Translate - Language

id Indonesian zh-CN Chinese (Simplified) nl Dutch en English tl Filipino fr French de German it Italian ja Japanese ko Korean ms Malay th Thai
Published: Thursday, 30 November 2017 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

Judul : The Language of Thorns Midnight Tales and Dangerous Magic

Penulis : Leigh Bardugo

Ilustrator : Sara Kipin

Jenis Buku : Non Fiksi - Dongeng

Penerbit : Imprint       

Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman :  288 halaman

Dimensi Buku : 23.62 x 15.75 x 2.54 CM

Harga : Rp. 270.000

Edisi Bahasa Inggris

#1 New York Times - Bestselling Author

Available at Periplus Setiabudhi Bandung Bookstore (ig @Periplus-setiabudhi)

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Enam cerita dongeng ada di dalam buku ini.

1. Ayama and The Thorn Wood

Cerita tentang sebuah kerajaan yang Rajanya mengasingkan putra mahkotanya karena fisiknya yang menyeramkan. Lalu Ayama, anak kedua dari pasangan suami istri yang hidup sederhana di desa, yang juga tak secantik kakaknya, diperlakukan lebih seperti pembantu daripada seorang anak. Ketika desa-desa di kerajaan tersebut diteror oleh kematian dan rusaknya ladang-ladang kebun sumber pangan, semua menyalahkan monster itu sebagai penyebabnya.

Tidak ada yang berani menghadapi monster tersebut. Ayama diutus untuk menemui sang monster, untuk bernegosiasi. Sang monster memberi syarat pada Ayama, jika ia bisa menceritakan padanya suatu kisah yang bisa membuatnya merasakan emosi selain benci atau marah, maka ia akan melepaskan Ayama dan mengabulkan permintaannya. Dapatkah Ayama menyampaikan kisah seperti yang diminta? Atau ia akhirnya mati ditangan monster tersebut?

2. The Too-Clever Fox

Rubah itu sangat cerdik. Ia sudah pernah lolos beberapa kali dari bahaya karena otaknya yang cerdik itu. Hingga kali ini hutan dalam bahaya, karena ada pemburu yang sangat lihai sedang mengintai mereka semua. Pemburu yang kedatangannya tak terendus baunya, tak ada jejaknya, tak terdengar suaranya. Satu per satu hewan-hewan perkasa di hutan terbunuh. Maka sang rubah pun turun tangan. Hanya saja kali ini apa yang ia lihat tidak seperti yang ia duga. Dapatkan sang rubah menyelamatkan teman-temannya dari si pemburu? Bahkan kali ini kecerdikannya hampir tiada guna.

3. The Witch of Duva

Penyihir di dalam hutan itu kelihatannya baik, meski ia tak pernah menunjukkan kehangatan lebih untuknya. Setidaknya ia jauh lebih menyukai penyihir itu daripada ibu tirinya. Ayahnya jelas-jelas sudah jatuh diperdaya oleh perempuan itu. Belum lagi ada banyak anak perempuan yang hilang di desa. Tinggal bersama penyihir di hutan jauh lebih aman. Tapi ia rindu rumahnya, rindu pada ayahnya. Apa yang akan terjadi jika ia pulang ke rumah? Apa yang terjadi pada anak-anak perempuan yang hilang di desa mereka?

4. Little Knife

Seorang laki-laki yang tak punya kepandaian, keberanian, dan kecerdikan, tapi sangat beruntung karena memiliki teman berwujud air yang dapat ia ajak bicara seperti manusia, jatuh cinta pada gadis tercantik yang pernikahannya disayembarakan oleh ayahnya. Dapatkah ia mengalahkan semua peserta sayembara dan menikahi si gadis? Cara apakah yang akan ia tempuh untuk bisa memenuhi syarat sayembara tersebut? Kisah dengan akhir yang tak terduga, dengan pesan moral sebagai penutupnya.

5. The Soldier Prince

6. When Water Sang Fire

Author's Note

Dua dongeng terakhir tidak akan saya ceritakan sedikitpun di sini ya 😊, agar teman-teman bisa mencari tahu sendiri dengan membaca bukunya langsung.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Bisa dibilang ini buku dengan disain cover dan ilustrasi yang paling saya sukai di tahun 2017 😁. Saya tahu saya subjektif, memang sejak kecil saya suka buku dongeng, dan jatuh cinta pada ilustrasinya yang menawan. Buku yang saya baca adalah edisi hardcover dengan model sampul terpisah. Huruf-hurufnya timbul, bahan kertasnya kasar nyaris berserat seperti kain, dan perpaduan warna gelapnya dengan biru muda dan emas terang jelas memanjakan mata saya si pecinta ilustrasi jaman lampau 😅.

Sungguh tepat pilihan disain dan warnanya dengan isi dongeng yang bernuansa gelap, agak mencekam, berbahaya, tapi kok ya memikat hati. Bahkan jika kita lepaskan kertas covernya dan melihat ke bagian depan-luar buku ini, kita masih saja akan dimanjakan dengan ilustrasi yang lain lagi. Siapa sih ilustrator buku ini? Oh Sara Kipin. Cepat-cepat saya catat nama tersebut di dalam ingatan saya 😊😘.

Halaman berikutnya dan berikutnya lagi juga masih sama indahnya. Kertas yang berwarna, model huruf yang meliuk-liuk seperti tanaman sulur yang merambat di kastil kastil kuno, amboi ini dia tipe buku dongeng yang lama tak saya temui sejak terakhir saya membacanya sewaktu saya masih kecil. Hati saya jadi terasa hangat mengingat itu semua 😊.

Di sepanjang halaman selalu ada ilustrasinya dan di tiap akhir dongeng akan ada dua halaman penuh bergambarkan subjek dan topik dongeng yang baru saja diceritakan. Kertasnya terasa tebal dan licin, bukan seperti kertas buku novel (paperback), serta tidak ada satu halaman pun yang tak berwarna. 

Lalu ada gambar peta di halaman akhir buku. Peta apakah itu? Peta itu ada kaitannya dengan dongeng-dongeng yang telah diceritakan. Kita semua tahu, Leigh Bardugo memang menciptakan "dunia" khusus untuk cerita-ceritanya. Silakan teman-teman perhatikan petanya lalu menyimpulkannya sendiri ya 😊.

Tokoh dan Karakter

Bagian lain yang juga memikat dari buku ini adalah permainan tokoh beserta karakternya yang tidak semudah itu untuk ditebak, kecuali kita baca ceritanya hingga akhir. Yang di awal terlihat baik, bisa jadi malah jahat, yang kelihatannya kejam malah sebenarnya melindungi. Tapi ada juga yang digambarkan di awal sebagai si cantik nyatanya memang cantik. Tokoh-tokohnya tak cuma manusia, tapi ada juga hewan-hewan, duyung, bahkan boneka kayu. Yang pasti, Leigh Bardugo mengolah tokoh dengan karakter tergelap yang pernah ada. Tak heran sub judul buku ini bertuliskan Midnight Tales and Dangerous Magic.

 

Alur dan Latar

Ini dongeng original, dengan alur yang cantik, menggelitik, tidak umum, dan punya gaya. Membaca The Language of Thorns membawa saya pada dunia yang berbeda, dunia dongeng-dongeng kerajaan dan putra mahkotanya, desa-desa jaman lampau, lautan dan pantai, hutan dan sungai, rumah penyihir, pesta-pesta minum, dan masih banyak lagi. 

Memang benar bahwa dongeng-dongeng Leigh Bardugo ini banyak mengingatkan saya pada dongeng-dongeng terkenal dunia. Raja yang jahat, kisah duyung, hewan di hutan yang cerdik, boneka prajurit, kue jahe, penyihir di hutan, dan sayembara untuk si gadis cantik rasanya memang ada di dongeng-dongeng sebelumnya. Sepertinya Leigh Bardugo memang terinspirasi dari mitos, legenda, hikayat, dan dongeng-dongeng ternama. Namun, yang menjadi pembeda di sini adalah alur ceritanya yang pada akhirnya membuat dongeng Leigh Bardugo tetap terasa original.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Bisa dipastikan saya sangat menyukai tiap hal dalam buku ini. Tapi dari sisi tulisan, saya mencatat beberapa hal lain yang tak kalah berkesannya.

Apalah artinya dongeng tanpa pesan di dalamnya. Saya selalu berharap di balik cerita yang penuh fantasi itu, ada nilai moral yang tersembunyi. Pakemnya dongeng memang begitu. Mungkin ini semua hanya pendapat pribadi saya juga 😅, jadi ketika saya menemukan pesan-pesan tersebut, saya segera membuat catatan. Beberapa pesan tersebut adalah sebagai berikut:

Pesan pertama di salah satu dongeng di buku ini adalah tentang kehampaan,

"Emptiness cannot be banished, and so some days we wake with the feeling of the wind blowing through, and we must simply endure it as the boy did."

Page23

 

tentang kebebasan,

Koja darted forward and nudged her trembling hand once with his muzzle, then slipped back into the wood. "Freedom is a burden, but you will learn to bear it. Meet me tomorrow and all we be well."

Page 69

 

atau dongeng lainnya justru mengingatkan saya tentang kebodohan dan kedangkalan cara berpikir.

If you are lucky, you will find your friends again. They will put you on the back and soothe you with their laughter. But as you leave  that dark gap in the trees behind, remember that to use a thing is not to own it. And should you ever take a bride, listen closely to her questions. In them you may hear her true name like the thunder of a lost river, like the sighing of the sea.

Page 139

 

Siapa Leigh Bardugo

Leigh Bardugo adalah #1 New York Times - Bestselling Author untuk novel fantasi dan ia juga adalah pencipta Grishaverse. Dengan lebih dari satu juta eksemplar terjual, Grishaverse-nya terdapat di sepanjang karya-karyanya, mulai dari buku Shadow and Bone Trilogy, the Six of Crows Duology, dan The Language of Thorns - serta akan lebih banyak lagi terdapat di buku-buku selanjutnya. Cerpennya dapat ditemukan dalam berbagai antologi yang termasuk ke dalam Some of the Best from Tor.com dan The Best American Science Fiction and Fantasy 2017. Karya-karyanya yang lain adalah Wonder Woman; Warbringer dan Ninth House. Leigh lahir di Yerusalem, dibesarkan di Los Angeles, lulus dari Universitas Yale, dan memiliki pengalaman bekerja di bidang periklanan, jurnalisme, dan bahkan makeup serta efek khusus. 

Siapa Sara Kipin

Sara Kipin adalah ilustrator yang terkenal dengan karya fantasinya yang menggambarkan karakter feminin yang kuat. Gayanya terinspirasi oleh animasi awal dan lukisan romantis. Sara merupakan lulusan seni di Maryland Institute College.

 

The Language of Thorns mendapatkan 4,52 poin di Goodreads dan 5 bintang di Amazon.

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan untuk pembaca usia remaja dan dewasa yang menyukai cerita dongeng, yang berharap pada kisah dengan akhir yang tak usah selalu bahagia asalkan penuh makna, yang ingin menyimak dongeng original, dengan alur yang baik serta proporsional, yang cinta pada buku dengan disain dan ilustrator yang indah serta mengena sesuai topik cerita, yang ingin berfantasi bebas tentang kerajaan, putra mahkota, gadis cantik, hutan berbahaya, penyihir, berikut kecerdikan tokoh-tokoh ceritanya dalam menyelesaikan konflik, serta masih banyak lagi.

Sesuai seperti subjudul bukunya, yakni "Midnight Tales and Dangerous Magic" maka demikianlah kisah dongeng buku ini terasa. Penghianatan, pengorbanan, balas dendam, dan cinta, menjadi bagian yang nyata ada pada tiap dongengnya.

 

0
0
0
s2sdefault

Review Buku Unfuck Yourself - Gary John Bishop

Published: Wednesday, 29 November 2017 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

 

Judul : Unfuck Yourself

Get Out of Your Head and Into Your Life

Penulis : Gary John Bishop

Jenis Buku : Non Fiksi - Pengembangan Diri

Penerbit : HarperOne

Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman :  224 halaman

Dimensi Buku : 20.83 x 13.46 x 2.03 CM

Harga : Rp. 285.000

Hardcover - Edisi Bahasa Inggris

Available at Periplus Setiabudhi Bandung Bookstore

Ig @Periplus_setiabudhi

 

 

I acknowledge the downbeat and downtrodden,

the single mothers and unemployed fathers, the dreamers and wannabes;

I am you, and you can do it.

 

Sekelumit Tentang Isi

Gary John Bishop menghadirkan buku ini untuk mengubah cara pandang kita terhadap diri sendiri. Dengan bahasanya yang terus terang G.J. Bishop tidak hendak membaik-baikkan keadaan yang memang buruk, atau memaksa seseorang yang hidupnya kacau untuk berubah menjadi lebih baik jika yang bersangkutan tidak memiliki niat yang cukup kuat untuk itu. "Mohon maap, kau sendiri lah yang memilih takdirmu", demikian kurang lebih yang ingin disampaikan G.J. Bishop pada para "pecundang" kehidupan. Tapi, untuk mereka yang bersedia bekerja keras, mulai dari membaca buku ini, hingga nanti melakukan aksi, G.J. Bishop memberikan alasan fundamental yang sangat kuat bagi tiap orang untuk bangkit demi kehidupan yang lebih baik.

Jika ada buku yang akan saya sarankan untuk dibaca pertama kali saat seseorang mengalami kegagalan, keterpurukan, kebrengsekan diri, maka inilah bukunya. Sederhana, mengena, dan jelas-jelas menghipnotis. Butuh brainstorming dan mood booster? Ya, ini dia bukunya.

Yuk kita intip daftar isinya 😊

01 In the Beginning

02 "I am willing"

03 "I am wired to win"

04 "I got this"

05 "I embrace the uncertainty"

06 "I am not my thought; I am what I do"

07 "I am relentless"

08 "I expect nothing and accept everything"

09 Where next?

About the Author

 

Di dalam bukunya, Bishop membimbing kita dengan 7 tahapan sebagai berikut : 

"Say yes,...

  • I am willing
  • I am wired to win
  • I got this
  • I embrace the uncertainty
  • I am not my thoughts; I am what I do
  • I am relentless
  • I expect nothing and accept everything

 

Sekali lagi ada yang menampar muka kita bahwa tidak ada sesuatu yang bisa diraih jika kita sendiri tidak memberikan kesempatan diri kita untuk itu. Pada akhirnya tidak ada kehidupan yang sempurna, itulah realitanya.

This isn't just about seizing the day; this is about seizing the moment, the hour, the week, the month. This is about seizing your fucking life and staking a claim for yourself as though your life depended on it.

Because, the reality is, it does.

Page 207

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Mari kita mulai menggosipkan covernya ya. Buku abu-abu ini memang membuat saya harus setuju dengan sebuah kalimat "don't judge the book by its cover", karena gara-gara covernya yang sendu, datar, nyaris tak terlihat, mau tak mau membawa persepsi saya pada isinya yang pasti "membosankan". Nah, makanya saya terheran-heran ketika selepas membaca bukunya, saya merasakan semangat bergelora di dalam dada, motivasi untuk berubah, memandang masa depan yang lebih cerah, bahkan beberapa ketakutan dan keraguan yang semula bercokol di pikiran saya tentang beberapa hal tampaknya sudah pergi entah kemana. Namun setelah kembali memandangi cover buku saya kembali merasa sendu 😂.

Buku yang saya baca kebetulan edisi hardcover. Senang rasanya memegang bahan bukunya yang kokoh dan mantap. Tebal buku tak seberapa, sangat pas dengan takaran isinya menurut saya.

Beberapa model penyetakan halaman dan tipe serta ukuran huruf sempat menjadi poin-poin yang saya perhatikan. Biasanya halaman bab yang lebih dulu terlihat. Pembahasan di buku ini dibagi menjadi beberapa bab. Sejak awal saya sudah bersiap-siap, seperti apa halaman bab nya akan terlihat. Ternyata pergantian bab ditandai dengan satu halaman yang bertuliskan judul. Lalu halaman di baliknya akan selalu diikuti oleh satu kalimat berukuran besar, dicetak tipis, dan bertuliskan inti dari pokok pembahasan bab tersebut, yang menurut saya bisa juga dijadikan quotes. Unik juga ya kelihatannya. 😊

Picture : Bab-bab dalam buku

Picture : Setelah halaman yang berisikan judul bab,

halaman berikutnya selalu bertuliskan kalimat penting seperti ini

 

Opini 

Satu hal yang langsung saya rasakan sangat mendominasi tulisan Gary John Bishop di buku Unfuck Yourself adalah kutipan-kutipan yang bertebaran di sepanjang halaman awal hingga akhir. Sebenarnya penulis sudah menyebutkan juga tentang adanya banyak kutipan di dalam tulisannya. Mengingat betapa banyaknya orang yang senang dengan quotes, termasuk saya, maka adanya kutipan-kutipan ini menjadi daya tarik tersendiri. Sebaliknya, Gary John Bishop sangat sedikit menuliskan hasil-hasil penelitian ilmiah sebagai dasar logika berpikir untuk teori-teorinya. Di satu sisi, bagi pembaca yang suka dengan hasil-hasil riset mungkin akan mempertanyakan ide-idenya, tapi buat pembaca yang menginginkan buku motivasi dan pengembangan diri yang mudah dicerna, pendekatan yang Gary John Bishop ini bisa menjadi suatu kekuatan dan daya tarik sendiri bagi orang-orang untuk membaca dan memahami isi tulisannya.

Picture : Terdapat banyak quotes dari tokoh-tokoh ternama

 

Tidak hanya kutipan dari tokoh lain, kalimat yang dirasa memiliki makna penting dan layak dikutip juga banyak terdapat di buku ini. Biasanya dicetak dengan huruf besar, kadang dengan huruf tebal, dan diletakkan di posisi yang menonjol sehingga segera terlihat oleh pembaca. Terus terang saya juga merasa terpengaruh dengan kalimat-kalimat yang penuh penekanan seperti ini 😄.

Picture : Kalimat penting penuh penekanan

yang dicetak dengan huruf berukuran besar,

huruf yang ditebalkan, atau di posisikan di awal bab.

 

Hampir mirip dengan buku The Subtle Art of Giving a Fuck - Mark Manson yang pernah saya review sebelumnya, bahasa yang digunakan Gary John Bishop juga blak-blakan, gamblang, dan terus terang. Meski menurut saya, Unfuck Yourself masih lebih halus bahasanya daripada buku The Suble Art of Giving a Fuck. Tak ada kalimat mendayu-dayu, halus, dan penuh puja-puji, tapi entah bagaimana rasanya apa yang dituliskan terasa benar, dan oleh karena itulah saya menyetujui banyak hal yang ada dikemukakan di dalam buku meski kemasan bahasanya jauh daripada indah 😁. But hey, it's a real life, isn't it?

"I got this" doesn't mean you have the perfect solution. It just means you have your hands on the wheel, you have a say in this just like you've had a say all along. I mean come on, you live for this shit!

Page 91

Baca juga : "Review Buku The Subtle Art of Not Giving a Fuck 

 

Salah satu penekanan yang penulis lakukan adalah tentang bagaimana cara kita berbicara dengan diri kita sendiri. Ya, tentu kita bercakap-cakap dengan diri kita. Nah, model percakapan positif ini lah yang sebenarnya menjadi kunci dari perubahan dalam diri kita. Isi buku ini rasanya seperti bahan brainstorming yang sangat kuat. Baca lalu rasakan efeknya dalam psikologis kita. Mengapa percakapan dengan diri sendiri ini penting? Teman-teman bisa menyimak kalimat yang satu ini agar bisa lebih memahaminya.

In simple terms, the language you use to describe your circumstances determines how you see, experience, and participate in them and dramatically affects how you deal with you life and confront problems both big and small.

Page 7

#ya, bicaralah dengan diri sendiri.

Don't worry, it doesn't mean you're crazy. Or, perhaps it means we're all a little crazy. Either way, we all do it, so settle in and welcome to the freak show.

Page 7

 

Sudut pandang lain yang saya sukai dari buku ini adalah hal sederhana tentang cara kita melihat diri kita sendiri. Seringkali saya melihat postingan di berbagai media sosial, sebuah quotes terkenal yang biasanya disertai dengan gambar seekor kucing yang sedang bercermin, lalu bayangan di cerminnya adalah seekor harimau. Sisi positif dari quotes ini tentu adalah baik sekali bagi kita untuk berpikir positif bahwa kita tidak sekerdil yang kita kira, bahwa tiap diri kita memiliki kekuatan tersembunyi, bahwa kita bisa melakukan banyak hal yang keren-keren seperti orang-orang sukses di sana.

Tapi di satu sisi saya seringkali berpikir, apa salahnya menjadi kucing, menjadi makhluk yang lebih mungil, tapi tentu "kucing" dalam versi yang terbaik. G.J. Bishop tidak memaksa kita untuk menjadi harimau, jika kita memang seekor kucing kecil. Yang penting kucingnya nanti bisa menjadi kucing yang lucu dan menggemaskan 😚😄.

I won't ask you to tell yourself you're a tiger as away to unleash your inner animal. Firstly, you're not a tiger and secondly, well, you're not a tiger. This all may work for some people, but I'm much too Scoottish for that. To me, being told to do these sorts of things feels like being force fed a bucked of maple syrup liberally sprinkled with bits of last year's candy canes. Thanks but eh, no thanks.

Page 9

 

Ada satu bagian pula dalam buku ini yang mengingatkan saya pada buku The Four Tendencies - Gretchen Rubin yang pernah saya review di blog saya. Ini tentang teori G. Rubin perihal keberhasilan dan kegagalan orang-orang dalam mewujudkan resolusi tahun baru mereka. Menurut Rubin faktor keberhasilan atau kegagalan tersebut salah satunya akan sangat dipengaruhi oleh tipe tendensi orang tersebut. Upholders yang pandai mengelola ekspektasi diri sendiri akan dengan mudahnya sukses melaksanakan resolusi-resolusi mereka, tapi kelompok Questioner membutuhkan lebih dari sekadar list resolusi, jika dalam perjalanannya mereka tidak berhasil menemukan alasan yang tepat mengapa resolusi itu harus diwujudkan, maka mereka akan meninggalkan list tersebut tanpa merasa bersalah. Begitupun kelompok Obliger dan Rebel, ada penjelasan tertentu terkait hal tersebut sehubungan dengan tendensi yang mereka miliki.

Baca juga : "Review Buku The Four Tendencies - Gretchen Rubin"

 

Nah, di buku ini, G.J. Bishop menyinggung sedikit tentang resolusi tahun baru. Tampaknya Bishop memiliki sudut pandang yang lain tentang hal tersebut. Menyimak topik ini dari dua sisi penulis terkenal membuat saya mendapatkan suatu pandangan yang lebih menyeluruh.

One of the reason why we so often abandon New Year's resolutions is because they usually use language to describe what we are "going" to do, i.e. later. All too often they begin with what we're not going to do, which leaves us enthusiastic at the beginning but out of juice when faced with the inevitable moment when reality takes a swing at your face. Page 19

 

Bisa dirasakan bahwa salah satu cara John Gary Bishop memasukkan ide-idenya ke dalam otak kita adalah dengan menyebutkan poin-poin penting larangan yang maknanya gamblang. Efeknya buat saya, seperti pikiran-pikiran yang ditanam berjejalan, tapi entah kenapa rasanya bisa diterima.

As Epictetus points out, the true measure of who you are won't be found in your circumstances but rather the way in which you respond to them. To start this new process, you must first stop another one.

Stop blaming luck

Stop blaming other people.

Stop pointing to outside influences or circumstances.

Stop blaming your childhood or neighborhood.

Page 30

 

Pendekatan lainnya yang saya sukai di dalam buku ini adalah J.G. Bishop menggali apa yang sebenarnya kita inginkan dibantu oleh kalimat-kalimat pertanyaan yang telah disusun olehnya. Sehingga, alih-alih merasa didoktrin, saya lebih merasa dibimbing.

Either you control your destiny, or your destiny will control you. 

That's why one of the first personal assertions I teach to my clients is: "I am willing."

Before you can say that to yourself honestly, you must first ask yourself the question "Am I willing?" That question demands an answer. It can't just be left there in the nothingness of the universe. Am I willing? It pulls for a response. Am I willing? Its power is irresistible; I cannot escape its press for truth.

Am I willing to go to the gym?

Am I willing to work on that project I've been putting off?

Am I willing to face my social fears?

Am I wlling to ask for a raise or quit this shitty job?

Page 33

 

Bahkan aura hipnotis pun sangat terasa di buku ini akibat dimintanya kita mengulangi kalimat-kalimat tertentu secara berulang-ulang 😊. Contohnya seperti di bawah ini.

Get in touch with whonyou really are and say it.

I got this, I got this, I got this.

Page 91

 

Sit up, straighten your spine, and repeat after me, "I am relentless."

Page 159

 

 

Alasan-alasan yang dikemukakan juga logis dan meyakinkan, tak heran jika banyak pembaca yang tadinya kurang setuju bisa berubah menjadi sepaham dengan J.G. Bishop. Kalimatnya argumentatif.

Because when we think we know everything, we inadvertently turn ourselves away from the unknown and, by default, whole new realms of success. The person who accepts how unpredictable and uncertain life is has no choice but to embrace it.

They're not afraid of the uncertain; it's just a part of life. they don't seek out certainty because they know it doesn't really exist. They are also the kind of people who are aware of and open to the real magic and miracle of life and what we can be accomplished.

One of the pillars of philosophy is the examination of how we know what we know. how can we prove that what we believe is true? In most cases, we can't.

In reality, even many of the things we think of as hard facts aren't. They're half-truth. They're assumptions. They're misinterpretations. They're guesses. They're based on cognitive biases, faulty information, or conditioning. Use science as an example. What we believed five, ten, or twenty years ago has since been disproved. We have made radical leaps in understanding and those leaps are continuing every day. What we know today will one day be looked upon as archaic and outdated.

Page 106

 

Dan saya juga suka caranya menyemangati,

When you're not sure if you're following the right path, when you've been knocked down a few too many times. It's completely fine to get discouraged, hell, even defeated. What's not okey is to stop.

Page 157

 

Jika ditanya bagian mana dalam buku yang paling menarik disimak, secara pribadi saya akan menjawab bab "I expect nothing and accept everything". Penjelasan G.J. Bishop di topik ini sangat mengena, mendasar, dan mengubah beberapa sudut pandang saya terhadap kehidupan, yang pada akhirnya membuat pikiran saya menjadi lebih terbuka terhadap berbagai kemungkinan di masa depan.

 

Pada akhirnya semua langkah-langkah penuh penekanan itu memang tidak ada gunanya menurut G.J. Bishop.

Your life isn't getting any better! None of these assertions are going to make your life easy. Hell, for a while, they're more than likely to make your life harder! Nor is it enough to simply internalize them.

Page 193

Jadi apa yang harus dilakukan setelah ini semua? Teman-teman silahkan baca sendiri bukunya untuk mengetahui hal tersebut ya 😊. Buku ini sistematis alurnya, sehingga sangat nyaman untuk disimak tiap tahapannya.

 

Siapa John Gary Bishop

Gary memulai perjalanan hidupnya di Glasgow, Skotlandia. Ia memiliki pengalaman melatih atlit dan eksekutif dari berbagai perusahaan kecil maupun besar, dan juga memberikan pelayanan individual. Spesialisasinya adalah bidang ontology dan phenomenology. Pengalamannya yang luas ini membawa ia pada jabatan direktur senior untuk salah satu organisasi pengembangan pribadi terkemuka di dunia.

Pendekatan dan teori-teorinya banyak dipengaruhi oleh beberapa orang filuf seperti Martin Heidegger, Hans-Georg Gadamer, dan Edmund Husserl. G.J. Bishop kemudian mengembangkan sendiri merk untuk program-program pengembangan dirinya, yang bernama Urban Philosophy.

Buku Unfuck Yourself mendapatkan respon yang sangat positif, dengan pencapaian 4,03 poin di Goodreads, dan bintang 4,5 (75% reviewer memberikan 5 bintang), Unfuck Yourself tak pelak lagi merupakan buku motivasi dan pengembangan diri yang sangat layak untuk dibaca semua orang.

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan untuk pembaca remaja hingga dewasa yang menyukai buku non fiksi kategori pengembangan diri / motivasi, atau mereka yang membutuhkan bacaan yang positif yang dapat membangkitkan semangat, yang mampu mengubah pola pikir ke arah yang lebih baik, yang menenangkan sekaligus bisa menyemangati, yang bahasanya gamblang dan tidak dipenuhi janji-janji palsu, yang suka pada kutipan-kutipan motivasi, dan yang nyata-nyata sedang mengalami fase kemunduran dan kejatuhan dalam hidupnya, agar bisa segera bangkit kembali membenahi diri, dan menggapai masa depan penuh harapan.

Jika teman-teman menyukai buku The Subtle Art of Not Giving a Fuck - Mark Manson, hampir bisa dipastikan kalian pun akan menyukai buku ini 😊.

 

0
0
0
s2sdefault
Published: Thursday, 23 November 2017 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

 

Judul : The Girl Who Takes an Eye for an Eye

Penulis : David Lagercrantz

Jenis Buku : Novel

Penerbit : Quercus Publishing

Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman :  368 halaman

Dimensi Buku : 15.50 x 23.50 x 2.90 CM

Harga : Rp. 239.000

Edisi Bahasa Inggris

Continuing STIEG LARSSON's MILLENIUM SERIES

Available at Periplus Setiabudhi Bandung Bookstore

 

"First you find out the truth. Then you take revenge."

 

Sekelumit Tentang Isi

Salander berada di penjara khusus wanita Flodberga yang berada di bawah pengawasan ketat dengan pengamanan tingkat tinggi. Di penjara tersebut tentu saja para narapidana terbagi menjadi beberapa kelompok. Salah satu pemimpin kelompok yang paling berpengaruh adalah Benito, wanita kejam berbadan besar dan bersenjata keris. Salander tidak peduli dengan ricuhnya suasana penjara yang penuh dengan konspirasi, dan penyiksaan tersembunyi. Yang ia perhatikan dengan seksama cuma Faria Kazi, seorang narapidana cantik yang kerap disiksa Benito dan sipir seolah-olah tutup mata dengan kejadian itu. Apa yang dilakukan Salander untuk menyelamatkan Faria Kazi? Apa latar belakang kasus Faria Kazi sehingga ia menjadi target utama penyiksaan Benito? Apa yang terjadi pada penjara yang penuh dengan koruptor setelah Salander memutuskan untuk turun tangan?

Sementara itu Salander juga terus berusaha mengungkap misteri masa kecilnya yang membawa ia pada suatu petunjuk tentang seorang wanita yang memiliki tanda lahir di leher. Ia meminta Blomkvist untuk menyelidiki Leo, yang pada akhirnya membuat Blomkvist menjadi saksi mata kematian pelindung Salander yang paling setia, yaitu Holger Palmgreen dan menyeretnya kepada misteri yang lebih dalam tentang eksperimen anak kembar berpuluh tahun yang lalu. Sebuah project yang telah dinonaktifkan serta nyata-nyata menyalahi hukum. Berhasilkan Blomkvist menguak misteri dan konspirasi tersebut? Lalu apa hubungan itu semua dengan Salander? Siapakah wanita dengan tanda lahir di leher tersebut?

Dengan berbagai setting tempat di Stockholm, kisah Salander dan Blomkvist terasa begitu hidup dan menegangkan. Alur cerita yang mengangkat beberapa hal tentang Islam juga menarik untuk disimak.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

Jelas, saya sangat menyukai disain cover buku The Girl who Takes an Eye for an Eye. Warnanya yang putih, perak, hitam, dan kuning terlihat begitu elegan. Belum lagi ilustrasi siluet tubuh wanita yang menjadi latar belakang disain tulisannya. Buku ini pasti akan terlihat menonjol di display toko buku segera begitu saya melihatnya.

Tiga buah gambar peta Swedia dan Stockholm juga didisain dengan baik. Klasik dan personal. Sentuhan yang pas mengingat katanya ada beberapa tempat di peta manual tersebut yang tidak ada di versi peta biasa. Dengan menggunakan peta itu, kita bisa mencari lokasi dimana Salander dibawa oleh Benito dan komplotannya untuk dibunuh.

 

Tokoh dan Karakter

Selain dua tokoh utama Millenium Series, Lisbeth Salander dan Mikael Blomkvist, ada juga beberapa tokoh lainnya misalnya seperti Faria Kazi, Ahmed, Bashir, Leo, Mannheimer, Dan Brody, Benito, Olsen, Malin, Holger Palmgreen, Greitz, dan Benjamin. Semua tokoh yang terlibat ada deskripsinya di halaman depan buku ini. Bagi pembaca yang tidak begitu suka dengan cerita yang memiliki banyak tokoh, buku ini mungkin akan sedikit membingungkan dan melelahkan. Tapi untuk yang menyukai genre thriller, suspense, misteri, yang banyak melibatkan tokoh, buku ini bisa jadi bacaan yang menarik.

Penggambaran tokoh-tokoh antagonis sangat baik menurut saya. Sepertinya Benito memang sedikit sakit jiwa, dan kakak beradik Faria Kazi jelas-jelas penjahat yang "bodoh", tapi predikat pembunuh berdarah dingin yang sebenarnya justru dipegang oleh tokoh wanita dengan tanda lahir di leher. Kali ini selain Salander dan Blomkvist, detektif dari kepolisian juga menjadi pahlawan dalam cerita.

Karakter Salander yang eksentrik juga terasa di sini. Keputusannya memang sedikit berbeda dibanding orang-orang pada umumnya. Meski begitu, situasi tertangkapnya Salander oleh kawanan Benito tampak sedikit kurang pas mengingat betapa jenius dan hebatnya kemampuan beladiri Salander.

 

Alur dan Latar

Bagian terbaik dari alur cerita The Girl who Takes an Eye for an Eye menurut saya berada pada Part 1 yang kejadian-kejadiannya masih terpusat pada Salander dan situasi di penjara. Alur cerita berikutnya terasa lebih lamban, mungkin disebabkan karena David Lagercrantz membutuhkan landasan logika yang baik agar cerita tentang project anak kembar yang ia munculkan bisa menunjang alur secara sempurna. Alhasil saya sebagai pembaca memang jadi dibawa ke berbagai peristiwa masa lampau yang disertai dengan istilah-istilah kedokteran, genetika, bahkan finansial, dan musik.

Untuk pembaca yang suka pada novel berisi dengan kajian masalah yang mendalam, The Girl Who Takes an Eye for an Eye memenuhi kriteria tersebut. Tapi buku ini jelas kurang sesuai untuk pembaca novel suspense, thriller, dan misteri yang menginginkan alur cerita yang ringan saja.

Beberapa ide cerita memang terasa tidak baru, tapi kepandaian David Lagercrantz dalam mengolah cerita dapat menutupi hal tersebut. 

Deskripsi latar tentu sangat menunjang keberhasilan cerita. Pada kenyataannya saya memang menikmati latar-latar tempat yang disuguhkan . Terutama deskripsi penjara tempat Lisbeth Salander dibui.

It was ridiculous to have to travel for forty minutes in an old Scannia bus without air conditioning, given that the prison was situated so close to the railway line, but there was no nearby train station. It was 5.40 p.m. by the time he band to make out the dull-grey concrete wall of the prison. At seven metres high, ribbed and curved, it looked like a gigantic wave frozen in the middle of terrifying assault in the open plain. The pine forest was a mere line on the distant horizon and there was not a human dwelling in sight. There prison entrance gate was so close to the railway-crossing barriers that there was only room for one car at a time to pass in front of it.

Page 44

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Ya, saya tahu buku Stieg Larsson. Ya, saya ingat Millenium Series dengan tokoh Salander dan Blomkvistnya yang fenomenal. Tapi, begitu membuka buku ini saya seperti diingatkan kembali kepada banyak hal tentang itu. Halaman demi halaman yang bertuliskan pujian bagi buku Millenium Series baik yang ditulis oleh David Lagercrantz maupun Stieg Larsson menyegarkan ingatan saya kembali pada keberhasilan buku-buku tersebut.

Beberapa buku yang saya baca sebelumnya juga meletakkan halaman serupa di bagian depan buku, tapi khusus untuk buku ini, karena ini sebenarnya adalah series yang fenomenal dan cukup banyak jumlahnya jika ditotal dengan buku pertama The Girl With Dragon Tattoo, maka halaman yang berisi pujian ini mengesankan buat saya.

Picture : Pujian-pujian untuk buku lanjutan di letakkan di bagian depan buku

Picture : Pujian-pujian untuk trilogi Millenium Series yang ditulis

Stieg Larsson diletakkan di halaman belakang

 

Kejutan lainnya adalah sebuah peta. Ya, peta kota Stockholm, Swedia, dan beberapa bagian dari kota tersebut yang "katanya" tidak ada di peta formal. Mengisyaratkan adanya misteri kan ya 😁. Petanya sendiri menarik untuk ditelusuri, apalagi saat alur cerita bergulir dan tokoh-tokohnya berlakon di berbagai lokasi, saya jadi membalik ke halaman peta hanya untuk melihat di posisi manakah kejadian Salander hampir dibunuh.

Picture : Peta Swedia dan kota Stockholm

 

Tak cukup dengan itu, saya kemudian menemukan halaman lainnya yang bercerita tentang karakter pada tokoh Millenium Series yang terlibat dalam buku ini. Saya jadi teringat dengan gaya beberapa buku jadul yang dulu saya baca, salah satunya buku-buku detektif Agatha Christy yang kerap memberikan gambaran singkat tentang karakter tokoh di awal cerita atau buku detektif S. Mara Gd yang terkenal dengan tokoh polisi Kosasih dan Gozali. 

Picture : Halaman deskripsi tokoh-tokoh cerita

 

Narasi yang dipilih untuk menjadi prolognya juga membuat saya penasaran. Sebagian karena saya merasa gagal untuk menebak alur cerita, dan sebagian lagi karena kata "dragon" yang disebut-sebut dalam narasi itu sejak awal sudah menyimpan daya tarik sendiri bagi saya.

Holger Palmgren was sitting in his wheelchair at the visitors' room.

"Why is that dragon tattoo so important to you?" he said, "I've always wanted to know?"

"It had to do with my mother."

"With Agneta?"

"I was little, maybe six. I ran away from home."

"There was a woman who used to stop by to see you, wasn't there? It's coming back to me now. She had some kind of birthmark."

"It looked like a burn on her throat."

"As if a dragon had breathed fire on her."

 

Tadinya saya mengira sesuatu yang Indonesia sekali ini hanya disebutkan selintas di dalam buku ini. Tapi ternyata saya salah. Teman-teman bisa membaca sendiri bukunya dan menemukan salah satu senjata tradisional kita menjadi benda yang dibawa-bawa oleh salah satu tokoh antagonis. Dan senjata ini memegang peranan yang cukup menonjol di salah satu bagian dari alur cerita. Bangga tidak ya senjata kita disebut dalam buku seterkenal Millenium Series?

Saya bangga sih, meski berharap penggambaran dan penggunaannya bisa lebih positif daripada yang saat ini ada di buku. Selain tentang keris, ada juga satu kalimat yang menyebutkan tentang Jakarta. Selebihnya teman-teman bisa mencari tahu sendiri sejauh dan sebanyak apa buku The Girl Who Takes an Eye for Eye memasukkan unsur-unsur negara kita ke dalam ceritanya 😊.

Benito had- so it was rumoured - murdered three people with a pair of daggers she called Keris, and there was so much talk about them that they became part of the menacing atmosphere in the unit. Everyone said the worst that could happen was for Benito to pronounce that she had her dagger pointed at you, because then you were sentenced to death, or already as good as dead.

Page 28.

 

Rasanya David Lagercrantz memang telah mengaba-abai pembaca dengan menuliskan paragraf ini. Seolah menyiapkan saya untuk menghadapi alur cerita selanjutnya yang lebih berdarah-darah, seperti petir dan angin yang mengisyaratkan adanya badai di depan. Gara-gara membaca paragraf ini, saya jadi merasa tak sabar menanti apa yang akan terjadi. "Pasti seru," pikir saya.

But so far nothing has happened, not even when Salander had been given permission, despite her high-security classification, to work in the garden and the ceramic workshop. Her ceramic vases were the worst he had ever seen. She was not exactly sociable either. She appeared to be living in a world of her own and ignored any looks or remarks that came her way, including furtive shoving and punches from Benito. Salander shook them off as if they were dust or bird droppings.

The only one she looked out was Faria Kazi. Salander kept a close eye on her and probably understood how serious the situation was. This could lead to some sort of confrontation. Olsen could not be sure. But i was a constant anxiety.

Page 29

 

Permainan emosi ini juga terasa di sana-sini di sepanjang alur cerita, salah satunya di bagian ketika Palmgreen yang sedang sekarat berusaha memberikan petunjuk kepada Blomkvist, yang sayangnya nama yang ia berikan hanya sepenggal. Benar-benar membuat saya gemas 😁.

Palmgreen shook his head and gave a hoarse whisper. It was imposible to understand what he was saying. It was a low, almost soundless croacking, terrible to hear. Blomkvist bit his lip and was about to start breathing more air into the old man when he thought he could make out something he was saying, two words:

"Talk to..."

"Who?Who?" And then with his last reserves of strength Palmgreen wheezed something which sounded like "Hilda from..."

"Hilda from what?"

"To Hilda von..."

It had to be something important, something crucial.

"Von who?Von Essen? Von Rosen?"

Palmgreen gave a desperate look. Then something happened to his eyes. The pupil widened. His jaw dropped open. He looked dramatically worse ...

Page 145

 

Tentu saja bagian paling menakjubkan dari tokoh Salander adalah kejeniusannya di dalam meretas data. Keren. Saya senang David Lagercrantzs dapat membawa emosi dan imajinasi saya dengan baik saat adegan ini berlangsung.

Within second the screen went totally black. she was motionless, her breathing heavy and her fingers hovering over the keyboard, like a pianist preparing for a difficult piece.

The she hammered something out with astonishing speed, rows of white numbers and letters on the black screen. Soon after the computer began to write by itself, spewing a flood of symbols, incomprehensible program codes and commands. he could only understand the occasional English word, Connecting database, Search, Query and Response, and the Bypassing security, which was more than a little alarming. She waited, drumming her fingers on the table impatiently. "Shit!" A window had popped up that read ACCESS DENIED. She tried several more times until at last a ripple went across the screen, disappearing inwards, and then a flash of colour: ACCESS GRANTED. Soon things began to happen which Olsen had not imagined possible. It was as if Salander was drawn in through a wormhole into cyber worlds belonging to another time, a time long before the internet.

Page 40.

 

Meskipun ini kedengarannya sepele, tapi pada kenyataannya saya memang suka memperhatikan nama-nama tokoh dan tempat yang ada di dalam cerita. Pilihan nama di beberapa buku yang saya baca ada beberapa yang kurang cocok di imajinasi saya, kadang karena terasa berlebihan atau justru karena terlalu sederhana jika dibandingkan dengan genre buku atau latar cerita.

Di buku ini saya menjumpai nama-nama tempat yang kedengarannya unik, pasti agak sulit dilafalkan, tapi tetap ear-cathing. Contohnya, Riddarfjarden, yang setelah saya browsing di google ternyata memang nama asli sebuah danau di Swedia yang arti dalam bahasa Inggrisnya adalah The Knight Firth 😊.

 

Sebagai penulis, David Lagercrantz juga tampak mumpuni dengan menggali latar belakang keilmuan di bidang keuangan dan bisnis sehingga bisa memasukkannya ke dalam alur cerita dan menjadi logika tersendiri bagi beberapa bagian alur. Kebetulan salah satu tokoh ceritanya berlatarbelakangkan bisnis dan keuangan. Penjelasan-penjelasannya yang mendasari teori genetika dan psikologi anak kembar juga sangat meyakinkan sehingga menunjang keutuhan cerita dengan baik.

These days our savings are numbers on a computer screen, constantly shifting with movement in the market. And we rely completely on them. But imagine if we start to worry that those quotations not only bounce up and down with the markets, but could also quite simply ne erased, like numbers on a slate, what happens then?" Page 105

We had situasion there in which our investments ceased to exist for a short time. They couldn't be found anywhere in cyberspace and the market reeled. The crona fell by 45 per cent."

Page 105

 

Tak banyak humor yang saya temukan dalam buku ini, kecuali satu dua yang selintas tidak dimaksudkan penulis untuk melucu. Tapi karena pilihan kalimatnya memang menggambarkan dengan jelas karakter tokoh yang sedang dilibatkan, mau tak mau saya tersenyum juga.

"What do you mean?"

"She wont say a word about what happened. She has only two things to communicate, she says."

"And what are they?"

"One, that Benito got what she deserved. And two, that Benito get  what she deserved."

Blomkvist laughed, he had no idea why. He knew the situation was serious.

Page 111.

 

Satu isu sensitif yang saya temukan di dalam buku ini adalah tentang Islam. Dari awal saya sudah sangat penasaran, mau dibawa kemana persepsi pembaca oleh David Lagercrantz terkait topik Islam ini. Dua tokoh "jahat" dalam buku jelas-jelas disebutkan sebagai orang-orang Islam, dan salah satu tokoh yang juga beragama Islam di sini tampaknya menjalin hubungan tanpa pernikahan dengan seorang wanita, yang mana hal tersebut jelas bertentangan dengan ajaran agama.

Tapi rupanya David Lagercrantz memang pandai mengajak pembaca menelaah dari berbagai sudut pandang. Setidaknya saya merasa penggambaran yang ia berikan di dalam bukunya terkait agama Islam dan umat muslim terasa seimbang. Teman-teman bisa membaca sendiri bukunya dan menyimpulkan hal tersebut. Pendapat kita bisa jadi sama, tapi boleh jadi berbeda. Semua akan kembali pada perspektif kita masing-masing.

The brothers call themselves believers, but they have more in common with Benito than with Muslims in general...

Page 155

 

Ada beberapa kalimat di buku ini yang mengesankan saya.

First you find out the truth. Then you take revenge. Page 148

Life often looks its best from a distance. He was yet to understand that. Page 241

One can see into a man's eyes, but not into his heart. Page 285

 

Ini buku thriller yang bestseller, puzzlenya benar-benar berserakan menurut saya. Apalagi ternyata buku ini seperti yang memiliki dua puzzle besar. Hanya ketika mendekati akhir ceritalah saya mendapatkan gambaran kira-kira cerita mau dibawa kemana, meski tetap saja gagal menebak detailnya. Antara Part 1 dan Part 2 terasa sekali pergantian topik puzzlenya, dari yang tadinya fokus di seputar kehidupan Salander, kemudian berubah menjadi ke kehidupan Leo dan Dan yang disertai serangkaian penjelasan berlatar ilmu genetika dan pewarisan gen manusia. Blomkvist mengambil alih peran utama di bagian ini.

Buku ini asyik untuk dinikmati jalan ceritanya, dan buku ini juga berisi. Meski favorit saya sementara ini memang masih pada tiga buku pertama seri Millenium.

 

Siapa David Lagercrantz

David Lagercrantz adalah seorang penulis dan jurnalis. Ia adalah penulis buku I am Zlatan Ibrahimovic dan Fall of Man in Wilmslow yang mendapatkan predikat bestselling. David Lagercrantz melanjutkan Millenium Series setelah Stiegh Larsson meninggal dunia. Bukunya lanjutannya yang pertama berjudul The Girl in the Spider's Web dipublikasikan pada tahun 2015 dan menjadi global bestseller serta akan diangkat pula menjadi sebuah film.

Buku kedua yakni The Girl Who Takes an Eye for an Eye mendapat poin 3,77 di Goodreads, dan 3,5 bintang di Amazon.

 

Rekomendasi

Saya rekomendasikan novel ini untuk pembaca yang menyukai genre misteri, suspense, thriller, dengan teka-teki alur yang cukup susah ditebak detailnya, dan yang disertai pemaparan ilmiah untuk melengkapi logika berpikir pembaca. Pembaca yang memang mengikuti Millenium Series, suka pada tokoh yang eksentrik dan jago meretas data, serta yang mencari adegan action yang memacu adrenalin juga saya rekomendasikan buku ini.

 

Catatan : hanya untuk pembaca usia dewasa. Adegan kekerasan dan seksual (tidak erotis) terdapat dalam novel ini.

 

0
0
0
s2sdefault

Sponsored Post, Job Review, Special Request, Postingan Lomba

Review Buku The Language of Thorns -Midn…

30-11-2017 Hits:160 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : The Language of Thorns Midnight Tales and Dangerous Magic Penulis : Leigh Bardugo Ilustrator : Sara Kipin Jenis Buku : Non Fiksi - Dongeng Penerbit : Imprint        Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman : ...

Read more

Review Buku Unfuck Yourself - Gary John …

29-11-2017 Hits:313 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : Unfuck Yourself Get Out of Your Head and Into Your Life Penulis : Gary John Bishop Jenis Buku : Non Fiksi - Pengembangan Diri Penerbit : HarperOne Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  224 halaman Dimensi...

Read more

Review Buku The Girl Who Takes an Eye fo…

23-11-2017 Hits:314 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : The Girl Who Takes an Eye for an Eye Penulis : David Lagercrantz Jenis Buku : Novel Penerbit : Quercus Publishing Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  368 halaman Dimensi Buku : 15.50 x 23.50 x...

Read more

Review Buku

Review Buku Alang - Desi Puspitasari

07-12-2017 Hits:56 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Alang Penulis : Desi Puspitasari Jenis Buku : Novel Penerbit : Republika Tahun Terbit : Juli 2016 Jumlah Halaman : 289 halaman Dimensi Buku : 135 mm x 205 mm Harga : Rp. 55.000   Sekelumit Tentang Isi Alang sangat mencintai dunia...

Read more

Review Buku Sirkus Pohon - Andrea Hirata

07-12-2017 Hits:50 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Sirkus Pohon Penulis : Andrea Hirata Jenis Buku : Novel Penerbit : Bentang Tahun Terbit : Cetakan Pertama Agustus 2017 Jumlah Halaman :  410 halaman Dimensi Buku : 20,5 cm Harga : Rp. 87.000    Winner General Fiction New York...

Read more

Review Buku Satu Pembohong (One of Us is…

10-11-2017 Hits:584 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Satu Pembohong Judul Asli : One of Us is Lying Penulis : Karen McManus Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman : 408 halaman Dimensi Buku : 20 cm Harga :...

Read more

Cerita Dipidiff

J.CO Jatinangor Town Square : Duduk Menu…

11-10-2017 Hits:613 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Book blogger juga manusia, yang terkadang tidak ada ide menulis, hilang fokus, pikiran lelah, serta kurang nafsu makan (padahal tadi sarapan sebakul 😅). Teman-teman pernah merasakan keadaan yang seperti itu...

Read more

Giggle Box Jatinangor - Alternatif Tempa…

11-10-2017 Hits:615 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Dulu sekali, tahun lalu tepatnya, saya pernah menulis tentang J.Co di Jatos. Waktu itu saya sedang hamil moonlight dan saat berkunjung ke sana saya cukup antusias untuk datang kembali mengingat...

Read more

Sudut Buku di Transmart Carrefour Cipadu…

08-10-2017 Hits:703 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Mungkin tidak semua orang seperti saya, yang setiap berkunjung ke mall atau supermarket pasti langsung mencari book corner. Tentu saya paling bahagia kalau di sana ada toko bukunya. Tapi jika...

Read more