EMail: dianafitridipi@gmail.com

 

Masa depan memang misteri. True banget ya. Ini terjadi setidaknya dalam hidup saya. Why? Itu karena mana pernah saya berpikir akan berkunjung ke posyandu, sambil bawa anak pula. Why? Sebab dokter sudah bilang kalo kami kemungkinan kecil punya anak.

 

Tapi inilah dia si masa depan. Lahirlah Moonlight bulan Februari lalu. Bayi laki-laki saya yang mungil dan lucu, lahir lewat operasi SC. Dia sehat, beratnya 3,18 kg. Hello semuanya, please meet my baby boy, Moonlight. Tentu itu bukan nama sebenarnya. Moonlight hanya nama sebutannya saja karena waktu saya baca buku When The Moon is Low nya Nadia Hashimi, ada sebuah kalimat yang sangat berkesan di hati saya, "In the darkness, when you cannot see the ground under your feet and your fingers touch nothing but night, you are not alone. I will stay with you as moonlight stays on water." Kok persis ya rasanya seperti kehadiran putra saya ini dalam hidup saya. He is my moonlight.

 

Bulan pertama kami periksakan Moonlight ke rumah sakit, sampai ketika di bulan kedua Mba Mita, tetangga saya, bilang, "Teh, mau ikut ke Posyandu ga, Rabu ini ada jadwalnya?". Nah, posyandu ya... Hmmm... Mau apa saya di sana? Emak-emak culun ini mulai bingung perihal posyandu. Ini pengalaman pertama saya sebagai ibu, seumur-umur juga ga pernah ke sana, eh pernah dulu sekali kayaknya waktu saya kecil, jadi posyandu terdengar semacam istilah absurd yang sulit diimajinasikan dalam pikiran.

 

Akhirnya dengan antusias saya menjawab, "Yuk, wasap weh ya mba kalo mau pergi, barengan yak". Dan hari Rabu pun segera tiba. Emak-emak kembali bingung ke posyandu bawa apa aja ya? Hape? Buku catatan perkembangan bayi yang dikasih rumah sakit? Trus apa? Oh iya bawa bayinya lah ya. Euuuuhh... Ke Posyandu aja grogi ?.

 

Cikicik kicik... dengan sandal jepit saya melangkah ke rumah Mba Mita. Ealaahh... ternyata ramai juga yang mau ke posyandu. Memang tetangga sekitar banyak juga yang punya anak kecil. Jadi kami berombongan pergi berduyun-duyun menuju lokasi. Tempatnya dekat sih, ini dia yang saya suka, jadi Moonlight ga lelah kalau posyandunya ga jauh.

 

Sekilas di kaca mobil yang lagi parkir saya berkaca, itu siapa ya yang repot bawa bayi digendong pake kain, pegang botol susu di tangan kanan, buku catatan di tangan kiri, payung dikepit di ketiak, saku kulotnya rada melorot akibat berat diisi hape, muka mengernyit akibat sorotan matahari yang mulai menuju puncaknya. Oh itu saya! Ffiiuuhh... Salah stategi nih kayaknya. Kenapa kalo di film-film ibu-ibu muda selalu tampak segar dalam segala suasana, ga lecek begini seperti kenyataannya. Pantesan banyak yg bilang jangan nonton sinetron #eh.

 

Tiba di posyandu sudah ada beberapa ibu yang datang sambil membawa anak beraneka usia dan gendernya. Ada juga tiga orang ibu yang duduk di meja kecil sambil lesehan, nulis-nulis sesuatu di buku, serta satu ibu lainnya yang berdiri sigap dekat timbangan. Pasti ini orang-orang yang berwenang, pikir saya. Dan benar, rupanya beliau-beliau adalah bu bidan setempat beserta kadernya. Kadang bu lurah juga datang ke sini. Posyandu salah satu program pemerintah tho, jadi pejabat setempat kudu dukung dengan seksama.

 

Picture : Moonlight lagi ditimbang dan diukur tingginya oleh ibu kader posyandu

 

Buat yang belum tau posyandu saya informasikan bahwa begitu datang ternyata kita akan mendaftarkan diri dulu sebagai "anggota". Lalu mengisi data seperlunya, tunggu nama anak kita dipanggil, atau antri dengan sopan sampai tiba giliran anak kita ditimbang dan diukur tingginya meski tidak ada sistem panggil memanggil nama, habis itu berat dan panjang bocah-bocah dicatat di buku, lalu dapat bingkisan makanan (kadang biskuit, kadang susu, dan lain-lain), kemudian duduk manis mendengarkan penyuluhan yang disampaikan bu bidan, dan akhirnya pulang setelah bersalaman serta tukar senyuman. Uuppss... Jangan lupa kencleng seikhlasnya ya. 

 

Ga semua ibu yang datang ke posyandu saya kenal, bahkan banyak yang justru ga kenal saya. Soalnya saya bukan siapa-siapa, hanya ibunya Moonlight yang suka nulis-nulis di blog. Usut punya usut ternyata satu posyandu memang melayani beberapa erte sekaligus, lebih tepatnya satu posyandu untuk satu erwe.

 

Otomatis ibu-ibu yang datang memang dari berbagai penjuru yang bukan dari wilayah perumahan saya saja. Hampir ga ada waktu buat berkenalan di sana, kami ibu-ibu sudah habis energinya untuk mengawasi anak sambil mencoba fokus pada kegiatan.

 

Picture : Suasana meriah di posyandu, dan itu saya sedang berdiri sambil menggendong Moonlight

 

Di posyandu kadang kami terpaksa berdiri berdesakan, sebagian memang ada yang ga dapat space untuk duduk, maklum lah kebetulan posyandunya menggunakan teras warga yang ridho rumahnya dipake. Dulu konon kegiatan posyandu dilaksanakan di fasum warga di bangunan yang cukup luas, tapi sekarang tempat itu lagi ada sengketa sehingga pindah ke rumah warga saja.

 

Beda banget suasananya dengan nimbang ngukur di rumah sakit. Berada di posyandu rasanya lebih nyata, nyata emak-emaknya ?. Jangan harap bawa stroller cantik di sini, ga ada tempat mak!, mending gendongan kain batik yang bisa syutt syuttt ikat sana sini sekali jadi. 

 

Betapa pun terdengar tidak nyamannya situasi ini saya gambarkan, teman-teman janganlah mudah percaya. Sebab saya nyatanya senang selama berada di posyandu. Khitmad mendengarkan bidan desa menjelaskan tentang cara merawat bayi yang benar, tentang ASI dan MPASI, tentang imunisasi, dan masih banyak lagi. Sungguh informasi yang sangat berharga, valid, dan murah pula biayanya.

 

Konsultasi dengan bu bidan pun bisa kita lakukan di akhir rangkaian kegiatan atau saat sesi tanya jawab di waktu penyuluhan. Dan gimana ga murah, kencleng seridhonya kok ya. Layanan masyarakat seperti inilah yang harus diperbanyak dan ditingkatkan kualitasnya karena benar-benar menjangkau rakyat kecil seperti kami.

 

Picture : pulang dari posyandu kami dapat minuman susu gratis... duh senangnya

 

Akibat ke posyandu akhirnya saya jadi tau kalo anak-anak bisa diimunisasi juga di sana. Biayanya sangat terjangkau, cuma puluhan ribu begitulah, bahkan vaksin tertentu hanya Rp.6rb saja. Jangan tanya perbandingannya dengan imunisasi di rumah sakit ya. Tentu jauh berbeda. Hanya saja posyandu memang cuma melayani imumisasi yang wajib seperti dpt, polio, bcg, dan lain-lain.Tidak ada imunisasi pneumococcus seperti yang Moonlight dapatkan di dokter spesialis anak di rumah sakit.

 

Namun vitamin A katanya hanya ada di posyandu dan puskesmas loh. Tidak akan ada di rumah sakit, karena itu khusus didistribusikan oleh dinkes ke posyandu dan puskesmas saja. Saya kira masalah imunisasi ya monggo pilihan masing masing orangtua. Pasti tiap orang punya pertimbangan sendiri-sendiri.

 

Saat ini kami lagi menunggu-nunggu berita dari posyandu yang katanya dalam waktu dekat akan mengadakan imunisasi MR (Measles Rubella) untuk anak usia 9 bulan ke atas. Di televisi sudah gencar ditayangkan programnya agar masyarakat tau. Cara ikutannya gampang, tinggal daftar ke posyandu terdekat.

 

Picture : Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)

 

Satu hal lagi yang menarik perhatian saya di posyandu adalah buku KIA dan KMS. Buku apa itu? Saya juga ga tau awalnya. Waktu bu bidan sebut-sebut nama buku itu saya manggut-manggut sambil ga paham. Rupanya itu buku Kesehatsn Ibu dan Anak yang di dalamnya ada KMS yaitu Kartu Menuju Sehat. Di buku KIA ada kolom catatan perkembangan anak, ada informasi penting seputar cara merawat anak, agenda imunisasi, fase perkembangan anak, dan masih banyak lagi.

 

Tiap anak yang ke posyandu harusnya punya buku KIA, kecuali saya yang saat datang malah bawa buku catatan perkembangan anak dari rumah sakit sebelumnya. Waktu saya tanya bagaimana caranya supaya bisa punya buku itu, jawaban bu bidan lugas, "Nanti kalo hamil lagi ibu ke sini ya. Sebab bukunya diberikan ke yang periksa sejak masa kehamilan." ?.

 

Picture : Grafik KMS

 

Gara-gara itu akhirnya kami ibu-ibu yang ga punya buku KIA suka numpang liat ke yang punya. Pasalnya ada grafik penting yang perlu dicek dengan seksama di dalam buku itu. Grafik perbandingan berat badan dan usia anak terutama. Dengan memeriksa posisi berat badan berbanding usia anak di grafik, kita akan mengetahui apakah anak kita "kurang asupan, "ideal", atau "obesitas". Dari situ bidan akan memberikan penanganan khusus bila anak yang bersangkutan tidak berada pada posisi grafik hijau ideal. Apa kabar berat badan Moonlight? Oh dia berat badannya ijo royo royo alias ideal.

 

Beres nimbang dan dengerin penyuluhan saya pun pulang bersama rombongan. Kok sekarang kepikiran ya pengen jadi kader. Kayaknya seneng kalo bisa bermanfaat bagi masyarakat model begitu. Mana tempatnya ga jauh dari rumah, kan jadi mudah ngatur-ngatur waktunya. Tapi untuk jadi kader itu orang pilihan ya katanya, satu erte cuma satu orang perwakilan. Ga tau tuh dari erte kami sudah ada atau belum yang mewakili. 

 

Kalian suka juga kah bawa anak ke posyandu? Apa pendapat kalian tentang imunisasi di posyandu? Sudah pernah ke posyandu belum? Atau kayak saya dulu yang ga tau sama sekali posyandu itu apa? Banyak banget ya nanyanya ?. Silahkan ditulis di komen bila berkenan ya. Yuk, saya pamit pulang dulu nih, sampai ketemu lagi di cerita saya yang lainnya. ?

 

 

 

Review Buku Aroma Karsa - Dee Lestari

08-07-2018 Hits:112 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Aroma Karsa Penulis : Dee Lestari Jenis Buku : Fiksi Penerbit : Bentang Tahun Terbit : 2018 Jumlah Halaman :  710 halaman Dimensi Buku :  13,5 x 20 cm Harga : Rp. 125.000 ISBN : 978-602-291-463-1 Soft Cover                                                                                       ...

Read more

Review Buku A Sweet Mistake - Vevina Ais…

24-05-2018 Hits:131 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : A Sweet Mistake Penulis : Vevina Aisyahra Jenis Buku : Novel Young Adult Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Desember 2017 Jumlah Halaman : 248 halaman Dimensi Buku :  13,5 x 20 cm Harga : Rp. 59.000 ISBN...

Read more

Review Buku The Productivity Project - C…

01-04-2018 Hits:809 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : The Productivity Project – Accomplishing More by Managing Your Time, Attention, and Energy Penulis : Chris Bailey Jenis Buku : Non Fiksi – Self Improvement Penerbit : Crown Business Tahun Terbit : Agustus 2017 Jumlah...

Read more

Review Buku The Silent Corner - Dean Koo…

30-03-2018 Hits:831 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : The Silent Corner Penulis : Dean Koontz Jenis Buku : Novel Suspense Penerbit : Random House Tahun Terbit : Oktober 2017 Jumlah Halaman :  576 halaman Harga : Rp. 143.000 ISBN : 978-0-345-54679-1 Mass Market Paperbound Edisi Bahasa Inggris New York...

Read more

Review Buku Gentayangan - Intan Paramadh…

29-03-2018 Hits:901 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Gentayangan Penulis : Intan Paramadhita Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Oktober 2017 Jumlah Halaman :  512 halaman Harga : Rp. 125.000 ISBN : 978-602-03-7772-8 Edisi Soft Cover Karya sastra bidang prosa terbaik pilihan...

Read more

Review Buku Magnus Chase and The Sword o…

29-03-2018 Hits:887 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Magnus Chase and The God of Asgard - The Sword of Summer Penulis : Rick Riordan Jenis Buku : Novel Fantasy Penerbit : Disney Book Group Tahun Terbit : 2015 Jumlah Halaman :  499 halaman Dimensi Buku...

Read more

Review Buku Rich People Problems - Kevin…

29-09-2017 Hits:2207 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Rich People Problems Penulis : Kevin Kwan Jenis Buku : Fiksi - Novel Penerbit : Random House USA Inc Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  384 halaman Dimensi Buku : 15.60 x 23.20...

Read more