Review Buku The Hate U Give - Angie Thomas

Published: Friday, 04 August 2017 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

 

REQUESTED POST

Judul : The Hate U Give

Penulis : Angie Thomas (stunning John Green)

Jenis Buku : Fiksi (novel)

Penerbit Walker Books

Tahun Terbit 2017

Jumlah Halaman 437

Dimensi Buku (L x W x H) : 13.10 x 19.70 x 3.50 CM

Bahasa Inggris

Harga Rp.144.000

No. 1 New York Times Bestseller

Available at Periplus Setiabudhi Bandung Bookstore

 

Sekelumit Tentang Isi Buku

Starr, gadis remaja kulit hitam itu pergi berpesta bersama saudara tirinya. Pesta dimana Khalil juga datang pada malam itu. Tapi pesta lalu berubah menjadi kerusuhan dan baku tembak. Starr dan Khalil berlari menyelamatkan diri dari kekacauan tersebut. Dalam perjalanan pulang, Khalil yang mengemudikan mobilnya terlalu kencang akhirnya harus berhadapan dengan seorang polisi berkulit putih yang sedang patroli.

 

Awalnya hanya diminta menunjukkan kartu identitas dan surat ijin mengemudi, lalu petugas tersebut mulai bertanya ini dan itu. Starr yang duduk di samping Khalil sudah menyadari bahwa Khalil bertindak terlalu berani dan frontal. Itu salah, sebab hanya akan menimbulkan masalah dan memberikan celah kepada petugas kulit putih itu untuk mempidanakan mereka.

 

Semuanya begitu cepat terjadi, Starr bahkan tak sempat mengingatkan Khalil saat polisi itu menembaknya mati. Ditembak tanpa alasan yang benar. Ini jelas terjadi karena kulit mereka yang berwarna. Sebagai satu-satunya saksi mata kejadian tersebut, Starr mulai merasa takut dan bimbang. Akankah ia berani untuk menyatakan kebenaran di malam itu, meski ini akan memicu perang antara banyak pihak, termasuk membahayakan keselamatan dirinya sendiri. Atau ia memilih diam dan selamat? The Hate U Give buku yang patut disimak sampai akhir.

 

Fisik Buku

Saya suka dengan covernya yang hitam begitu, dan lebih suka lagi karena judulnya yang ear catching. "The Hate U Give".… hmmmm... Terdengar seperti ancaman dendam yang dalam dan terselubung. Jelas bukan dendam-dendaman urusan percintaan yang remeh temeh, ini pasti lebih gelap hingga bisa berujung kematian dan atau pembunuhan. Ternyata ceritanya memang begitu. Perseteruan antara orang kulit hitam dan putih, serta kehidupan mereka sebagai minoritas yang didiskriminasi.

 

Ukuran bukunya rada besar. Tapi sepadan dengan ukuran hurufnya yang sedang-sedang saja. Untuk kalian yang matanya cepat lelah saat membaca, kemungkinan akan suka dengan pilihan ukuran huruf buku ini.  

 

Tokoh dan Karakternya

Starr adalah tokoh utama di buku ini, ia seorang gadis remaja berkulit hitam yang disekolahkan orangtuanya di sekolah kulit putih. Menarik untuk disimak jalan pikiran dan karakter yang coba dibentuk oleh Angie Thomas dalam tokoh Starr, bukan cuma karena ia adalah tokoh penting tapi juga karena banyaknya pesan yang bisa kita ambil dengan hanya menggali satu karakter ini saja.

 

Sebagai gambarannya kira-kira seperti ini, Starr sebenarnya malu dengan asal-usulnya yang berkulit hitam, malu dengan lingkungan rumahnya yang tetangga-tetangganya berbahasa kasar, bahkan baku hantam hampir terjadi setiap saat. Starr juga malu dengan gaya keluarga besar dan teman-teman kulit hitamnya yang kampungan. Tapi setelah semua ini terjadi, Starr akhirnya bisa melihat bahwa apapun yang terjadi nyatanya tak akan pernah mengubah asal usulnya tersebut. Ia tetaplah gadis remaja kulit hitam yang ayahnya mantan kepala gangster dan tinggal di lingkungan orang-orang kulit hitam yang payah. Bagaimana dia bisa sampai berubah cara pandang? Teman-teman harus temukan sendiri jawabannya dengan membaca bukunya ya.

 

Pada buku The Hate U Give terdapat cukup banyak tokoh yang terlibat, misalnya ayah ibu Starr, kakak laki-lakinya (Seven), pacar kulit putihnya (Crish), pengacara, polisi yang membunuh Khalil, dan lain-lain. Tapi meskipun tokohnya cukup banyak, saya merasa tidak sulit untuk memetakan mereka dalam imajinasi. Tidak terasa njlimet. Tidak seperti kalau kita membaca buku, yang begitu kita baca, malah bikin pusing sangking banyaknya tokoh. Dan tiap tokohnya selalu punya hal yang unik misalnya gaya bicara, sifat, kebiasaan, atau bahasa, sehingga kita memang merasa mereka seperti yang hidup dan nyata. Angie Thomas jelas bukan penulis biasa.

 

Siapa sih Angie Thomas? She has a BFA in Creative Writing and is a winner of inaugural Walter Dean Myers Grant 2015, awarded by We Need Diversed Books.

 

Alur dan Ide Cerita

Teman-teman suka novel yang sepenuhnya beralur maju? Nah, ini tampaknya buku yang tepat. Dari awal cerita sampai akhir alurnya maju terus. Tidak perlu mikir flash back atau jump forward. Tinggal nikmati cerita, lalu beres.

 

Sepintas saya teringat dengan buku Small Great Things nya Jodi Picoult saat membaca buku ini gara-gara topiknya yang sama mengangkat diskriminasi dan konflik antara orang kulit hitam dan kulit putih. Untungnya sudut pandang ceritanya berbeda satu dengan yang lain. Small Great Things berkisah tentang Ruth, bidan kulit hitam, sedangkan The Hate U Give menokohkan Starr, gadis kulit hitam yg masih remaja. Small Great Things mengambil tokoh antagonis untuk ending yang penuh pesan moral, sedangkan buku ini tetap berfokus pada Starr dari awal sampai akhir.

 

Entah bagaimana caranya, tapi Angie Thomas berhasil menulis satu buku yang di dalamnya bisa memunculkan begitu banyak sub topik, maksud saya, The Hate U Give memang dipayungi oleh isu diskriminasi kulit berwarna sebagai topiknya, tapi di dalamnya juga ada kisah persahabatan, cinta remaja, keluarga, dan persaudaraan. "Sekali dayung, dua pulau terlampaui," tampaknya itu peribahasa yang tepat untuk buku ini.

 

Kalimat yang Saya Suka

"Sometimes things will go wrong, but the key is keep doing right" (halaman 421).

Di setiap buku, saya selalu suka memperhatikan kalimat-kalimat quotes seperti itu. Tak terkecuali di buku The Hate U Give. Kalimat yang bisa saya jadikan catatan, buat introspeksi diri atau sekadar wawasan. Apalagi kalimat yang satu ini, terasa ya kebenarannya. Banyak hal yang terjadi di luar kendali kita, tiba-tiba semua jadi salah, entah kenapa. Tapi kuncinya adalah tetap berusaha untuk berbuat baik.

 

"But I'm not giving up on a better ending" (halaman 436).

Seperti Starr yang terus berusaha untuk mengakhiri sesuatu dengan baik, dan jika itu belum terjadi maka ia tidak akan pernah menyerah. Duh, kira-kira prinsip hidup saya sudah begitu kah ya? Banyak hal yang jadi pikiran saya setelah membaca kalimat ini.

 

Rekomendasi

The Hate U Give saya rekomendasikan pada teman-teman yang suka membaca novel dengan isu diskriminasi dibalut aksi, ada teror dan pembunuhan, kekacauan demonstrasi massa, adrenalin di beberapa babnya, tapi juga ada rasa hangat hubungan keluarga dan percintaan remaja. Bagaimana dengan humor? Menurut saya ini termasuk buku yang serius.

 

Pembaca dewasa ya, remaja menjelang dewasa boleh deh, tapi banyak bimbingan biar tidak salah mengambil pesan cerita, soalnya di buku ini banyak aksi kekerasannya.

 

 

0
0
0
s2sdefault

Review Buku Option B - Sheryl Sandberg

Published: Monday, 31 July 2017 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

REQUESTED POST

Judul : Option B

Penulis : Sheryl Sandberg

Genre : Non Fiksi - Self Development

Penerbit : Ebury Publishing

Edisi : Pertama Tahun 2017

Jumlah Halaman : 240 halaman

Dimensi Buku : 13,4 x 21,5 x 2 cm

Berat : 0,26 kg

Harga : Rp. 240.000

#1 New York Times Best-Selling Authors

Available at PERIPLUS SETIABUDHI BANDUNG BOOKSTORE

 

Sekelumit Tentang Isi Buku

Sheryl dan Dave adalah pasangan yang bahagia. Mereka menikah, memiliki anak, dan kehidupan rumah tangga mereka berjalan dengan harmonis. Lalu Sheryl dan Dave memutuskan untuk berlibur bersama beberapa teman dekat mereka. Anak-anak sementara mereka titipkan pada saudara.

Di suatu hari yang cerah, di masa liburan itu Sheryl terbangun dan mendapati suaminya tidak ada di kamar hotel bersamanya. Awalnya biasa saja, Sheryl tak menduga yang aneh-aneh sampai berjam-jam kemudian Dave tak juga kembali. Semua orang kemudian mencari Dave yang ternyata akhirnya ditemukan dalam keadaan sudah meninggal di ruang gym hotel tempat mereka menginap.

 

Sejak itulah kisah ini di mulai. Kesedihan, keterpurukan, duka yang mendalam, rasa bersalah, bahkan kemarahan, menjadi monster dalam hidup Sheryl. Bagaimana Sheryl bisa melewati masa-masa ini telah ia tuliskan di bukunya OPTION B dengan bimbingan dan dukungan dari psikolognya yaitu Adam Grant. Harapannya sederhana yakni berbagi apa yang telah ia lalui untuk membantu mereka yang juga mengalami peristiwa yang sama dengannya agar bisa kembali "hidup" dan bahagia.

 

Yuk kita intip daftar isi bukunya. 

1. Breathing Again

2. Kicking the elephant out of the room

3. The platinum rule of friendship

4. Self-compassion and self-confidence

5. Bouncing forward

6. Taking back joy

7. Raising resilient kids

8. Finding strength together

9. Failing and learning at work

10. To love and laugh again

 

Fisik Buku

Buku yang tak terlalu tebal ya, cuma 200an halaman. Cukup untuk mencakup seluruh kisah perjuangan Sheryl bangkit dari dukanya yang dalam sepeninggal suaminya. Tak bertele-tele dan juga tak tergesa-gesa, semuanya terasa pas dengan jumlah halanan yang cuma 200 sekian itu. Buku tidak berat-berat amat, ringan saja untuk dibawa kemana-mana, cuma 0,26 kilo, dan tidak terlalu makan tempat juga meski ukurannya memang lebih besar sedikit dari ukuran novel.

 

Gara-gara cover bukunya yang berdisain putih bersih, maka perhatian saya lagi-lagi sebenarnya tak begitu tertarik pada buku ini andai saja tak terbaca tulisan #1 New York Times Bestselling Author, sub judul "Facing adversity, building resilience, finding joy," dan nama Adam Grant di sampul depannya. Sedangkan nama Sheryl Sandberg sendiri tak pernah saya dengar sebelumnya, meski ternyata ia adalah saudara dekat dari Mark Zuckerberg sang pendiri Facebook yang terkenal itu.

 

Mungkin pemilihan cover sederhana tersebut disebabkan oleh pertimbangan bahwa Option B adalah buku non fiksi meski isi bukunya jelas bergaya narasi mirip jalan cerita sebuah novel. Kalau covernya meriah sedikit saja, mungkin saya justru akan bingung dengan pilihan cover yang demikian.

 

Opini

Hal pertama yang membuat saya tertarik pada buku ini adalah adanya testimoni dari Malala Yousafzai. Kalian tentu kenal Malala kan ya? Dia adalah gadis yang ditembak Taliban tepat di kepala karena menolak aturan Taliban dalam "melarang perempuan mengenyam pendidikan". Malala selamat setelah melalui pengobatan dan pemulihan luar biasa dari luka tembak di kepalanya.

Malala merekomendasikan buku ini untuk semua orang di dunia, karena tidak ada manusia yang tidak mengalami kehilangan dan kesedihan dalam hidupnya. Jadi jalan terbaik untuk menghadapi semua itu adalah dengan menemukan OPTION B dalam kehidupan. Jika Malala yang kisah hidupnya penuh tragedi memberikan rekomendasi penuh, maka saya tentu jadi bertanya-tanya seberapa menarik dan manfaatnya buku Option B ini.

 

Hal lain yang saya temukan adalah tentang fakta pendukung. Seringkali buku non fiksi, apalagi yang gayanya narasi seperti ini lemah di fakta pendukung. Tapi Option B ternyata berbeda. Begitu saya sampai pada halaman akhir, terdapat daftar pustaka atau referensi yang jumlahnya ratusan, mulai dari jurnal ilmiah sampai buku-buku literatur.

Di sinilah letak keunikan buku Option B. Pada dasarnya ini buku ilmiah yang non fiksi banget. Tapi kita tidak akan merasa seperti sedang membaca tulisan yang kaku serta dipenuhi oleh kalimat-kalimat yang sulit dipahami khas sebuah tulisan bereferensi ratusan jurnal ilmiah misalnya. Yang saya rasakan sepenuhnya adalah larut dalam kisah hidup Sheryl Sandberg.

 

Saya juga suka pada janji pernikahan Sheryl dan Dave, mereka pasangan yang romantis dan saling melengkapi, maka ketika Sheryl menceritakan bagaimana hidup pernikahan sebelum dan setelah Dave tiada, saya rasanya turut berduka dan terharu di tiap bagian ceritanya. Di bawah ini saya tuliskan janji pernikahan mereka yang saya sebutkan tadi.

 

I take you to be mine in love.

I promise to love you deliberately each day,

to feel your joy and your sorrow as my own.

Together, we will build a home filled with honor and honesty,

comfort and compassion, learning and love.

 

I take you to be mine in friendship.

I vow to celebrate all that you are,

to help you to become the person you aspire to be.

From this day forward, your dreams are my dreams and 

I dedicate myself to helping you fulfill the promise of your life.

 

I take you to be mine in faith.

I believe that our commitment to each other will last a lifetime,

that with you, my soul is complete.

Knowing who I am and who I want to be,

on this day of our marriage,

I give you my heart to be forever united with yours.

(halaman 157)

 

Membaca semua itu membuat saya sedih mengingat mereka telah kehilangan satu sama lain, serta pula sedih bercampur haru pada janji pernikahan yang begitu dalam dan suci.

 

Menyimak penuturan Sheryl membuat saya juga berpikir tentang beberapa hal baru, salah satunya bagaimana seharusnya kita bersikap pada mereka yang tengah berduka. Umumnya kita akan berkata, "I am so sorry", "Saya turut berduka cita," ,"Saya tau rasanya seperti apa, tetap tabah oke," dan hal-hal serupa itu. Tapi ternyata menurut Sheryl kalimat-kalimat penghiburan seperti itu justru kadang membuat yang sedang berduka lebih merasa tertekan atau bahkan marah.

Ada kalimat yang lain yang menurut Sheryl lebih tepat dikatakan pada momen-momen seperti itu. Juga ada action lain yang lebih perlu dilakukan oleh orang-orang ketika menjumpai situasi tersebut menimpa pada diri orang-orang terdekat mereka. Semua ini Sheryl ceritakan di bab dua, Kicking The Elephant Out of The Room.

 

Tentu saja bab favorit saya ada di bagian terakhir, yakni bab To Love and Laugh Again. Pada bab ini, Sheryl mereview ulang kisahnya dan menyimpulkan hikmah yang didapat, serta menceritakan dengan gamblang bagaimana ia akhirnya bisa memulai hidup baru setelah suaminya meninggal. "Awalnya terasa seperti pengkhianatan kepada Dave, karena kini aku bisa tertawa, berbahagia, dan bahkan mulai berkencan lagi," kata Sheryl. Tapi Sheryl tau hidup harus berlanjut, dan itu bukan karena ia berhenti mencintai dan telah melupakan Dave tercintanya.

 

Memang benar bahwa tidak seluruh bagian dari buku bisa saya terima karena Sheryl cukup banyak melihat situasinya dari sudut pandang kebebasan ala western dan kepercayaan dalam agama Yahudi. Tapi poin-poin yang baiknya juga cukup banyak yang bisa saya petik dan dijadikan wawasan dalam pikiran saya.



Karena detail uraiannya yang mendalam, buku ini dapat membantu kita untuk melewati masa-masa penderitaan karena kehilangan orang yang kita cintai, kegagalan dalam karir, trauma pelecehan seksual dan bencana alam, bahkan kekerasan dalam peperangan. Selain itu kita pun dapat menggunakan apa yang kita peroleh dalam buku ini untuk membantu orang lain melewati masa-masa kritis psikis mereka.

 

Rekomendasi

Saya rekomendasikan buku ini untuk kalian yang menyukai buku psikologi, buku pengembangan diri, atau mereka yang membutuhkan buku yang dapat membantu mereka menyikapi masa-masa sulit, sedih, atau menderita, entah itu karena kematian orang terdekat, trauma pasca bencana alam, bahkan kekerasan seksual. Mungkin dengan membaca buku ini kita bisa "love and laugh again" seperti yang Sheryl alami.

 

Sebagai catatan, santai saja ya ketika menyimak beberapa bagian cerita Sheryl juga konsep berpikirnya, no offense, cukup jadikan wawasan jika hal tersebut kurang berkenan di hati kita. 

 

 

0
0
0
s2sdefault

Review Buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck - Mark Manson

Published: Thursday, 27 July 2017 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

Judul : The Subtle Art of Not Giving a F*uck

Penulis : Mark Manson

Penerbit : Harper One

Edisi : Pertama Tahun 2016

Jumlah Halaman : 240 halaman

Harga : Rp.256.000

Edisi Bahasa Inggris

New York Times and Globe and Mail Bestseller

Available at Periplus Setiabudhi Bandung Bookstore

 

Sekilas Tentang Isi Buku

Mark Manson tentu bukan penulis karbitan. Blog markmanson.net adalah salah satu bukti dari kepiawannya dalam urusan tulis menulis sejak dulu. Pembaca blognya mencapai jumlah yang cukup fantastis, mereka datang ke sana bukan cuma untuk mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju tapi juga untuk mengkritisi tulisan-tulisan Mark yang bisa dikatakan "kadang nyeleneh".

 

Buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck adalah buku pengembangan diri yang ditulis oleh Mark Manson dengan gaya bahasa yang sama nyelenehnya. Buku ini berisi tentang bagaimana seharusnya kita melihat sebuah kelemahan, tentang makna bahagia, tentang prinsip hidup, tentang cara bangkit dari kegagalan, tentang pentingnya menderita dan mengemban tanggungjawab, tentang berkata tidak, tentang hidup adalah pilihan, tentang lahir kembali setelah kehancuran, dan semua itu diungkapkan oleh Mark dengan bahasa yang "menyebalkan", kasar, ga ada sopan santun, dan kadang menyakitkan.

 

Permasalahannya adalah apa yang dikatakan Mark ada benarnya, tepat kena di poinnya, makanya, buku ini meskipun kasar bahasanya, namun best seller predikatnya. Sebagian tulisan dalam buku telah dipublikasikan pula oleh Mark di dalam blognya.

 

Menurut Mark, berhentilah selalu berpikir positif setiap saat jika benar-benar ingin menjadi lebih baik dan lebih bahagia. Padahal kita selama ini selalu dibanjiri oleh nasihat "keep postive thinking" kan ya. Dalam sudut pandangnya yang berbeda ini Mark tentu saja berargumen sangat baik, ia lengkapi pendapatnya dengan data hasil penelitian dan fakta pendukung lainnya. Kalian ingin tau sepandai apa argumentasinya?

 

Yang Mark inginkan adalah agar orang-orang mulai belajar menerima kenyataan dan menerima dirinya apa adanya. Berhenti bersikap manja dan belaku seolah-olah selalu menjadi korban deh. Lebih baik akui kesalahan, terima kelemahan, hadapi kenyataan. Sebab itulah satu-satunya cara untuk menemukan keberanian, kejujuran, kebahagiaan, dan makna hidup yang sejati. Tapi bagaimana cara detailnya?

 

Yuk kita intip daftar isinya 😊.

Chapter 1 Dont Try

The feedback loop from hell

The subtle art of not giving a fuck

So mark, what the fuck is the point of

This book anyway?

 

Chapter 2 Happiness is a Problem

The misadventures of disappointment panda

Happiness comes from solving problem

Emotions are overatted

Choose your struggle

 

Chapter 3 You Are Not Special

Things fall apart

The tyranny of exceptionalism

B-b-b-but, If im not going to be special or extraordinary, whats the point

 

Chapter 4 The Value of Suffering

The self awareness onion

Rock star problem

Shitty values

Defining good and bad values

 

Chapter 5 You Are Always Choosing

The choice

The tesponsibility/fault fallacy

Responding to tragedy

Genetics and the hand we're dealt

Victimhood chic

There is no "how"

 

Chapter 6 You Are Wrong About Everything (but So am I)

Architects of our own beliefs

Be careful what you believe

The danger of pure certainty

Manson's law of avoidance

Kill yourself

How to be a little less certain of yourself

 

Chapter 7 Failure is The Way Forward

The failure/ success paradox

Pain is part of the process

The "do something" principle

 

Chapter 8 The Importance of Saying No

Rejection makes your life better

Boundaries

How to built trust

Freedom through commitment

 

Chapter 9 ... And Then You Die

Something beyond our selves

The sunny side of death

 

Fisik Buku

Saya suka buku non fiksi yang halamannya ga tebal-tebal amat, buku Mark Manson ini cuma 240-an halaman  cukuplah ya untuk kategori ketebalan buku pengembangan diri, sehingga yang bacanya juga ga kelelahan dan bisa menyerap informasi isi buku dengan cukup nyaman. Kertas buku ringan, dimensi buku tidak semungil novel namun tetap sama "ringkes"nya untuk dibawa kemana-mana. Pilihan warna cover cukup menyolok, oranye! Belum lagi huruf-huruf judul buku yang berwarna putih bikin makin menonjolkan judulnya yang unik.

 

Opini

I am the NYTimes bestselling author of The Subtle Art of Not Giving a Fuck, a blogger, and internet entrepreneur. I write about big ideas and give life advice that doesn’t suck. Some people say I’m an idiot. Other people say I saved their life. Read and decide for yourself. - prolog markmanson.net

Awalnya saya juga rada terkejut dan tahan nafas saat baca buku ini, pasalnya pilihan bahasanya memang ga umum untuk buku-buku bergenre pengembangan diri. Kita sudah begitu terbiasa dimotivasi, dibanjiri empati, dan dininabobokan dengan kalimat-kalimat santun sang penulis, sehingga setelah membaca muncul rasa percaya diri, serta semangat akan adanya secercah harapan di masa depan. 

 

Tapi buku yang ini beda, selepas baca rasanya muka seperti selesai "digampar" sehingga sadar. Hidup kok leyeh-leyeh, kok grutu grutu, kok nuntut ini itu tapi ga mau berkorban dan berjuang. Emang situ anak miliuner, yang miliuner aja butuh kerja keras. Emang situ spesial? Ya ngga lah, muka biasa, bakat apa adanya, terus itu salah siapa? Mau ngasihani diri sendiri? Makan tuh rasa kasihan. Nah, begitu deh kira-kira rasanya abis baca buku ini. Ngomong-ngomong, di bawah ini saya tuliskan beberapa cuilan kalimat Mark di bukunya agar kalian bisa memahami apa gaya bahasa Mark yang saya maksudkan ya.

Everyone and their TV commercial wants you to believe that a key to a good life is a nicer job, or a more rugged car, or a prettier girlfriend, or a hot tub with an inflatable pool for the kids. The world is constantly telling you that the path  to a better life is more, more - buy more, own more, make more, fuck more, be more. You are constantly borbamrded with messages to give a fuck about everything, all the time. Give fuck with a new TV. Give a fuck about buying that new lawn ornament. Give a fuck about having the right kind of selfie stick. Why? My guess : because giving a fuck about more stuff is good for business. (Halaman 5)

paragraf selanjutnya makin ramai dengan kata fuck tentunya,

 

Namun saya banyak senyumnya juga kalau kebetulan sindirannya pas kena di hati, atau penjelasan Mark sedang nyelekit-nyelekitnya tapi juga sedang benar sebenar-benarnya. Jadi ingin ketawa penuh ironi begitulah. Coba disimak contoh kalimatnya di bawah ini.

You stand in front of the mirror and repeat affirmations saying that you are beautiful because you feel as though you are not beautiful already.

...

After all, no truly happy person feels the need to stand in front of mirror and recite that she's happy. She just is.

....

There's  a saying in Texas: "The smallest dog barks the loudest". A confident man doesn't feel a need to prove that he's confident.

(halaman 4)

 

Hal lain yang saya anggap unik dan saya sukai adalah adanya cerita tokoh yang selalu mengawali tiap bab. Kisah-kisahnya dibawakan Mark dengan narasi yang baik dan tak terburu-buru sehingga pembaca dapat menghayatinya. Tentu tiap kisah ada kaitannya dgn isi bab yang bersangkutan. Adanya cerita seperti itu membuat topik inti bab terasa lebih mudah dipahami serta lebih luwes saat disampaikan. Analoginya kurang lebih seperti kelereng yang menggelinding di lantai berpermukaan halus, terasa mulus sekaligus meluncur cepat dan tajam, persis seperti gayanya Mark Manson bertutur tulisan.

 

DON'T TRY

Charles Bukowski was an alcoholic, a womanizer, a chronic gambler, a lout, a cheapskate, a deadbeat, and on his worst day, a poet. He's probably the last person on earth you would ever look to for life advice or expect to see in any sort of self-help book. 

Which is why he's the perfect place to start.

Bukowski wanted to be a writer. But for decades his work was rejected by almost every magazines, newspaper, journal, agent, and publisher he submitted to. His work was horrible, they said. Crude. Disgusting. Depraved. And as the stacks of rejection slips piled up, the weight of his failures pushed him deep into an alcohol-fueled depression that would follow him for most of his life.

(Chapter 1)

Di bab Don't Try ini, Mark mengawalinya dengan kisah Bukowski yang pecundang, tak punya kecakapan, tapi ingin jadi penulis. Di ujung kisah tentu happy ending. Bukowski jadi penulis terkenal. Tapi itu artinya ia mencoba dong, bukan "don't try". Oh jangan terkecoh dulu. Nanti selepas cerita Bukowski, Mark akan menjelaskan kenapa dengan Don't Try malah kita bisa meraih keberhasilan.

 

Apa yang sebenarnya ingin disampaikan Mark sama dengan mayoritas pesan di buku motivasi dan pengembangan diri. Kita tentu sudah tak aneh lagi kan dengan kalimat bijak seperti "penting untuk bisa berkata tidak", "kegagalan adalah awal dari kehidupan dan kesuksesan", dan "hidup adalah pilihan kita". Tapi ada juga beberapa sudut pandang baru yang saya temukan di buku ini, contohnya seperti konsep kebahagiaan dan konsep bahwa setiap manusia itu unik dan spesial. Mark Manson nyatanya tidak beranggapan begitu, setidaknya dia punya sudut pandang dan penjelasan yang berbeda. Kalian ingin tau detailnya? Silahkan baca sendiri ya, saya tak ingin membuka kisi-kisi buku terlalu banyak 😊.

 

Lalu, belum cukup memanas-manasi pembaca dengan gaya bahasa dan sudut pandangnya yang berbeda itu, Mark juga melengkapi tiap bab dalam bukunya dengan kalimat-kalimat kesimpulan yang mengundang pembaca untuk berpikir dalam. Biasanya kalimat penting ini ia letakkan di tengah dan ditebalkan sehingga terlihat menyolok serta gampang dicari. Ini contohnya,

The desire for more positive experience  is itself a negative experience. And, paradoxically, the acceptance of one's negative experience is itself a positive experience.

- halaman 9

 

Rekomendasi

Saya rekomendasikan buku ini bagi pembaca yang menyukai buku pengembangan diri, yang mencari gaya bahasa yang berbeda dalam penyampaiannya, yang lebih suka hal-hal yang nyata daripada kalimat-kalimat motivasi semanis madu namun tak banyak faedahnya, yang ingin segera menyadari "hidup ini perih, kawan!" dan bangkit dengan gagah berani.

 

Para pencari kebahagiaan juga cocok untuk membaca buku ini, atau yang baru saja mengalami kegagalan dan keterpurukan, yang merasa tidak istimewa dan bagian dari sampah dunia, yang jelas-jelas ga punya rasa percaya diri, serta ragam bentuk kegalauan hidup di dunia lainnya, yuk coba baca, siapa tau mendapatkan pencerahan. Meski begitu, kita yang kehidupannya bisa dibilang stabil pun ada baiknya menyimak buku ini. Biar lebih bijak sana dan bijak sini, serta makin pandai mengelola emosi.

 

Pembaca usia dewasa saja ya saya kira. Soalnya saya rada khawatir dengan diksinya yang nyeleneh ini kalau dibaca anak-anak dan remaja.

 

0
0
0
s2sdefault

Sponsored Post, Job Review, Special Request, Postingan Lomba

Review Buku The Hate U Give - Angie Thom…

04-08-2017 Hits:290 Features Dipi - avatar Dipi

  REQUESTED POST Judul : The Hate U Give Penulis : Angie Thomas (stunning John Green) Jenis Buku : Fiksi (novel) Penerbit Walker Books Tahun Terbit 2017 Jumlah Halaman 437 Dimensi Buku (L x W x H) : 13.10...

Read more

Review Buku Option B - Sheryl Sandberg

31-07-2017 Hits:253 Features Dipi - avatar Dipi

REQUESTED POST Judul : Option B Penulis : Sheryl Sandberg Genre : Non Fiksi - Self Development Penerbit : Ebury Publishing Edisi : Pertama Tahun 2017 Jumlah Halaman : 240 halaman Dimensi Buku : 13,4 x 21,5...

Read more

Review Buku The Subtle Art of Not Giving…

27-07-2017 Hits:506 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : The Subtle Art of Not Giving a F*uck Penulis : Mark Manson Penerbit : Harper One Edisi : Pertama Tahun 2016 Jumlah Halaman : 240 halaman Harga : Rp.256.000 Edisi Bahasa Inggris New York Times...

Read more

Review Buku

Review Buku Pengakuan Eks Parasit Lajang…

11-08-2017 Hits:134 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Pengakuan Eks Parasit Lajang Penulis : Ayu Utami Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia Tahun Terbit : Cetakan Pertama Februari 2013 Jumlah Halaman : 306 Buku ini dibaca di iPusnas   Sekelumit Isi Cerita Gadis ini berlatar...

Read more

Review Buku Rindu - Tere Liye

23-07-2017 Hits:280 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul Buku : Rindu Jenis Buku : Fiksi Pengarang : Tere Liye Penerbit : Republika Tahun Terbit beserta Cetakannya : Cetakan XL Oktober 2016 Dimensi Buku : 13,5 cm x 20,5 cm Jumlah Halaman : 544 halaman Harga Buku :...

Read more

Review Buku Tentang Kamu - Tere Liye

09-06-2017 Hits:506 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul Buku : Tentang Kamu Jenis Buku : Fiksi Pengarang : Tere Liye Penerbit : Republika Tahun Terbit beserta Cetakannya : Cetakan Kedua Oktober 2016 Dimensi : 13,5 x 20,5 cm Jumlah Halaman : vi +...

Read more

Cerita Dipidiff

Toko Buku di Grand Griya Cinunuk Bandung

19-08-2017 Hits:49 Cerita Dipi - avatar Dipi

  "Mall dan supermarket terbaik adalah yang memiliki toko buku di dalamnya. Titik." Yang ga setuju ya harap maklum ya 😂, kebetulan yang komentar gitu adalah seorang book lover yang juga book...

Read more

Panahan di Range Batununggal Bandung Arc…

17-08-2017 Hits:113 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Malam telah cukup larut waktu saya kontak-kontakan dengan coach Robert. Beliau ini coach pertama saya di dunia archery. Coach istimewa, tiada bandingan galaknya... Hahaha (ini tuh pujian 😁). Kenapa galak?...

Read more

Warawiri ke Posyandu

25-07-2017 Hits:382 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Masa depan memang misteri. True banget ya. Ini terjadi setidaknya dalam hidup saya. Why? Itu karena mana pernah saya berpikir akan berkunjung ke posyandu, sambil bawa anak pula. Why? Sebab...

Read more