Toko Buku di Grand Griya Cinunuk Bandung

0
0
0
s2sdefault

 

"Mall dan supermarket terbaik adalah yang memiliki toko buku di dalamnya. Titik."

Yang ga setuju ya harap maklum ya 😂, kebetulan yang komentar gitu adalah seorang book lover yang juga book blogger. Jadi normal kalo setiap kemana-mana pasti spot bukunyalah yang paling duluan dicari. Ga jauh beda sama fashionita yang saban ke mall akan terlihat nyaman nangkring di tenant lipen NWX dan hijab kekinian. Ini cuma masalah hobi dan selera. Bukan berarti book blogger ga bisa lipenan NWX juga tapinya #poles gincu dulu syuutt syuttt 😁.

 

Maka sungguh siksaan besar manakala saya si pecinta buku dan reading maniak ini bedomisili di area Cileunyi Kabupaten Bandung. Kami di sini agak jauh tentunya untuk bisa meluncur ke toko Gramedia yang merupakan "syurga" utama para kutubuku-kutubuku cantik. Gramedia terdekat ada di TSM yang mana tetap ga kalah jauhnya. Ada sih penerbit Mizan di Cisaranten, tapi itu pun masih butuh ekstra jam dan ekstra perjuangan (karena banyak titik macetnya).

 

Namun untunglah si kutu (yang sudah menua ini) tak kehilangan akal, ia rajin mengeksplorasi daerah seputar Cileunyi untuk menemukan sumber buku yang diinginkan. Voila! Ketemu juga satu nih, sudut buku di lantai 3 Grand Griya Cinunuk, tampak cukup memenuhi syarat. Sehingga ketika Moonlight gagal diimunisasi karena jalur Cileunyi - Cibiru macet parah, akhirnya taxi saya instruksikan untuk berbelok ke Grand Griya saja. Daripada pulang dengan tangan hampa, kan lebih baik pulang dengan buku di tangan.

 

Lokasi Sudut Buku

Sambil menggendong Moonlight dengan gendongan gaya warna hijau, saya pun bergegas menuju lantai 3 supermarket ini. Sesekali saya benarkan posisi kepala Moonlight yang seperti melorot kedodoran di gendongan. Ffiiuuhh... Jalan-jalan sambil bawa bayi ngos-ngosan juga ya.

Hati-hati saya melangkah di eskalator, sambil berpegangan di sisi tangga berjalan tersebut. Sempat tertarik juga untuk melihat koleksi pakaian bayi di pojokan lantai 2, serta melirik baju-baju cantik di sudut yang lain, namun berhubung teringat pada pojok buku di lantai 3, semua godaan itu pun berlalu.

Sayangnya untuk menuju lantai 3 tak ada lagi eskalator yang memfasilitasi ibu-ibu rempong gendong anak macam saya. Yang ada tangga biasa. Lumayan juga ya naik tangga model begini. Untung gendongan yang saya pakai bukan gendongan kain. Jadi lebih aman daripada kalo menggunakan gendongan kain, karena suatu waktu jika tidak teliti bisa lepas kainnya dan membahayakan si bayi.

Pojok buku di Grand Griya terletak satu lantai dengan pojok sepatu sandal dan tas. Lantai 3 ini tak begitu luas. Dengan celingukan kanan kiri pun sudah terlihat semua area yang ada.

 

Picture : Area pojok buku (toko buku) di lantai 3

 

Macam Buku yang Dijual

Nah, itu dia tempatnya. Semangat kalo sudah liat barisan display buku model begini. Dimanapun tempatnya, kalo sudah lihat buku suka lapar mata. Buku-buku yang dijual di sini tak begitu banyak jumlahnya. Tapi cukuplah untuk memenuhi kebutuhan pembaca yang tak banyak keinginan. Minimal buku kategori novel, kamus, komik, agama, komputer, hobi, non fiksi, buku anak, buku sekolah, dan al Quran ada. Buku-buku terbitan Gramedia, Elex, Mizan, Gagas, Erlangga, dan beberapa penerbit minor tersedia di sini. Hanya ya begitulah, jumlahnya memang tak banyak, mengingat ukuran pojok buku yang hanya sekitar 10-15 m saja.

 

Picture : Rak buku kategori komputer, agama, novel, dan non fiksi lainnya

Picture : Display buku anak

Picture : Alat tulis juga ada di bagian kiri toko buku

 

Yang saya sukai dari tempat ini adalah tersedianya buku-buku gramedia yang terhitung new release. Untuk kebutuhan saya sebagai book blogger yang beberapa buku bacaannya harus selalu update, ini adalah hal yang penting. Masalahnya toko buku yang ada di wilayah Cibiru - Cileunyi - Jatinangor kadang tidak bisa menyediakan buku new release yang saya inginkan. Oleh karena itu pojok buku di Grand Griya Cinunuk ini sangat membantu.

 

Diskon (?)

Dipi : "Sedang ga ada diskon ya mas?"

Mas A : "Iya mba, lagi ga ada."

Dipi : "Kapan ada lagi mas?" #rada ngotot

Mas A : "Belum tau kapan nih mba. Tergantung penerbitnya sih. Saya kurang paham"

Dipi : "Tapi biasanya suka ada kan?"

Mas A : "Betul mba. Cukup sering ada program diskon."

 

Setelah menghela nafas sedikit, saya ucapkan terimakasih lalu berlalu ke kasir untuk membayar buku yang sedang saya pesan. Alangkah inginnya si kutu dapat diskon, namun ternyata ga ada. Di situ kadang kutu merasa sedih. Inilah yang disebut dengan sindrom gagal diskon. Gejala-gejalanya mendadak lelah dan disorientasi saat berada di kasir. Mau bayar pakai kartu debit, malah nyodorin kartu perpustakaan kampus.

 

How to Get Here

Picture : Bagian depan Grand Griya Cinunuk

 

Teman-teman kalau mau ke sini sangat mudah kok caranya. Soalnya sampai saat ini jalur Cileunyi Cibiru hanya ada satu jalan raya, dan Grand Griya Cinunuk terletak di jalur tersebut. Kalian bisa berpatokan pada Borma juga, karena letak dua supermarket ini yang rada berdepan-depanan.

Angkot yang melewati Grand Griya Cinunuk antara lain angkot Cicaheum -Cileunyi, dan GedeBage - Sayang. Untuk lokasi, bisa gunakan Google Map, nanti terlihat jelas di peta.

 

Picture : Peta Grand Griya Cinunuk

 

Rekomendasi

Pojok buku atau toko buku di Grand Griya Cinunuk ini saya rekomendasikan pada teman-teman yang membutuhkan buku bacaan dari penerbit mayor, terutama Gramedia, khususnya novel, dan bukunya adalah buku yang original. Memang tak banyak koleksinya, tapi beberapa buku termasuk buku-buku new release. Buku-buku terbaru memang tidak diskon, tapi lebih baik daripada bukunya tidak ada.

 

 

 

Kali ini akhirnya pilihan saya jatuh pada buku Big Little Lies yang telah diterjemahkan judulnya menjadi Dusta-dusta Kecil dan diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Harga bukunya Rp.95.000, no diskon. Buku ini memang sudah saya incar sejak pertama kali Gramedia memosting sinopsisnya di facebook mereka.

Nah, saatnya pulang. Dengan buku di tangan hati rasanya jadi lebih riang 😁. Sampai ketemu lagi ya teman-teman, nanti di postingan saya yang selanjutnya.

# Teman-teman kalau beli buku bacaan biasanya dimana?

 

0
0
0
s2sdefault
0
0
0
s2sdefault

 

Malam telah cukup larut waktu saya kontak-kontakan dengan coach Robert. Beliau ini coach pertama saya di dunia archery. Coach istimewa, tiada bandingan galaknya... Hahaha (ini tuh pujian 😁). Kenapa galak? Sebab kata beliau, muridnya ngeyel sih. Saya lah yang beliau maksud sebagai makhluk ngeyel tersebut. Padahal saya kurang imut apa coba #kibaskerudung. Kalo kerut sih memang sudah banyak, itu harus saya akui.

 

Sebagai murid teladan akhirnya malam itu saya berjanji untuk pergi latihan memanah, demi kebugaran, kebahagiaan, dan konsistensi. Meski jadwal mengasuh sebenarnya padat, namun saya pikir archery selalu bisa membawa keseimbangan yang baik dalam jiwa raga saya selama ini. So, let's do it.

 

Hari yang dinantikan pun tiba, meluncurlah saya dengan sepatu syantik no high heels menuju Range Batununggal milik Bandung Archery Club and School (BACS). BACS sendiri sudah dikenal sebagai salah satu club and school panahan yang terpercaya di daerah Bandung. Saya pergi bersama satu set perlengkapan panahan yang digiwing dalam tas busur yang saya beli di Vieneth Store yang merupakan salah satu toko perlengkapan panahan terkomplit di Bandung. Bentuk tasnya yang ramping dan muat banyak sangat saya sukai. Isi tas bow saya antara lain : satu busur tradisional recurve take down, satu quiver, satu tube, 6 anak panah, stringer, fingertab, dompet, ponsel pintar, dan sedikit alat kecanthikaan.

Baca tentang tas busur Vieneth di sini "Review Tas Busur, Sederhana dan Elegan"

 

Pakaian warna hijau, tas busur motif daun army yang hijau hijau, bahkan ice cream budapest yang saya bawa buat para coach pun ada matcha green teanya yang berwarna hijau pula. Oh iya, kotak plastik wadah es krim nya juga warna hijau. Saya tinggal berdiri dekat semak-semak berbunga, maka kalian mungkin ga akan menyangka saya ada di sana. Mudah-mudahan saya termasuk semak-semak yang nyaman di pandang ya. #harapanmacamapaini 😂.

 

Coach : "Dip, kau sudah tau tempatnya dimana kan Range Batununggal ini?" #nada santai

Dipi : "Belum tau Coach" #nada santai juga

Coach : "What!? Kukira kau sudah tau. Trus arah kemana kita ini?" #nada suara meningkat satu atau dua oktav

Dipi : "Kita tanya-tanya aja, sambil di gugel gugel" #nada tetap santai

Coach : "Kita belok atau nerus nih?" #nada suara sedikit ragu-ragu dan agak kesel

Dipi : "Sepertinya terus aja" #nada suara datar

 

Kami pun berputar-putar di Batununggal Sport macam dua anak hilang. Bedanya, yang satu kesyel, dan yang satunya lagi ngeselin. You know siapa yg bikin kesyel ya 👻. Maafkan.

 

Dengan gembira akhirnya kami menemukan juga lokasi range setelah saya bertanya pada bapak sekuriti yang ramah yang menjaga pintu utama Batununggal Sport. "Silakan masuk saja ke pintu itu lalu belok kiri", kata beliau menunjuk pintu dorong yang sering kita temui di area permainan. Bukan pintu besar, saya hanya bingung pengucapannya apa, sehingga saya sebut itu pintu, meniru bapak sekuriti.

 

Picture : Pintu masuk menuju range

 

Coach Robert bawa bow dua, ditambah dua set anak panah, sedang saya bawa tas bow Vieneth ditambah menenteng kresek isi es krim, kami tampak cukup heboh dengan barang-barang yang digiwing merintil-merintil begini. Saya sempat nyangkut di pintu dorong gara-gara posisi tas yang melintang horizontal. Bagai semak-semak nyangkut begitulah.

 

Wow, senangnya sudah tiba di lokasi. Apalagi melihat rangenya yang bersih dan asri. Tampak face target sudah terpasang dan tiga orang coach sudah siap di tempat.

 

Hello readers! 😊, please meet Coach Yoga, Coach Uzi, dan Coach Amif. Mereka coach coach yang masih muda dan ramah-ramah. Ada satu lagi coach penunggu Batununggal Range sebenarnya, namanya Coach Adam. Beliau datang belakangan, tepat ketika saya sudah mulai memasang bow saya dan agak tertahan karena baut upper limbsnya yang rada seret. Tampak tas yang besar bertuliskan Masagi menyembul di balik punggung Coach Adam yang slim. Masagi itu brand perlengkapan panahan milik Bandung Archery. Tas isi recurve SF Archery beserta asesorisnya pasti muat disitu. Nice 😊.

 

Profil Coach

Terakhir saat saya menulis tentang Wa Abong, coach di Range Lodaya, ada pembaca yang minta dimunculkan profil coach yang lebih banyak. Jadi postingan kali ini saya tambahkan beberapa tulisan khusus profil coach Bandung Archery yang ada di Batununggal. Tapi cerita profilnya tidak terlalu serius tak apa ya. Untuk detail profil mudah-mudahan bisa saya buatkan tulisan khusus saja di postingan lainnya.

 

Saya sudah pernah bertemu coach Yoga dan coach Uzi waktu saya panahan di Range Lodaya.

Baca tentang Range Lodaya disini "Lodaya Range Archery"

Coach Yoga selain melatih panahan ternyata juga seorang penikmat kopi, dan saya pernah lihat fotonya yang sedang kursus barista begitulah. Wow, setali tiga uang dengan saya😊. Sesama penggemar kopi harus saling menghormati dan cicip-cicipin kopinya 😁. Hari ini beliau juga tunjukkan ke saya kopi Manglayangnya yang beliau bawa (dan beliau jual). "Ini kopi arabika, teh," katanya. "Wah, tau gitu, tadi saya bawa kopi juga ya dari rumah," respon saya. 

 

Picture : kanan ke kiri : Coach Yoga, Coach Robert, dan saya (difoto oleh Coach Adam)

 

Coach Uzi bagi saya tampak seperti coach yang dicintai anak-anak. Soalnya waktu di Lodaya Range, saya lihat beliau melatih panahan beberapa anak dengan sabar. Meski beliau archer perempuan, tapi busur yang dipegang adalah horsebow. Main horsebow menurut saya benar-benar tantangan. Saya sempat main horsebow di bawah arahan coach Robert dan Coach Yoga. Hasilnya yaaah, anak panahnya terbang kemana-mana tak tentu arah 😂.

 

Picture : saya dan coach Uzi

 

Saya kenal coach Adam sebelum beliau jadi coach. Dulu kami pernah bermitra kerja. Coach Adam punya banyak bakat di dunia musik dan publikasi. Percetakan dan disain juga beliau cakap di sana. Selain itu beliau mengajar di madrasah serta aktif di remaja masjid. Sikap dan tutur katanya sopan sekali. Beliau orang yang suka bercanda dan enak diajak diskusi. Sebagai coach panahan saya yakin beliau akan jadi coach yang baik dan disukai. Besar harapan saya beliau bisa berada di dunia archery dalam waktu yang lama dan menorehkan pula prestasi.

 

Coach Amif baru saya kenal hari ini. Yang pasti orangnya ramah dan senang tertawa. Contohnya waktu saya lagi mau tarik anak panah saya yang nancep tinggi di bagian atas bantalan target dan hampir tertimpa bantalan, gaya saya yang aneh cukup membuatnya tertawa lebar. Nice to meet you, coach Amif.

 

Situasi di Range dan Sedikit Detail

Sebenarnya ini kali pertama saya berkunjung ke Batununggal Range. Kalau lihat fotonya sih sudah beberapa kali. Menurut saya, foto dan situasi aslinya tak jauh berbeda. Memang nyaman kok. Angle paling di suka tentu pohon berbunga yang latar belakangnya face target. Rindang dedaunan dan hijaunya lapangan rumput cukup menggoda para pemanah yang suka main di area outdoor tipe jinak. Tipe liarnya outdoor mungkin hutan dan rawa-rawa kali ya 😊.

 

 

Picture : Range Batununggal

 

Selain tersedia target untuk jarak 5 m, 10 m, 15 m, dan 30 m, rupanya disediakan juga tiga macam sasaran berbentuk hewan, yakni babi hutan, serigala, dan satu lagi... hmmm, saya lupa bentuknya hewan apa. Cara memanahnya nanti diincar titik tembak yang telah digambar di badan target hewan tersebut. Sayangnya saya lupa bertanya bagaimana hitungan skornya. Apakah teman-teman ada yang tau tentang target model ini? Silakan share di kolom komen ya kalau ada yang tau.

 

Hari itu saya dan coach Robert panahan di sesi 1 yang mulai dari pukul 1 siang sampai 3 sore. Cuma kami saja pengunjung range saat itu. Baru ketika sesi 2, tampak beberapa pemanah lainnya mulai berdatangan. Teman-teman yang ingin mencoba panahan di sini bisa datang di hari Senin dan Selasa Pukul 13.00 - 17.00 serta hari Sabtu dan Minggu Pukul 10.00 - 17.00. Cukup bayar Rp.60.000 per sesi (1 sesi itu 2 jam) dan Rp.15.000 untuk sewa alat panah.  Kecuali bagi member BACS tentu ada ketentuan lain, yakni Rp.100.000 per tahun dan iuran per bulan Rp.150.000 bebas main 10 sesi di range manapun.

 

Saya dan Coach Robert

Dipi : "Yuk kita segera main. Sudah jam 1 lewat nih. Sesi satu kan dimulai pukul satu"

Coach : "Kau saja yang main, aku cuma liat dan ngelatih"

Dipi : "Waw, ga bisa gitu lah."

 

Untung akhirnya saya berhasil juga untuk membujuk coach Robert turun ke lapang. Sambil pula membujuk coach Uzi dan coach Adam untuk turut serta. Panahan sendiri memang asyik, tapi panahan bersama-sama jauh lebih menyenangkan menurut saya. Makanya saya sibuk ngajak-ngajakin orang lain panahan sejak dulu.

 

Saya dan coach Robert bermain barebow dengan busur traditional recurve kami. Pertama di jarak 10 m, lalu mundur jadi 20 m, dan terakhir nyoba nembak target berbentuk hewan. Total tembakan mungkin mencapai 9 rambahan (kurang lebih 54 anak panah). Saya tak begitu pasti berapa rambahan tepatnya karena bermain santai seperti ini bisa bikin lupa waktu dan hitungan.

 

Picture : Saya dan Coach Robert sedang memanah di jarak 10 m (difoto oleh Coach Yoga)

 

Hasil tembakan panah coach Robert seperti biasa amazing, wajarlah karena beliau juara barebow beberapa kali di beberapa turnamen panahan. Sedangkan semak-semak berbunga ini cukup puas dengan anak panah yang alhamdulillah ga banyak terbang ke rumput lapangan. "Niat nembak target malah nyasar ke dusun tetangga", kurang lebih demikian perumpamaannya. Style selow selow bergembira begitulah nyatanya.

 

Recurve dan Horsebow

Di sela-sela memanah, saya sempat juga mencoba menggunakan busur recurve standard milik coach Yoga. Selama ini saya pecinta barebow abis. Ga tertarik untuk pindah ke recurve standard, atau busur compound. Barebow saja sudah cukup menantang buat saya, jadi tak terpikirkan dengan busur lainnya. Tapi waktu saya coba mainkan recurve coach Yoga, wah ternyata berat ya menarik string dan menahan bodi busur. Salutlah dengan para pemanah yang bermain di jenis busur ini. 

 

Picture : Busur Recurve Standard milik Coach Yoga (foto pribadi milik Coach Yoga)

 

Begitupun waktu saya mencoba horsebow coach Robert yang beliau bawa hari ini. Tekniknya sangat asing, badan harus rada membungkuk, pegangan ke busur pun rada beda dengan yg biasa saya lakukan. Padahal saya punya cita-cita mau pindah ke busur tradisional suatu saat nanti. Kesulitan yang saya jumpai ini kembali membuat saya salut pada pemanah busur horsebow. Ternyata tiap jenis busur punya tantangannya masing-masing.

 

Picture : Horsebow milik Coach Robert, diambil dari ig @robertstevan

 

Fasilitas Penunjang di Range

Satu sesi selesai dengan cepat rasanya. Tau-tau sudah pukul 3 sore. Enggan untuk berhenti memanah, tapi masih ada banyak hal lain yang harus dikerjakan, maka kami pun mulai membereskan perlengkapan dan bersiap-siap pulang. 

 

Sejenak sebelum pulang saya sempatkan untuk bersih-bersih dulu di toilet untuk menyegarkan badan. Toilet ternyata tak jauh lokasinya dari range. Cukup jalan terus dan belok kiri. Kelihatan kok dari area panahan. Toilet laki-laki dan perempuannya satu pintu dengan tiga bilik toilet di dalamnya. Ada wastafel dan kaca juga di sana. Juga shower untuk mandi. Tak ada tisue. Maka siap-siap tisue sendiri ya jika membutuhkan.

 

Picture : Fasilitas Toilet

 

Di sebelah kanan ujung range ada bangunan yang agak terpisah di pojokan. Itu tempat musholla. Luas musholla kurang lebih 3x3 m saja. Saya tak melihat detail keadaan musholla. Tampaknya cukup bersih meski saya sarankan teman-teman untuk membawa sendiri perlengkapan shalatnya agar lebih khusyuk dan nyaman. Terdapat pula tempat berwudhu tak jauh dari musholla.

 

Picture : Fasilitas Mushola

 

Kini beres-beresnya sudah selesai. Sambil kembali memanggul dan menggiwing perlengkapan panahan kami pun berniat pulang. Untung saja coach Robert mengingatkan agar sebaiknya menuju kasir dulu untuk bayar sewa lapangan hari ini, daripada bolak balik ke range lagi. Jadi kami pun pergi ke kasir yang rupanya berada tepat di samping kanan pintu masuk awal kedatangan kami. Di kasir kami mendapatkan tanda bukti bayar, yang lalu kami serahkan ke coach Yoga.

 

Di range tempat beli makanan dan minuman agak terbatas. Bisa sih ke kantin Batununggal Sport sepertinya. Soalnya waktu bayar sewa lapang tadi kami sempat salah kasir. Kasir yang kami tuju pertama kali adalah kasir khusus pembelian makanan. Tapi saya sendiri tidak detail melihat dimana letak kantin dan yang serupa itu. Saya dan coach Robert hari ini membawa bekal minum dan makanan sendiri dari rumah, jadi kami tak mencari lokasi penjualan makanan atau minuman hari ini.

 

Selesai memberikan bukti bayar ke coach Yoga kami beranjak pulang. Tak lupa pamit dan salaman pada keempat coach yang bertugas hari itu. Sekarang mereka tampak sibuk karena pengunjung range mulai berdatangan. Beruntung juga kami tadi ambil sesi 1, jadi bisa puas bermain panah tanpa terlalu berdesak-desakan.

 

Picture : Range mulai ramai dan para coach mulai sibuk membimbing dan mengajar

 

Parkiran masih tampak lengang. Bukan karena tak banyak pengunjung sih, tapi memang area parkir Batununggal Sport ini sangat memadai luasnya. Kecuali akhir pekan mungkin ya, hari dimana orang-orang berduyun-duyun datang ke sini untuk berolahraga sehingga parkiran penuh. Parkir mobil hanya Rp.3000 kok. Dibayar di awal waktu pertama kali melewati gerbang parkir.

 

How to Get Here

Picture : Bagian depan gedung Batununggal Sport

 

Batununggal Sport adalah tempat yang cukup mudah dicari, karena ini daerah yang termasuk elit di Bandung. Gunakan saja aplikasi google search dan google map dengan kata kunci Batununggal dan Batununggal Indah Club. Ketika sudah masuk ke area Perumahan Batununggal mungkin agak sedikit bingung ya, seperti saya yang tadi sempat berputar-putar kebingungan arah. Bisa gunakan aplikasi waze dengan kata kunci Batununggal Sport. Atau ikuti plang petunjuk arah yang ada di area perumahan. 

 

Rekomendasi

Mengingat lokasinya yang berada di area kota Bandung, maka saya rekomendasikan range ini kepada teman-teman yang ingin bermain, belajar, dan berlatih panahan di tempat yang masih area kota Bandung. Tempat panahan outdoor dengan jarak maksimal 30 m, lingkungan asri dan cukup fasilitas umum, serta berada di kawasan yang termasuk elit. Juga bagi teman-teman yang membutuhkan tempat panahan yang sekaligus berdekatan dengan area latihan olahraga lainnya. Coba deh datang ke Batununggal Range, mungkin sesuai dengan kebutuhan kalian.

 

 

Sampai bertemu lagi ya coach Robert. Latihan harian saya cukup di rumah saja 10 m. Soalnya tak punya banyak waktu untuk bisa pergi sana sini. Sampai jumpa lagi juga ya teman-teman. Hari sudah sore, saya harus pulang. Sampai ketemu di tulisan saya yang lainnya. Terimakasih 😊.

 

By the way, teman-teman juga punya pengalaman kah tentang panahan? Bagi-bagi ceritanya ya di kolom komen jika berkenan 😊🎯.

 

Terimakasih Coach Robert

 

 

 

0
0
0
s2sdefault

Warawiri ke Posyandu

Published: Tuesday, 25 July 2017 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

 

Masa depan memang misteri. True banget ya. Ini terjadi setidaknya dalam hidup saya. Why? Itu karena mana pernah saya berpikir akan berkunjung ke posyandu, sambil bawa anak pula. Why? Sebab dokter sudah bilang kalo kami kemungkinan kecil punya anak.

 

Tapi inilah dia si masa depan. Lahirlah Moonlight bulan Februari lalu. Bayi laki-laki saya yang mungil dan lucu, lahir lewat operasi SC. Dia sehat, beratnya 3,18 kg. Hello semuanya, please meet my baby boy, Moonlight. Tentu itu bukan nama sebenarnya. Moonlight hanya nama sebutannya saja karena waktu saya baca buku When The Moon is Low nya Nadia Hashimi, ada sebuah kalimat yang sangat berkesan di hati saya, "In the darkness, when you cannot see the ground under your feet and your fingers touch nothing but night, you are not alone. I will stay with you as moonlight stays on water." Kok persis ya rasanya seperti kehadiran putra saya ini dalam hidup saya. He is my moonlight.

 

Bulan pertama kami periksakan Moonlight ke rumah sakit, sampai ketika di bulan kedua Mba Mita, tetangga saya, bilang, "Teh, mau ikut ke Posyandu ga, Rabu ini ada jadwalnya?". Nah, posyandu ya... Hmmm... Mau apa saya di sana? Emak-emak culun ini mulai bingung perihal posyandu. Ini pengalaman pertama saya sebagai ibu, seumur-umur juga ga pernah ke sana, eh pernah dulu sekali kayaknya waktu saya kecil, jadi posyandu terdengar semacam istilah absurd yang sulit diimajinasikan dalam pikiran.

 

Akhirnya dengan antusias saya menjawab, "Yuk, wasap weh ya mba kalo mau pergi, barengan yak". Dan hari Rabu pun segera tiba. Emak-emak kembali bingung ke posyandu bawa apa aja ya? Hape? Buku catatan perkembangan bayi yang dikasih rumah sakit? Trus apa? Oh iya bawa bayinya lah ya. Euuuuhh... Ke Posyandu aja grogi 😂.

 

Cikicik kicik... dengan sandal jepit saya melangkah ke rumah Mba Mita. Ealaahh... ternyata ramai juga yang mau ke posyandu. Memang tetangga sekitar banyak juga yang punya anak kecil. Jadi kami berombongan pergi berduyun-duyun menuju lokasi. Tempatnya dekat sih, ini dia yang saya suka, jadi Moonlight ga lelah kalau posyandunya ga jauh.

 

Sekilas di kaca mobil yang lagi parkir saya berkaca, itu siapa ya yang repot bawa bayi digendong pake kain, pegang botol susu di tangan kanan, buku catatan di tangan kiri, payung dikepit di ketiak, saku kulotnya rada melorot akibat berat diisi hape, muka mengernyit akibat sorotan matahari yang mulai menuju puncaknya. Oh itu saya! Ffiiuuhh... Salah stategi nih kayaknya. Kenapa kalo di film-film ibu-ibu muda selalu tampak segar dalam segala suasana, ga lecek begini seperti kenyataannya. Pantesan banyak yg bilang jangan nonton sinetron #eh.

 

Tiba di posyandu sudah ada beberapa ibu yang datang sambil membawa anak beraneka usia dan gendernya. Ada juga tiga orang ibu yang duduk di meja kecil sambil lesehan, nulis-nulis sesuatu di buku, serta satu ibu lainnya yang berdiri sigap dekat timbangan. Pasti ini orang-orang yang berwenang, pikir saya. Dan benar, rupanya beliau-beliau adalah bu bidan setempat beserta kadernya. Kadang bu lurah juga datang ke sini. Posyandu salah satu program pemerintah tho, jadi pejabat setempat kudu dukung dengan seksama.

 

Picture : Moonlight lagi ditimbang dan diukur tingginya oleh ibu kader posyandu

 

Buat yang belum tau posyandu saya informasikan bahwa begitu datang ternyata kita akan mendaftarkan diri dulu sebagai "anggota". Lalu mengisi data seperlunya, tunggu nama anak kita dipanggil, atau antri dengan sopan sampai tiba giliran anak kita ditimbang dan diukur tingginya meski tidak ada sistem panggil memanggil nama, habis itu berat dan panjang bocah-bocah dicatat di buku, lalu dapat bingkisan makanan (kadang biskuit, kadang susu, dan lain-lain), kemudian duduk manis mendengarkan penyuluhan yang disampaikan bu bidan, dan akhirnya pulang setelah bersalaman serta tukar senyuman. Uuppss... Jangan lupa kencleng seikhlasnya ya. 

 

Ga semua ibu yang datang ke posyandu saya kenal, bahkan banyak yang justru ga kenal saya. Soalnya saya bukan siapa-siapa, hanya ibunya Moonlight yang suka nulis-nulis di blog. Usut punya usut ternyata satu posyandu memang melayani beberapa erte sekaligus, lebih tepatnya satu posyandu untuk satu erwe.

 

Otomatis ibu-ibu yang datang memang dari berbagai penjuru yang bukan dari wilayah perumahan saya saja. Hampir ga ada waktu buat berkenalan di sana, kami ibu-ibu sudah habis energinya untuk mengawasi anak sambil mencoba fokus pada kegiatan.

 

Picture : Suasana meriah di posyandu, dan itu saya sedang berdiri sambil menggendong Moonlight

 

Di posyandu kadang kami terpaksa berdiri berdesakan, sebagian memang ada yang ga dapat space untuk duduk, maklum lah kebetulan posyandunya menggunakan teras warga yang ridho rumahnya dipake. Dulu konon kegiatan posyandu dilaksanakan di fasum warga di bangunan yang cukup luas, tapi sekarang tempat itu lagi ada sengketa sehingga pindah ke rumah warga saja.

 

Beda banget suasananya dengan nimbang ngukur di rumah sakit. Berada di posyandu rasanya lebih nyata, nyata emak-emaknya 😁. Jangan harap bawa stroller cantik di sini, ga ada tempat mak!, mending gendongan kain batik yang bisa syutt syuttt ikat sana sini sekali jadi. 

 

Betapa pun terdengar tidak nyamannya situasi ini saya gambarkan, teman-teman janganlah mudah percaya. Sebab saya nyatanya senang selama berada di posyandu. Khitmad mendengarkan bidan desa menjelaskan tentang cara merawat bayi yang benar, tentang ASI dan MPASI, tentang imunisasi, dan masih banyak lagi. Sungguh informasi yang sangat berharga, valid, dan murah pula biayanya.

 

Konsultasi dengan bu bidan pun bisa kita lakukan di akhir rangkaian kegiatan atau saat sesi tanya jawab di waktu penyuluhan. Dan gimana ga murah, kencleng seridhonya kok ya. Layanan masyarakat seperti inilah yang harus diperbanyak dan ditingkatkan kualitasnya karena benar-benar menjangkau rakyat kecil seperti kami.

 

Picture : pulang dari posyandu kami dapat minuman susu gratis... duh senangnya

 

Akibat ke posyandu akhirnya saya jadi tau kalo anak-anak bisa diimunisasi juga di sana. Biayanya sangat terjangkau, cuma puluhan ribu begitulah, bahkan vaksin tertentu hanya Rp.6rb saja. Jangan tanya perbandingannya dengan imunisasi di rumah sakit ya. Tentu jauh berbeda. Hanya saja posyandu memang cuma melayani imumisasi yang wajib seperti dpt, polio, bcg, dan lain-lain.Tidak ada imunisasi pneumococcus seperti yang Moonlight dapatkan di dokter spesialis anak di rumah sakit.

 

Namun vitamin A katanya hanya ada di posyandu dan puskesmas loh. Tidak akan ada di rumah sakit, karena itu khusus didistribusikan oleh dinkes ke posyandu dan puskesmas saja. Saya kira masalah imunisasi ya monggo pilihan masing masing orangtua. Pasti tiap orang punya pertimbangan sendiri-sendiri.

 

Saat ini kami lagi menunggu-nunggu berita dari posyandu yang katanya dalam waktu dekat akan mengadakan imunisasi MR (Measles Rubella) untuk anak usia 9 bulan ke atas. Di televisi sudah gencar ditayangkan programnya agar masyarakat tau. Cara ikutannya gampang, tinggal daftar ke posyandu terdekat.

 

Picture : Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)

 

Satu hal lagi yang menarik perhatian saya di posyandu adalah buku KIA dan KMS. Buku apa itu? Saya juga ga tau awalnya. Waktu bu bidan sebut-sebut nama buku itu saya manggut-manggut sambil ga paham. Rupanya itu buku Kesehatsn Ibu dan Anak yang di dalamnya ada KMS yaitu Kartu Menuju Sehat. Di buku KIA ada kolom catatan perkembangan anak, ada informasi penting seputar cara merawat anak, agenda imunisasi, fase perkembangan anak, dan masih banyak lagi.

 

Tiap anak yang ke posyandu harusnya punya buku KIA, kecuali saya yang saat datang malah bawa buku catatan perkembangan anak dari rumah sakit sebelumnya. Waktu saya tanya bagaimana caranya supaya bisa punya buku itu, jawaban bu bidan lugas, "Nanti kalo hamil lagi ibu ke sini ya. Sebab bukunya diberikan ke yang periksa sejak masa kehamilan." 😁.

 

Picture : Grafik KMS

 

Gara-gara itu akhirnya kami ibu-ibu yang ga punya buku KIA suka numpang liat ke yang punya. Pasalnya ada grafik penting yang perlu dicek dengan seksama di dalam buku itu. Grafik perbandingan berat badan dan usia anak terutama. Dengan memeriksa posisi berat badan berbanding usia anak di grafik, kita akan mengetahui apakah anak kita "kurang asupan, "ideal", atau "obesitas". Dari situ bidan akan memberikan penanganan khusus bila anak yang bersangkutan tidak berada pada posisi grafik hijau ideal. Apa kabar berat badan Moonlight? Oh dia berat badannya ijo royo royo alias ideal.

 

Beres nimbang dan dengerin penyuluhan saya pun pulang bersama rombongan. Kok sekarang kepikiran ya pengen jadi kader. Kayaknya seneng kalo bisa bermanfaat bagi masyarakat model begitu. Mana tempatnya ga jauh dari rumah, kan jadi mudah ngatur-ngatur waktunya. Tapi untuk jadi kader itu orang pilihan ya katanya, satu erte cuma satu orang perwakilan. Ga tau tuh dari erte kami sudah ada atau belum yang mewakili. 

 

Kalian suka juga kah bawa anak ke posyandu? Apa pendapat kalian tentang imunisasi di posyandu? Sudah pernah ke posyandu belum? Atau kayak saya dulu yang ga tau sama sekali posyandu itu apa? Banyak banget ya nanyanya 😂. Silahkan ditulis di komen bila berkenan ya. Yuk, saya pamit pulang dulu nih, sampai ketemu lagi di cerita saya yang lainnya. 😊

 

 

 

0
0
0
s2sdefault

Sponsored Post, Job Review, Special Request, Postingan Lomba

Review Buku The Hate U Give - Angie Thom…

04-08-2017 Hits:290 Features Dipi - avatar Dipi

  REQUESTED POST Judul : The Hate U Give Penulis : Angie Thomas (stunning John Green) Jenis Buku : Fiksi (novel) Penerbit Walker Books Tahun Terbit 2017 Jumlah Halaman 437 Dimensi Buku (L x W x H) : 13.10...

Read more

Review Buku Option B - Sheryl Sandberg

31-07-2017 Hits:253 Features Dipi - avatar Dipi

REQUESTED POST Judul : Option B Penulis : Sheryl Sandberg Genre : Non Fiksi - Self Development Penerbit : Ebury Publishing Edisi : Pertama Tahun 2017 Jumlah Halaman : 240 halaman Dimensi Buku : 13,4 x 21,5...

Read more

Review Buku The Subtle Art of Not Giving…

27-07-2017 Hits:506 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : The Subtle Art of Not Giving a F*uck Penulis : Mark Manson Penerbit : Harper One Edisi : Pertama Tahun 2016 Jumlah Halaman : 240 halaman Harga : Rp.256.000 Edisi Bahasa Inggris New York Times...

Read more

Review Buku

Review Buku Pengakuan Eks Parasit Lajang…

11-08-2017 Hits:134 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Pengakuan Eks Parasit Lajang Penulis : Ayu Utami Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia Tahun Terbit : Cetakan Pertama Februari 2013 Jumlah Halaman : 306 Buku ini dibaca di iPusnas   Sekelumit Isi Cerita Gadis ini berlatar...

Read more

Review Buku Rindu - Tere Liye

23-07-2017 Hits:280 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul Buku : Rindu Jenis Buku : Fiksi Pengarang : Tere Liye Penerbit : Republika Tahun Terbit beserta Cetakannya : Cetakan XL Oktober 2016 Dimensi Buku : 13,5 cm x 20,5 cm Jumlah Halaman : 544 halaman Harga Buku :...

Read more

Review Buku Tentang Kamu - Tere Liye

09-06-2017 Hits:506 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul Buku : Tentang Kamu Jenis Buku : Fiksi Pengarang : Tere Liye Penerbit : Republika Tahun Terbit beserta Cetakannya : Cetakan Kedua Oktober 2016 Dimensi : 13,5 x 20,5 cm Jumlah Halaman : vi +...

Read more

Cerita Dipidiff

Toko Buku di Grand Griya Cinunuk Bandung

19-08-2017 Hits:49 Cerita Dipi - avatar Dipi

  "Mall dan supermarket terbaik adalah yang memiliki toko buku di dalamnya. Titik." Yang ga setuju ya harap maklum ya 😂, kebetulan yang komentar gitu adalah seorang book lover yang juga book...

Read more

Panahan di Range Batununggal Bandung Arc…

17-08-2017 Hits:113 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Malam telah cukup larut waktu saya kontak-kontakan dengan coach Robert. Beliau ini coach pertama saya di dunia archery. Coach istimewa, tiada bandingan galaknya... Hahaha (ini tuh pujian 😁). Kenapa galak?...

Read more

Warawiri ke Posyandu

25-07-2017 Hits:382 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Masa depan memang misteri. True banget ya. Ini terjadi setidaknya dalam hidup saya. Why? Itu karena mana pernah saya berpikir akan berkunjung ke posyandu, sambil bawa anak pula. Why? Sebab...

Read more