EMail: dianafitridipi@gmail.com

rainbirds

Judul : Rainbirds

Penulis : Clarissa Goenawan

Jenis Buku : Novel - Fiksi Sastra

Penerbit : Gramedia

Tahun Terbit : 2018

Jumlah Halaman :  400 halaman

Dimensi Buku :  20 cm

Harga : Rp. 89.000

ISBN : 9786020379197

Edisi Terjemahan

Soft Cover

Novel pemenang Bath Novel Award 2015

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Tahun 1994, Ren Ishida menerima kabar kakak perempuannya, Keiko, ditikam berulang kali hingga tewas di Akakawa, kota terpencil tempat kakaknya tinggal. Ia pun memutuskan untuk sementara pindah ke kota itu sambil mengurus pemakaman dan membantu polisi menyelidiki kematian Keiko.

Namun kemudian, tanpa sadar Ren seolah mengikuti jejak-jejak terakhir yang Keiko tinggalkan. Ia mengisi posisi pekerjaan Keiko di kursus bimbingan belajar Yotsuba. Ia bahkan menerima syarat aneh untuk tinggal di rumah politisi terkemuka, di kamar yang sebelumnya ditempati Keiko.

Gadis kecil yang terus-menerus muncul dalam mimpi, seorang siswi bimbingan belajar yang agresif, suasana suram, penuh misteri dan teka-teki sepanjang menyusuri Akakawa, membuat Ren penasaran ingin mengetahui apa yang sebenar-benarnya terjadi pada malam Keiko terbunuh.

Dan pada akhirnya penyelidikan yang Ren Ishida lakukan justru membuka masa lalu dirinya dan kunci masa depan hidupnya pula.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

rainbirds

Mungkin untuk yang suka disain cover sederhana yang memberikan nuansa sendu akan suka dengan disain cover yang ini. Sesuai dengan situasi mental tokoh utama yang diceritakan kan ya. Burung rainbirds nya sendiri tak tampak terlihat di cover, mungkin karena dianggap tidak utama meski dipilih menjadi judul.

Saya jadi teringat salah novel yang juga mengambil nama burung sebagai judulnya, yakni Mugpie Murders karangan Anthony Horowitz yang saya baca tahun lalu. Buku bergenre suspense detektif itu jg kurang lebih ada kemiripan dengan Rainbirds yang mengangkat topik pembunuhan juga. Sekilas gaya-gaya disain buku Rainbirds mengingatkan saya pada buku-bukunya Harukin Murakami yang sastra novelis. Novel Rainbirds pun memang terasa unsur sastranya. Mungkin memang ada hubungan antara cover disain sederhana-sendu dengan gaya penulisan yang "nyastra".

 

Tokoh dan Karakter

Ren Ishida tokoh utama novel ini adalah seorang laki-laki tampan dengan latar belakang masa kecil yang suram dan broken home. Ishida besar oleh kasih sayang kakak perempuannya yang justru membuatnya ketika dewasa selalu membanding-bandingkan semua perempuan dengan sosok kakaknya. Selama bertahun-tahun Ishida hidup dalam kebimbangan meski ia sebenarnya cukup berhasil di bidang pendidikan.

Honda, teman kakak perempuan Ishida, adalah seorang guru di tempat bimbingan belajar. Sikapnya yang sangat peduli dan penuh perhatian pada Ishida membuat Ishida merasa berterimakasih sekaligus bertanya-tanya.

Putri Tuan Nakajima, seorang gadis yang juga murid di bimbingan belajar tempat Ishida bekerja jelas agresif pada Ishida. Ada rahasia yang ia dan keluarganya simpan yang ada hubungannya dengan misteri kematian kakak perempuan Ren Ishida.

Keluarga politikus, Tuan Katou dan istri yang hidup menyendiri dan penuh misteri, kaya tapi tidak bahagia, dibayang-bayangi oleh kematian putri tunggal mereka dan Nyonya Katao yang tidak sehat mentalnya.

Sepertinya sudah kelihatan ya kalau tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita memiliki rahasia masing-masing, dan seperti itulah novel Raindbirds adanya. 

 

Deskripsi tokoh pada Rainbirds cukup detail. Saya kutipkan satu contohnya di bawah ini:

Nyonya Itano pendek dan gemuk. Rambut cepaknya dicat pirang, tetapi bisa kulihat akarnya yang kelabu. Riasan wajahnya yang tebal didominasi warna merah muda. Perona mata merah muda, perona pipi merah muda lipstik merah muda. Dengan setelah apik warna lila, dia terlihat seperti tokoh kartun.

Halaman 187

 

Alur dan Latar

Alur cerita bisa dibilang maju dan mundur karena ada bagian-bagian yang flash back. Tapi sudut pandang cerita selalu dari Ren Ishida. 

Untuk pembaca yang suka pada penutup yang close ending, novel ini akan terasa sedikit mengecewakan. Tapi untuk yang suka sastra dan open ending, novel ini akan sesuai untuk mereka.

Latar cerita mayoritas menggunakan setting kota biasa, dalam cerita ini kota Akakawa. Apartemen, kantor polisi, gedung bimbingan belajar, halte, dan rumah menjadi latar yang digunakan di dalam cerita. Deskripsi latar cukup detail, sehingga bukan cuma tergambarkan fisiknya tapi juga suasananya.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Karena ini buku debutan maka saya membaca halaman pujiannya sampai habis. Saya kutipkan dua yang saya pendapat setuju.

Debut dari Clarissa Goenawan menyeimbangkan kehalusan plot yang ditempa dengan perlahan dan potret dari hubungan yang rapuh, menjadikan novel ini mengundang untuk dibaca dan susah untuk dilepaskan – Publisher Weekly

Novel ini bagaikan cerita dalam mimpi, tentang misteri pembunuhan yang tidak biasa, berfokus pada pengembangan karakter dan nuansa perenungan diri. Sudah pasti menarik pembaca fiksi sastra. - Booklist

 

Lalu, bab Catatan Penulis juga merupakan bagian yang menurut saya wajib dibaca jika kita ingin tahu latar belakang ditulisnya novel ini. Selalu menarik untuk mengetahui apa yang membuat seorang penulis berhasil membuat tulisan yang bagus dan catatan mereka selalu menginspirasi diri saya.

Terimakasih sudah memilih Rainbirds. Kuharap kalian menikmati membacanya seperti ketika aku menulisnya. Dan jika kalian suka, berbagilah dengan seseorang. Teman, keluarga, atau rekan kerja, terutama mereka yang sudah begitu lama tidak membaca.

 

Ini kenyataan hidup.. Bagian dari fiksi romance yang sampai sekarang tidak bisa saya terima dalam logika tapi bisa saya pahami karena keberagaman umat manusia. Maka saya rekomendasikan novel ini untuk usia dewasa saja.

“Tidak masalah. Aku juga punya pacar, meski dia lebih sering berada di luar negeri.”

Tidak mengagetkan. Aku sudah menduga dia hanya ingin main-main.

“Berarti kita sama, kan?” Dia mengeluarkan notes dari tasnya, merobek satu halaman, dan mulai menulis. Dijejalkannya kertas itu ke tanganku sambil berkata, “Kali ini, aku akan mengatakannya dengan jelas. Ini nomorku, jangan hilang lagi.”

Halaman 115

 

Dia tersenyum jail, “Seksnya atau sarapannya?”

“Dua-duanya.”

“Kalau begitu, sepakat.” Dia berdiri dan membungkuk untuk mengambil tasnya. Bra putih berenda mengintip dari garis lehernya yang terkuak. “Aku ingin sekali mengobrol lebih lama denganmu, tapi aku harus pergi sekarang. Kutunggu teleponmu.”

Halaman 116

 

Kekuatan novel ini juga terletak dari sisi pengolahan emosi pembacanya yang berhasil.

Yang mati tak akan hidup lagi. Pada hari kematian kakakku, sebagian diriku juga ikut mati.

Hujan semakin deras, dan aku bertahan di sana, tak sadar akan waktu. Aku menunggu sampai hujan reda setelah membua mata. Aku menoleh ke jalan. Genangan air tampak berkilauan, memantulkan cahaya lampu-lampu jalan. Jadi inilah yang dilihatnya sebelum tewas. Aku bangkit dan berjalan pulang dengan kesedihan yang tak tertanggungkan.

Hal 120

 

Kalimat-kalimat yang membawa pembaca pada perenungan yang dalam memang bagian dari ciri khas fiksi sastra.

... kesedihan itu sendiri tak akan menyakiti siapa pun. Hal-hal yang kaulakukan ketika sedang sedihlah yang bisa menyakitimu dan orang-orang di sekitarmu.

Halaman 127

 

Kenalan adalah orang yang kita kenal, tapi teman adalah orang yang bisa kita andalkan.

Halaman 169

 

Yang pergi mungkin tidak keberatan, tapi yang ditinggalkan pasti akan merasa sangat sangat sedih.

Halaman 316

 

Ketika kita memasak untuk orang yang kita sayangi dan melakukannya dengan sepenuh hati, perasaaan kita akan muncul dalam masakan.

Halaman 396

 

Novel pemenang Bath Novel Award 2015 ini dipuji-puji sebagai novel debutan yang patut diperhitungkan. Gaya tulisannya yang ringkas dan sederhana, deskripsi tokoh dan latar tempat yang tidak berkumpul di satu paragraf menjadi beberapa ciri khas gaya penulisan Clarissa di Rainbirds. Untuk ukuran cerita yang ada adegan tokoh terbunuh, sejauh ini belum ada yang terasa spesial atau wah atau mencekam, tapi herannya kok bacanya nagih ya. Daya tarik novel Rainbirds memang dari paragraf-paragrafnya yang ringkas tapi hidup.

Pola cerita buku ini mengingatkan saya pada Turtles All Way Down nya John Green dan gaya menulisnya Murakami.

 

Siapa Clarissa Goenawan

Clarissa Goenawan adalah penulis Singapura kelahiran Indonesia. Cerita pendeknya telah memenangkan penghargaan dan muncul di beberapa majalah sastra dan antologi di Singapura, Australia, Inggris dan Amerika. Rainbids adalah novel pertamanya.

Rainbirds mendapatkan rating 3,39 di situs Goodreads dengan review berjumlah 2 ribuan.

 

Rekomendasi

Saya rekomendasikan novel ini pada pembaca usia dewasa yang suka pada buku bergenre fiksi sastra. Bukan topik pembunuhan yang jadi ide utama cerita, tapi kehidupan dan sisi emosi para tokohnya yang justru menjadi poin penting isi novel ini. Rainbirds kemungkinan besar akan disukai pembaca yang senang pada cerita berunsur misteri, yang suka berkontemplasi, merenungkan kalimat-kalimat pada cerita, merefleksikannya pada kehidupan nyata. Kalimat-kalimatnya sederhana tapi penuh makna.

My Rating :4/5

 

with the end in mind

 

Judul : With The End in Mind

– Dying, Death, and Wisdom in an Age of Denial

Penulis : Kathryin Mannix

Jenis Buku : Non Fiksi

Penerbit : Harper Collins Publisher

Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman : 216 halaman

Dimensi Buku :  21.60 x 13.50 x 0.00 cm

Harga : Rp. 258.000

ISBN : 978-0-00-824559-7

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

 

Available at Periplus Setiabudhi Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi)

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Dr. Kathryn Mannix telah mempelajari dan mempraktikkan perawatan paliatif selama tiga puluh tahun. With The End in Mind adalah sebuah buku yang mengisahkan semua pengalamannya saat merawat para pasiennya tersebut. Mannix mengajak kita semua untuk mengenal kekuatan terapeutik yang membantu seseorang untuk menyambut kematian dengan keterbukaan dan pemahaman. Dengan merangkai berbagai detail pengalamannya sebagai konselor, dan melalui kisah-kisah pasiennya serta keluarga mereka, berikut kehidupan mereka yang khas, Dr. Mannix mengingatkan kita pada proses kematian manusia secara general, namun membawakannya pula dengan sentuhan yang personal.

With The End in Mind menjelaskan suatu kemungkinan bagi kita untuk menyambut kematian dalam damai, dengan persiapan yang baik, dan terus menjaga martabatnya hingga akhir.

Harus diakui, kematian telah menjadi sesuatu yang kita sering ingkari, karena kita lebih memilih berjuang mati-matian untuk melawannya daripada menerimanya sebagai suatu yang tak terelakkan dalam hidup kita. Buku With The End in Mind mengubah perspektif kita akan hal itu semua.

 

Kita intip dulu daftar isinya ya

Introduction

Reading the Label

Patterns

Unpromising Beginnings

French Resistance

Tiny Dancer

Wrecking Ball

Last Waltz

Pause for Thought: Patterns

My Way

That is The Question

Never Let Me Go

Hat

Take My Breath Away

Pause for Thought: My Way

 

Naming Death

Second-Hand News

Slipping Through My Fingers

Talking About the Unmentionable

The Sound of Silence

Every Breath You Take (I’ll Be Watching You)

Beauty and The Beast

Pause for Thought: Naming Death

 

Looking Beyond the Now

In The Kitchen at Parties

Please Release Me – A Side

Please Release Me – B Side

Travel Plans

With Love From Me to You

Pause for Thought: Looking Beyond the Now

 

Legacy

Something Unpredictable

The Year of The Cat

Post-Mortem

Needles and Pins

Lullaby

Pause for Thought: Legacy

 

Transcendence

Musical Differences

Deep Dreams

De Profundis

Perfect Day

‘Only the Good Die Young’

Pause for Thought: Transcendence

 

Last Words

Glossary

Resource and Helpful Information

Acknowledgements

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Harus seperti apa ya disain buku non fiksi yang mengangkat topik sensitif tentang kematian (?). Sepertinya memang disain covernya bakal tak punya banyak pilihan. Dominasi warna putih tampak mewakili kematian dalam kedamaian.

Ukuran buku memang lumayan besar. Sebaliknya ukuran huruf relatif kecil dan terasa rapat karena jarang sekali ada ilustrasi gambar di buku, kecuali bagan yang sesekali muncul dalam bahasan. Buat teman-teman yang tidak begitu suka buku penuh tulisan, buku ini akan terasa agak melelahkan. Tapi kisah-kisah yang disampaikan Mannix menurut saya sangat menarik dan menyentuh sehingga meski halaman-halamannya penuh huruf, itu tak jadi masalah, sebab saya tenggelam dalam setiap ceritanya.

 

Opini

Untuk sebuah buku yang isi per bab nya bakal membahas banyak hal tentu saja saya mengharapkan adanya tulisan di awal tiap bab yang bisa menggambarkan apa sih yang akan dijabarkan di dalam bab. Nah, di buku ini selalu ada paragraf pembuka yang mengarahkan kita pada isi bab. Meski bukan berupa poin-poin, tapi cukuplah untuk memberikan gambaran singkat untuk para pembaca.

French Resistence

Sometimes, things that are right in front of our noses are not truly noticed until someone else calls them to our attention.

Sometimes, courage in about more than choosing a brave course of action. Rather than performing brave deeds, courage may involve living bravely, even as life ebbs. Or it may involve embarking on a conversation that feels very uncomfortable, and yet enables someone to feel accompanied in their darkness, like a good deed in a naughty world.

 

Banyak hal yang patut untuk direnungkan dari kisah-kisah di buku ini. Membaca buku ini seperti membuka sudut pandang baru bagi saya untuk memaknai kehidupan.

Bereaved people, even those who have witnessed the apparently peaceful death of a loved one, often need to tell their story repeatedly, and that is an important part of transfering the experience they endured into a memory, instead of reliving it like a parallel reality every time they think about it.

And those of us who look after very sick people sometimes need to debrief too, it keeps us well, and able to go back to the workplace to be rewounded in the line of duty.

Page 48

 

Atau dari kalimat-kalimat sepenggalannya yang sangat mengena. 

So, if most deaths are at the end of a period of escalating all-health, and if even then majority of sudden deaths are as a result of a acknowledged significant illness, why are we still so often unready?

Part : Slipping Through My Fingers

 

Mannix jelas piawai membawa emosi pembaca ke dalam kisah-kisah yang ia tuliskan. Salah satu kekuatan buku ini juga terletak pada hal tersebut.

Kisah-kisah yang Mannix tuturkan terasa lucu dan begitu hidup.

He had expected that he would hate this, that he would be a burden, and that he would rage against the indignity of immobility. But to his surprise, he found that he was still a man who could Get Things Done. The vegetable garden he had planned was tended by his wife and son, with Eric nearby as adviser (“That’s not a weed, it’s a row of parsnips, you turnip!”), and they relished their outdoor time together.

Page 63

 

Tapi memang lebih banyak sedih dan harunya. 

Nelly gazes at Joe. He moves backwards slightly, as though fearful of what she might say. Nelly, though, is now a woman on a mission.  This is her moment.

“I’m dying, Joe,” she tells him simply, and he drops his head and begins to son. “I’m dying, and we both know I am.”

Page 142

 

Bukan cuma berisi hal-hal yang menguras emosi, With The End in Mind juga disertai pemaparan medis yang cukup detail.

Drugs to supports is failing hearth are running through an IV line. He is breathing without medical help; an oxygen mask is strrapped to his face. The story suggests a stroke, and maybe another heart attack. His chances of survibing are slim; of surviving to become well, remote. There are hard decicions to be made.

....

Etc

Page 119

 

Salah satu bab yang saya suka adalah bab for Thought yang ada di tiap akhir bagian. Isinya kurang lebih berupa poin-poin renungan yang didapatkan dari menyimak semua kisah pada bab yang bersangkutan.

 

Personally, ada bagian dalam buku ini yang mengingatkan saya pada pengalaman saya sendiri sewaktu menunggui almarhumah ibu saya di saat terakhirnya.

“Sometimes, even unconscious people are aware of sounds around them, so he may be able to hear your voices and be glad that you’re here.

Page 122

# Jadi itu rupanya, meski beliau dalam keadaan koma tapi meneteskan air mata saat mendengar suara saya. Demikian pun saat saya mengantarnya pergi dengan doa.

 

Di akhir bagian selalu ada satu paragraf penutup yang berisi hikmah. Salah satunya saya kutipkan di bawah ini.

By being open and honest, we hope that we have made it safe for our children to ask their questions, voice their anxieties, and recognize their sadness at the finality of death. It hasn’t  made them maudlin; it hasnt made them afraid of taking risks and seizing life’s opportunities, they seem to have survived our efforts intact.

Every family, will find its own way to deal with the Facts of Life; we need to remember that the Facts of Death are just as important to acknowledge and discuss.

Page 133

 

Komposisi buku ini terasa pas dengan dijabarkannya sudut pandang medis beserta teori ilmiah ditambah pengalaman pribadi dengan pendekatan yang terasa dalam dan sangat menyentuh.

Buku ini menginspirasi saya bahwa mati bukanlah hal yang menakutkan dan penuh duka semata, tapi juga bisa begitu indah dan damai.

 

Siapa Kathryn Mannix

Dr Kathryn Mannix telah menghabiskan karir medisnya bekerja dengan orang-orang yang memiliki penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Dimulai dengan perawatan kanker dan berganti karir menjadi pelopor kedokteran paliatif, ia telah bekerja sebagai konsultan perawatan paliatif dalam tim di rumah perawatan, rumah sakit dan di rumah pasien sendiri. Mannix berupaya untuk mengoptimalkan kualitas hidup bahkan ketika kematian semakin dekat. Dia sangat tertarik dengan pendidikan publik, dan setelah memenuhi syarat sebagai Terapis Perilaku Kognitif pada tahun 1993, ia memulai klinik CBT pertama di Inggris (mungkin dunia) khusus untuk pasien perawatan paliatif, dan merancang pelatihan 'CBT First Aid' untuk memungkinkan rekan perawatan paliatif untuk menambah keterampilan baru untuk repertoar mereka untuk membantu pasien.

Buku With The End in Mind mendapatkan rating 4.7 di Amazon dan 4.55 di situs Goodreads.

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca semua usia yang mencari buku yang membahas tentang kehidupan pasien di saat terakhir hidupnya, untuk memahami seperti apa pikiran dan perasaan si pasien, dan bagaimana sebaiknya pihak keluarga menyikapi masa-masa tersebut. Buku ini tidak dimaksudkan oleh penulis untuk membuat sedih dan putus asa para pembacanya, terlebih jika yang membaca sedang menghadapi situasi yang sama. Kathryn Mannix menuliskan ini semua untuk membantu kita untuk menyambut kematian dengan persiapan yang sebaik mungkin, meminimalkan resiko, disertai harapan dapat pula menginspirasi dan menyemangati mereka yang sedang berjuang di masa-masa tersebut.

 

My Rating : 5/5

 

 

 

 

Judul :  Saint Anything

Penulis : Sarah Dessen

Jenis Buku : Novel Romance

Penerbit : Elex Media Computindo

Tahun Terbit : Oktober 2017

Jumlah Halaman :  364 halaman

Harga : Rp. 69.800

Edisi Terjemahan

Penulis Terlaris #1 New York Times

 

Sekelumit Tentang Isi

Sydney hanyalah anak biasa, menganggap dirinya tak terlihat di mata siapa pun, terutama keluarganya sendiri. Penyebabnya adalah Peyton, kakak laki-laki Sydney, selalu menjadi segalanya. Perhatian orangtua mereka tertuju sepenuhnya kepada dirinya. Hingga suatu hari mobil polisi mendatangi rumah mereka dengan membawa kabar tak terduga. Peyton terlibat masalah besar, ada anak yang cedera parah, dan pada akhirnya Peyton harus dipenjara.

Semua pun berubah kacau. Sydney terombang-ambing di tengah masalah yang datang bertubi-tubi, dia mencoba mencari tempat yang pasti di tengah keluarganya. Tapi semua orang terlalu mengkhawatirkan Peyton. Terutama ibunya.

 

Di tengah kebimbangannya, Sydney bertemu keluarga Chatham yang heboh, yang memiliki kehidupan berbeda dengan keluarganya, dan yang ternyata bisa membuatnya merasa diterima dan ‘terlihat’ untuk pertama kalinya. Di sana pula lah ia bertemu Mac yang manis dan Layla.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

Menurut saya disain covernya manis dan sederhana ya. Cocok sekali dengan karakter novelnya. Ilustrasi gambarnya tentu ada kaitannya dengan isi cerita. Teman-teman bisa cari tahu sendiri nanti tentang ini.

Soal ketebalan buku tampaknya tak jadi soal kalo kita bisa menikmati ceritanya kan. Dengan tiga ratusan halaman rasanya buku ini terhitung sedang saja ketebalannya. 

 

Tokoh dan Karakter

Tokoh paling menarik bagi pembaca wanita tampaknya tak pelak lagi bakal jatuh pada Mac. Laki2 baik hati, memang agak cool, tapi dia berpembawaan manis sekali. Tipe-tipe pelindung yang membuat para wanita jatuh hati.

Lalu Sidney sendiri adalah gadis dari keluarga berada, yang cantik tapi pribadinya tidak muncul krn lingkungan yang tidak mendukung. Tentu saja itu terjadi sebelum ia bertemu keluarga Catham. Sidney menurut saya gadis yang baik hati dan memiliki hati nurani. Ayah Sidney memiliki karir yang sukses sehingga sibuk dengan pekerjaannya dan mempercayakan keluarga di tangan istrinya. Ibu Sidney tipe organisator dan perfeksionis. Dengan caranya sendiri ia berusaha untuk menjadi seorang ibu yg baik.

Layla gadis yang ramai, karakternya hidup, ekspresif, peduli, berprinsip, berani, dan setia kawan. Dan sisanya masih ada beberapa tokoh lagi yang menunjang jalannya cerita. Menurut sya, buku ini sudah memiliki kekuatan dari unsur penokohannya.

Kekuatan penokohan ini sangat ditunjang pula oleh narasi yang ada. Karakter tokohnya digambarkan dengan cukup detail.

Ayahku bukan tipe yang biasa mengungkapkan perasaannya melaui sentuhan. Ayahku lebih sering menepuk bagu, atau memeluk singkat dengan tiga-tepukan-punggung. Selalu ibuku yang menarikku ke pangkuannya, mengusap rambutku, memelukku erat. Tapi saat ini, di tengah hari-hari ang paling menakutkan dan paling aneh ini, ayahku memelukku. Aku membalas pelukannya, mendekapnya sekuat tenaga, dan kami terus berpelukan hingga lama.

 

Halaman 17

 

Alur dan Latar

Bisa dibilang alur novel ini cukup pelan karena titik berat novel ada di pengolahan emosi pembaca. Untuk teman-teman yang suka pada novel yang menguras emosi dengan genre romance dan friendship, kemungkinan akan suka buku ini.

 

Cerita mengambil latar tempat yang sederhana yakni seputar kota tempat para tokoh tinggal, mulai dari sekolah, hingga swalayan. Rumah adalah salah satu latar yang paling sering muncul. Hal ini jadi mengingatkan saya pada latar-latar cerita drama keluarga juga.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Pengolahan sisi emosi dari cerita menurut saya sangat baik. Kalimat-kalimat yang dipilihnya sederhana tapi tepat untuk  menggambarkan perasaan para tokoh. Ada terasa kemiripannya dengan novel Turtles All Way Down - John Green dari narasinya. Contohnya saya kutipkan di bawah ini. 

Ada enam acara berbeda - di antaranya Dallas, Los Angeles, dan Chicago - yang cukup untuk membuatku menonton dua acara setiap hari demi mengisi waktu setelah pulang sekolah hingga makan malam. Aku merasa sangat terlibat dengan acara itu, seolah-olah acara itu adalah teman-teman dekatku, dan aku sering berbicara ke arah televisi seolah mereka bisa mendengarku, atau memikirkan topik atau masalah mereka bahkan ketika aku sedang tidak menonton. Ini jenis kesepian yang ganjil, ketika merasa kalau sebagian teman-teman dekatku tidak pernah tahu kalau aku ada. Tapi tanpa mereka, rumah ini terasa kosong, bahkan meskipun Mom ada, yang membuatku merasa hampa seperti ketika diriku semakin cemas ketika menunggu saat turun dari bus setelah pulang sekolah. Hidupku hampir selalu terasa datar dan menyedihkan. Entah kenapa rasanya lebih menenangkan ketika aku hanyut dalam kehidupan tokoh lain.

Halaman 7 

 

Adegan-adegan emosional yang digarap dengan baik dijabarkan dengan detail.

Kami akan menghadapi banyak sekali hal, yang melelahkan dan tak asing lagi, dan hal-hal baru yang jauh lebih buruk. Kakakku tidak akan pernah kembali sama. Aku tidak akan pernah menjalani hari tanpa sekali pun teringat David Ibarra. Ibuku akan berusaha tegar, tapi sesuatu sudah hilang dari dalam dirinya. Aku tidak akan pernah bisa menatapnya tanpa merasakan kalau sesuatu itu sudah lenyap. Begitu banyak hal yang tidak akan pernah kembali sama. Tapi pada saat itu, aku hanya memeluk ayahku dan memejamkan mata rapat-rapat, mencoba membuat waktu kembali berhenti. Namun gagal.

Halaman 18

 

Aku menelan ludah dengan susah payah. Lalu, entah bagaimana, kata-kataku meluncur keluar. "Kakakku dipenjara karena mengendarai mobil dalam keadaan mabuk. Dia membuat seorang anak lumpuh. Dan aku benci dia karena perbuatan itu."

Ketika berbicara, aku menyadari betapa lama dan eratnya aku menahan semua kalimat itu sampai-sampai aku merasakan luasnya tempat kosong yang kini tertinggal. Begitu lapang hingga aku tidak bisa memikirkan ata-kata lain untuk menjelaskannya. 

Halaman 61

 

"Kurasa orangtuaku menganggap Peyton sebagai korban, entah dari sudut pandang mana. Dan aku tidak menyukai itu. Itu membuatku mual. Itu rasanya... salah."

"Kau merasa bersalah?"

"Ya," jawabku, ketegasan dalam satu kata itu membuatku terkejut. Seolah pengakuan sederhana itu membuat kekalutan jiwaku pergi, dan menguap. "Ya. Sangat. Setiap hari."

"Oh, Sayang." Mrs. Chatham mengulurkan tangan dan menggenggam tanganku. Di ruang sebelah, popcorn mulai meletus, mengeluarkan aroma mentega yang mengingatkanku pada film dan suasana sepuang sekolah di setiap siang yang sepi. "Kenapa kau merasa harus menanggung perbuatan kakakmu?"

"Karena seseorang harus melakukannya," kataku. Aku menatap mata wanita itu, hijau bercorak cokelat, mirip mata Layla. "Itu sebabnya."

Alih-alih menanggapi, Mrs. Chatham hanya meremas tanganku. Aku bisa saja menarik tanganku dan dia akan memaklumnya. Tapi ketika Layla masuk beberapa menit kemudian dengan popcorn-nya, dia masih melihat kami bergenggaman tangan. Akhirnya, aku sudah melepas banyak bebanku. Jadi kurasa masuk akal kalau saat ini aku hanya ingin menggenggam tangan seseorang.

Halaman 160 

# hati-hati untuk teman-teman yang ga begitu suka novel yang banyak melibatkan emosi dan paragraf panjang tentang perasaan dan pikiran si tokoh, novel ini mungkin akan terasa membosankan.

 

Saya senang sekali ada hal-hal tentang makanan disebutkan di dalam buku ini :D. Ini kesenangan yang sifatnya subjektif sih, karena salah satu ketertarikan saya adalah dunia kuliner, jadi tiap ada bagian cerita yang melibatkan makanan, saya jadi lebih merasa tertarik. Bukan cuma di novel ini, novel Lara Jean juga banyak membicarakan makanan dan resep-resepnya :). 

Berikutnya adalah proses bertingkat yang rumit, dimulai dengan meratakan kantung kertas untuk mengubahkan menjadi alat makan dan diakhiri dengan tiga cocolan saus dengan ukuran sama di atas setiap lapisan tisunya. Di saus pertama, Layla menambahkan merica. Saus berikutnya, garam. Dan yang ketiga, bahkan tak dikenal yang diambilnya dari tas, dikemas dalam tabung kecil.

Halaman 71

 

Cerita tentang persahabatan antara Layla dan Sidney juga sangat menyentuh perasaan. Lebih karena makna perbuatannya daripada susunan kata-katanya. Contohnya saya kutipkan di bawah ini.

Setelah lampu-lampu dimatikan, kami mengobrol sebentar, lalu tanpa sadar aku terlelap. Ketika aku terjaga, waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Ketika aku berguling ke samping untuk mengecek Layla, gadis itu tidak ada di tempatnya. Dengan bingung, aku bangkit dengan bersandar pada siku dan mengucek-ucek mata, lalu melihat Layla. Dia memindahkan kasurnya hingga rapat ke pintu yang tertutup - tapi tidak terkunci - dan meringkuk di atasnya. Selalu berjaga-jaga, memastikan keadaan aman. Aku mendapatkan tidur yang paling nyenyak setelah berbulan-bulan lamanya.

Halaman 99

 

Ada kalimat-kalimat yang membuat saya berpikir dan merenungkan kebenarannya.

"Hubungan akan berkembang, seperti juga kita. Ketika kau mengenal seseorang, bukan berarti kau tahu segalanya tentangnya. Bahkan kakakmu sendiri."

Halaman 301

"Belum tentu seseorang tidak memikirkan sesuatu meskipun tidak pernah membicarakannya. Bahkan kadang itulah sebabnya mereka enggan membicarakannya."

Halaman 302

... aku baru menyadari hal yang paling mengejutkan. Bukan soal kekecewaanku, tapi ketika aku tidak sendirian saat aku terpuruk. Kau bisa saja terpuruk di depan orang-orang yang kau tahu akan sanggup kembali membangkitkanmu.

Halaman 333

 

Cukup surprise juga ya waktu membaca bagian yang menyebut-nyebut tentang tempe :D, rasanya tiba-tiba "Indonesia sekali".

Aku berjalan ke lemari, menurunkan botol-botol bumbu yang Mom perlukan, dan membawakannya. Isi wajan lebar itu belum pernah kulihat sebelumnya. Aku bahkan tidak tahu apa itu 'tempe'. Tapi kelihatannya tidak terlalu menggugah selera. Tapi aku menahan pendapat itu ketika menyerahkan bumbu-bumbunya. Mom mengernyit membaca buku masakannya, lalu membuka tutup botol jintan. 

Halaman 324

 

Siapa Sarah Dessen

Sarah Dessen adalah penulis asal Amerika. Latar pendidikan dan awal karirnya sempat biasa-biasa saja hingga ia kemudian mengambil kuliah di suatu universitas dan mendapatkan penghargaan tertinggi di bidang Creative Writing. Buku pertamanya ia tulis disela-sela bekerja di sebuah restoran pada tahun 1996 dengan judul That Summer. Setelah itu karir menulis Dessen makin berkembang hingga ia bisa meraih pencapaian sebagai The New York Times Best Seller. Sarah bahkan kemudian mengajar di University of North Carolina. Beberapa novelnya meraih Best Fiction for Young Adults: That Summer (1997), Someone Like You (1999), Keeping the Moon (2000), Dreamland(2001), This Lullaby (2003), Just Listen (2007), and Along for the Ride (2010). 

Novel Someone Like You adalah salah satu juara dari "School Library Journal Best Book" award pada tahun 1999.

Tahun 2017, Dessen dianugerahi penghargaan Margaret A. Edwards Award untuk novelnya yang berjudul Dreamland (2001), Keeping the Moon (2000), Just Listen (2007), The Truth About Forever (2004), Along for the Ride (2010), What Happened to Goodbye? (2011), and This Lullaby (2003).

Sebagian besar novel Sarah Dessen mengangkat topik problematika jiwa remaja dan pergulatannya ketika mereka mengalami masa duka dan kehilangan.

Tema utama yang diangkat novel-novelnya terutama keterasingan,  kesendirian dalam keluarga dan lingkungan sosial, serta perubahan yang progresif para tokoh ceritanya.

 

Berikut novel-novel karya Sarah Dessen:

1996 – That Summer

1998 – Someone Like You

1999 – Keeping the Moon (also known as Last Chance)

2000 – Dreamland

2002 – This Lullaby

2004 – The Truth About Forever

2006 – Just Listen

2008 – Lock and Key

2009 – Along for the Ride

2010 – Infinity (novella)

2011 – What Happened to Goodbye

2013 – The Moon and More

2015 – Saint Anything

2017 – Once and For All

 

Novel Saint Anything mendapatkan rating 4.05 di situs Goodreads dan 4.5 di Amazon.

 

Rekomendasi

Novel ini saya rekomendasikan  pada pembaca usia remaja dan dewasa yang mencari novel yang mengangkat topik problematika kehidupan remaja dan pergulatan jiwanya ketika mereka mengalami masa duka dan kehilangan.

Tema utama yang diangkat novel ini adalah keterasingan,  kesendirian dalam keluarga dan lingkungan sosial, serta perubahan yang progresif para tokoh ceritanya. Komposisi isi novel ini adalah romance, persahabatan, dan keluarga.

 

My Rating 4/5 

 

 

 

Judul : Mengajar Seperti Finlandia (Teach Like Finland)

Penulis : Timothy D. Walker

Jenis Buku : Non Fiksi - Edukasi

Penerbit : Gramedia Widiasarana Indonesia

Tahun Terbit : Juli 2017

Jumlah Halaman :  270 halaman

Harga : Rp. 70.000

ISBN : 9786024520441

Edisi Terjemahan

Penulis Terlaris #1 New York Times

            

Sekelumit Tentang Isi

Finlandia mengejutkan dunia ketika siswa-siswanya yang masih berusia 15 tahun berhasil mencatatkan skor ter tinggi di penyelenggaraan pertama PISA (Programme for International Student Assessment), pada 2001. Ujian itu meliputi penilaian keterampilan berpikir kritis di Matematika, Sains, dan membaca. Hingga kini, negara mungil ini terus-terusan memukau. Bagaimana pendidikan Finlandia yang jam pelajarannya pendek, PR-nya tidak banyak, dan ujiannya tidak begitu terstandardisasi, dapat “mencetak” siswa-siswa dengan prestasi yang sangat baik? 

Ketika Timothy D. Walker mulai mengajar kelas 5 di sebuah sekolah negeri di Helsinski, ia mulai mencatat rahasia-rahasia di balik kesuksesan sekolah- sekolah Finlandia. Walker menuliskan rahasia-rahasia ini, dan artikel-artikelnya di Atlantic kerap menuai tanggapan antusias. Dalam buku ini, ia mengumpulkan semua temuan tersebut, dan menjelaskan pada para pengajar, cara untuk mengimplementasikannya. 

Buku ini memuat strategi dan anjuran-anjuran yang sangat mudah dipraktikkan dari sistem pendidik an kelas dunia

Yuk kita intip daftar isinya

  1. Kesejahteraan

Jadwal istirahat otak

Belajar sambil bergerak

Recharge sepulang sekolah

Menyederhanakan ruang

Menghirup udara segar

Masuk ke alam liar

Menjaga kedamaian

  1. Rasa Dimiliki

Mengenal setiap anak

Bermain dengan murid-murid

Merayakan pembelajaran mereka

Mengejar mimpi kelas

Menghapus perisakan (bullying)

Berkawan

  1. Kemandirian

Mulai dengan kebebasan

Meninggalkan batas

Menawarkan pilihan

Buat rencana bersama siswa Anda

Buat jadi nyata

Tuntutan tanggung jawab

  1. Penguasaan

Ajarkan hal-hal mendasar

Gunakan buku pegangan

Manfaatkan teknologi

Memasukkan musik

Menjadi pelatih

Buktikan pembelajaran

Mendiskusikan Nilai

  1. Pola Pikir

Mencari flow

Berkulit tebal

Kolaborasi lewat kopi

Menyambut para ahli

Melepaskan diri untuk berlibur

Jangan lupa bahagia

 

Selama beberapa tahun bekerja dan tinggal di Finlandia, Walker berhasil mengidentifikasi langkah-langka yang dapat digunakan pendidik untuk mempromosikan kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan. Raj Raghunathan, profesor dari Sekolah McCombs, Universitas Texas di Austin dan pengarang If You’re So Somar, Why Aren’t You Happy (2016), mengajukan 4 bahan kebahagiaan (jika kebutuhan dasar seperti makanan dan papan telah terpenuhi): rasa memiliki (keterlibatan), kemandirian, penguasaan, dan pola pikir (Pinsker, 2016). Satu bahan yang Walker tambahkan ke dalam daftar ini adalah kesejahteraan, yang ia lihat sebagai fondasi untuk mengembangkan komponen lainnya. Dalam buku ini, Walker telah menyusun 33 strategi sederhana terkait 5 bahan kebahagiaan yang diterapkan dalam konteks kelas yang menyenangkan.

Halaman xxix

 

 

Buku ini tidak hanya tepat untuk dibaca untuk mereka yang bergelut di bidang pendidikan tapi oleh kita semua yang peduli pada edukasi.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Kalau yang suka model sampul bercorak ceria dengan ilustrasi gambar ke-kartun kartunan pasti suka dengan disain cover buku ini seperti saya. Cocok juga ya cover dengan isinya yang tentang "sekolah anak-anak."

 

Bukunya termasuk tipis menurut saya. Tidak ada gambar ilustrasi di dalamnya, dan ukuran huruf cenderung kecil. 

 

Opini

Buku ini terasa sekali menarik untuk disimak saat terbaca oleh saya fakta ini untuk yang pertama kalinya.

Lebih lanjut lagi, tampak bahwa di Finlandia, pencapaian siswa di antara sekolah-sekolah yang berbeda kurang bervariasi, dan bahwa pembelajaran anak-anak di sekolah tidak terlalu dipengaruhi latar belakang keluarga dibandingkan negara lainnya. Di atas semuanya itu, orang Finlandia sepertinya dapat mencapai hasil yang mengagumkan ini hanya dengan belajar di sekolah yang masuk kategori sederhana. Tidak heran dunia pendidikan dibuat bingung.

Halaman xiii

Di sekolah Finlandia, guru dan siswa normalnya memiliki istirahat 15 menit setiap 1 jam pelajaran, dan berdasarkan pengalaman Johanna, sebagian besar pendidik akan menghabiskan istirahat mereka di lounge- meminum kopi, bercakap-cakap dengan rekan kerja, dan membolak-balik majalah. Ini kedengarannya, berdasarkan pengalaman mengajar Amerika saya, sangat tidak masuk akal.

Halaman xxii

 

Gaya penulisan Walker yang luwes, apa adanya, dan ada humornya membuat saya bisa menyimak isi buku fiksi ini layaknya menyimak jalan cerita novel. Tak heran juga sih, Walker memang menceritakan pengalaman realnya saat menjadi guru di suatu sekolah di Finlandia, jadi gaya penulisannya benar-benar naratif.

Sesaat memasuki tempat istirahat, saya melihat sesuatu yang mirip dengan apa yang saya temukan ketika berkeliling taman di pusat kota Helsinski. Banyak rekan guru yang sedang menyeruput kopi, membolak-balik surat kabar, dan bercakap-cakap santai satu dengan lainnya.

Dan, beberapa kali, ketika saya melewati tempat itu, saya mendengar mereka tertawa terbahak-bahak. Saya pun jadi mulai curiga jangan-jangan mereka semua malas.

Halaman 2

Sebagai guru baru yang mengajar di kelas, saya menghabiskan 12 jam sehari, dan mungkin karea ini saya berpikir saya adalah guru yang lebih baik daripada teman Johanna. Tetapi ketika tahun ajaran berakhir, saya sadar betul saya seorang pendidik yang lebih payah. Saya mengalami apa yang dinamakan kurangnya keseimbangan antara kerja dan hidup, dan saya merasa sangat tertekan serta penuh dengan kecemasan. Yang paling parah, pekerjaan mengajar tidak lagi menyenangkan, dan rasa ketidakpuasan saya rupanya berimbas pada siswa saya. Anak-anak kecil itu kadang terlihat nelangsa juga.

Halaman xxiii

 

Bukan cuma informatif, tapi juga menghibur, biasanya ini karena ditunjang pula oleh kualitas terjemahannya yang bagus.

Para pendidik di Sekolah Dasar Eagle Mountain di Forth Worth, Texas, melaporkan suatu perubahan yang signifikan dalam diri siswa, yang mendapatkan 4 kali istirahat 15 menit setiap hari; sebagai contoh, mereka menjadi lebih fokus, dan mereka jarang mengeluh lagi. Seorang guru kelas satu bahkan melihat bahwa siswanya berhenti mengunyah-ngunyah pensil (Connelly, 2016).

Halaman 10

 

Banyak hal yang saya baca di buku terasa sekali kebenarannya di kehidupan pendidik di dunia nyata. Sebagai seseorang yang pernah bekerja sebagai guru di sekolah, saya pun merasakan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh Walker.

Guru mana pun, setidaknya yang punya pengalaman mengajar 1 tahun penuh, tahu bahwa mengajar lebih seperti lari marathon daripada lari sprint.

Halaman 26

Hanya karena para guru dapat merasakan tujuan pembelajaran yang kuat di dalam kelas, namun tidak dengan para siswa mereka. Anak-anak, yang saya temukan, selalu memerlukan bantuan kita untuk melihat apa hubungan antara pekerjaan rumah mereka dengan “dunia nyata”.

Halaman 117

 

Sekali lagi apa yang dituturkan oleh Timothy D. Walker mengingatkan saya pada pengalaman pribadi saya saat menjadi guru dahulu.

Di tahun 2014, para peneliti dari Universitas Carnegie Mellon mengeksplorasi ide ini, dengan menyelidiki bagaimana ruang kelas yang terlalu banyak dekorasi berpotensi membuat anak-anak sulit fokus pada pelajaran.

Halaman 32.

#dulu di kelas yang saya ajar juga ada papan dekornya. Dan beberapa anak memang tampak lebih tertarik melihat papan daripada mengikuti kegiatan kelas, terutama anak-anak yang mudah terdistraksi perhatiannya. 

 

Buku ini berisi trik tips dan solusi yang jelas dan dapat diikuti. Dalam setiap penyampaian topik, selalu ada poin-poin yang bisa kita ambil untuk diaplikasikan.

Berikut ini beberapa kegiatan yang pernah saya buat dengan anak-anak sekolah dasar di Boston: menuliskan observasi dan menyelidiki jurnal-jurnal sains mengenai obyek alami (seperti batu, buah pohon cemara, dan bulu unggas) yang ditemukan di lapangan sekolah, mendokumentaskan kehidupan liar di sekitar halaman sekolah menggunakan kamera digital dan mengunggah foto-foto ke panduan online kami, serta mengumpulkan objek-objek alami, menguraikan dedaunan dan batu-batu besar, untuk diletakkan di habitat kecebong. Saya menyarankan Anda untuk mulai memikirkan tempat-tempat alami yang dapat digunakan yang mungkin jaraknya dapat ditempuh dengan berjalan dari sekolah Anda.

Halaman 45

 

Ada pula semacam informasi yang memberitahu pembaca bahwa bab yang bersangkutan akan menjelaskan tentang hal apa berikut poin poin penting bahasannya.

Bab ini terdiri dari 6 strategi untuk membina sudut pandang abundance-oriented dalam pengajaran kita, semua hal yang terinspirasi dan pengamatan saya terhadap para pendidik Finlandia saat menerapkan beberapa pendekatan dalam pekerjaan mereka: mencari flow, berkulit lebih tebal, kolaborasi lewat kopi, menyambut para ahli, dan jangan lupa bahagia. 

Halaman 170

 

Dan sebagai penutup, sebuah kalimat sederhana ini sangat mengena, yakni baik pendidik maupun peserta didik harus merasa bahagia dalam melaksanakan kegiatan pendidikan.

Strategi paling penting dalam buku ini sebenarnya adalah sesuatu yang paling sederhana. Jangan lupa bahagia.

Halaman 190

 

 

Mengingat model penulisannya yang naratif sekali mungkin ada beberapa yang cepat lelah untuk menyimak isi buku. Akan lebih mudah kalau ada poin-poin singkatnya sebagai ringkasan misalnya.

 

Siapa Timothy D. Walker

Timothy D. Walker adalah seorang guru berkebangsaan Amerika, yang saat ini tinggal di Finlandia. Ia telah banyak menulis mengenai pengalamannya mengajar, untuk berbagai media, antara lain Education Week Teacher, Educational Leadership, dan juga melalui blognya, yaitu Taught by Finland

 

Buku Teach Like Finland mendapatkan rating 3.87 di Goodreads dan 4.4 di Amazon.

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada semua orang terutama yang peduli pada dunia pendidikan, yang ingin mengetahui dan mendapatkan solusi model pendidikan yang lebih mandiri dan inkuiri untuk peserta didiknya serta membawa kebahagiaan pada mereka semua yang terlibat di dalam kegiatannya. Buku ini tidak cuma berisi teori, tapi juga aplikatif, dan dibawakan dalam gaya penulisan yang luwes serta diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pula dengan baik.

My Rating : 5/5

 

 

 

purebaby laundry liquid

 

My baby Moonlight :*

 

Entah ini karena cuaca atau bukan, tapi sudah sekitar dua atau tiga minggu ini Moonlight ada ruam-ruam gitu di leher dan lengannya. Karena lokasi ruamnya yang ga ada deket-deketnya sama popok, berarti bukan ruam popok kan ya. Lalu mulai rada rewel lah dia karena ruam tersebut. Mak, pernah ga sih galau karena anak kita lagi ruam? Kalo pernah, berarti kita setakdir ya... hahaha.

 

Saya ga tau kalau emak-emak yang lain seperti apa model penanggulangannya, yang pasti ruam popoknya Moonlight selalu berhasil disembuhkan dengan bedak bayi yang hypoallergic. Cuma kali ini ruamnya kan di leher dan tangan yang biasa disebut biang keringat, jadi saya ga begitu yakin. Namun karena mengingat yang ruam popok aja bisa sembuh dengan bedak hypoallergic, jadi saya berkeyakinan begitu pun juga untuk biang keringat yang ini. Ya sudah, mulai deh saya rajinin pakein bedak di area ruam tersebut, dan alhamdulillah ruam yang juga sering dikenal dengan istilah “keringet buntet” itu ternyata sembuh sekitar satu mingguan. Yipppieee...

 

Sejak kejadian itu saya jadi lebih aware terhadap produk-produk bayi yang dipakai oleh anak saya. Soalnya memang Moonlight ada riwayat alergi alergi juga. Waktu baru lahir pun dia sudah alergi susu sapi, lalu sekitar sebulan lalu muncul pula alergi sama barang-barang yang berbulu, dan yang terakhir ya ini, si kasus ruam-ruam. Makanya waktu saya berkenalan dengan produk Purebaby Laundry Liquid saya senang sekali. Berarti bisa juga nih pakaian anak saya dicuci terpisah dan dipakaikan deterjen khusus bayi ini. Ada embel-embel hypoallergenic nya pula. Tambahlah hati mamak ini terpanah asmara hahaha.

 

Jadi, Purebaby Laundry Liquid itu adalah cairan pembersih pakaian bayi yang tidak menggunakan deterjen SLS (Sodium Lauryl Sulphate Free). Laundry Liquid mampu membersihkan dan mengangkat kotoran pada pakaian bayi dengan kandungan bahan mild. Laundry Liquid dilengkapi dengan ekstrak Aloe Vera untuk melembutkan. Cocok untuk kulit bayi yang sensitif.

Purebaby Laundry Liquid punya beberapa kelebihan, yakni sekalipun merupakan bahan pencuci pakaian, tapi tidak mengandung bahan Deterjen SLS sehingga MILD. Bahan deterjen SLS ini bisa menyebabkan residu yang menempel pada pakaian dan bergesekan dengan kulit bayi sehingga menimbulkan iritasi dan bakan pakaian pun terasa kasar. Selain itu, Purebaby Laundry Liquid teruji Hypoallergenic karena menggunakan bahan-bahan yang tidak menyebabkan atau berpotensi menyebabkan alergi. Purebaby Laundry Liquid mengandung anti bacterial dan anti fungi alami, yaitu Aloe Vera. Purebaby Laundry Liquid dengan kandungan Aloe vera juga berfungsi untuk memberikan kelembutan pada pakaian bayi sehingga tidak perlu menggunakan pelembut pakaian. Purebaby Laundry Liquid mampu mengangkat kotoran dari pakaian bayi dengan baik sehingga pakaian si kecil bersih. Asyik banget kan nyuci pakaian anak bayik pake produk sebagus dan seaman ini J.

 

Maka, saya pakailah Purebaby Laundry Liquid untuk nyuci pakaian Moonlight dengan harapan jangan lagi deh ada ruam-ruam di tubuhnya, minimal sebagai ibu saya merasa berusaha lah ya untuk meminimalkannya. Cara pakainya sebagai berikut: Tuangkan ke dalam 6 liter air. Lalu rendam cucian selama 30 menit atau lebih untuk cucian yang sangat kotor. Kemudian cuci seperti biasa. 

 

purebaby laundry liquid

 

Hasilnya oke punya sih kalau menurut saya. Busanya ada, tapi ga begitu banyak sehingga malah bikin boros air. Bahan pakaian Moonlight juga terasa lebih lembut. Sejauh ini dengan pemakaian satu minggu lebih, ga muncul lagi ruam-ruam di tubuh Moonlight. Dan yang paling saya suka juga dari produk ini, pakaian Moonlight ga wangi yang nyengat banget kayak kalo nyuci pake deterjen lainnya. Ada sih kecium aroma yang samar, tapi bukan wangi seperti parfum. Untuk bayi yang sensitif justru pakaian yang wangi malah terasa mengganggu kan ya. Btw, simpan produk ini di tempat yang aman dari jangkauan anak-anak ya, dan jika terkena mata, maka cepat dibilas dengan air.

 

purebaby laundry liquid

Picture : Hemat juga bisa buat beberapa potong baju sekali dosis :D

 

Ngomong-ngomong soal ruam, saya jadi ingin berbagi sedikit tips mencegah dan mengobati ruam biang keringat. Bayi-bayi memang sudah umumnya mengalami gangguan pada kulitnya karena kulit yang melapisi tubuhnya belum berfungsi secara efektif sehingga tidak heran penyakit atau infeksi kulit kerap menyerang si kecil. Ruam biang keringat berupa benjolan kecil berwarna merah, biasanya terdapat di bagian leher, wajah, dan punggung. Biang keringat terjadi karena kulit bayi belum bisa mengatur suhu dengan baik.

1.    Pakaikan pakaian yang sesuai ukurannya, jangan yang terlalu ketat.

 

2.   Ganti pakaian anak dengan segera begitu terasa lembab apalagi basah, baik oleh keringat maupun oleh cairan lainnya. Waspadai terutama keringat di malam hari. Jangan sampai anak tidur dengan pakaian yang lembab tersebut. Udara yang lebab dan cuaca panas dapat memicu timbulnya biang keringat pada kulit.

 

3.    Taburkan bedak hypoallergenic di tubuh anak yang terasa gatal baginya. Atau jika sudah muncul ruam bisa juga ditaburkan bedak tersebut segera mungkin.

 

4.    Lebih baik tidak memakaikan baby oil di area ruam, karena untuk beberapa kasus, pemakaian baby oil malah membuat ruam makin terasa mengganggu. Kalau di anak saya, baby oil + bedak hypoallergenic malah cocok banget untuk ruam popok.

 

5.    Jika munculnya ruam ini dibarengi dengan demam, waspadai segera sebab kemungkinan besar ini bukan ruam biasa.

 

Hati saya senang sekali karena Moonlight kini dalam keadaan sehat dan bebas biang keringat. Tidurnya memang masih suka bangun malam tiba-tiba sih seperti baduta pada umumnya. Emak jadi begadang tak menentu, untung setrong :D. Tapi yang penting dia dalam keadaan sehat. Setelah pengalaman ini saya memutuskan untuk menyetok Purebaby Laundry Liquid. Biar kulit Moonlight ga bermasalah, cukup pakai bedak hypoallergenic dan nyuci pakaiannya pake Purebaby Laundry Liquid.

purebaby laundry liquid

Picture : Kemasan isi ulangnya ada yang 700ml dan 900ml :)

 

 

Review Buku Rainbirds - Clarissa Goenawa…

16-08-2018 Hits:48 Review Dipi - avatar Dipi

Judul : Rainbirds Penulis : Clarissa Goenawan Jenis Buku : Novel - Fiksi Sastra Penerbit : Gramedia Tahun Terbit : 2018 Jumlah Halaman :  400 halaman Dimensi Buku :  20 cm Harga : Rp. 89.000 ISBN : 9786020379197 Edisi...

Read more

Review Buku With The End in Mind - Kathr…

14-08-2018 Hits:59 Review Dipi - avatar Dipi

  Judul : With The End in Mind – Dying, Death, and Wisdom in an Age of Denial Penulis : Kathryin Mannix Jenis Buku : Non Fiksi Penerbit : Harper Collins Publisher Tahun Terbit : 2017 Jumlah...

Read more

Review Buku Mengajar Seperti Finlandia (…

11-08-2018 Hits:71 Review Dipi - avatar Dipi

Judul : Mengajar Seperti Finlandia (Teach Like Finland) Penulis : Timothy D. Walker Jenis Buku : Non Fiksi - Edukasi Penerbit : Gramedia Widiasarana Indonesia Tahun Terbit : Juli 2017 Jumlah Halaman :  270 halaman Harga : Rp. 70.000 ISBN...

Read more

Review Buku Saint Anything - Sarah Desse…

07-08-2018 Hits:112 Review Dipi - avatar Dipi

  Judul :  Saint Anything Penulis : Sarah Dessen Jenis Buku : Novel Romance Penerbit : Elex Media Computindo Tahun Terbit : Oktober 2017 Jumlah Halaman :  364 halaman Harga : Rp. 69.800 Edisi Terjemahan Penulis Terlaris #1 New...

Read more

Purebaby Laundry Liquid dan Moonlight (R…

25-07-2018 Hits:196 Review Dipi - avatar Dipi

  My baby Moonlight :*   Entah ini karena cuaca atau bukan, tapi sudah sekitar dua atau tiga minggu ini Moonlight ada ruam-ruam gitu di leher dan lengannya. Karena lokasi ruamnya yang ga...

Read more

Review Buku Aroma Karsa - Dee Lestari

08-07-2018 Hits:270 Review Dipi - avatar Dipi

Judul : Aroma Karsa Penulis : Dee Lestari Jenis Buku : Fiksi Penerbit : Bentang Tahun Terbit : 2018 Jumlah Halaman :  710 halaman Dimensi Buku :  13,5 x 20 cm Harga : Rp. 125.000 ISBN : 978-602-291-463-1 Soft Cover                                                                                       ...

Read more

Review Buku A Sweet Mistake - Vevina Ais…

24-05-2018 Hits:263 Review Dipi - avatar Dipi

  Judul : A Sweet Mistake Penulis : Vevina Aisyahra Jenis Buku : Novel Young Adult Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Desember 2017 Jumlah Halaman : 248 halaman Dimensi Buku :  13,5 x 20 cm Harga : Rp. 59.000 ISBN...

Read more

Review Buku The Productivity Project - C…

01-04-2018 Hits:938 Review Dipi - avatar Dipi

Judul : The Productivity Project – Accomplishing More by Managing Your Time, Attention, and Energy Penulis : Chris Bailey Jenis Buku : Non Fiksi – Self Improvement Penerbit : Crown Business Tahun Terbit : Agustus 2017 Jumlah...

Read more

Review Buku The Silent Corner - Dean Koo…

30-03-2018 Hits:957 Review Dipi - avatar Dipi

  Judul : The Silent Corner Penulis : Dean Koontz Jenis Buku : Novel Suspense Penerbit : Random House Tahun Terbit : Oktober 2017 Jumlah Halaman :  576 halaman Harga : Rp. 143.000 ISBN : 978-0-345-54679-1 Mass Market Paperbound Edisi Bahasa Inggris New York...

Read more