Translate - Language

id Indonesian zh-CN Chinese (Simplified) nl Dutch en English tl Filipino fr French de German it Italian ja Japanese ko Korean ms Malay th Thai

Review Buku First They Killed My Father - Loung Ung

Published: Wednesday, 17 January 2018 Written by Dipi

 

Judul : First They Killed My Father

Penulis : Loung Ung

Jenis Buku : Novel based on true story

Penerbit : Harper Perennial

Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman :  288 halaman

Dimensi Buku :  20.32 x 13.46 x 1.52 cm

Harga : Rp. 158.000

Edisi Bahasa Inggris

National Bestseller

Now a Netflix film by Angelina Jolie

Available at Periplus Setiabudhi Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi)

 

Sekelumit Tentang Isi

Loung Ung tinggal di Phnom Penh bersama keluarganya hingga ia berusia 5 tahun. Ia gadis kecil yang ceria, penuh vitalitas hidup, mencintai kehidupan kota, dan menikmati dinamika keluarganya. Ayahnya seorang pejabat berpengaruh di pemerintahan. Ketika ibunya mulai mengkhawatirkan Loung Ung akan menjadi sumber kekacauan, ayahnya justru melihat ia sebagai gadis kecil yang cerdas.

Tahun 1975 Pasukan Pol Pot’s Khmer Rouge memasuki kota di bulan April. Loung Ung dan banyak warga memberikan semangat dan bertepuk tangan saat konvoi pasukan memasuki kota tanpa menyadari peperangan yang akan segera terjadi kemudian. Tak sampai hari berganti, keluarga Loung Ung bergegas berkemas dan mengungsi dari rumah mereka di Phnom Penh. Bersama ratusan bahkan ribuan warga kota, mereka melakukan perjalanan yang sangat melelahkan, di bawah tatapan dan hardikan tajam tentara Khmer Rough yang kejam.

Keluarga Ung berpindah dari desa ke desa untuk menyembunyikan identitas diri, strata hidup mereka, pendidikan mereka, dan status ayah Ung yang dulunya pejabat pemerintahan. Kian waktu mereka menghadapi situasi yang makin sulit, kelaparan, tidak memiliki tempat tinggal, terserang penyakit, dianiaya dan ditindas oleh pasukan Khmer Rough.

Jiwa Ung yang pemberani dan tak kenal menyerah mencoba untuk bertahan hidup di tengah deraan derita dan putus asa. Sebagai gadis yang berusia lima tahun saat tragedi itu mulai terjadi, Loung Ung sesungguhnya cuma seorang gadis kecil biasa yang masih membutuhkan perlindungan dan cinta kasih keluarganya. Tapi kemudian ayah yang sangat dicintainya dibawa pergi tentara dan tak pernah kembali. Lalu saudaranya meninggal dunia dalam penderitaan yang tak terperi, kakaknya dianiaya, bahkan ibu dan adiknya dibunuh. Loung hidup sangat menderita baik fisik maupun mentalnya.

Dengan cepat Ung menyadari pilihan hidupnya cuma bertahan atau mati, mendendam agar memiliki alasan untuk melanjutkan hidup, atau runtuh dan menyerah dalam kelaparan dan penderitaan. Satu per satu anggota keluarga Ung yang tersisa terpisah satu sama lain. Sementara Loung Ung terpilih untuk dilatih menjadi child soldier di suatu perkemahan penampungan para pekerja untuk anak yatim piatu, saudara-saudaranya dikirim untuk bekerja di perkemahan yang jauh berbeda. Kehidupan Loung di sana tidak lantas menjadi lebih baik. Ia masih selalu kelaparan hingga hampir mati karenanya. Lalu akhirnya tentara Vietnam memasuki Kamboja dan menghancurkan Khmer Rouge.

Dapatkah Loung Ung selamat dari periode pembantaian Khmer Rough? Akankah Loung Ung bertemu kembali dengan saudara-saudaranya yang masih hidup? Bagaimana akhir dari kisah ini secara keseluruhan?

Sebuah kisah nyata dari gadis kecil bernama Loung Ung yang mengajarkan tentang keberanian, pengorbanan untuk keluarga, cinta kasih yang tulus sesama saudara, harapan yang tak pernah padam dalam situasi tersulit sekalipun, serta inspirasi perjuangan hidup yang sesuangguhnya, yang terjadi di masa kejahatan perang dan pembantaian manusia yang di luar nalar, benar-benar kisah yang tak terlupakan.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

 

Jika kita memperhatikan siluet tubuh gadis di cover buku ini, seketika kita mengerti betapa masih kecilnya Loung Ung saat semua tragedi ini terjadi. Berdiri dengan wajah sedikit menunduk, bungkuk, berpakaian sederhana serba hitam, tubuh ringkihnya terlihat begitu menderita baik lahir maupun batin. Sementara di depan dan di belakang badanya ada teror yang selalu mengancam untuk mengancurkannya hingga tak bersisa. Pilihan judulnya “First They Killed My Father” seolah memberikan petunjuk pada pembaca, itulah awal mula penderitaan yang Loung Ung alami. Baginya ayahnya adalah cinta kasihnya yang paling abadi, demikian arti Ung pula bagi ayahnya.

Sedikit tak paham kenapa ada warna pink di disain cover itu. Sebagai warna kontras mungkin, atau ada arti yang lainnya, entahlah. Tepat di bagian atas disebutkan bahwa buku ini akan segera diangkat menjadi film di Netflix dan diproduseri oleh Angelina Jolie, yang mana segera menarik perhatian saya, bahwa buku ini bukan buku dengan kisah yang biasa. Rezim Pol Pots dengan tentara Khmer Rough sudah berakhir, tapi kejahatan perang, pembantai ribuan manusia, dan jejak-jejak kekejamannya tak pernah terlupakan bahkan mungkin tak akan pernah termaafkan. Dunia harus mengetahui ini semua. 

  

Tokoh dan Karakter

Tokoh utama cerita adalah gadis kecil bernama Loung Ung, yang cerdas, punya semangat dan keberanian, daya juangnya tinggi, meski dalam beberapa kesempatan ia juga memiliki kelemahan. Lagi pula siapa yang tak khilaf dalam situasi kelaparan yang mendera.

Ayah Loung (Pa), pria yang baik, berbudi, lemah lembut, berpendidikan, kuat, dan figur ayah serta suami bagi keluarganya. Hingga di akhir hayatnya pun ia terlihat tegar dan tak pernah kehilangan akal serta emosinya, cinta kasihnya bahkan masih terasa jauh setelah kepergiannya.

Ibu Loung Ung (Ma) berkepribadian lebih emosional, terbiasa dengan hidup mapan dan serba ada membuatnya tak perlu bekerja keras dalam kehidupannya. Tapi dengan segera ia bangkit menjadi seorang ibu yang penuh pengorbanan untuk anak-anaknya. Tak peduli betapa hancur badan dan jiwanya, anak-anak memerlukannya untuk bertahan hidup, untuk perlindungan, untuk kasih sayang. Ibu Loung Ung menjadi pahlawan keluarganya dengan caranya sendiri. 

Kakak beradik Ung yang berjumlah hingga 7 orang memiliki karakter yang berbeda-beda. Mulai dari Kiev, Meng, hingga si bungsu Geak yang usianya kala itu masih 3 tahun, tergambarkan dengan jelas lewat kalimat-kalimat yang dituturkan penulis di dalam bukunya. Sedangkan tokoh-tokoh lainnya seperti paman, bibi, saudara sepupu, teman, bapak ibu angkat, dan lain sebagainya, juga terdapat dalam kisah ini, memperkuat tiap bagian dalam alur cerita. 

 

Alur dan Latar

Sebagian besar kisah Loung Ung memiliki alur maju, dimulai dari kehidupan normal Loung Ung semasa kecilnya Phnom Penh hingga kehidupannya setelah perang usai. Meski demikian memang ada sedikit kilas balik di tengah-tengah cerita, yang berfungsi untuk memberikan penjelasan atau penekanan terhadap suatu cerita tertentu.

Latar cerita sebagian besar berpusat pada tempat-tempat Loung Ung hidup. Mulai dari kota Phnom Penh, rumah mereka yang besar di kota, gubug reyot di tepian hutan, situasi perkemahan penampungan, rumah sakit, dan lain-lain.

Penggambaran latar yang sangat baik menunjang cerita hingga kita bisa mengimajinasikannya tanpa kesulitan. Berikut saya kutipkan deskripsi latar rumah Loung Ung di Phnom Penh yang terhitung besar dan cukup mewah.

We have a big family, nine at all: Pa, Ma, three boys, and four girls. Fortunately, we have a big apartment that houses everyone comfortably. Our apartment is built like a train, narrow in the front with rooms extending out to the back. We have many more rooms than the other houses I've visited. The most important room in our house is the living room, where we often watch television together . It is very spacious and has an unusually high ceiling to leave room for the loft that my three brothers share as their bedroom. A small hallway leading to the kitchen splits Ma and Pa's bedroom from the room my three sisters and I share. The smell of fried  garlic and cooked rice fills our kitchen when the family takes their usual places around a mahogany table where we each have our won high-backed teak chair. From the kitchen ceiling the electric fan spins continuously, carrying these familiar aromas all around our house - even into our bathroom. We are very modern - our bathroom is equipped with amenities such as a flushing toilet, an iron bathup, and running water.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Halaman pujian di bagian awal buku dari Queen Noor segera menarik perhatian saya. Kita mengetahui bahwa jika ini benar Queen Noor of Jordan yang dimaksud, maka beliau adalah tokoh penting di dunia internasional karena perannya di bidang hak asasi umat manusia dan korban-korban perang. Pujian yang selanjutnya diberikan oleh Patrick Leahy, seorang senator di Amerika Serikat yang peduli pada hak asasi manusia dan penindasannya juga memberikan kesan yang kuat pada diri saya bahwa buku ini berisi kisah yang penting untuk disimak dalam sejarah kekelaman umat manusia beserta ambisinya yang salah kaprah.

"This is a story of the triumph of a child's indomitable spirit over the tyranny of the Khmer Rouge; over a culture where children are trained to become killing machine. Loung's subsequent campaign against land mines in a result of witnessing firsthand how her famished neighbors, after dodging soldiers bullets, risked their lives to traverse unmapped minefields in search of food. Despite the heartache, I could not put the book down until I reached the end. Meeting Loung in person merely reaffirmed my admiration for her."

-Queen Noor.

 

"In this gripping narrative Loung Ung describes the unfathomable evil that engulfed Cambodia during her childhood, the courage that enabled her family to survive, and the determination that has made her an eloquent voice for peace and justice in Cambodia. It is a tour de force strengthens our resolve to prevent and punish crimes against humanity."

- U.S. Senator PATRICK LEAHY, congressional leaders on human rights and a global ban on land mines

 

Selagi saya menduga-duga seberapa jauh buku ini akan berisi kisah nyata, karena ada juga novel (fiksi) yang diangkat dari kisah nyata, saya lalu menemukan tulisan ini di halaman selanjutnya. Sebuah catatan dari penulis yang serta merta menghilangkan keraguan saya seketika. Ini jelas sebuah kisah nyata dari awal hingga akhir.

From 1975 to 1979 - through execution, starvation, disease, and forced labor - the Khmer Rouge systematically killed an estimated two million Cambidians, almost a fourth of the country's population.

This is a story of survival: my own and my family's. Though these events constitute my experience, my story mirrors that of millions of Cambodians. If you had been living in Cambodia during this period, this would be your story too.

 

Meski belum mengenal tokoh-tokoh yang ada dalam buku, saya mencoba memperhatikan gambar pohon keluarga yang tertera di halaman selanjutnya. Kelak ketika sedang menyimak jalan cerita, sesekali ada waktu dimana saya melihat kembali gambar pohon keluarga ini dan merenungkan kehidupan yang sedang mereka jalani waktu itu.

 

Picture : Pohon Keluarga Loung Ung

 

Ada peta Kamboja membantu saya untuk lebih mengenal lokasi kejahatan perang ini terjadi.

Picture : Peta Kamboja

 

Di awal cerita, ketika kehidupan Loung Ung belum ternodai peperangan, ada beberapa adegan yang terasa hangat dan normal dalam kehidupan sehari-hari. Banyak pengetahuan tentang kultur Kamboja yang dijelaskan di dalam buku ini. Membaca buku First They Killed My Father menambah wawasan saya tentang budaya masyarakat Kamboja. Pada dasarnya mereka tak jauh berbeda dengan penduduk Indonesia. Pria berambut panjang secara kultur terlihat mencurigakan, yang rapi jali dianggap memiliki personaliti yang lebih baik. Tapi ada juga yang benar-benar unik atau baru saya ketahui, contohnya yang berkaitan dengan sedikit mitos seperti di bawah ini.

At five I also know I am a pretty child, for I have heard adults say to Ma many times how ugly I am. "Isnt she ugly?" her friends would say to her. "What black, shiny hair, look at her brown, smooth skin! That heart-shaped face makes one want to reach out and pinch those dimpled apple cheeks. Look at those full lips and her smile! Ugly!"

"Don’t thell me I am ugly," I would scream at them, and they would laugh.

That was before Ma explained to me that in Cambodia people don't outright compliment a child. They dont want to call attention to the child. It is believed that evil spirits easily get jealous when they hear a child being complimented, and they may come and take away the child to the other world.

Page 6 

Long, greasy hair is unacceptable for girls in Cambodia and is a sign that one does not take care of her appearance. Men with long hair are looked down upon and regarded with suspicion. I it believed that men who wear their hair long must have something to hide

 

Segera setelah tentara Khmer Rouge memasuki Phnom Penh, kengerian mulai mencekam. Narasi Loung Ung mewakili emosi-emosi tersebut dengan sangat baik. Salah satu keberhasilan buku ini jelas bukan cuma karena isi cerita nyatanya yang penuh tragedi, tapi juga karena telah sangat ditunjang oleh kemampuan penulisnya dalam merangkai narasinya.

"Take a little as you can! You will not need your city belonging. You will be able to return in three days! No one can stay here!The U.S. will bomb the city! Leave and stay in the country for a few days! Leave now!" The soldiers blast these messages repeatedly. I clap my hands over my ears and I hide my face against Keav's chest, feeling her arms tighten around my small body. The soldiers wave their guns above their heads and fire shots into the air to make sure we all understand their threats  are real. Aftger each round of rifle fire, people push and shove one another in a panicked frenzy trying to evacuate the city. I am riddled with fear, but I am lucky my family has a truck in which we can all ride safely away from the panicked crowds.

Page 22.

 

Tak berhenti di situ, kengerian-kengerian lainnya datang susul menyusul.

"It is worse than anyone could have imagined," the father says to the mother after returning from his village, "One couple was hiding in their dug-out bomb shelter, which is only a hole in the ground. The soldiers threw a grenade in it, killing them both. We also found many of the victims' heads, hanging by the hair in front of their door or tossed about in the streets. The Khmer Rouge soldiers surely feel these people betrayed them by staying with the Youns."

Page 198

 

Beberapa bahkan betul-betul sadis, salah satunya di peristiwa yang saya kutipkan di bawha ini, yakni ketika kebencian dan keinginan balas dendam membutakan nurani manusia.

"I know this Khmer Roughe soldier!" she screams. In her left hand she holds a nine-inch knife. It is copper brown, rusty, and dull. "He was the Khmer Rouge soldier in my village. He killed my husband and baby! I will avenge them!"

Another woman then pushes her way out of the crowd. "I also know him. He killed my children and grandchildren. Now I am alone in the world." The second woman is older, perhaps sixty or seventy. She is thin and wears black clothes. In her hand she holds a hammer, in wooden handle worn and splintered. One man takes the women aside while the others continue to speak to the audience. I am no longer listening. I am fixated on the prisoner. He looked up briefly when the two women came forth, but now he is back in position, head down, eyes to the ground.

I watch without emotion as the old woman walks slowly up to him, her hammer in hand. Above us the black clouds move with her, showing where she goes. She stands in front of him, staring at the top of his head. I want to shield my eyes from what's about to happen, but I cannot. The old woman's hands shake as she raises the hammer high above her head and brings it crashing down into the prisoner's skull. He screams a loud, shrill cry, that pierces my heart like a stake, and i imagine that this, maybe, is how Pa died. The soldier's head hangs, bobbing up and down like a chicken's. Blood gushes out of his wound, flowing down his forehead, ears, and dripping from his chin. 

Page 206

 

Situasi-situasi yang menyedihkan kental terasa di tiap bagiannya. Tak ada lagi kesenangan dan kegembiraan, kehidupan semakin menderita bagi semua korban perang di masa itu.

"Many old and sick people did not make it today," Khouy offers grimly. "I saw them on the side of the streets still in their bloody hospital robes. Some were walking and others were pushed in carts or hospital beds by their relatives."

Page 26

 

Bagian ini adalah bagian yang paling membuat saya sedih dan menghancurkan hati saya, yakni ketika perang menyebabkan penderitaan dalam kehidupan anak-anak dan bayi. Saya tak bisa menghilangkan bayang-bayang putra saya sendiri, merefleksikan tiap situasi dengan pengandaian “bagaimana jika itu putra saya yang tengah menderita dan kelaparan?”, dan “bagaimana putra saya bisa hidup dalam situasi kejam seperti itu”.

Ma puts Geak down next to me and tell me to keep an eye on her. Sitting next to her, I am struck by how pale she looks. Breathing quietly, she fights to keep her eyelids open, but in the end she loses and falls to sleep. Her growling stomach talks as mine grumbles in return. Knowing there will be nothing to eat for a while, I lie down on a small bundle of clothes next to her and rest my head on another. 

Page 32

 

atau ketika satu per satu anggota keluarga meninggal dunia akibat penganiyaan tentara Khmer Rouge. Saya bersedih untuk Loung Ung dan keluarganya.

"as long as we don't know for certain that your pa is dead, I will always have hope that he is alive somewhere," Ma declares to us the next morning. My hearth hardens at her words, knowing I cannot allow myself the luxury of hope. To hope is to let pieces of myself die. To hope is to grieve his absence and acknowledge the emptiness in my soul without him.

Page 108

 

Di dalam buku ini ada juga narasi yang berisi sejarah. Sehingga teman-teman bisa mendapatkan gambaran yang lebih global dan faktual tentang kondisi Kamboja sebelum dan setelah rezim Pol Pot beserta pasukan Khmer Roughnya menguasai negara tersebut.

Led by Prince Sihanouk, Cambodia, then a French colony, became an independent nation in 1953. Throughout the 1950s and 1960s, Cambodia prospered and was self-sufficient. However, many people were not happy with Prince Sihanouk's goverment. Many regarded the Sihanouk government as corrupt and self-serving, where the poor got poorer and the rich became richer. Various nationalistic factions sprang up to demand reforms. One of the groups, a secret Communist faction - the Khmer Rouge - launched an armed struggle against the Cambodian government.

Page 40

 

Fakta-fakta pada situasi perang mengguncangkan pikiran saya. Ketika teman dan tetangga tak dapat membantu dan seolah mencari keselamatan untuk diri mereka sendiri, lebih disebabkan karena tekanan situasi dan ketiadaan pilihan, bukan karena tidak adanya belas kasihan dan setia kawan.

"Pa, they're our friends. They wouldn’t tell on us and get us in trouble!"

"Friendship does not matter, they may not have a choice." Pa is very solemn as he speaks to me. I do not understand what he means but decide not to pursue this line of questioning.

Page 46

 

Ketika kelaparan melanda dan tidak ada bahan makanan, cara-cara mereka mencari makanan terasa berada di luar imajinasi. Tapi ini tentu nyata karena ini kisah nyata.

Weeks go by and still it rains. The rain floods the village and the water rises to Pa's waist, drowning many animals. Pa tells us the flood is why all huts are built on stilts, high off the ground. Cold and hungry, the only food we have to eat are the fish and rabbits that float by. Pa ties a fish net to a long stick to catch them as they pass by in the rushing water beside our hut.

Page 53

 

Foto-foto keluarga yang terdapat di bagian tengah buku memberikan gambaran visual yang jelas tentang keluarga Loung Ung. Beberapa episode hidupnya direkam lewat foto-foto tersebut. Apakah ada foto-foto di kamp penyiksaan atau foto korban perang? Saya tak akan cerita ya. Silakan teman-teman mencari tahu sendiri dengan membaca buku ini.

Picture : Foto Keluarga Loung Ung

 

Lalu, di halaman terakhir ada keterangan tentang penulis buku ini, lalu kesan-kesan penulis saat menyelesaikan bukunya. Ada beberapa surat yang ditujukan oleh pembaca buku untuk penulis dan sedikit sinopsi tentang buku Loung Ung yang lainnya.

Dari sudut isi, buku First Day Killed My Father telah memiliki cerita yang memang tidak biasa dan mengguncangkan hati dan pikiran banyak pembacanya. Kepedihan dan derita yang nyata dari seorang anak berusia 5 tahun beserta keluarganya di masa perang dan pembantaian penduduk Kamboja, tersampaikan dengan baik di buku ini. Dari sudut kualitas narasi, alur cerita, penokohan, serta unsur-unsur lainnya, buku First They Killed My Father juga memilikinya. Maka keberhasilan buku ini memang merupakan hasil dari kombinasi dua faktor tersebut.

Saya teringat dengan buku Diary Anne Frank yang memuat kisah nyata kehidupan Anne yang bersembunyi bersama keluarganya di sebuah lantai dua bangunan kantor di Jerman sana untuk menghindari kekejaman Nazi, ada sedikit kemiripan dengan buku ini dari sisi topik cerita. Bedanya kisah Loung Ung menjadi sangat menggugah karena pengalaman yang diceritakan adalah masa-masa penuh penindasan yang nyata terjadi di masa itu. Sedangkan di buku Anne Frank hanya sekilas disinggung masa setelah keluarga Anne Frank ditangkap, porsi cerita lebih banyak di kehidupan mereka saat bersembunyi di loteng tersebut. Pernahkan teman-teman membaca buku Diary Anne Frank?

Pada intinya dua buku ini adalah buku yang menceritakan kisah sejarah yang sebenarnya dari dua masa kejahatan perang rezim tertentu. Buku ini menjadi bernilai karena merekam kisah hidup korban yang mewakili ribuan korban lainnya yang mati maupun yang bertahan hidup. Kita belajar banyak dari sejarah, kita belajar banyak dari menyimak buku-buku seperti ini.

 

Picture : Halaman terakhir ada keterangan tentang penulis buku ini

dan kesan-kesan penulis saat menyelesaikan bukunya. 

 

 

Picture : Surat dari pembaca buku

 

 Picture : Sinopsis buku Loung Ung selanjutnya

 

Siapa Loung Ung

Loung Ung adalah aktivis hak asasi manusia yang juga seorang dosen. Ia adalah spokes person untuk program kampanye pembebasan lahan untuk dunia yang lebih damai. Ung lahir di Phnom Penh, Kamboja. Anak keenam dan tujuh bersaudara. Tanggal lahirnya tidak jelas karena Khmer Rouge menghancurkan banyak arsip penduduk saat rezim mereka berkuasa. Pada usia 10 tahun, ia melarikan diri dari Kamboja sebagai salah satu orang yang berhasil selamat dari area pembantaian rezim Pol Pot Khmer Rouge. Setelah berhasil tinggal di Amerika dan mendapatkan kewarganegaraan di sana, ia menulis dua buah buku tentang kisah nyata hidupnya dari tahun 1975 hingga 2003. Buku yang ditulisnya juga mewakili kisah-kisah kelam banyak korban perang di Kamboja.

First They Killed My Father dipublikasikan oleh HarperCollins pada tahun 2000 dan segera menjadi national bestseller dan pada tahun 2001 memenangkan penghargaan "Excellence in Adult Non-fiction Literature” dari Asian/Pasific American Librarian Association. Setelah itu buku ini diterjemahkan ke dalam 9 bahasa dan di publikasikan di 12 negara.

Buku keduanya yang berjudul Lucky Child: A Daughter of Cambodia Reunites with the Sister She Left Begind, menceritakan kehidupannya yang berlanjut setelah ia tinggal di Amerika Serikat berikut pengalaman keluarganya yang juga selamat setelah Rezim Pol Pot hancur dari tahun 1980 hingga 2003. Buku ini dipublikasikan oleh HarperCollins di tahun 2005.

Buku First They Killed My Father mendapatkan rating 4,4 di situs Amazon, dan 4,31 di Goodreads. Banyak orang tersentuh oleh kisah Loung Ung, terguncang emosinya, dan tersadarkan bahwa di luar sana umat manusia belum sepenuhnya merdeka dan selamat dari kekejaman perang.

 

Rekomendasi

Saya rekomendasikan buku ini untuk pembaca usia dewasa yang menyukai kisah nyata berlatar sejarah, yang ingin mengetahui situasi masa rezim Pol Pot dan pasukan Khmer Rough saat berkuasa dan melakukan pembantaian pada ribuan penduduk Kamboja, yang mencari bacaan yang dapat memberikan wawasan sekaligus mampu menyentuh hati dan nurani, didukung oleh kualitas unsur-unsur cerita yang baik. Loung Ung, gadis kecil berusia lima tahun, berjuang untuk selamat selama masa penganiayaan, pembantaian, dan penindasan tentara Khmer Rough berlangsung. Kisahnya tidak cuma menginspirasi tapi juga menyadarkan banyak hal pada kita tentang hak asasi manusia dan penodaannya.

 

My Rating : 5/5

 

 

0
0
0
s2sdefault

Comments   

0 #3 Nathalia DP 2018-01-22 08:04
Wow 5/5... Jd tertarik baca jg

REPLY
Yup :). Selamat membaca
Quote
0 #2 Ezar ikhsan 2018-01-22 06:57
Review yang sangat bagus saya seperti membaca langsung dari novelnya. Jarang-jarang nih ada yg review buku dari luar negri tanpa terjemahan. Mungkin saran saya penjelasan jalan ceritanya jangan terlalu detail supaya pembaca lebih penasaran akan novelnya sendiri utu aja sih. Tapi overall bagus banget cara reviewnya

REPLY
Terimakasih banyak :)
Quote
0 #1 Zakia Maharani 2018-01-20 16:45
:D review nya deep banget ya kak, saya juga berasa ngeri dengan part peperangan dan pembunuhan dalam novel itu.

Btw saya belum pernah baca novel import yg kelar dibaca sampe akhir. Wkwkwkwk kadang2 terjemahannya agak gajelas sih, kak.

Oiya, boleh minta request untuk satu post khusus yg memberikan tips beli buku import ngga kak? Heehehe saya sering bingung memilih buku import

REPLY
Makasih adik. Nanti aku buatkan postingan tips beli buku import nya ya :). Semoga bisa jadi tulisan yang bermanfaat
Quote

Add comment


Security code
Refresh

Sponsored Post, Job Review, Special Request, Postingan Lomba

Review Buku Finding Audrey - Sophie Kins…

31-01-2018 Hits:323 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : Finding Audrey Penulis : Sophie Kinsella Jenis Buku : Novel Remaja (Young Adult) Penerbit : Ember Tahun Terbit : 2015 Jumlah Halaman :  304 halaman Dimensi Buku :  20.83 x 13.97 x 1.52 cm Harga...

Read more

Meraih Kebahagiaan Sejati dengan Jalani …

24-01-2018 Hits:506 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : Jalani Nikmati Syukuri Penulis : Dwi Suwiknyo Jenis Buku : Non Fiksi (Agama dan Spiritual) Penerbit : Noktah (DIVA Press) Tahun Terbit : Cetakan pertama, 2018 Jumlah Halaman :  260 halaman Dimensi Buku : ...

Read more

Review Buku Lincoln in The Bardo - Georg…

16-01-2018 Hits:414 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : Lincoln in The Bardo Penulis : George Saunders Jenis Buku : Novel Penerbit : Random House Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  368 halaman Harga : Rp. 140.000 Edisi Bahasa Inggris Man Booker Prize Winner Available at...

Read more

Review Buku

Review Buku Revan & Reina - Christa …

15-01-2018 Hits:540 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Revan & Reina "Look, don't leave" Penulis : Christa Bella Jenis Buku : Novel Remaja Penerbit : Penerbit Ikon Tahun Terbit : Juni 2016 Jumlah Halaman :  halaman Dimensi Buku :  130 x 190 mm Harga...

Read more

Review Buku Para Pendosa (Truly Madly Gu…

01-01-2018 Hits:448 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Para Pendosa Judul Asli : Truly Madly Guilty Penulis : Liane Moriarty Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2017 Jumlah Halaman :  600 halaman Dimensi Buku :  13,5...

Read more

Review Buku Kisah Hidup A.J. Fikry (The …

27-12-2017 Hits:601 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Kisah Hidup A.J. Fikry Judul Asli : The Storied Life of A.J. Fikry Penulis : Gabrielle Zevin Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Cetakan Pertama 2017 Jumlah Halaman :  280 halaman Dimensi Buku :...

Read more

Cerita Dipidiff

Yuk Yoga dan ngeGym biar "Kencang…

02-02-2018 Hits:232 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Upppsss... apanya ya yang kencang ya? Hahaha. Yah apalagi kalo bukan otot, kulit, lingkar perut, lingkar pinggul, dan bagian-bagian lain yang rentan menggelambir. Maklum lah, habis lahiran wanita pada umumnya...

Read more

Suatu Siang di Wendy's bersama Sahabat

29-01-2018 Hits:261 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Saya masih teringat pada satu lirik lagu yang nge-hits sekali di jamannya, yakni "persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu." Lirik ini banyak disetujui orang-orang karena kebenarannya, dan saya akui...

Read more

J.CO Jatinangor Town Square : Duduk Menu…

11-10-2017 Hits:1143 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Book blogger juga manusia, yang terkadang tidak ada ide menulis, hilang fokus, pikiran lelah, serta kurang nafsu makan (padahal tadi sarapan sebakul 😅). Teman-teman pernah merasakan keadaan yang seperti itu...

Read more