EMail: dianafitridipi@gmail.com

 

Judul : Unfuck Yourself

Get Out of Your Head and Into Your Life

Penulis : Gary John Bishop

Jenis Buku : Non Fiksi - Pengembangan Diri

Penerbit : HarperOne

Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman :  224 halaman

Dimensi Buku : 20.83 x 13.46 x 2.03 CM

Harga : Rp. 285.000

Hardcover - Edisi Bahasa Inggris

Available at Periplus Setiabudhi Bandung Bookstore

Ig @Periplus_setiabudhi

 

 

I acknowledge the downbeat and downtrodden,

the single mothers and unemployed fathers, the dreamers and wannabes;

I am you, and you can do it.

 

Sekelumit Tentang Isi

Gary John Bishop menghadirkan buku ini untuk mengubah cara pandang kita terhadap diri sendiri. Dengan bahasanya yang terus terang G.J. Bishop tidak hendak membaik-baikkan keadaan yang memang buruk, atau memaksa seseorang yang hidupnya kacau untuk berubah menjadi lebih baik jika yang bersangkutan tidak memiliki niat yang cukup kuat untuk itu. "Mohon maap, kau sendiri lah yang memilih takdirmu", demikian kurang lebih yang ingin disampaikan G.J. Bishop pada para "pecundang" kehidupan. Tapi, untuk mereka yang bersedia bekerja keras, mulai dari membaca buku ini, hingga nanti melakukan aksi, G.J. Bishop memberikan alasan fundamental yang sangat kuat bagi tiap orang untuk bangkit demi kehidupan yang lebih baik.

Jika ada buku yang akan saya sarankan untuk dibaca pertama kali saat seseorang mengalami kegagalan, keterpurukan, kebrengsekan diri, maka inilah bukunya. Sederhana, mengena, dan jelas-jelas menghipnotis. Butuh brainstorming dan mood booster? Ya, ini dia bukunya.

Yuk kita intip daftar isinya ?

01 In the Beginning

02 "I am willing"

03 "I am wired to win"

04 "I got this"

05 "I embrace the uncertainty"

06 "I am not my thought; I am what I do"

07 "I am relentless"

08 "I expect nothing and accept everything"

09 Where next?

About the Author

 

Di dalam bukunya, Bishop membimbing kita dengan 7 tahapan sebagai berikut : 

"Say yes,...

  • I am willing
  • I am wired to win
  • I got this
  • I embrace the uncertainty
  • I am not my thoughts; I am what I do
  • I am relentless
  • I expect nothing and accept everything

 

Sekali lagi ada yang menampar muka kita bahwa tidak ada sesuatu yang bisa diraih jika kita sendiri tidak memberikan kesempatan diri kita untuk itu. Pada akhirnya tidak ada kehidupan yang sempurna, itulah realitanya.

This isn't just about seizing the day; this is about seizing the moment, the hour, the week, the month. This is about seizing your fucking life and staking a claim for yourself as though your life depended on it.

Because, the reality is, it does.

Page 207

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Mari kita mulai menggosipkan covernya ya. Buku abu-abu ini memang membuat saya harus setuju dengan sebuah kalimat "don't judge the book by its cover", karena gara-gara covernya yang sendu, datar, nyaris tak terlihat, mau tak mau membawa persepsi saya pada isinya yang pasti "membosankan". Nah, makanya saya terheran-heran ketika selepas membaca bukunya, saya merasakan semangat bergelora di dalam dada, motivasi untuk berubah, memandang masa depan yang lebih cerah, bahkan beberapa ketakutan dan keraguan yang semula bercokol di pikiran saya tentang beberapa hal tampaknya sudah pergi entah kemana. Namun setelah kembali memandangi cover buku saya kembali merasa sendu ?.

Buku yang saya baca kebetulan edisi hardcover. Senang rasanya memegang bahan bukunya yang kokoh dan mantap. Tebal buku tak seberapa, sangat pas dengan takaran isinya menurut saya.

Beberapa model penyetakan halaman dan tipe serta ukuran huruf sempat menjadi poin-poin yang saya perhatikan. Biasanya halaman bab yang lebih dulu terlihat. Pembahasan di buku ini dibagi menjadi beberapa bab. Sejak awal saya sudah bersiap-siap, seperti apa halaman bab nya akan terlihat. Ternyata pergantian bab ditandai dengan satu halaman yang bertuliskan judul. Lalu halaman di baliknya akan selalu diikuti oleh satu kalimat berukuran besar, dicetak tipis, dan bertuliskan inti dari pokok pembahasan bab tersebut, yang menurut saya bisa juga dijadikan quotes. Unik juga ya kelihatannya. ?

Picture : Bab-bab dalam buku

Picture : Setelah halaman yang berisikan judul bab,

halaman berikutnya selalu bertuliskan kalimat penting seperti ini

 

Opini 

Satu hal yang langsung saya rasakan sangat mendominasi tulisan Gary John Bishop di buku Unfuck Yourself adalah kutipan-kutipan yang bertebaran di sepanjang halaman awal hingga akhir. Sebenarnya penulis sudah menyebutkan juga tentang adanya banyak kutipan di dalam tulisannya. Mengingat betapa banyaknya orang yang senang dengan quotes, termasuk saya, maka adanya kutipan-kutipan ini menjadi daya tarik tersendiri. Sebaliknya, Gary John Bishop sangat sedikit menuliskan hasil-hasil penelitian ilmiah sebagai dasar logika berpikir untuk teori-teorinya. Di satu sisi, bagi pembaca yang suka dengan hasil-hasil riset mungkin akan mempertanyakan ide-idenya, tapi buat pembaca yang menginginkan buku motivasi dan pengembangan diri yang mudah dicerna, pendekatan yang Gary John Bishop ini bisa menjadi suatu kekuatan dan daya tarik sendiri bagi orang-orang untuk membaca dan memahami isi tulisannya.

Picture : Terdapat banyak quotes dari tokoh-tokoh ternama

 

Tidak hanya kutipan dari tokoh lain, kalimat yang dirasa memiliki makna penting dan layak dikutip juga banyak terdapat di buku ini. Biasanya dicetak dengan huruf besar, kadang dengan huruf tebal, dan diletakkan di posisi yang menonjol sehingga segera terlihat oleh pembaca. Terus terang saya juga merasa terpengaruh dengan kalimat-kalimat yang penuh penekanan seperti ini ?.

Picture : Kalimat penting penuh penekanan

yang dicetak dengan huruf berukuran besar,

huruf yang ditebalkan, atau di posisikan di awal bab.

 

Hampir mirip dengan buku The Subtle Art of Giving a Fuck - Mark Manson yang pernah saya review sebelumnya, bahasa yang digunakan Gary John Bishop juga blak-blakan, gamblang, dan terus terang. Meski menurut saya, Unfuck Yourself masih lebih halus bahasanya daripada buku The Suble Art of Giving a Fuck. Tak ada kalimat mendayu-dayu, halus, dan penuh puja-puji, tapi entah bagaimana rasanya apa yang dituliskan terasa benar, dan oleh karena itulah saya menyetujui banyak hal yang ada dikemukakan di dalam buku meski kemasan bahasanya jauh daripada indah ?. But hey, it's a real life, isn't it?

"I got this" doesn't mean you have the perfect solution. It just means you have your hands on the wheel, you have a say in this just like you've had a say all along. I mean come on, you live for this shit!

Page 91

Baca juga : "Review Buku The Subtle Art of Not Giving a Fuck 

 

Salah satu penekanan yang penulis lakukan adalah tentang bagaimana cara kita berbicara dengan diri kita sendiri. Ya, tentu kita bercakap-cakap dengan diri kita. Nah, model percakapan positif ini lah yang sebenarnya menjadi kunci dari perubahan dalam diri kita. Isi buku ini rasanya seperti bahan brainstorming yang sangat kuat. Baca lalu rasakan efeknya dalam psikologis kita. Mengapa percakapan dengan diri sendiri ini penting? Teman-teman bisa menyimak kalimat yang satu ini agar bisa lebih memahaminya.

In simple terms, the language you use to describe your circumstances determines how you see, experience, and participate in them and dramatically affects how you deal with you life and confront problems both big and small.

Page 7

#ya, bicaralah dengan diri sendiri.

Don't worry, it doesn't mean you're crazy. Or, perhaps it means we're all a little crazy. Either way, we all do it, so settle in and welcome to the freak show.

Page 7

 

Sudut pandang lain yang saya sukai dari buku ini adalah hal sederhana tentang cara kita melihat diri kita sendiri. Seringkali saya melihat postingan di berbagai media sosial, sebuah quotes terkenal yang biasanya disertai dengan gambar seekor kucing yang sedang bercermin, lalu bayangan di cerminnya adalah seekor harimau. Sisi positif dari quotes ini tentu adalah baik sekali bagi kita untuk berpikir positif bahwa kita tidak sekerdil yang kita kira, bahwa tiap diri kita memiliki kekuatan tersembunyi, bahwa kita bisa melakukan banyak hal yang keren-keren seperti orang-orang sukses di sana.

Tapi di satu sisi saya seringkali berpikir, apa salahnya menjadi kucing, menjadi makhluk yang lebih mungil, tapi tentu "kucing" dalam versi yang terbaik. G.J. Bishop tidak memaksa kita untuk menjadi harimau, jika kita memang seekor kucing kecil. Yang penting kucingnya nanti bisa menjadi kucing yang lucu dan menggemaskan ??.

I won't ask you to tell yourself you're a tiger as away to unleash your inner animal. Firstly, you're not a tiger and secondly, well, you're not a tiger. This all may work for some people, but I'm much too Scoottish for that. To me, being told to do these sorts of things feels like being force fed a bucked of maple syrup liberally sprinkled with bits of last year's candy canes. Thanks but eh, no thanks.

Page 9

 

Ada satu bagian pula dalam buku ini yang mengingatkan saya pada buku The Four Tendencies - Gretchen Rubin yang pernah saya review di blog saya. Ini tentang teori G. Rubin perihal keberhasilan dan kegagalan orang-orang dalam mewujudkan resolusi tahun baru mereka. Menurut Rubin faktor keberhasilan atau kegagalan tersebut salah satunya akan sangat dipengaruhi oleh tipe tendensi orang tersebut. Upholders yang pandai mengelola ekspektasi diri sendiri akan dengan mudahnya sukses melaksanakan resolusi-resolusi mereka, tapi kelompok Questioner membutuhkan lebih dari sekadar list resolusi, jika dalam perjalanannya mereka tidak berhasil menemukan alasan yang tepat mengapa resolusi itu harus diwujudkan, maka mereka akan meninggalkan list tersebut tanpa merasa bersalah. Begitupun kelompok Obliger dan Rebel, ada penjelasan tertentu terkait hal tersebut sehubungan dengan tendensi yang mereka miliki.

Baca juga : "Review Buku The Four Tendencies - Gretchen Rubin"

 

Nah, di buku ini, G.J. Bishop menyinggung sedikit tentang resolusi tahun baru. Tampaknya Bishop memiliki sudut pandang yang lain tentang hal tersebut. Menyimak topik ini dari dua sisi penulis terkenal membuat saya mendapatkan suatu pandangan yang lebih menyeluruh.

One of the reason why we so often abandon New Year's resolutions is because they usually use language to describe what we are "going" to do, i.e. later. All too often they begin with what we're not going to do, which leaves us enthusiastic at the beginning but out of juice when faced with the inevitable moment when reality takes a swing at your face. Page 19

 

Bisa dirasakan bahwa salah satu cara John Gary Bishop memasukkan ide-idenya ke dalam otak kita adalah dengan menyebutkan poin-poin penting larangan yang maknanya gamblang. Efeknya buat saya, seperti pikiran-pikiran yang ditanam berjejalan, tapi entah kenapa rasanya bisa diterima.

As Epictetus points out, the true measure of who you are won't be found in your circumstances but rather the way in which you respond to them. To start this new process, you must first stop another one.

Stop blaming luck

Stop blaming other people.

Stop pointing to outside influences or circumstances.

Stop blaming your childhood or neighborhood.

Page 30

 

Pendekatan lainnya yang saya sukai di dalam buku ini adalah J.G. Bishop menggali apa yang sebenarnya kita inginkan dibantu oleh kalimat-kalimat pertanyaan yang telah disusun olehnya. Sehingga, alih-alih merasa didoktrin, saya lebih merasa dibimbing.

Either you control your destiny, or your destiny will control you. 

That's why one of the first personal assertions I teach to my clients is: "I am willing."

Before you can say that to yourself honestly, you must first ask yourself the question "Am I willing?" That question demands an answer. It can't just be left there in the nothingness of the universe. Am I willing? It pulls for a response. Am I willing? Its power is irresistible; I cannot escape its press for truth.

Am I willing to go to the gym?

Am I willing to work on that project I've been putting off?

Am I willing to face my social fears?

Am I wlling to ask for a raise or quit this shitty job?

Page 33

 

Bahkan aura hipnotis pun sangat terasa di buku ini akibat dimintanya kita mengulangi kalimat-kalimat tertentu secara berulang-ulang ?. Contohnya seperti di bawah ini.

Get in touch with whonyou really are and say it.

I got this, I got this, I got this.

Page 91

 

Sit up, straighten your spine, and repeat after me, "I am relentless."

Page 159

 

 

Alasan-alasan yang dikemukakan juga logis dan meyakinkan, tak heran jika banyak pembaca yang tadinya kurang setuju bisa berubah menjadi sepaham dengan J.G. Bishop. Kalimatnya argumentatif.

Because when we think we know everything, we inadvertently turn ourselves away from the unknown and, by default, whole new realms of success. The person who accepts how unpredictable and uncertain life is has no choice but to embrace it.

They're not afraid of the uncertain; it's just a part of life. they don't seek out certainty because they know it doesn't really exist. They are also the kind of people who are aware of and open to the real magic and miracle of life and what we can be accomplished.

One of the pillars of philosophy is the examination of how we know what we know. how can we prove that what we believe is true? In most cases, we can't.

In reality, even many of the things we think of as hard facts aren't. They're half-truth. They're assumptions. They're misinterpretations. They're guesses. They're based on cognitive biases, faulty information, or conditioning. Use science as an example. What we believed five, ten, or twenty years ago has since been disproved. We have made radical leaps in understanding and those leaps are continuing every day. What we know today will one day be looked upon as archaic and outdated.

Page 106

 

Dan saya juga suka caranya menyemangati,

When you're not sure if you're following the right path, when you've been knocked down a few too many times. It's completely fine to get discouraged, hell, even defeated. What's not okey is to stop.

Page 157

 

Jika ditanya bagian mana dalam buku yang paling menarik disimak, secara pribadi saya akan menjawab bab "I expect nothing and accept everything". Penjelasan G.J. Bishop di topik ini sangat mengena, mendasar, dan mengubah beberapa sudut pandang saya terhadap kehidupan, yang pada akhirnya membuat pikiran saya menjadi lebih terbuka terhadap berbagai kemungkinan di masa depan.

 

Pada akhirnya semua langkah-langkah penuh penekanan itu memang tidak ada gunanya menurut G.J. Bishop.

Your life isn't getting any better! None of these assertions are going to make your life easy. Hell, for a while, they're more than likely to make your life harder! Nor is it enough to simply internalize them.

Page 193

Jadi apa yang harus dilakukan setelah ini semua? Teman-teman silahkan baca sendiri bukunya untuk mengetahui hal tersebut ya ?. Buku ini sistematis alurnya, sehingga sangat nyaman untuk disimak tiap tahapannya.

 

Siapa John Gary Bishop

Gary memulai perjalanan hidupnya di Glasgow, Skotlandia. Ia memiliki pengalaman melatih atlit dan eksekutif dari berbagai perusahaan kecil maupun besar, dan juga memberikan pelayanan individual. Spesialisasinya adalah bidang ontology dan phenomenology. Pengalamannya yang luas ini membawa ia pada jabatan direktur senior untuk salah satu organisasi pengembangan pribadi terkemuka di dunia.

Pendekatan dan teori-teorinya banyak dipengaruhi oleh beberapa orang filuf seperti Martin Heidegger, Hans-Georg Gadamer, dan Edmund Husserl. G.J. Bishop kemudian mengembangkan sendiri merk untuk program-program pengembangan dirinya, yang bernama Urban Philosophy.

Buku Unfuck Yourself mendapatkan respon yang sangat positif, dengan pencapaian 4,03 poin di Goodreads, dan bintang 4,5 (75% reviewer memberikan 5 bintang), Unfuck Yourself tak pelak lagi merupakan buku motivasi dan pengembangan diri yang sangat layak untuk dibaca semua orang.

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan untuk pembaca remaja hingga dewasa yang menyukai buku non fiksi kategori pengembangan diri / motivasi, atau mereka yang membutuhkan bacaan yang positif yang dapat membangkitkan semangat, yang mampu mengubah pola pikir ke arah yang lebih baik, yang menenangkan sekaligus bisa menyemangati, yang bahasanya gamblang dan tidak dipenuhi janji-janji palsu, yang suka pada kutipan-kutipan motivasi, dan yang nyata-nyata sedang mengalami fase kemunduran dan kejatuhan dalam hidupnya, agar bisa segera bangkit kembali membenahi diri, dan menggapai masa depan penuh harapan.

Jika teman-teman menyukai buku The Subtle Art of Not Giving a Fuck - Mark Manson, hampir bisa dipastikan kalian pun akan menyukai buku ini ?.

 

Review Buku Aroma Karsa - Dee Lestari

08-07-2018 Hits:104 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Aroma Karsa Penulis : Dee Lestari Jenis Buku : Fiksi Penerbit : Bentang Tahun Terbit : 2018 Jumlah Halaman :  710 halaman Dimensi Buku :  13,5 x 20 cm Harga : Rp. 125.000 ISBN : 978-602-291-463-1 Soft Cover                                                                                       ...

Read more

Review Buku A Sweet Mistake - Vevina Ais…

24-05-2018 Hits:123 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : A Sweet Mistake Penulis : Vevina Aisyahra Jenis Buku : Novel Young Adult Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Desember 2017 Jumlah Halaman : 248 halaman Dimensi Buku :  13,5 x 20 cm Harga : Rp. 59.000 ISBN...

Read more

Review Buku The Productivity Project - C…

01-04-2018 Hits:806 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : The Productivity Project – Accomplishing More by Managing Your Time, Attention, and Energy Penulis : Chris Bailey Jenis Buku : Non Fiksi – Self Improvement Penerbit : Crown Business Tahun Terbit : Agustus 2017 Jumlah...

Read more

Review Buku The Silent Corner - Dean Koo…

30-03-2018 Hits:825 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : The Silent Corner Penulis : Dean Koontz Jenis Buku : Novel Suspense Penerbit : Random House Tahun Terbit : Oktober 2017 Jumlah Halaman :  576 halaman Harga : Rp. 143.000 ISBN : 978-0-345-54679-1 Mass Market Paperbound Edisi Bahasa Inggris New York...

Read more

Review Buku Gentayangan - Intan Paramadh…

29-03-2018 Hits:897 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Gentayangan Penulis : Intan Paramadhita Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Oktober 2017 Jumlah Halaman :  512 halaman Harga : Rp. 125.000 ISBN : 978-602-03-7772-8 Edisi Soft Cover Karya sastra bidang prosa terbaik pilihan...

Read more

Review Buku Magnus Chase and The Sword o…

29-03-2018 Hits:883 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Magnus Chase and The God of Asgard - The Sword of Summer Penulis : Rick Riordan Jenis Buku : Novel Fantasy Penerbit : Disney Book Group Tahun Terbit : 2015 Jumlah Halaman :  499 halaman Dimensi Buku...

Read more

Review Buku Rich People Problems - Kevin…

29-09-2017 Hits:2198 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Rich People Problems Penulis : Kevin Kwan Jenis Buku : Fiksi - Novel Penerbit : Random House USA Inc Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  384 halaman Dimensi Buku : 15.60 x 23.20...

Read more