benar terasa baru, saya tidak banyak berkomentar kecuali akhirnya mengakui betapa pantasnya buku ini menjadi juara Man Booker Prize 2017.

Mengulang kalimat dari buku “Origin – Dan Brown”, bahwa seni modern tidak terletak pada hasil seninya semata tapi lebih kepada kesegaran, keunikan, dan kecerdasan cara seniman tersebut dalam menciptakan karyanya. Dengan itu saya menyadari, Lincoln in The Bardo, meski bagi sebagian pembaca berpendapat buku ini berisi cerita yang tidak jelas, narasinya kacau, plotnya hancur, tapi harus diakui George Saunders menghadirkan suatu terobosan di dunia kepenulisan lewat karyanya Lincoln in The Bardo.

 

Baca juga : Review Buku Origin – Dan Brown

 

Siapa George Saunders

Berikut buku-buku yang dikarang oleh George Saunders

Fiksi

  1. CivilWarLand in Bad Decline
  2. Pastoralia
  3. The Very Persistent Gappers of Frip
  4. The Brief and Frightening Reign of Phil
  5. In Persuasion Nation
  6. Tenth of December
  7. Lincoln in the Bardo

 

Non Fiksi

  1. The Braindead Megaphone
  2. Congratulations, by the Way

 

George Saudners adalah penulis 9 buku, termasuk Tenth of December, yang menjadi finalis pada National Book Award dan memenangkan inaugural Folio Prize dan Story Prize. Dia telah menerima MacArthuir dan Guggenheim fellowships dan Malamud Prize. Pada tahun 2013 namanya disebut-sebut sebagai salah satu orang paling berpengaruh versi Time Magazine. George Saunders mengajar program creative writing di Syracuse University.

Karir kepenulisan George Saunders sangat banyak. Selain menulis buku-buku, ia juga berkontribusi dan kolom mingguan di American Physche, dan The Guardian antara tahun 2006-2008.Saunders memenangkan National Magazine Awards untuk kategori fiksi di tahun 1994, 1996, 2000, dan 2004, serta O. Henry Awards di tahun 1997. Buku CivilWarLand in Bad Decline adalah salah satu finalis PEN/Hemingway Award tahun 1996. Tahun 2006 Saunders menjadi juara World Fantasy Award untuk cerpennya yang berjudul CommComm. Banyak sekali penghargaan dan juara yang dikantongi oleh Sauders hingga rasanya terlalu banyak untuk dituliskan di sini.

Penghargaan yang dimenangkan oleh George Saunders.

Novel Lincoln in The Bardo mendapatkan rating 3,88 di Goodreads dan 3,8 di situs Amazon dengan jumlah review mencapai seribu lebih. Jelas ini karya yang fenomenal sekaligus kontroversial. Sangat dimaklumi pula rating novel ini belum mencapai 4 karena beberapa alasan yang sudah saya sebutkan sebelumnya.

 

Rekomendasi

Teman-teman, bersabarlah dalam membaca buku ini ya. Kalau sekiranya mengalami bingung dan pusing, tak apa berhenti, mungkin ini memang bukan buku yang tepat untuk dibaca. Tapi bagi yang suka tantangan, ingin membaca buku yang membutuhkan fokus tinggi, emosi yang tergali dengan baik, dengan segala keunikan yang hampir tidak terpikirkan oleh penulis manapun di dunia, maka buku Lincoln in The Bardo berada di urutan nomor satu buku-buku rekomendasi saya.

Catatan : Untuk pembaca remaja dan dewasa

My Rating : 5/5

 

0
0
0
s2sdefault

Review Buku Rumah Tanpa Jendela - Asma Nadia + GIVE AWAY

Published: Friday, 12 January 2018 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

 

Judul : Rumah Tanpa Jendela

Penulis : Asma Nadia

Jenis Buku : Novel

Penerbit : Republika

Jumlah Halaman :  221 halaman

Dimensi Buku : 13.5 cm x 20.5 cm

Harga : Rp. 57.000

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Rara ingin punya jendela di rumahnya. Jendela itu penting menurut Rara, selain jendela bisa menyehatkan orang-orang yang ada di rumah, jendela juga memiliki nilai estetika. Pokoknya Rara ingin rumahnya ada jendelanya.

Masalahnya rumah Rara sangat kecil, sangat sederhana, bahkan dinding-dindingnya ada yang menyatu dengan rumah tetangga. Di kampung tempat penampungan sampah yang juga satu lokasi dengan komplek pemakaman itu tak ada satupun warga yang bermimpi punya jendela di rumahnya. Semua sudah bersyukur memiliki tempat berteduh meski sederhana.

Sementara itu persahabatan Rara dan Aldo terjalin makin erat. Tidak semua keluarga Aldo menyukai kehadiran Rara dan teman-temannya di lingkungan mereka. Kakak Aldo, Adam, jelas menaruh hati pada ibu guru Alia. Guru cantik dan baik hati yang mengajar mereka sukarela di perkampungan tempat Rara tinggal. Sayang bu Alia katanya sudah punya calon suami.

Lalu, ibu Rara meninggal dunia, dan terjadi kebakaran di perkampungan tempat Rara tinggal. Akankah Rara tetap memimpikan jendela di rumahnya setelah orang-orang yang ia cintai meninggal dunia? Impiannya yang sederhana ternyata harus dibayar mahal dengan sesuatu yang diluar perkiraan Rara. Ini kisah Rara dan orang-orang di perkampungan yang rumahnya tanpa jendela.

Bagaimana dengan persahabatan Rara dan Aldo? Dan akankah Adam berhasil memenangkan hati Alia?

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Saya suka sekali dengan disain cover bukunya. Hurufnya, pilihan warnanya, dan disain ilustrasinya membuat cover buku ini benar-benar eye-catching menurut saya. Sepertinya pilihan disainnya memang disesuaikan dengan tokoh cerita yang masih usia kanak-kanak ya. Meski ada cerita tentang Alia dan Adam, tapi porsi cerita Rara memang jauh lebih banyak terdapat di dalam buku ini.

 

Tokoh dan Karakter

Rara, gadis kecil yang manis dan baik hati adalah figur anak sholehah idaman para orangtua. Bicaranya santun, gemar menolong, dan rajin beribadah. Memang ada satu dua sifat keras kepala khas anak-anak pada diri tokoh Rara. Tapi secara keseluruhan Rara memiliki karakter-karakter yang baik.

Bu guru Alia gadis yang pintar dan baik. Ia tentu saja berupaya untuk menyenangkan hati orang tuanya dan patuh pada mereka. Tapi ia juga tipe pejuang dan perempuan yang memiliki prinsip.

Adam, laki-laki tampan pemain band, anak orang kaya, tapi tingkah lakunya sopan. Tidak merokok dan tidak mabuk-mabukan. Ia sangat sayang pada adiknya, Aldo. Cintanya pada Alia juga tulus.

Selain tokoh-tokoh di atas ada juga tokoh ibu dan bapak Rara, Simbok, teman-teman Rara, dan lain-lain. Melalui tokoh yang jumlahnya cukup banyak ini, tiap adegan cerita dapat ternarasikan dengan baik. 

 

Alur dan Latar

Novel Rumah Tanpa Jendela beralur kombinasi. Ide cerita dan alurnya sebenarnya sederhana. Kesederhanaan ini justru membuat cerita ini jadi bisa dinikmati oleh pembaca hampir di semua kisaran usia, mulai dari dewasa hingga remaja. Bahasanya yang lugas terasa gampang dicerna. Konflik dan penyelesaiannya pun tak bikin pusing kepala. Tampaknya novel Rumah Tanpa Jendela memang tidak memfokuskan diri pada permainan alur cerita, tapi lebih kepada kedalaman nilai dan pesan moral cerita itu sendiri.

Latar novel yang banyak mengambil tempat di perkampungan penampungan sampah yang juga pemakanan, terdeskripsikan dengan baik. Rumah-rumah sementara yang terbuat dari tripleks atau kardus, toilet umum, dan suasana di sana tergambarkan dengan jelas lewat kalimat-kalimat yang dirangkai oleh Asma Nadia. Latar terimajinasikan dengan baik juga karena ditunjang banyaknya film atau sinetron yang mengangkat kehidupan masyarakat di sana. Selain latar perkampungan tempat Rara tinggal, ada juga latar rumah sakit, rumah Aldo, dan beberapa lokasi lainnya.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Bagian paling awal yang menarik perhatian saya adalah tulisan pembuka cerita. Kalimat-kalimat pembuka yang manis, khas narasi kanak-kanak, puitis, dan yang penting maknanya yang mendalam pada sisi agama memang memberikan nilai yang lebih.

"Jendela tak ubahnya sepotong cinta,

dengannya bisa kulihat

keindahan mata-Mu

dan menyelami kedalaman laut-Mu.

Dengannya aku mencandai hijaunya gunung

serta kilau pasir di pantai, dan saat lelah menyapa

tak sungkan kutitipkan mimpi pada awan putih-Mu

yang melintas senja hari."

Asma Nadia memang dikenal sebagai salah satu penulis yang tak lupa menyelipkan pesan-pesan religi di tiap karyanya.

 

Lepas dari tulisan pembuka tadi, saya kembali disuguhkan pada narasi prolog yang menyentuh, dituliskan oleh Rara, gadis kecil yang menjadi tokoh utama dalam cerita. Tampaknya Asma Nadia memang hendak mengajak pembaca larut dalam emosi bahkan dari awal cerita dibuka.

 

Konflik-konflik yang dialami tokoh-tokohnya pun dekat dalam kenyataan keseharian kita. Salah satunya konflik klasik yang dialami Alia. Sepertinya hingga kapanpun persoalan cita-cita dan jodoh memang terkadang mengalami pertentangan dengan kehendak orangtua. Topik ini juga saya temukan baru-baru ini di buku Alang - Desi Puspitasari.

Dekatnya konflik-konflik yang ada dalam cerita dengan realita kehidupan menyebabkan saya bisa memahami dengan baik seperti apa rasanya menjadi tokoh Alia, seperti apa kehidupan orang-orang di perkampungan penampungan sampah, seperti apa memiliki anggota keluarga yang berkebutuhan khusus, dan lain-lain. Kisah Rara pada dasarnya memang dapat menjadi refleksi yang baik bagi kehidupan kita.

"Dipikir? Apa yang harus Alia pikirkan lagi? Anaknya baik, orangtuanya teman dekat Abah. Kenapa harus pakai pikir-pikir? Kecuali kamu menikah dengan orang yang tidak jelas, baru dipikir! Dia juga sudah bekerja."

Dulu juga begitu.

Kenapa ngga mau jadi sekretaris? Kerja di kantor, kan bagus. Sejuk, kulit Alia ngga jadi hitam. Ngga perlu kena panas. Ah, pokoknya Abah mau kamu jadi sekretaris, pegawai kantoran. Titik!

Halaman 26

 

Kalimat-kalimat penuh perenungan yang menginspirasi dan bernilai dakwah bertaburan di sepanjang jalan cerita. Inilah salah satu unsur yang menyebabkan karya Asma Nadia sangat disukai oleh pembaca. Novelnya bukan hanya sekadar bacaan hiburan biasa, namun juga syarat dengan nilai-nilai pembelajaran.

Allah kadang mengabulkan, kadang menunda, kadang memberikan ganti yang lebih baik dari doa-doa yang dipanjatkan seseorang.

Halaman 56

 

Al Fatihah itu jembatan rindu, yang mengantarkan cinta dan semua kerinduannya kepada orang-orang tercinta di alam sana

Halaman 80

 

Pasti ada dus sisi berbeda dari setiap kejadian. Meski mungkin diperlukan waktu untuk bisa memahami sisi baik dari sebuah musibah.

Halaman 86

 

Allah mengabulkan semua doa meski tidak selalu dengan cara yang bisa dimengerti.

Halaman 105

 

Kadang nilai-nilai positif atau pesan-pesan moral tak cukup diwakilkannya lewat satu dua kalimat, tapi melalui satu adegan tertentu yang dinarasikan dengan baik.

Rara jadi malu, sebab selama ini ia tidak pernah melihat kebagusan wajah Aldo. Padahal setiap orang pasti tidka hanya memiliki kekurangan, melainkan juga kelebihan yang sayangnya begitu mudah luput dari pandangan. Seharusnya tidak boleh begitu... pikir Rara, sambil menikmati wajah tersipu-sipu Aldo yang muncl lebih sering. Pun gerak kedua tangannya.

Halaman 87

 

Ya, Rumah Tanpa Jendela jelas cerita yang emosional. Sedih, terharu, marah, ragu, adalah emosi-emosi yang datang silih berganti selama membaca buku ini. Sebagian besar emosi yang digali memang kesedihan dan kepedihan hidup Rara yang ditinggal meninggal Ibu dan orang-orang yang ia cintai.

Dia sengaja mengumpulkan kepingan-kepingan ingatan dengan Ibu, memastikan tidak ada yang tercecer. Ya, Ibu dan nasihat-nasihat panjang yang menyapanya setiap hari. Dulu, ceraamah Ibu sering menjadi jeda bagi Rara yang sudah ingin bermain dengan teman-temannya. Uniknya, setelah Ibu tak ada, Rara lebih rajin mengumpulkan percakapannya serta semua kebersamaan yang bisa diingatnya.

Sebab kenangan, hanya itu yang dia punya. Kenangan bersama perempuan yang melahirkannya.

Belakangan Ibu Alia menambahkan, Kenangan dan Al-Fatihah, Rara...

Tujuh ayat yang sejak lama dihafalnya. Ibu juga yang mengajarkan. Dan tujuh ayat itu sekarang diulangnya lebih sering.

Halaman 80.

 

Berapa kali kita harus kehilangan orang yang begitu penting dalam hidup?

Pernahkah kamu merasa kehilangan arah? Benar-benar tidak tahu ke mana harus melangkah? Seakan pintu-pintu di sekeliling tertutup rapat. Dan betapa pun kamu menangis hingga mencucurkan air mata darah, kenyataan tetap sama.

Rara tercenung. Pipi gadis cilik itu basah. Benaknya sulit menerima kejadian demi kejadian yang berlalu begitu cepat.

Halaman 113

 

Sentilan-sentilan Asma Nadia pada topik parenting dan isu-isu politik terselip di beberapa bagian cerita. Hal yang mana menunjukkan kepedulian beliau pada ketimpangan sosial, pendidikan anak dan keluarga, serta lemahnya hukum di negeri kita. Berikut saya kutipkan salah satu paragraf yang bertopikkan parenting dan anak kebutuhan khusus.

Bagi banyak orangtua, konon ada dua kekhawatiran terkait anak yang terlalu aktif bergerak. Pertama jika mendapati si anak tergolong hiperaktif, sehingga cenderung susah mengendalikan mereka.

Alih-alih mencoba menelusuri sumber keaktifan anak yang mungkin bisa memnuntun orangtua yang memiliki tipe anak demikianuntukmenggali potensi sesuai minat ananda, sayangnya lebih banyak pasangan yag tidak sabar mengikuti anaknya ke sana kemari.

Kemungkinan kedua, jika ternyata si anak terindikasi autis. Cenderung tidak fokus, asyik dengan pikiran sendiri, dan sulit beradaptasi. Maka kekhawatiran itu umumnya bertambah dengan rasa panik. padahak, rata-rata anak autis dan hiperatif mmeiliki kecerdasan luar biasa.

Halaman 127

 

Situasi keluarga yang sibuk serta adanya anggota keluarga yang memiliki kebutuhan khusus menjadi cerminan yang bagus untuk kita cermati di sini. Rasanya yang seperti ini juga terjadi kan ya di dunia nyata.  

Bagaimana Adam tahu banyak tentang hal ini? Ya, sejak dia melihat buku-buku panduan tentang autis dan hiperaktif yang dibeli Papa untuk Mama - dan seperti biasa tidak pernah dibaca perempuan itu.

Halaman 127

 

Di akhir halaman barulah saya tahu ternyata novel ini berasal dari cerpen Jendela Rara. Teman-teman sudah pernah kah membaca cerpen ini? Versi cerpen dengan novelnya sama tidak ya ceritanya? :D. Silahkan teman-teman baca sendiri untuk tahu lebih detail tentang itu :).

 

Dan rupanya ada bonus bab Epilog yang berisi tentang cerita Asma Nadia saat hendak memfilmkan buku ini bersama Aditya Gumay. 

 

 

Siapa Asma Nadia

Asma Nadia adalah seorang penulis novel dan cerpen Indonesia. Ia dikenal sebagai pendiri Forum Lingkar Pena dan manajer Asma Nadia Publishing House.

Sebuah cerpennya yang berjudul Imut dan Koran Gondrong pernah meraih juara pertama Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI) tingkat nasional yang diadakan majalah Aninda pada tahun 1994 dan 1995.

Ia pernah mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara XI di Brunei Darusalam, bengkel kerja kepenulisan novel yang diadakan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera). Dari hasil kegiatan kepenulisan Mastera, ia menghasilkan novel yang berjudul Derai Sunyi. Sebagai anggota ICMI, Asma Nadia juga pernah diundang untuk mengisi acara bengkel kerja kepenulisan yang diadakan ICMI, orsat Kairo. Kesibukannya selain sebagai penulis fiksi, ia memimpin Forum Lingkar Pena, sebuah forum kepenulisan bagi penulis muda yang anggotanya hampir ada di seluruh provinsi di Indonesia.

Sejak awal tahun 2009, ia merintis penerbitan sendiri dengan nama Asma Nadia Publishing House. Beberapa bukunya yang telah diadaptasi menjadi film adalah Emak Ingin Naik Haji, Rumah Tanpa Jendela, dan Assalamualaikum Beijing. Seluruh royalti dari buku Emak Ingin Naik Haji disumbangkannya untuk sosial dan kemanusiaan, khususnya membantu mewujudkan impian kaum Islam untuk menunaikan ibadah haji, tetapi kurang mampu. Ia juga berprofesi sebagai penulis tetap di kolom resonansi Republika setiap Sabtu.

Ia pernah menjadi satu dari 35 penulis dari 31 negara yang diundang untuk menjadi penulis tamu dalam Iowa International Writing Program, di sana ia sempat berbagi tentang Indonesia dan proses kreatifnya dalam menulis dengan pelajar dan mahasiswa serta kaum tua di Amerika Serikat. Selain memenuhi undangan membaca cerpen yang telah diterjemahkan ke bahasa Inggris, karyanya terpilih untuk ditampilkan dalam adaptasi ke pentas teater di Iowa.

Melalui Yayasan Asma Nadia, ia merintis Rumah Baca Asma Nadia yang tersebar di seluruh Indonesia, rumah baca sederhana yang beberapa di antaranya memiliki sekolah dan kelas komputer serta tempat tinggal bagi anak yatim secara gratis untuk membaca dan beraktivitas bagi anak-anak dan remaja yang kurang mampu. Saat ini, ada 140 perpustakaan yang dikelola bersama relawan untuk kaum yang kurang beruntung dan tidak mampu.

Buku-buku karya Asma Nadia:

  • Assalamualaikum, Beijing!
  • Surga yang tak dirindukan
  • Salon Kepribadian
  • Derai Sunyi, novel yang mendapat penghargaan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera)
  • Preh (A Waiting), naskah drama dua bahasa yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta 
  • Cinta Tak Pernah Menari, kumpulan cerpen yang meraih Pena Award
  • Rembulan di Mata Ibu (2001), novel yang memenangkan penghargaan Adikarya IKAPI sebagai buku remaja terbaik nasional
  • Dialog Dua Layar, novel yang memenangkan penghargaan Adikarya IKAPI, 2002
  • 101 Dating: Jo dan Kas, novel yang meraih penghargaan Adikarya IKAPI, 2005
  • Jangan Jadi Muslimah Nyebelin!, nonfiksi, best seller.
  • Emak Ingin Naik Haji: Cinta Hingga Tanah Suci
  • Jilbab Traveler
  • Muhasabah Cinta Seorang Istri
  • Catatan Hati Bunda
  • Jendela Rara telah diadaptasi menjadi film yang berjudul Rumah Tanpa Jendela 
  • Catatan Hati Seorang Istri, karya nonfiksi yang diadaptasi menjadi sinetron Catatan Hati Seorang Istri
  • Serial Aisyah Putri yang diadaptasi menjadi sinetron Aisyah Putri The Series: Jilbab In Love

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca usia remaja dan dewasa yang menyukai novel yang memiliki nilai dan pesan moral serta religi, yang ide, alur cerita, dan bahasanya sederhana serta gampang dicerna, yang kisahnya menyentuh sisi emosional kita, yang mengangkat konflik nyata ke dalam cerita, dan ada cerita romance nya sebagai pelengkap. Ini tentang sebuah impian sederhana seorang anak, impian yang ternyata harus dibayar mahal, hingga banyak hikmah kehidupan dipetik kemudian. Selalu ada akhir yang baik untuk mereka yang taat dan sabar.

My Rating : 4/5

 

GIVE AWAY

Selama periode 15 Januari hingga 18 Januari 2018, teman-teman bisa mengikuti Give Away Blogtour Novel Rumah Tanpa Jendela - Asma Nadia di sini ya. Cara mengikuti give awaynya adalah dengan menuliskan jawaban dari pertanyaan yang saya tuliskan di bawah ini di kolom komen, lalu tuliskan jawaban yang sama di kolom komen di instagram @dipidiff dan @bukurepublika di banner yang sama. Pemenang akan mendapatkan 1 eks buku Rumah Tanpa Jendela - Asma Nadia, dan diumumkan pada tanggal 19 Januari 2018 di ig @dipidiff.

Nah, ini dia pertanyaan untuk give awaynya"
"Siapa nama kakak Aldo yang pemain band dan menyukai bu guru Alia?

"Apa judul buku karya Asma Nadia yang paling kamu sukai"

 

Sudah tahu jawabannya? Tuliskan di kolom komen di bawah ini dan di kolom komen instagram @dipidiff @bukurepublika pada banner yang sama ya. :). Semoga kamu pemenangnya.

 

0
0
0
s2sdefault

Sponsored Post, Job Review, Special Request, Postingan Lomba

Review Buku First They Killed My Father …

17-01-2018 Hits:95 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : First They Killed My Father Penulis : Loung Ung Jenis Buku : Novel based on true story Penerbit : Harper Perennial Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  288 halaman Dimensi Buku :  20.32...

Read more

Review Buku Lincoln in The Bardo - Georg…

16-01-2018 Hits:101 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : Lincoln in The Bardo Penulis : George Saunders Jenis Buku : Novel Penerbit : Random House Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  368 halaman Harga : Rp. 140.000 Edisi Bahasa Inggris Man Booker Prize Winner Available at...

Read more

Review Buku Rumah Tanpa Jendela - Asma N…

12-01-2018 Hits:189 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : Rumah Tanpa Jendela Penulis : Asma Nadia Jenis Buku : Novel Penerbit : Republika Jumlah Halaman :  221 halaman Dimensi Buku : 13.5 cm x 20.5 cm Harga : Rp. 57.000     Sekelumit Tentang Isi Rara ingin...

Read more

Review Buku

Review Buku Revan & Reina - Christa …

15-01-2018 Hits:67 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Revan & Reina "Look, don't leave" Penulis : Christa Bella Jenis Buku : Novel Remaja Penerbit : Penerbit Ikon Tahun Terbit : Juni 2016 Jumlah Halaman :  halaman Dimensi Buku :  130 x 190 mm Harga...

Read more

Review Buku Para Pendosa (Truly Madly Gu…

01-01-2018 Hits:151 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Para Pendosa Judul Asli : Truly Madly Guilty Penulis : Liane Moriarty Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2017 Jumlah Halaman :  600 halaman Dimensi Buku :  13,5...

Read more

Review Buku Kisah Hidup A.J. Fikry (The …

27-12-2017 Hits:303 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Kisah Hidup A.J. Fikry Judul Asli : The Storied Life of A.J. Fikry Penulis : Gabrielle Zevin Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Cetakan Pertama 2017 Jumlah Halaman :  280 halaman Dimensi Buku :...

Read more

Cerita Dipidiff

J.CO Jatinangor Town Square : Duduk Menu…

11-10-2017 Hits:845 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Book blogger juga manusia, yang terkadang tidak ada ide menulis, hilang fokus, pikiran lelah, serta kurang nafsu makan (padahal tadi sarapan sebakul 😅). Teman-teman pernah merasakan keadaan yang seperti itu...

Read more

Giggle Box Jatinangor - Alternatif Tempa…

11-10-2017 Hits:992 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Dulu sekali, tahun lalu tepatnya, saya pernah menulis tentang J.Co di Jatos. Waktu itu saya sedang hamil moonlight dan saat berkunjung ke sana saya cukup antusias untuk datang kembali mengingat...

Read more

Sudut Buku di Transmart Carrefour Cipadu…

08-10-2017 Hits:1066 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Mungkin tidak semua orang seperti saya, yang setiap berkunjung ke mall atau supermarket pasti langsung mencari book corner. Tentu saya paling bahagia kalau di sana ada toko bukunya. Tapi jika...

Read more