EMail: dianafitridipi@gmail.com

 

"Even though you are growing up, You should never stop having fun"

- Nina Dobrev -

 

Boleh jadi waktu Nina Dobrev, artis berkebangsaan Kanada yang cantik itu, mengucapkan kalimat yang jadi quotes di atas sebenarnya sedang berdiri menikmati keindahan air terjun Niagara, atau ia sedang terpaku pada keindahan malam di Kanada. Tapi quotes kadang-kadang bisa dipake untuk situasi yang jauh berbeda juga kan ya. Contohnya seperti saat ini, yakni saat saya bepergian ke kota dengan tiga macam alat transportasi umum, angkot, bis damri, dan ojek online, ternyata bisa juga merasa having fun ?. Jangan tanya soal "growing up", usia 36 tahun udah cukup growing wing kali ya, jika tidak bisa dibilang matang di pohon ?.

 

Masih ingat sekali waktu pertama kali saya tinggal di Bandung, yakni tahun 1999. Kala itu udara Bandung lebih sejuk dibanding saat ini. Bandung tidak macet, tapi transportasi memang lebih sedikit waktu itu. Angkot cukup sih, yang kurang justru bis-bis damri, kerasa banget sama saya karena waktu itu dengan bis damri lah saya pulang pergi ke kampus Universitas Padjadjaran di Jatinangor. Berdiri desak-desakan, mengejar bis, dan ga kebagian tempat sudah jadi makanan sehari-hari mahasiswa rantauan biasa seperti saya.

 

Nostalgia banget ya dan penuh histori kala itu, justru karena situasinya yang "nelangsa". Maka, ketika saya sudah bekerja, sudah menikah, dan punya kendaraan pribadi pun tetap saja ada semacam perasaan tak ingin lupakan angkutan umum. Bahkan kadang-kadang naik angkot, bis, delman, dan ojeg terasa lebih "having fun" ketimbang naik motor atau mobil pribadi. Yes yes, kalian boleh bilang saya "aneh atau kampungan", tidak apa-apa, sebab itu betul kok ?.

 

Jadi, ketika baru-baru ini saya ada keperluan ke kota Bandung, yang mana cukup jauh jarak tempuhnya dari domisili saya yang di Cileunyi Kab. Bandung, saya putuskan untuk naik kendaraan umum saja. How does it feel yeah?! Saya penasaran dengan sensasinya, dengan nuansanya, dengan ongkosnya yang murah meriah. Toh sedang tidak diburu waktu, jadi monggo kalo mau diputer-puter ngikutin jalur trayek angkutan umum. Paling ujung-ujungnya lelah lalu akhirnya pesan taxi yang nyaman lalu tiba di tujuan atau malah pulang ?.

 

ANGKOT

Tidak ada pertanyaan, "Mau diantar kemana Mba?", atau, "AC nya sudah pas belum?" saat saya naik angkot jurusan Cileunyi menuju Jatinangor. Yang ada ya naik ke angkot yang sedang ngetem, tunggu sabar, lalu teriakkan "kiri!" saat sudah tiba di tujuan yang diinginkan, bayar, terima kembalian, ucapkan terimakasih, selesai. Mau duduk di kursi manapun di angkot bebas asalkan memang kosong. Lumayan seneng di angkot menikmati angin sepoi sepoi yang berhembus dari jendela dan pintu mobil yang terbuka. Kebetulan supirnya tidak sedang putarkan lagu, jadi suara-suara yang terdengar hanya bunyi-bunyian lalu lintas. Rada panas tentunya, karena di luar cuaca memang sedang cerah-cerahnya.

 

Picture : Duduk manis di dalam angkot

 

Bertahun-tahun saya gunakan angkot, bisa di bilang sejak orok malah. Angkot pertama yaitu angkot yang body nya dari semacam kayu dan bentuk mobilnya hampir mirip kotak. Itu angkot khas daerah Palembang. Supir-supir di sana juga giat putarkan lagu, biasanya dangdut remix dan lagu nostalgia, otomatis suasananya jadi meriah sekali bagi para penumpang (baca : bising). Tapi memang begitu adatnya di sana. Angkot Bandung rada beda, ga pernah dengar dangdut remix, paling lagu pop dan semacamnya. Body angkot di Bandung seperti mobil biasa yang dicat ulang dan kursi-kursi penumpangnya diatur menghadap kanan dan kiri. Beda dengan angkot Palembang model dulu yang penumpangnya duduk menghadap depan seperti murid duduk berbaris menghadap papan tulis.

 

Banyak kenangan saya saat naik angkot di Bandung, beberapa cukup ekstrim seperti menyelamatkan diri dari kejaran orang gila di Kiaracondong, bertemu kakek-kakek yang mau grepe-grepe saat penumpang cuma saya dan dia di dalam angkot, dimintai nomor telpon sama cowok-cowok yang baru saja kenal di angkot, ditodong dan dimintai uang sama ibu-ibu yang berangasan, terkena muntahan balita yang mabok, dan lain-lain. Aduh, sekilas pengalamannya jelek semua ya. Tapiii, di angkot juga lah kenangan bersama laki-laki yang sekarang jadi suami saya banyak terdapat. Sebagai orang perantauan yang hidup prihatin beliau tak punya motor atau mobil saat itu. Jadi dia ajak jalan-jalan saya naik angkot saja, sampai di kota jajan mie ayam atau cemilan, lalu ngobrol-ngobrol, dan pulang dengan transportasi umum juga. Buat saya itu jauh lebih dari cukup, beliau sopan, ramah, cerdas, hangat pribadinya, dan saya jatuh cinta setengah mati karena kebaikan hatinya ?.

 

BIS DAMRI

Sekarang saya sudah tiba di pool bis Damri. Hari ini saya mau naik bis Damri tujuan Elang via tol. Bis masih sepi, saya penumpang pertama rupanya. Kondisi bis yang rapih dan bersih dengan kursi-kursi berjok lembut berwarna ceria mengingatkan saya betapa bedanya bis damri yang dulu dengan sekarang. Dulu joknya keras warna hitam. Kursi-kursi rapatnya bukan main. Bisnya juga kebanyakan tidak berAC. Hampir jarang ditemui bis yang kosong dalam waktu lama. Umumnya kami penumpang selalu berebutan naik, sehingga kalau lagi penuh pernah saya berdiri berjam-jam di bis berdesak-desakan dengan penumpang lainnya. 

 

Picture : Bis Damri saat ini lebih bersih dan rapih

 

Suasana jadi makin rumit begitu pedagang asongan dan pengamen ikut masuk ke dalam bis. Badan rasanya sudah lelah sekali kejepit sana sini. Mau ambil ongkos di dalam saku kadang sampai susah saat kondektur menagih. Apalagi tas harus digendong di depan, waswas jadi korban pencopetan, meski uang di dompet sebenarnya tinggal recehan ?. Beruntungnya kita di jaman sekarang ya, bis sudah lebih banyak jumlahnya, kondisi bis pun sudah cukup nyaman, ongkos terhitung murah. Jatinangor - Moh Toha Rp. 9.000. 

 

OJEG ONLINE

Kini saya sudah tiba di kota Bandung, kemacetan langsung menyapa begitu keluar dari pintu tol Toha. Pilih angkot lagi kah untuk tiba di tujuan? Ah sepertinya bakal terlalu menyita waktu dan energi. Order taxi gitu ya? Tapi tetap saja akan terjebak kemacetan meski memang nyaman berada di dalam mobil saat matahari mulai terik-teriknya. Setelah pikir-pikir, pilihan saya kemudian jatuh pada ojeg online. Cepat, bisa selap selip di jalan, dan ongkos jauh lebih murah. Toh hari sedang tidak hujan, dan panas sedikit tak masalah. Dengan aplikasi saya segera order ojeg online ke tujuan yang diinginkan. Lalu saya telpon-telponan dengan driver ojegnya untuk memastikan lokasi bertemu. Ojeg tiba dengan segera dan saya pun meluncur menembus kemacetan tanpa hambatan.

 

Picture : Layanan Ojeg Online sebagai alternatif kendaraan umum di kota Bandung

 

Wuzzzz... Tak terasa sudah tiba di tujuan ?. Praktis ya. Ongkos cuma Rp. 6.000. Drivernya pun ramah. Tak ada nego-nego alot soal ongkos. Semua terpampang jelas dari awal saat order di aplikasi. Berbeda dengan dulu, saat ojeg offline masih merajai angkutan umum di Bandung. Proses nego harga bisa alot sekali, dan yang tak pandai nego seperti saya sering kena harga tinggi. Saya bayar ongkosnya ke driver ditambah bonus. Tapi driver tolak bonus itu dengan halus. Katanya ia minta bintang 5 saja sebagai gantinya, biar kinerja dia dapat penilaian yang baik dari perusahaan. Komplain dan bintang yang sedikit bisa jadi masalah bagi driver ojeg, jika kinerja jelek mereka bisa kena suspend, ga boleh ngojek sampai batas waktu tertentu.

 

Hitung punya hitung total ongkos saya hari ini Rp. 18.000. Jauh lebih murah jika dibandingkan dengan kalau saya naik taxi online atau taxi offline. Taxi online bisa kena Rp.85.000 dan taxi offline kurang lebih kena charge Rp.150.000an. Wah bikin senyum terkembang kalau inget ongkos murah begini. Mana cepat pula sampai di tujuan. Tapiii catatannya menurut saya ya itu, pilih angkutan umum yang sesuai rute tujuan, pertimbangkan waktu, cuaca, bahkan kondisi tubuh. 

 

Sebagai warga negara yang tak punya banyak kemampuan dan kontribusi yang nyata untuk bangsa, entah mengapa saya jadi merasa punya andil sedikitttt dalam berpartisipasi di program pemerintah dengan cara naik kendaraan umum seperti ini. Lagipula saya pun cuma rakyat kecil yang dengan naik kendaraan umum jadi seolah turut membantu perekonomian sesama rakyat kecil. Meski sebenarnya saya pun suka merasa jengkel dengan angkot yang terlalu banyak serta sering sembarang parkir di jalanan dan bikin macet lalu lintas ?. Hidup memang banyak dilemanya ya.

 

Akankah ke depannya saya naik angkot, bis damri, dan ojeg online lagi? Entahlah. Bagaimana dengan teman-teman? Tahun ini putra saya lahir. Makanya saya banyak bepergian dengan mobil atau taxi, sebab saya kasihan kalau anak saya yang masih kecil jadi hirup-hirup udara kota yang berpolusi. Belum lagi panas di Bandung kadang terik sekali. Namun pasti kalau Moonlight sudah lima tahun, cepat atau lambat kami akan bepergian juga dengan kendaraan umum. Siapa tau 5 tahun ke depan kemacetan Bandung sudah ada solusinya, dan angkutan umum pun sudah makin nyaman. Tidak ada yang tau persis tentang masa depan kan ?.

 

"Even though you are growing up, You should never stop having fun" - Nina Dobrev. Yes Nina, I'm quite having fun today ?. Warawiri naik angkot, bis damri, dan ojek online sambil nostalgiaan. Baru-baru ini saya kehilangan salah seorang yang saya sayangi dengan tulus. Rasanya saya sudah mengusahakan yang saya bisa selama dua tahun ini agar kami bisa berbahagia sesuai porsinya. Tapi endingnya sementara ini tak bagus. Saya yang salah, kehadiran saya rupanya memang tidak pernah membawa kebaikan dalam hidupnya. Saya juga kehilangan sepupu saya baru-baru ini. Kami punya banyak kenangan indah masa kecil. Tapi Tuhan punya rencana sendiri untuknya. Baru beberapa pekan lalu ia dipanggil olehNya setelah berjuang satu tahun melawan leukemia.

 

Jadi, yuk mulai lagi dari awal untuk mencoba bergembira dan menikmati hidup yang penuh warna ini. Having fun seperti kata Nina Dobrev, hanya saja cara saya ya ini sederhana, yaitu dengan warawiri jalan-jalan naik angkot, bis damri, dan ojeg online ?.

 

 

Review Buku Aroma Karsa - Dee Lestari

08-07-2018 Hits:112 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Aroma Karsa Penulis : Dee Lestari Jenis Buku : Fiksi Penerbit : Bentang Tahun Terbit : 2018 Jumlah Halaman :  710 halaman Dimensi Buku :  13,5 x 20 cm Harga : Rp. 125.000 ISBN : 978-602-291-463-1 Soft Cover                                                                                       ...

Read more

Review Buku A Sweet Mistake - Vevina Ais…

24-05-2018 Hits:131 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : A Sweet Mistake Penulis : Vevina Aisyahra Jenis Buku : Novel Young Adult Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Desember 2017 Jumlah Halaman : 248 halaman Dimensi Buku :  13,5 x 20 cm Harga : Rp. 59.000 ISBN...

Read more

Review Buku The Productivity Project - C…

01-04-2018 Hits:809 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : The Productivity Project – Accomplishing More by Managing Your Time, Attention, and Energy Penulis : Chris Bailey Jenis Buku : Non Fiksi – Self Improvement Penerbit : Crown Business Tahun Terbit : Agustus 2017 Jumlah...

Read more

Review Buku The Silent Corner - Dean Koo…

30-03-2018 Hits:831 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : The Silent Corner Penulis : Dean Koontz Jenis Buku : Novel Suspense Penerbit : Random House Tahun Terbit : Oktober 2017 Jumlah Halaman :  576 halaman Harga : Rp. 143.000 ISBN : 978-0-345-54679-1 Mass Market Paperbound Edisi Bahasa Inggris New York...

Read more

Review Buku Gentayangan - Intan Paramadh…

29-03-2018 Hits:901 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Gentayangan Penulis : Intan Paramadhita Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Oktober 2017 Jumlah Halaman :  512 halaman Harga : Rp. 125.000 ISBN : 978-602-03-7772-8 Edisi Soft Cover Karya sastra bidang prosa terbaik pilihan...

Read more

Review Buku Magnus Chase and The Sword o…

29-03-2018 Hits:887 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Magnus Chase and The God of Asgard - The Sword of Summer Penulis : Rick Riordan Jenis Buku : Novel Fantasy Penerbit : Disney Book Group Tahun Terbit : 2015 Jumlah Halaman :  499 halaman Dimensi Buku...

Read more

Review Buku Rich People Problems - Kevin…

29-09-2017 Hits:2207 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Rich People Problems Penulis : Kevin Kwan Jenis Buku : Fiksi - Novel Penerbit : Random House USA Inc Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  384 halaman Dimensi Buku : 15.60 x 23.20...

Read more