Translate - Language

id Indonesian zh-CN Chinese (Simplified) nl Dutch en English tl Filipino fr French de German it Italian ja Japanese ko Korean ms Malay th Thai
0
0
0
s2sdefault

 

 

Judul : Something in Between

Penulis : Melissa de la Cruz

Jenis Buku : Novel

Penerbit : Harlequin Teen

Tahun Terbit : 2016

Jumlah Halaman : 432 halaman

Dimensi Buku : 20.07 x 13.21 x 3.05 CM

Harga : Rp.139.000

Edisi Bahasa Inggris

#1 New York Times Bestselling Author

 

Buku ini tersedia di Periplus Setiabudhi Bandung Bookstore

 

We experience certain things that change us for a reason. It's not what happens to us that matters.

What matters is how we react to it

 

Sekelumit Tentang Isi

Jasmine sangat percaya diri pada masa depannya. Tentu saja itu karena ia sudah berusaha keras, belajar, dan mengukir prestasi. Menjadi nomor satu penting artinya dalam hidup Jasmine, karena ayahnya mengajarkan bahwa sebagai warga negara imigran, ia harus bekerja lebih keras dari orang lain jika ingin menggapai kesuksesan. Berkat itu lah Jasmine terpilih menjadi salah satu dari sedikit siswa yang memperoleh beasiswa unggulan ke universitas, namun sayangnya justru ketika itulah Jasmine tahu bahwa statusnya sebagai imigran ternyata ilegal. Beasiswa yang ia impikan, masa depan yang ia cita-citakan kali ini mungkin tidak dapat ia raih.

Dalam suatu kesempatan ketika mengunjungi ibunya yang sedang bekerja di rumah sakit, Jasmine bertemu dengan Royce, anak dari birokrat tingkat atas. Mereka saling jatuh cinta satu sama lain, tapi situasi menjadi cukup sulit karena ayah Royce adalah orang yang justru menentang keberadaan imigran gelap. Setidaknya itulah yang disuarakan partai yang diwakili oleh ayah Royce.

Bagaimana cara Jasmine untuk mewujudkan cita-citanya melanjutkan sekolah ke universitas? Apakah ia dan keluarganya bisa menjadi warga negara Amerika atau akhirnya dideportasi ke Filipina? Bagaimana nasib kisah cinta Jasmine dan Royce? Mungkinkah ada keajaiban datang menghampiri kehidupan Jasmine kali ini?

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

Saya tak pernah menyangka kalau buku Something in Between berada di bawah payung Harlequeen, brand buku yang saya kenal berkutat di topik-topik romance. Ketidaksangkaan saya tentu saja disebabkan karena cover buku yang bernuansa gelap dan tidak ada unsur percintaannya sama sekali. Saya sempat bingung dengan pemilihan cover ini, hingga ketika terbaca oleh saya adegan di dalam buku dimana Jasmine dan Royce yang sedang memandangi langit di malam hari, dalam suasana yang romantis, oh ya, itu dia sebabnya covernya jadi berdisain seperti itu.

Lagipula isi buku memang bercerita tentang harapan, perjuangan hidup, dan keajaiban. Cahaya indah yang tampak di langit pada malam yang gelap gulita tampaknya sesuai dengan situasi alur cerita. Masalah suka atau tidak tentu kembali pada selera pembaca, saya kebetulan lebih suka kalau disain cover buku ini lebih bernuansa sedikit gembira.

 

Tokoh dan Karakter

Jasmine sebagai tokoh utama adalah gadis baru lulus SMA yang hendak melanjutkan kuliah. Dia seorang gadis yang cerdas, berprestasi, cantik, baik hati, dan hampir tanpa cela. Untungnya dalam beberapa plot, Melissa memunculkan Jasmine sebagai pribadi yang juga memiliki kelemahan, jika tidak saya pasti merasa tokoh ini absurd sebab tentu tidak ada manusia nyata yang sempurna.

Royce adalah anak orang kaya, yang tampan, baik hati, dan introvert, yang ketika jatuh cinta pada Jasmine, ia menjadi pribadi  sangat menarik. Ibu dan ayah Jasmine adalah pekerja keras yang sangat mencintai keluarga dan berusaha mempertahankan sebisa mungkin budaya Filipina mereka. Lalu ada juga Kayla, sahabat terdekat Jasmine, yang cantik dan setia pada Jasmine. Orangtua Kayla bercerai sehingga ia sempat mengalami patah semangat dan kehilangan arah. Kemudian ada Millie, seorang ibu tua yang selalu baik kepada Jasmine. Jasmine bertemu Millie saat melakukan wawancara di rumah sakit tempat ibunya bekerja untuk sebuah project sekolahnya.

Selain tokoh-tokoh mayor tersebut, terdapat cukup banyak tokoh minor, seperti sahabat-sahabat Jasmine, orang tua Royce, pelatih cheerleaders, dan lain-lain.

 

Alur dan Latar

Di buku ini teman-teman akan menemukan beberapa latar yang cukup menarik, misalnya latar kota New York, lalu suasana pertemuan para undangan khusus dengan Presiden Amerika Serikat (terasa cukup nyata 😁), dan oval office 😘. Penggambaran Melissa cukup baik sehingga kita tidak kesulitan untuk mengimajinasikannya. Alur cerita cukup rapih dan proporsional bagai jalanan yang landai. Konflik cerita tidak menguras energi, kisah percintaannya cukup manis tapi tidak cukup membuat saya menjadi berdebar-debar. Secara keseluruhan buku ini tidak ringan dan juga tidak berat. Teman-teman mencari buku yang ide cerita, alur dan konfliknya "sedang-sedang" saja? Mungkin cocok dengan buku ini.

 

Jika saya pernah menyebutkan buku To All The Boys I've Loved Before - Jenny Han sebagai buku percintaan remaja yang ringan dan menghibur, maka Something in Between juga masih terkategori sama dengan buku tersebut. Hanya ide cerita cinta Something in Between memang tidak seseru To All The Boys I've Loved Before. Di satu sisi, topik Something in Between lebih berisi dibandingkan To All The Boys I've Loved Before yang hanya berkutat pada topik percintaan. Something in Between mengangkat topik diskriminasi ras.

 

Karena topik itulah saya juga jadi teringat dengan buku Small Great Things - Jodi Picoult yang saya baca beberapa bulan lalu. Small Great Things juga membahas topik diskriminasi ras. Jika ditimbang dari sudut kedalaman topik diskriminasi ras ini, tampak Small Great Things lebih menyentuh dan mendetail dibandingkan Something in Between.

 

Lalu ada buku The Hate U Give yang dikarang oleh Angie Thomas yang juga mengangkat topik diskriminasi ras dengan tokoh utama gadis remaja yang dibumbui kisah percintaan. Nah, yang ini sepertinya lebih menyerupai Something in Between. Bedanya hanya di jenis ras yang dimunculkan. The Hate U Give berbicara tentang ras kulit hitam dan putih, sedangkan Something in Between berisi konflik diskriminasi ras Filipina di negara Amerika Serikat (imigran ilegal). Jika ditanya mana buku yang saya lebih sukai, The Hate U Give atau Something in Between, maka saya akan menjawab keduanya sama saya suka, dan sama berada di kategori "sedang". Mungkin ini disebabkan karena saya tipikal pembaca yang menyukai konflik yang lebih rumit dan detail dengan alur yang lebih banyak kejutannya, sehingga Small Great Things tampak lebih menonjol dibandingkan kedua buku tadi. Teman-teman mungkin akan berpendapat berbeda, karena ini akan kembali pada selera membaca kita 😊.


Baca juga : "Review Buku Small Great Things - Jodi Picoult"

Baca juga : "Review Buku The Hate U Give - Angie Thomas"

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Picture : Quotes di bawah tiap bab

 

Tampaknya memang demikian gaya buku Something in Between. Tiap babnya selalu ada quotes yang disertakan. Saya pernah juga mendapati hal yang sama di buku penulis lain. Tapi tetap saja hal ini saya catat sebagai salah satu keunikan yang terdapat pada buku Something in Between 😊.


Picture : Bab Questions for Discussion

 

Ini adalah hal yang baru yang pertama kali saya temukan di dalam sebuah buku. Bab Questions for Discussion 😁. Menarik ya 😘. Terbayang oleh saya, para pembaca buku Something in Between bisa memanfaatkan bab ini untuk diskusi di klub buku atau menjadikannya topik bahasan dimana pun dan kapan pun kita mau. Tampaknya Melissa memang berusaha menjadikan bukunya memiliki keunikan dan manfaat yang nyata untuk para pembacanya. I like it 😘.


Kisah Jasmine di buku Something in Between memang memiliki topik yang sensitif. Diskriminasi ras rasanya memang selalu jadi topik yang menarik perhatian publik. Selain itu disinggung juga topik perceraian dan seks remaja. Karena topiknya yang sarat tentang kehidupan serta perjuangan, maka banyak percakapan dan kalimat-kalimat dalam buku yang menyadarkan saya akan satu dua hal yang nyata dalam kehidupan sesungguhnya. Salah satunya tentang perceraian.

No matter how old you are, your  parents getting divorced is still every kid's nightmare.

Halaman 22

 

Nasihat ayah Jasmine juga membuat saya berpikir lebih dalam tentang imigran dan diskriminasinya. Benarkah seberat itu?

I'm an immigrant in this country. My dad always told me we have to work twice as hard as anyone else just to get to the same place, which is why I work four times as hard-because I want to succeed.

Halaman 23

 

Beberapa percakapan dalam buku Something in Between juga membawa kesedihan tertentu dalam hati saya, mengingat betapa benarnya kalimat yang disebutkan itu dalam kehidupan yang sebenarnya.

There's something about remembering that just isn't the same as the real thing. No matter how happy it makes you feel. When you remember something, you have to recognize that the moment will never happen again."

Halaman 67

 

Tapi untunglah kisah percintaan Jasmine dan Royce cukup menghibur. Melissa pandai menggambarkan suasana hati dan peristiwa sehingga terasa nyata dan membuat pembaca larut dalam cerita.

He smiles, and when his cheek flush, he looks even more handsome. It's almost painful. My stomach is doing that thing again, and for a moment we're just standing there, smiling at each other, as if we're the only two people in the room. Everything else recedes and goes out of focus. There's only him and my beating heart.

Halaman 105

 

Di balik kisah yang disuguhkan, terdapat cukup banyak perspektif dan pesan positif yang bisa diambil. Salah satunya tentang makna kesuksesan,

For the longest time I thought of success as something that means financial value and social status. Something that I needed to earn for myself and for my family. But here was someone who had chosen another path. Albeit, a prestigious one, but far less lucrative.

Halaman 107

tentang percaya diri dan perjuangan hidup,

The law - as it is now anyway - may prevent you from doing certain things you want to do. But don't ever let an accident of birth keep you from what you want to do with your life.

Halaman 137

tentang keyakinan,

There is no greater importance in all the world like knowing you are right and that the wave of the world is wrong, yet the wave crashes upon you.

Halaman 172

serta harapan dan doa.

Sometimes in the darkest times, a little light shines through."

Halaman 345

 

Kalimat yang satu ini bahkan saya jadikan quotes favorit kategori cinta 😊.

"You don't have to deserve love, "I say to Kayla. "You just get it."

Halaman 350

 

Dan saya kutip kalimat ini sebagai penutup yang sesuai untuk menggambarkan sebuah kesimpulan yang saya ambil dari buku Something in Between.

We experience certain things that change us for a reason. It's not what happens to us that matters. What matters is how we react to it.

Halaman 368

  

Siapa Melissa de la Cruz

Author Note - adalah Bab yang berada di bagian akhir buku yang ternyata merupakan catatan khusus Melissa de la Cruz sebagai penulis terhadap kisah dalam buku Something in Between. Dari situ saya jadi mengetahui ternyata buku Something in Between ditulis berdasarkan kisah hidup Melissa sendiri. Nama tokoh dan beberapa peristiwa tentu tidak sama persis, namun Melissa dengan jelas menyebutkan bahwa emosi, ambisi, maupun konflik yang dialami Jasmine diangkat berdasarkan memori masa SMA nya. Bahkan seperti kisah Jasmine, Melissa juga jatuh cinta pada seorang pria warga negara Amerika Serikat :). Melalui buku ini Melissa berharap pembaca mendapatkan pencerahan dan inspirasi dalam hidup dengan menyimak kisah hidup Jasmine dan ribuan imigran lainnya yang berjuang untuk menjadi warga negara yang diakui.

Meskipun secara penuturan dan alur, Something in Between tampak tidak memiliki keistimewaan tertentu, setelah membaca bab Author Note ini saya merasa tersentuh dengan niat dan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Lagipula, siapa sih yang tidak "menghormati" sebuah buku yang diangkat atau disadur dari kisah nyata penuh perjuangan seperti ini (?)

Melissa de la Cruz adalah #1 New York Times, #1 Publishers Weekly, dan #1 IndieBound Bestselling Author. Bukunya juga berada di TOP list USA TODAY, Wall Street Journal dan Long Angeles Times bestseller. Buku-bukunya telah diterbitkan di lebih dari dua puluh negara. Pengalaman menulis Melissa sebelumnya memang sudah mumpuni, ia menulis di beberapa surat kabar dan majalah, antara lain New York Times, Marie Claire, Glamour, Cosmopolitan, dan lain-lain. Penulis Filipina-Amerika ini telah menulis beberapa novel seri, diantaranya adalah Au Pair series, dan Blue Bloods. Selain itu ia juga telah menulis beberapa novel solo selain Something in Between.

Beberapa novel solo yang ia tulis adalah :

  • Cat's Meow (2001)
  • How to Become Famous in Two Weeks or Less (co-author) (2003)
  • The Fashionista Files: Adventures in Four-Inch Heels and Faux Pas (2004)
  • Fresh off the Boat (2005)
  • Angels on Sunset Boulevard (2007)
  • Girl Stays in the Picture (2009)
  • Wolf Pact (2012)
  • Surviving High School: A Novel (2016)
  • Something In Between (2016)
  • Alex & Eliza: A Love Story (2017)

 

Rating Goodreads untuk buku Something in Between cukup baik, dengan skor 3,7 dan bintang yang hampir mencapai 4 penuh.

 

Rekomendasi

Saya rekomendasikan buku ini untuk pembaca usia dewasa yang menyukai novel yang diangkat atau disadur dari kisah nyata, bertemakan diskriminasi ras, perjuangan mewujudkan cita-cita, percintaan remaja, dengan alur dan konflik yang ringan dan tidak menguras energi. Ada pesan moral tentang keluarga, persahabatan, dan cinta di dalamnya. Bab akhir berupa Questions for Discussion sangat memudahkan pembaca jika ingin menggunakan buku ini untuk topik diskusi dalam klub buku atau pada kesempatan-kesempatan lainnya. 


Catatan : Konten seksual dengan narasi - emosi dan topik perceraian. 

 

0
0
0
s2sdefault
Published: Monday, 02 October 2017 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

 

Bulan September lalu kebetulan saya mendapatkan kesempatan yang langka untuk bisa membaca buku yang sama namun dengan edisi yang berbeda. Bukunya tidak lain adalah buku To All The Boys I've Loved Before karangan Jenny Han, yang edisi terjemahannya saya dapatkan dari Penerbit Spring dan edisi bahasa Inggrisnya saya dapatkan dari salah seorang teman. Selagi membaca kedua buku tersebut, saya menemukan beberapa hal yang menarik. Ternyata begitu ya perbedaan dan persamaan di antara buku yang asli dengan buku terjemahan. Makanya akhirnya saya memutuskan untuk membuat tulisan khusus yang membahas hal tersebut.

 

Yuk kita coba diskusikan satu per satu.

Disain Cover

 

Seperti yang bisa teman-teman lihat bahwa cover buku terjemahan ternyata sama dengan cover buku edisi bahasa Inggris. yang membedakan cuma di bagian tulisan penulis buku.  Pada buku terjemahan terdapat tambahan keterangan Book #1 yang menyebabkan saya tahu bahwa buku ini berseri, dan biasanya trilogi. Sebaliknya di buku aslinya tak ada keterangan tersebut, yang ada justru keterangan New York Times Bestseller.

Kelemahannya menurut saya sih, sebagai pembaca saya tidak tahu bahwa buku ini berseri, meski memang To All The Boys I've Loved Before bisa dibaca dan dinikmati terpisah tanpa perlu harus melanjutkan ke buku lanjutannya. Kelebihannya, saya langsung paham dan terpikat karena buku-buku dengan label New York Times Bestseller jarang yang jelek isinya. Menurut teman-teman bagaimana? Perlu tidak ya kalau cover cetakan berikutnya menyertakan dua keterangan ini sekaligus, jadi pembaca paham bahwa ini buku berseri dan buku bagus dengan predikat New York Times Bestseller?

 

Ilustrasi Buku

Edisi Terjemahan ada ilustrasi gambar surat

Edisi Bahasa Inggris tidak ada ilustrasi

 

Ada beberapa reviewer yang menyebutkan bahwa mereka menyukai ilustrasi buku versi terjemahan, Itu loh, ada gambar surat di tiap awal bab, cocok sekali dengan topik cerita, dan juga memberikan kesan manis semanis kisah cinta Lara Jean dan Peter Kavinsky. Buku versi bahasa Inggrisnya cenderung datar, tanpa ilustrasi, tanpa basa-basi. Buat yang suka dengan visual art atau hiasan-hiasan di buku, sepertinya buku versi bahasa Inggris bakal kalah menarik dari versi terjemahan ya. Penerbit Spring rupanya memiliki ide kreatif yang brilian. Dengan penambahan ilustrasi tersebut buku mereka jadi memiliki keunikan dan kelebihan dibanding versi aslinya.

 

Jenis dan Ukuran Huruf

Edisi Bahasa Inggris

Edisi Terjemahan

 

Tipe huruf antara dua buku ini juga berbeda. Tidak begitu berpengaruh sih buat saya, yang penting jalan ceritanya sama dan kualitas terjemahannya bagus. Ukuran huruf kurang lebih sama. Tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Sebagai tambahan, di buku terjemahan banyak terdapat catatan kaki, entah itu menerangkan jenis makanan, atau pakaian, dan lain-lain. Di buku edisi bahasa Inggris tidak ada catatan kaki. Ternyata ini tambahan dari Penerbit Spring supaya pembaca bisa lebih memahami isi cerita. 

 

Halaman Depan

Edisi Bahasa Inggris

 

Di buku versi bahasa Inggris ada halaman yang khusus menyebutkan judul-judul buku lainnya yang ditulis oleh Jenny Han. Keterangan ini tidak terdapat di buku versi terjemahan. Senang juga sih dapat informasi tentang ini, mengingat buku To All The Boys I've Loved Before adalah buku yang bagus, tentu sebagai pembaca jadi penasaran pada buku-buku lain yang dikarang oleh Jenny Han.

 

Halaman Belakang - Bonus

Edisi Bahasa Inggris

Edisi Bahasa Inggris

 

Nah, bagian ini yang paling membuat saya terkejut. So surprise! :D. Coba deh teman-teman perhatikan buku versi asli. Ternyata di bagian belakang halaman ada bonus tulisan. Ada potongan bagian dari buku lanjutan To All The Boys I've LOved Before. Buku keduanya ini berjudul PS. I Still Love You. Lalu, ada bonus resep. Buat yang menyimak kisah Lara Jean pasti tahu kalau di sepanjang jalan cerita selalu ada menyebutkan berbagai jenis makanan dan cemilan.

Lara Jean sendiri hobinya memasak dan membuat kukis. Jadi saat membaca beberapa resep kukis di bagian belakang buku, rasanya Lara Jean bukan lah sebuah tokoh dalam cerita, ia gadis yang nyata, juga tokoh-tokoh lain yang ada di dalam buku. Bagus ya idenya Jenny Han :D, saya yakin buat pembaca yang penggemar buku ini atau pembaca yang juga punya hobi masak, akan sangat senang dengan bonus resep ini. Tak heran jika ada yang sampai mencoba membuat kukis ala Lara Jean.

Edisi Bahasa Inggris ada halaman bonus berupa resep

Edisi Bahasa Inggris

 

Lalu ada juga keterangan singkat tentang penulis di buku versi asli. Buku versi terjemahan tidak ada informasi tersebut, yang ada justru informasi seputar Penerbit Spring.

Edisi Bahasa Inggris 

Tapi teman-teman, edisi terjemahan juga ternyata ada bonusnya meski bukan berupa resep dan cuplikan seri berikutnya. Bonus edisi terjemahan adalah pembatas buku yang cantik. Pembaca perempuan kemungkinan akan suka dengan disain pembatas buku ini, entahlah kalau laki-laki, mengingat desainnya yang begitu manis menggoda. 

 

Harga

Berbicara tentang harga, ternyata buku terjemahan harganya lebih ekonomis dibandingkan buku versi aslinya. Seperti yang kita ketahui beberapa buku terjemahan mematok harga di atas harga buku versi asli, mungkin disebabkan karena biaya produksi dan proses lainnya yang lebih mahal daripada terbitan penulis lokal. Saya sempat terkejut juga saat tahu versi terjemahan buku ini hanya dibandrol Rp. 79.000 , mungkin karena buku Jenny Han telah terbukti sebagai buku dengan penjualan yang luar biasa. Jadi kalau Penerbit mau memasang harga yang lebih ekonomis sepertinya akan tetap mendapatkan profit dari hasil penjualan banyak. Entahlah, ini hanya asumsi saya.

 

Informasi Buku

Buku versi Terjemahan

Judul : To All The Boys I've Loved Before

Penulis : Jenny Han

Penerbit : Penerbit Spring

Tahun Terbit : April 2015

Cetakan : Ketiga Juni 2017

Jumlah Halaman : 380 hlm

Dimensi Buku : 20 cm

ISBN : 978-602-6682-00-0

Penerjemah : Airin Kusumawardani

Ilustrasi Isi & Penata Sampul : @teguhra

Penyunting : Selsa Chyntia

Penyelaras Aksara : Yuli Yono

Rp. 79.000

 

Buku Versi Bahasa Inggris

Title : To All The Boys I've Loved Before

Author : Jenny Han

Publisher: Simon & Schuster Books for Young Readers       

Paperback: 384 Pages

Paperback edition January 2016

Product Dimension (L x W x H): 20.83 x 13.97 x 2.54 CM

Shipping Weight: 0.32 Kg

ISBN : 9781442426719

Price : Rp. 162.000

 

Kesimpulan dan Rekomendasi

Menurut saya dua buku ini merupakan buku-buku yang bagus dengan berbagai kelebihannya masing-masing. Jangan khawatir teman-teman tidak bisa menikmati jalan cerita karena kualitas terjemahan dari Penerbit Spring juga bagus. Nah, berdasarkan apa yang sudah saya ceritakan di atas, maka saya ingin merekomendasikan dua versi buku ini berdasarkan kelebihannya masing-masing.

Buat yang suka :

  • membaca buku berbahasa Indonesia
  • ilustrasi buku yang menarik
  • membaca buku dengan kualitas terjemahan yang baik
  • buku yang penting isinya, tidak apa-apa jika tidak ada halaman bonusnya
  • yang harganya tidak terlalu mahal
  • ada bonus berupa pembatas buku

kalian bisa coba baca buku To All The Boys I've Loved Before yang diterbitkan terjemahannya oleh Penerbit Spring.

 

Buat yang suka :

  • membaca buku asli (berbahasa Inggris)
  • ada bonus halaman berupa resep dan cuplikan buku lanjutan
  • harga lebih mahal sedikit tapi yang penting original (buat kado misalnya)

kalian bisa pilih To All The Boys I've Loved Before versi bahasa Inggris.

 

Semoga tulisan ini bermanfaat ya untuk referensi teman-teman. Kalau ada yang mau menambahkan, bisa tulis di kolom komentar di bawah ini. Buku To All The Boys I've Loved Before versi bahasa Inggris bisa kalian beli di toko buku impor Periplus Setiabudhi Bandung Bookstore, atau mengontak instagram mereka di akun @Periplus-setiabudhi

Untuk review isi buku, teman-teman bisa baca di "Review Buku To All The Boys I've Loved Before - Jenny Han" di blog ini.

 

0
0
0
s2sdefault
Published: Friday, 29 September 2017 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

Judul : Rich People Problems

Penulis : Kevin Kwan

Jenis Buku : Fiksi - Novel

Penerbit : Random House USA Inc

Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman :  384 halaman

Dimensi Buku : 15.60 x 23.20 x 3.40 CM

Harga : Rp. 248.000

Edisi Bahasa Inggris

Bestseller

Bestselling Author of Crazy Rich Asian

 

Available at Periplus Setiabudhi Bandung Bookstore

 

The only thing I like about rich people is their money

-Nancy Aston

 

Sekelumit Tentang Isi

Su Yi meninggal dunia dengan meninggalkan harta warisan yang besar. Ketika ia sedang terbaring lemah menunggu ajalnya tiba, Nicholas young segera pulang dan menemaninya. Tapi bukan cuma Nicholas yang berada di sana. Tampaknya hampir semua anggota keluarga berdatangan dengan berbagai tujuan, rasa sayang yang tulus pada Su Yi, maksud tersembunyi untuk memperoleh bagian warisan, atau yang datang untuk mencoba peruntungannya di saat-saat terakhir. Intrik dan konflik yang panas segera terjadi. Tentu saja Nicholas tak punya cara lain kecuali menghadapi itu semua. Sementara itu Astrid Leong menghadapi permasalahannya sendiri seputar kisah cintanya dengan Charlie Wu. Astrid harus berhadapan dengan mantan istri Charlie Wu yang selalu mengintimidasi serta mantan suaminya sendiri yang selalu berusaha merusak reputasi dan hubungannya dengan Charlie. Selagi gosip hangat terus berputar pada kehidupan Astrid Leong, Kitty Pong yang menikah dengan Jack Bing, orang terkaya kedua di Cina, harus berhadapan dengan anak tirinya, Colette Bing, yang seolah selalu membuatnya merasa kalah dan tidak berarti. Persaingan akan kasih sayang, kekuasaan, popularitas, dan kekayaan terus berlangsung antara dirinya dan Colette.

Kepada siapakah akhirnya Su Yi mewariskan Tyersall Park? Apakah Nicholas Young yang mendapatkannya? Bagaimana cara Nicholas menyelamatkan Tyersall Park dari penjualan kepada pihak swasta? Apakah kisah cinta Astrid Leong dan Charlie Wu berakhir bahagia? dan Kitty Pong akhirnya bisa mengalahkan ketenaran anak tirinya? Silahkan dibaca sendiri bukunya untuk mengetahui itu semua ya :)

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Disain cover buku Kevin Kwan memang khas ya. Perhatikan saja buku pertama dan keduanya, Crazy Rich Asian dan China Rich Girlfriend. Tapi justru karena kekhasan inilah, saya sebagai pembaca jadi merasa terkoneksi antara satu buku dengan yang lainnya. Seolah-olah dalam satu kali pandang pun sudah tahu, oh ini bukunya Kevin Kwan. Lagipula disain covernya juga lucu, dengan gambar serupa kartun serta warna dominan hijau dan kuning yang mencolok. Begitupun dengan dua buku Kevin Kwan lainnya, selalu ada warna-warna cerah yang mendominasi cover.

Kalau ditimbang-timbang dari sudut isi cerita, disain cover awalnya seperti kurang sesuai, mengingat ini cerita tentang masalah-masalah orang kaya. Sekilas lebih cocok jika covernya bernuansa kelabu dengan gambar yang rumit. Tapi coba deh baca bukunya, Kevin Kwan ahlinya dalam mengemas topik masalah ke dalam bahasa humor yang sarkasme. Entah kenapa, kita jadi bisa melihat berbagai masalah "orang kaya" ini dari sudut humor, sehingga terasa lucu dan menyegarkan.

Belum lagi begitu dibuka ternyata beberapa bagian buku memiliki disain khusus yang eye-catching. Contohnya tipe huruf yang meliuk-liuk cantik seperti di bawah ini.

 

 

Hanya saja ukuran huruf cukup kecil. Hati-hati buat yang matanya cepat lelah nih, bacalah di ruangan yang cukup cahaya ya, agar tidak merusak mata.

 

Tokoh dan Karakter

Tokoh favorit saya Rachel, istri dari Nicholas. Nicholas sempat konflik dengan keluarga besarnya yang kaya raya karena memilih menikah dengan Rachel. Padahal Rachel seorang perempuan yang cerdas, ia seorang edukator dengan gelar yang tinggi. Secara karakter pun, Rachel digambarkan sebagai wanita dengan pikiran yang dewasa, open-minded, dan percaya diri.

Tokoh lainnya ada Astrid dan Michael Wu, lalu ada Kitty Pong, Collette Bing dan Jack Bing, dan beberapa tokoh pelengkap cerita. Kalau kalian mencari kelucuan sarkarme dari cerita, Kevin Kwan paling banyak menempatkannya pada tokoh-tokoh Bing ini. Mereka orang kaya yang senang mencari sensasi, perhatian, dan bangga pada keistimewaan yang melekat pada diri mereka sebagai orang kaya.

 

Alur dan Latar

Apakah Kevin Kwan hanya piawai dalam mengemas humor sarkasme saja? Oh tidak, narasi deskripsi latarnya juga aduhai. Rapih dan dapat diimajinasikan dengan jelas dalam pikiran, jika tidak malah membuat pembaca berimajinasi sendiri dalam versi pikirannya masing-masing. Kebetulan contoh narasi deskriptif di bawah ini adalah deskripsi latar yang paling saya suka. Pulau Palawan tampaknya tempat yang indah sekali ya.

Within a few moments, they emerged to the surface again. Charlie caught his breath and when  he ripped his mask off, what he was almost took his breath away again. he was in the middle of a calm lagoon completely encircled by towering limestone cliffs. the only entrance to this secret place was through the underwater cavern. The shallow, crystal-clear turquoise waters teemed with colorful fish, coral rock, and sea anemones, and along one side of the lagoon was the perfect hidden beach of sparkling white sand shaded by overhanging branches of palm trees.

Kisah beralur maju pada buku Rich People Problem sempat membuat saya kagum. Bayangkan buku setebal itu, dengan huruf-huruf yang kecil, tentu tak sembarang penulis mampu mengarang cerita dengan alur yang rapih. Curiga dipanjang-panjangkan. Tapi kedetailkan Kevin Kwan dalam bercerita memang menjadi salah satu penyebab kenapa buku ini jadi begitu tebal. Lalu alurnya bisa disebut rapih dan proporsional. Kecuali jika teman-teman termasuk pembaca yang tidak begitu menikmati detail, saya kira buku ini akan terasa agak lamban dan bertele-tele.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Hampir-hampir tak dapat dipercaya bahwa saya bisa menikmati novel ini mengingat jumlah halamannya yang mencapai 400 halaman serta adanya tanda-tanda kerumitan sejak awal membuka halaman awal. Iya rumit, rasanya rumit gara-gara saya melihat ada gambar pohon keluarga di halaman awal buku Rich People Problem ini. Tentu saja saya jadi bertanya-tanya sendiri dalam hati, "Ini buku memang sebanyak ini kah tokoh yang diceritakan?" dan ,"bakal sukses tidak ya menyederhanakan isi ceritanya?" lalu ,"Membosankan tidak ya?", dan kesan lain yang juga terlintas saat itu adalah, "Luar biasa, penulisnya tampaknya detail dan kreatif sekali dalam mengemas cerita maupun ilustrasi bukunya."

 

 

Pada kenyataannya banyak komentar dan ulasan yang memang menyebutkan bahwa Kevin Kwan adalah penulis yang utama dalam hal detail cerita. Saya setuju dengan opini tersebut. Selain buku ini tetap mempertahankan bentuk bahasa asli tokoh-tokohnya, tak lupa Kevin Kwan menambahkan penjelasan bahasa tersebut di bagian bawah buku. Keterangan-keterangan yang ada di bagian footer ini bukan cuma tentang arti kalimat tertentu, tapi juga meliputi penjelasan tentang peristiwa, tokoh-tokoh tertentu, penjelasan tentang nama makanan daerah, atau yang dianggap Kevin penting untuk pembaca agar dapat lebih memahami jalan cerita.

Having strategically chosen a table closest to the buffet area, Daisy Foo sighed as she watched Araminta Lee standing in lie at the noodle station dishing out some mee siam. "Aisyah - that Araminta! Bein kar ani laau!"

Bab 2

 

 

 

Betapa anehnya permasalahan-permasalahan sebagian orang kaya ya ternyata, urusan meja restoran saja bisa jadi masalah besar buat mereka. Mungkin karena orang kaya memiliki kekuasaan sehingga begitu harus menunggu atau diabaikan, rasanya seperti mendapatkan masalah saja. Ini sarkasme tentu saja. Humor yang saya nikmati sejak awal saya membaca buku Rich People Problems. Pemilihan gaya penulisan seperti ini menurut saya cerdas, untuk buku berhalaman 400, kesan pertama tentu sangat penting. Begitu awal terasa membosankan, ya sudahlah, pasti kita cenderung enggan untuk membacanya sampai selesai.

PROBLEM NO.1

Your regular table at the fabulous restaurant on the exclusive island where you own a beach house is unavailable.

PROBLEM NO. 2

The twenty-four-hour on-call personal physician that you have on a million-dollar annual retainer is busy attending to another patient.

Halaman 3.

 

Lagi-lagi inilah contoh "kelucuan" buku-bukunya Kevin Kwan, termasuk buku Rich People Problem. Humor yang terselip dalam cerita yang mungkin buat sebagian pembaca memang tak terbaca, tapi bagi yang suka tipe humor satire, sarkasme, dan yang serupa itu, pasti bisa memami letak kelucuan adegan di bawah ini.

"Oy--Charlie!" Eddie yelled, a littke too loudly, as he rushed over toward Chalie. Wait til he sees my official delegated badge!

Charlie beamed at him in recognition. "Eddie Cheng! Did you just get in from Hong Kong?"

"I came from Milan, actually. I was at the men's fall fashion shows-front-row seat at Etro."

"Wow, I guess being one of Hong Kong Tattle's Best Dressed Men is serious work, isn't it?" Charlie quipped.

"Actually, I made it into the bEst Dressed Hall of Fame last year." Eddie replied earnestly. He gave Charly a quick once-over, noticing that he was wearing khaki pants with cargo pockets and a navy blue pullover under his bright orange parka. What a pity-he used to be so fashionable when he was younger, and now he's dressed like every other tech-geek nobody. "Where's your badge, Charlie?" Eddie asked, flashing his own proudly.

"Oh yes, we're suppposed to wear them a all times, aren't we? Thank's for remindeng me - it's somewhere buried in my messenger bag." Charlie dug around for a few seconds before fishing out his badge, and Eddie glanced at it, his curiosity morphing into shocked dismay. Charlie was holding an all-white badge affixed with a shiny holographic sticker. Fucky fuck, this was the most coveted badge! The one they only gave to world leaders! The only other person he had seen so far wearing that badge was Bill Clinton! How the fuck did Charlie get one?

Halaman 13.

 

Bentuk-bentuk percakapan text di ponsel juga terdapat di dalam cerita, sehingga terasa sekali bahwa kisah Rich People Problems terjadi di masa kini. Email, sms, internet, dan lain sebagainya juga menjadi pelengkap dalam cerita.

She was about to switch off her phone when his next message popped up.

MT : Anyway, this will be over soon. I'm getting full custody of Cassian.

AL : You're delusional.

MT : No, yur a lying cheating whore.

 

MT : No judge is going to give u custody now

AL : This photo proves nothing. Charlie was only consoling me after you left.

 

 

Siapa Kevin Kwan

Penulis asal Singapura ini segera menjadi penulis populer yang novel-novelnya terkenal karena kaya dengan humor satirenya. Nama Kwan juga disebut-sebut sebagai Most Powerful Author versi The Hollywood Reporter.

Buku Rich People Problem merupakan buku terakhir dari trilogi Crazy Rich yang diterbitkan di tahun 2017. Goodreads mencatat banyak review positif atas karya terakhir dan buku triloginya ini, bintang 4 dengan poin 3,94, merupakan prestasi yang luar biasa.

Buku pertama trilogi yang berjudul Crazy Rich Asians bahkan diangkat menjadi sebuah film yang dipayungi brand Warner Bros.

Picture : para pemeran film

 

Rekomendasi

Saya rekomendasikan buku Rich People Problems pada teman-teman yang menyukai novel tebal, detail, bergaya satire (humor sindiran), sarkasme, bertopik kehidupan orang-orang kaya. Ada rasa seolah sedang menyimak drama korea saat membaca buku ini.

Catatan : Pembaca usia dewasa. Tidak ada adegan yang vulgar, hanya topik tentang kekuasaan, kepopuleran, saling sikut, tentu bukan topik untuk pembaca anak-anak dan remaja.

 

Teman-teman yang berminat untuk memiliki buku ini bisa mengontak instagram @Periplus_setiabudhi

 

 

0
0
0
s2sdefault

Sponsored Post, Job Review, Special Request, Postingan Lomba

Review Buku Something in Between - Melis…

15-10-2017 Hits:73 Features Dipi - avatar Dipi

    Judul : Something in Between Penulis : Melissa de la Cruz Jenis Buku : Novel Penerbit : Harlequin Teen Tahun Terbit : 2016 Jumlah Halaman : 432 halaman Dimensi Buku : 20.07 x 13.21 x 3.05 CM Harga...

Read more

Buku To All The Boys I've Loved Before E…

02-10-2017 Hits:168 Features Dipi - avatar Dipi

  Bulan September lalu kebetulan saya mendapatkan kesempatan yang langka untuk bisa membaca buku yang sama namun dengan edisi yang berbeda. Bukunya tidak lain adalah buku To All The Boys I've...

Read more

Review Buku Rich People Problems - Kevin…

29-09-2017 Hits:281 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : Rich People Problems Penulis : Kevin Kwan Jenis Buku : Fiksi - Novel Penerbit : Random House USA Inc Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  384 halaman Dimensi Buku : 15.60 x 23.20...

Read more

Review Buku

Review Buku Rahasia Sang Suami (The Husb…

13-10-2017 Hits:101 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Rahasia Sang Suami Judul Asli : The Husband's Secret Penulis : Liane Moriarty Jenis Buku : Fiksi - Novel Terjemahan Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : 2016 Jumlah Halaman : 496 halaman Dimensi...

Read more

Review Buku Sihir Perempuan - Intan Para…

05-10-2017 Hits:166 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Sihir Perempuan Penulis : Intan Paramaditha Jenis Buku : Kumpulan Cerpen Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : April 2017 (Pernah diterbitkan oleh Kata Kita pada 2005) Jumlah Halaman : 366 halaman Harga...

Read more

Review Buku Dusta-Dusta Kecil - Big Litt…

02-10-2017 Hits:170 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Dusta-Dusta Kecil Judul Asli : Big Little Lies Penulis : Liane Moriarty Jenis Buku : Fiksi - Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Cetakan Kedua Mei 2017 Jumlah Halaman : 512...

Read more

Cerita Dipidiff

J.CO Jatinangor Town Square : Duduk Menu…

11-10-2017 Hits:105 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Book blogger juga manusia, yang terkadang tidak ada ide menulis, hilang fokus, pikiran lelah, serta kurang nafsu makan (padahal tadi sarapan sebakul 😅). Teman-teman pernah merasakan keadaan yang seperti itu...

Read more

Giggle Box Jatinangor - Alternatif Tempa…

11-10-2017 Hits:98 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Dulu sekali, tahun lalu tepatnya, saya pernah menulis tentang J.Co di Jatos. Waktu itu saya sedang hamil moonlight dan saat berkunjung ke sana saya cukup antusias untuk datang kembali mengingat...

Read more

Sudut Buku di Transmart Carrefour Cipadu…

08-10-2017 Hits:120 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Mungkin tidak semua orang seperti saya, yang setiap berkunjung ke mall atau supermarket pasti langsung mencari book corner. Tentu saya paling bahagia kalau di sana ada toko bukunya. Tapi jika...

Read more