EMail: dianafitridipi@gmail.com

 

Sudah hampir satu bulan kayaknya sejak terakhir membatik. Kok rindu ya ?. Kain mori sudah ready, malam dan pewarna juga masih cukup untuk satu batik lagi. Jadi kayaknya kondisi sudah mendukung banget untuk berkreasi lagi dengan batik kepret. Cuma tinggal nunggu hari yang pas aja, hari yang cocok dimana tidak ada begitu banyak kesibukan. Ngebatik kepret sebenarnya ga makan waktu lama sih, tapi tetap aja ga bisa juga membuatnya dengan terburu-buru. Khawatir malah jelek hasilnya.

Selagi menunggu hari yang pas datang, tiba-tiba saya ada ide buat bikin pola bunga pake cetakan puddingnya moonlight buat diterapin di batik kepret. Polanya dibuat di kertas bekas kalender. Pemanfaatan kertas bekas kalender ini ide Bu Akih juga sih. Batik kepret memang wadah kreatifitas dan daur ulang kayaknya, selagi ada barang bekas yang bisa dimanfaatkan ya gunakan saja ?.

Pola bunga-bunga hasil ngejiplak dari cetakan puding saya bikin sekitar 100 buah. Lalu seperti biasa bunga-bunga tersebut disebar di seluruh bagian kain morinya. Malam dipanaskan di atas api kompor, dan setelah mencair lalu di kepret-kepretkan ke permukaan kain dengan bantuan sapu lidi. Gara-gara saya gagal menghidupkan kompor portabel, akhirnya saya gunakan kompor di dapur, sementara ngebatiknya dilakukan di halaman depan. Iiihh riweuh deh emak-emak ngebatik teh, jadi mondar-mandir manjah kayak setrikaan areng basah ?.

Picture : pola bunga dan penerapannya di kain mori

Beres mengepret tentu tiba saatnya mewarnai. Kali ini saya mencoba bentuk lingkaran "kruwel-kruwel" dengan ekspektasi hasilnya indah mempesonah, eh ternyata pewarna tuh memang begitu ya. Rada liar ga bisa ditebak kemana larinya. Akhirnya setelah berkutat beberapa saat, terciptalah motif seperti yang tampak pada foto di bawah ini. Waktu saya posting di medsos ada yang bilang mirip galaksi milky ways, ada yang bilang seperti target panahan juga. Yang pasti pak haji yang kebetulan lewat depan rumah sepulang jumat-an langsung komen, "Bikiinn apaaa bu Aguuss? Ngelukis panahan yaa?". Pertanyaan tersebut saya jawab dengan, "Hehehehe." Rupanya sangking abstraknya motif ini, imajinasi orang-orang menjadi ikutan abstrak ya ?.

Ditengah-tengah proses mewarna fokus saya sempat pecah. Mungkin karena saya agak terburu-buru ingin cepat selesai karena hari sudah mulai mendung. Kalau keburu hujan, proses mengeringkan kain tentu makin sulit akibat terbatasnya ruang ngebatik yang digunakan. Jangan sampai deh kain batik yang masih basah oleh zat warna terkena air hujan pula. Bisa-bisa warna jadi jelek, dan batik pun rusak. Gara-gara sempat hilang fokus, saya lupa bagian mana saja yang sudah saya lapis zat warnanya, lalu sempat tertukar botol isi zat pewarna juga, dari yang seharusnya biru malah keambil warna hijau ?. Wah bikin batik ternyata bahaya juga ya kalo ga fokus. Akhirnya tahap mewarnai pun selesai. Hasilnya bisa dilihat seperti foto di bawah ini ??.

Picture : Proses mewarnai batik

Tak lama dari selesainya proses mewarnai, hujan pun turun. Padahal kain belum kering benar. Memang sih pewarnanya sudah ga netes-netes kalo kain diangkat, tapi alangkah baiknya kalo kain kering dalam posisi "dijembreng" seperti saat sedang diwarnai. Tapi karena hujan turun, akhirnya kain saya jemur di tempat jemuran besar. Curiganya sih bakal ada zat warna yang melipir ke bawah karena belum kering benar.

Dua hari kemudian cuaca masih mendung dan hujan. Kain batik akhirnya kering di hari ketiga. Saya langsung siapkan satu dandang berisi air mendidih yang telah dicampur dengan soda abu sesendok makan. Kain batik dilorod, dicelup-celupkan dalam air tadi. Lalu dibilas dan dikucek hingga bersih hingga warnanya tidak lagi meluntur ketika dibilas. Terakhir, kain direndam deterjen yang mengandung pelembut. Setelah itu baru dijemur. Kalau sudah kering kain disetrika rapih.

Picture : Proses melorod dan menjemur kain batik

 

Beres dilorod baru deh ketahuan seperti apa motif yang terbentuk pada kain batik. Fotonya ada di bawah ini. Cukup jauh berbeda ya dengan motif awalnya. Teman-teman suka ga dengan motif batik kepret buatan saya kali ini, abstrak banget ya ???. Kalau saya sih suka. Ya sudah lah, kain batik ini mau saya bikin baju outer saya kalo begitu ??.

Picture : Hasil akhir kain batik

 

Dari pembuatan batik kali ini saya mencatat beberapa hal penting untuk pembelajaran ngebatik kepret ke depannya.

  • Kalo kain diwarnai selebar 5 cm, warna akan melebar menjadi 7-10 cm.
  • Pewarna dilapis 2 kali, warna menjadi lebih gelap dan tebal.
  • Kuas dipake untuk berbagai warna, warna yang terbentuk pasti kombinasi.
  • Menjemur kain terlalu cepat di jemuran baju setelah diwarnai, pewarna meleber ke bawah.
  • Kurang soda abu saat melorod, ya tabah aja jika malam jadi sukar meluruh.
  • Bikin batik di musim hujan, itu banyak cobaannya.
  • Kualitas kain mori mempengaruhi kualitas batik pada akhirnya. Kain mori yang saya gunakan kali ini mutunya dibawah kain mori yang saya pakai sebelumnya. Ternyata malam sukar dilorod, menempel kuat di kain, dan kain juga terlihat buluk akibat dikucek-kucek terlama kuat atau lama dalam rangka menghilangkan malam.

Meski beberapa hal tidak memuaskan hati saya, terutama karena hasil akhir terlihat sekali kain batik tidak begitu bagus kualitasnya akibat penggunaan kain mori bermutu rendah, hati saya tetap senang. Yah begitulah kalo ngebatik kepret ?, persis seperti filosofi shibori, batik kepret pun mengajarkan pada kita untuk menemukan keindahan dari ketidaksempurnaan.

Khusus perihal motif, saya juga mencatat beberapa hal dari pengerjaan batik kali ini. Motif bunga yang diharapkan muncul ternyata tidak begitu terlihat pada hasil akhir kan batik. Lain kali pola yang digunakan sebaiknya lebih jelas sudut-sudutnya dan dikepret lebih sering pas di pola tersebut agar motifnya terlihat di hasil akhir. Lalu motif lingkaran pewarna tampak terbentuk di hasil akhir, namun gara-gara proses pewarnaannya yang tidak merata ketebalannya dan sempat tertukar warna, jadi di hasil akhir terlihat ada bagian yang tebal warnanya dan ada juga yang tidak.

Picture : motif bunga jadi terlihat seperti bentuk lingkaran kecil biasa. Pewarnaan yang tidak merata membuat bagian tersebut tampak tidak tebal warnanya

Picture : pewarna meleber ke bawah karena kain dijemur dalam kondisi yang belum kering benar

 

Begitu ya ternyata. Banyak pengalaman yang saya dapat dari membuat batik kali ini. Sementara ini saya masih punya satu kain mori lagi yang berukuran 2 meter. Rencananya kain itu akan saya buat shibori dulu mengingat malam dan naftol untuk ngebatik kepret sudah habis. Lain kali saya mau mencoba ngebatik kepret dengan kain mori yang bermutu bagus atau mungkin juga malah gunakan kain mori jenis yang berbeda biar nanti tahu hasil akhirnya seperti apa bedanya. Terimakasih ya teman-teman sudah menyimak tulisan ini ?. Semoga bisa jadi tulisan yang bermanfaat. Sampai ketemu lagi di tulisan saya yang lainnya ??.

 

 

Review Buku Jalan Masih Panjang (Long Wa…

04-11-2018 Hits:131 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Jalan Masih Panjang - Long Way Down Penulis : Jason Reynolds Jenis Buku : Young Adult – Puisi - Fiksi Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : 2018 Jumlah Halaman :  320 halaman Dimensi Buku...

Read more

Sebuah Review untuk Streetcoffee Blitar

21-10-2018 Hits:211 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Ini bukan kali pertama saya menggenal brand kopi Streetcoffee Blitar. Sekitar 2 tahun lalu saya juga sudah mencicipi kopi-kopi produksi Streetcoffee Blitar dalam beberapa varian.     Jadi, ketika Oktober tahun ini saya...

Read more

Review Buku The Underground Railroad - C…

19-10-2018 Hits:212 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : The Underground Railroad Penulis : Colson Whitehead Alih Bahasa : Airien Kusumawardani Disain Sampul : Erson Jenis Buku : Fiksi Sejarah / Fiksi Sastra Penerbit : Elex Media Computindo Tahun Terbit : 2018 Jumlah Halaman :  344...

Read more

Review Buku Kisah-Kisah dari Negeri Penu…

17-10-2018 Hits:178 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Kisah-Kisah dari Negeri Penuh Bahaya Tales From The Perilous Realm Penulis : J.R.R Tolkien Jenis Buku : Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : 2015 Jumlah Halaman :  464 halaman Dimensi Buku :  20 cm Harga :...

Read more

Review Buku The Rosie Effect - Graeme Si…

10-10-2018 Hits:362 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : The Rosie Effect Penulis : Graeme Simsion Jenis Buku : Non Fiksi – Romance Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Januari 2018 Jumlah Halaman :  464 halaman Dimensi Buku :  13.5 x 20 cm Harga...

Read more

Owsa, Hijab Nyaman dan Trendi

04-10-2018 Hits:313 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Ini judul sejujurnya ga muluk-muluk. Believe it or not, untuk urusan hijab, saya merasa diri saya sebagai seseorang yang cukup konservatif, bahkan bisa dibilang kurang up date. Mungkin juga karena secara karakter...

Read more

Review Buku My Absolute Darling - Gabrie…

01-10-2018 Hits:340 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : My Absolute Darling Penulis : Gabriel Talent Jenis Buku : Novel thriller - fiksi Penerbit : Riverhead Books Tahun Terbit : Agustus 2017 Jumlah Halaman :  432chalaman Dimensi Buku : 22.86 x 16.00 x 3.56 cm Harga...

Read more

Review Buku Who Says You Can't Do? You D…

24-09-2018 Hits:364 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Who Say You Cant Do? You Do Penulis : Daniel Chidiac Jenis Buku : Non Fiksi – Self Improvement Penerbit : Harmony Tahun Terbit : Januari 2018 Jumlah Halaman :  368 halaman Dimensi Buku :  20.32 x...

Read more

Review Buku Rainbirds - Clarissa Goenawa…

12-09-2018 Hits:557 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Rainbirds Penulis : Clarissa Goenawan Jenis Buku : Novel - Fiksi Sastra Penerbit : Gramedia Tahun Terbit : 2018 Jumlah Halaman :  400 halaman Dimensi Buku :  20 cm Harga : Rp. 89.000 ISBN : 9786020379197 Edisi...

Read more