EMail: dianafitridipi@gmail.com

 

Judul : The Silent Corner

Penulis : Dean Koontz

Jenis Buku : Novel Suspense

Penerbit : Random House

Tahun Terbit : Oktober 2017

Jumlah Halaman :  576 halaman

Harga : Rp. 143.000

ISBN : 978-0-345-54679-1

Mass Market Paperbound

Edisi Bahasa Inggris

New York Times Bestseller

Available at Periplus Setiabudhi Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi)

 

Sekelumit Tentang Isi

Suami Jane Hawk bunuh diri dengan meninggalkan sebuah pesan yang berbunyi, "I very much need to be dead". Pesan yang membuat Jane bingung, terlebih lagi suaminya tidak dalam keadaan depresi dan tidak pula bermental lemah dalam menghadapi tantangan kehidupan. Jelas Jane tidak percaya ini kasus bunuh diri.

Meski diselimuti perasaan duka, Jane memutuskan untuk segera mencari kebenaran atas kematian suaminya. Rupanya tingkat kasus bunuh diri orang-orang yang berbakat, berpengaruh, dan juga bahagia dalam hidupnya meningkat cukup pesat. Ada apa dibalik ini semua?

Ketika Jane memutuskan untuk menyelidiki kasus ini, Travis, putra satu-satunya kemudian diancam, dan Jane menjadi target yang harus segera dimusnahkan. Musuhnya yang ternyata memiliki kekuasaan dan pengaruh yang besar berupaya keras untuk menangkap dan membunuh Jane.

Tapi akankah mereka berhasil mencegah Jane Hawk mengungkap kebenaran di balik ini semua? Jane tidak cuma sangat cerdas dan berpengalaman, tapi juga ia bisa sangat licin dan kejam. Di atas itu semua, cinta lah yang menjadi alasan Jane Hawk untuk terus bertahan dan berjuang. Cinta adalah sebuah kekuatan yang tidak ada bandingannya.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Mungkin alasan dipilihnya ilustrasi gambar seorang perempuan di cover adalah sosok tokoh Jane Hawk yang memang dimaksudkan sebagai simbol dan inti cerita. Tidak perlu ada ilustrasi gambar lainnya. Cukup Jane Hawk saja, yang mengisyaratkan buku ini memang buku sepak terjangnya Jane Hawk. Saya jadi ingat buku Magnus Chase seriesnya Rick Riordan yang disain covernya juga berilustrasi gambar sosok Magnus. Bedanya di cover Magnus terdapat juga ilustrasi adegan cerita, sedangkan di buku Jane Hawk tidak ada (lebih sederhana). Mungkin karena pertimbangan genre nya juga ya. Jelas novel Jane Hawk diperuntukkan untuk pembaca dewasa, yang kalau saya perhatikan disain buku-bukunya memang lebih simple daripada buku-buku untuk young adult seperti Magnus Chase. Kenapa lebih ramai disainnya Magnus? Ya mungkin karena buku itu terkategori cerita fantasi, bukan suspense seperti The Silent Corner. Sekali-kali boleh ya saya bahas soal disain cover lebih panjang ?.

 

Bicara soal fisik buku, buku The Silent Corner yang saya baca ukurannya cukup imut, seperti buku saku. Dan memang, karena ukurannya yang kecil inilah, buku ini jadi mudah dibawa-bawa, tidak makan tempat di dalam tas, dan eye-catching. Pilihan warna covernya yang biru kuning sangat saya suka. Plus model hurufnya yang seperti itu.

 

Yang jadi pertimbangan selanjutnya adalah ukuran huruf. Lumrah jika ukuran buku kecil, ukuran huruf juga jadi cenderung ikutan lebih kecil dan jaraknya pun rapat. Demikian pula lah dengan buku ini. Saran saya, bacalah buku ini di ruangan yang terang sehingga mata tidak terlalu cepat lelah. Lalu usahakan membaca dalam kondisi yang santai, karena Dean Koontz memanjakan pembacanya dengan deskripsi yang lumayan detail, jadi perlu dihayati biar lebih bisa dinikmati ?. Jumlah halamannya yang cukup tebal juga bisa membuat pembaca lelah. Maka bacalah dengan santai dan tidak tergesa-gesa.

 

Di halaman awal saya menemukan ilustrasi seperti di bawah ini. Awalnya saya tidak menemukan kaitannya dengan cerita. Tapi setelah selesai membaca buku, sepertinya saya paham hubungan disain ilustrasi ini dengan jalan cerita. Teman-teman nanti bisa temukan sendiri setelah membaca bukunya ya.

Picture : ilustrasi yang menyerupai jaring laba-laba

 

Tokoh dan Karakter

Tokoh utama novel ini adalah Jane Hawk. Wanita yang ditinggal mati suaminya dan berputra satu ini memang anggota FBI, namun ia memutuskan untuk "keluar" dan agen FBI karena ingin mengungkap kebenaran atas kematian mendiang suami. Jane Hawk cantik, cerdas, memiliki kemampuan bela diri, dan kecakapan ala agen-agen FBI layaknya. Penggambaran atas tokoh Jane Hawk secara keseluruhan sangat memesona dan membuat kagum. 

Gavin dan Jess, pasangan suami istri baik hati yang kaya dan memiliki lokasi rumah yang terpencil serta terjaga dengan baik, bersedia membantu Jane dengan mengasuh dan merawat Travis di rumah mereka agar ia aman dari jangkauan pembunuh.

Nathan Silverman rekan kerja Jane di FBI. Pria yang jujur dan berdedikasi. Sayangnya semua itu hilang setelah Nathan pun menjadi korban.

John Harrow veteran perang yang pintar dan kaya. Akhirnya memutuskan membantu Jane Hawk bukan karena jumlah uang yang ditawarkan, tapi karena alasan lainnya.

Dan beberapa tokoh penjahat seperti Jimmy Radburn, Overton, Dr. Shenneck yang cerdas tapi licik dan sombong.

Tokoh-tokoh minor penunjang cerita juga cukup banyak tentunya. Dan di antara semua tokoh yang punya peran cukup banyak dalam cerita, tokoh favorit saya justru jatuh pada seorang tokoh minor bernama Mrs. Chang. Mrs. Chang adalah broker rumah yang membeli rumah Jane. Dia lah yang pertama kali menunjukkan keberpihakan positif terhadap Jane dan menebak dengan tepat apa yang sebenarnya dialami wanita tersebut, sekaligus mendorong Nathan Silverman untuk segera membantu Jane Hawk.

“There is the question for your FBI, Nathan. Your FBI should investigate just that very thing. What horrible kind of person would want to hurt that beautiful little hummingbird? You go find out. You go find that horrible person and lock him up.”

Page 263

 

Bagian terbaik dari novel suspense ini adalah deskripsi fisik tokoh-tokohnya yang detail. Terutama untuk pembaca yang rumit seperti saya ?, adanya deskripsi-deskripsi seperti ini membuat saya lebih terlarut dalam cerita dan dapat pula mengimajinasikannya dengan lebih baik. Tapi mungkin, untuk pembaca yang tak suka berpanjang-panjang, boleh jadi novel ini jadi agak bertele-tele.

Jimmy Radburn looked like an adult Kewpie doll – pleasantly rounded but not truly fat, his face smooth and unlined and nearly beardless. He was well barbered, freshly scrubbed, and had the most perfectly manicured hands of any man Jane had seen.

Page 124

He wears black-and-white Louis Leeman sneakers, NFS ripped-and-repaired jeans, and an NFS palm-print T-shirt that is almost tested to destruction by his shoulders, biceps, and pecs. Encircling a wrist the size of some men’s forearms, a Hublot column-wheel watch in blue Texalium alloy, one of a limited edition of five hundred, virtually shouts power and money at any eye that beholds it.

Page 157

 

Alur dan Latar

The Silent Corner beralur maju. Bagian awal agak terasa lambat dan tak begitu jelas hingga saya menebak-nebak dengan ragu apa maksud dan kaitan bab-bab awal tersebut dengan alur cerita secara keseluruhan. Pada bagian ini tokoh memang baru diperkenalkan berikut kasus dan konfliknya.

Begitu masuk ke bagian tengah alur cerita barulah terasa situasi yang makin seru dan menegangkan. Jane Hawk jelas bisa mengibuli pengejarnya dan berhasil pula memperoleh informasi yang ia inginkan dengan berbagai strategi dan kecerdikan. Untuk twist saya masih lebih suka novel Al Chemist nya Christine Meyer, karena banyak detail strategi yang terasa baru dan mendebarkan. Tapi dari sisi detail, novel Silent Corner jauh lebih lengkap.

Alur terbaik tentu di seperempat bagian akhir buku, yakni saat klimaks dan anti klimaks. Karena ini buku seri, memang kasus tidak terselesaikan penuh, tapi bisa dibilang tidak menggantung juga. Efeknya, di satu sisi saya jadi tidak merasa terkatung-katung akibat ending yang ga jelas, tapi di sisi lainnya, rasa penasaran saya untuk melanjutkan membaca ke buku kedua juga tak begitu menggebu. 

Tapi untuk teman-teman mungkin berbeda ya. Aksi Jane Hawk yang cantik, pintar, dan heroic ini pasti banyak yang suka soalnya, sehingga buku keduanya kemungkinan ditunggu pula oleh banyak pembaca.

 

Hal lain yang saya temukan adalah deskripsi latar dalam cerita juga mendetail. Harus diakui tak semua penulis bisa seperti ini. Berikut saya kutipkan salah satu deskripsi latar yang ada di dalam novel ini.

Beyond the foyer, the main hall soared twenty feet to a coffered ceiling, and the floor featured French-limestone tiles. The house was constructed in a U, embracing three sides of a courtyard that could be seen between limestone columns, through floor-to-ceiling bronze-framed windows. The outdoor space was softly lighted by antique lampposts, and in the center of it, a swimming pool the size of a lake glowed as blue and sparkling as an immense sapphire, from which undulant currents of steam rose like yearning spirits.

The house stood in preternatural silence, a more profound quiet than Jane had ever heard before.

Along the hallway significant bronze statues stood on plinths and elegant sideboards held matched pairs of large Satsuma vases.

Page 305

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Quote-quotenya khas buku genre suspense atau thriller ya ?. Tapi saya suka kalimat-kalimatnya.

If you let the news spoil your apetite, there wouldn't be a day you could eat.

Page 10

But people can pretend to be nice, and it’s hard to tell when they ‘re pretending.

Page 95

Even in the darkest darkness, hope was a lifeline, though sometimes as thin as a thread.

Page 104.

 

Mirip dengan cerita Al Chemist yang tokoh utamanya memanfaatkan perpustakaan umum, Jane Hawk di The Silent Corner juga demikian. Sepertinya ini sudah jadi trik yang diketahui umum bahwa pemakaian komputer di perpustakaan umum aman dari identifikasi personal pemakainya.

Her preferred computer source was a public library, whereever she might be. Even then, depending on the information she sought and reviewed online, she didn’t linger long at any location.

Page 41

 

Ternyata, meski The Silent Corner buku bergenre suspense yang banyak adegan actionnya, ada juga terselip bagian-bagian yang sedih. Setidaknya saya jadi tahu kalau Dean Koontz juga pandai meramu kalimat yang bisa membawa emosi pembaca. Sebagai ibu, saya bisa membayangkan seperti apa memperjuangkan seorang anak. # oh sepertinya emosi ini semakin mendalam karena saya sudah emak-emak juga seperti Jane Hawk ?

Jane dropped to her knees, not merely to be at his level, but also because her legs suddenly grew weak and failed her. He came into her arms, and she held him as if someone might at any moment try to tear him from her. She couldn’t stop touching him, kissing his face. The smell of his hair was intoxicating, the softness of his sweet young skin.

Page 77

“Last time you came here, like after you left, I found this down at the creek, washed up on some stones. She looks like you.”

There was no remarkable resemblance, but Jane said, “She sort of does, doesn't she?”

“I knew right away it was good luck.”

“Like finding a shiny new penny.”

“Bigger luck. You came back and all.” He was solemn when he held the cameo out to her. “So you’ve got to have it.”

She understood the necessity of matching his solemnity. She accepted the charm. “I’ll always keep it in my pocket.”

“You gotta sleep with it, too.”

“I will.”

“Every night”

“Every night,” she agreed.

The idea of one last kiss, one last touch, seemed too much for him. He opened the door, scrambled from the car, closed the door, and waved good-bye.

Page 102-103

 

Tidak sedikit novel internasional karangan penulis kawakan yang mengangkat dan menyebut-nyebut tentang hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Sebut saja David Lagercratnz di The Girl Who Takes an Eye for an Eye, dan Rick Riordan di Magnus seriesnya. Ternyata The Silent Corner pun begitu, bedanya di sini hanya menyinggung isunya saja. Soal Boko Haram dan ISIS tepatnya. Di mata dunia, dua hal ini berkaitan dengan Islam kan. Meski banyak juga yang berpendapat mereka sama sekali bukan muslim karena kekejaman seperti itu memang tidak pernah ada dalam ajaran agama manapun.

“Sheerly for the fun of it, we could pack the little bugger off to some Third World snake pit, turn him over to a group like ISIS or Boko Haram, where they have no slightest qualms about keeping sex slaves.

Page 94

 

Tampaknya Dean Koontz suka menggunakan perumpamaan yang membutuhkan wawasan pembaca dalam kalimatnya. Untung saja Goliath dan Joan of Arc sudah jadi pengetahuan umum bagi banyak orang. Cara mengolah kalimatnya pintar juga ya. Jadi terasa luwes dan berbobot.

She was left with one role to play: David to their Goliath. She had no illusions that she could bring them down with one stone and a slingshot. They were not one giant. They were an army of Goliaths, as far as she knew, and her chances of coming out of this triumphant and alive were a decimal point awal from zero.

Page 98

I see the look you’re giving me, Moshe. I know I can’t change the world. I’m not suffering from Joan of Arc syndrome.

Page 221

 

Nah ini dia nih sisi yang terasa sekali ditonjolkan dalam cerita. Kombinasi tokoh utama yang seorang wanita cantik, pintar, dan mematikan biasanya banyak diidolakan ?.

He is face-to-face with the most remarkable-looking girl, hair aniline black and eyes so hot-blue they look as if they could boil water as efficiently as gas flames.

Page 276

If that’s the crisis code that disarms the alarm but also alerts them that you’re under duress, if it summons help, here’s what’ll happen. Once I switch off the perimeter alarm you set when you came home, I won’t just drive away and let them come free you. I’ll stand here for five minutes, ten, to-see if there’s going to be an armed response from Vigilant Eagle ot the cops. And if there is, I’ll shoot you in the face. Now... do you want to give me another disarming code?”

Page 269

 

Pada halaman 329 teman-teman akan menemukan mengapa novel ini diberi judul The Silent Corner. Penjelasannya cukup menarik juga untuk disimak.

 

Sebagaimana novel suspense perlu memiliki dasar logika kasus dan solusinya, The Silent Corner pun demikian. Fakta-fakta ilmiah penunjang cerita ada di dalam buku ini. Tapi jumlahnya tak sebanyak novel Michael Critchton itu, jadi untuk yang tak begitu suka dengan banyaknya penjelasan-penjelasan ilmiah yang bikin pusing tak usah khawatir di buku ini akan ada yang demikian.

Ribosomes were mitten-shaped organelles that existed in great numbers in the cytoplasm of every human cell. They were the sites where proteins were manufactured. Each rhibosome had more than fifty different components. If you broke down a slew of them into their separate parts and thoroughly mixed them up in a suspending fluid, then Brownian movement – caused by encounters with molecules of the suspending medium – kept knocking them against one another until the fifty-some parts assembled into whole ribosomes.

Page 338

 

Lalu di bagian akhir ada cuplikan bab satu buku lanjutan The Silent Corner, judulnya The Whispering Room #Jane Hawk 2. Lumayan sekali untuk intip-intip seperti apa kelanjutan kasus yang ditangani oleh Jane Hawk.

Picture : bonus bab awal buku lanjutan The Silent Corner

Secara keseluruhan buku The Silent Corner menarik dari sisi penokohan, konflik, twist, aksi, dan strategi. Hanya mungkin buat yang biasa membaca novel suspense, ada beberapa bagian yang klise. Tapi mungkin juga memang itu tujuan penulis, biar berasa kekhasan novel yang tokoh-tokohnya berlatar agen FBI itu. 

 

Siapa Dean Koontz

Dean Ray Koontz adalah penulis asal Amerika yang memiliki nama pena yang cukup banyak, yakni Aaron Wolfe, Brian Coffey, David Axton, Deanna Dwyer, John Hill, K.R. Dwyer, Leigh Nichols, Anthony North, Owen West, dan Richard Paige. Ia penulis spesialis genre suspense dan thriller, meski kadang juga membuat karya bergenre horor, fantasi, sains fiksi, dan misteri. Banyak karyanya yang masuk ke dalam list The New York Times Bestseller. Buku-bukunya telah terjual lebih dari 450 juta kopi.

Novel pertama yang ia tulis berjudul Star Quest yang dipublikasikan pada tahun 1968. Setelah itu ia melanjutkan menulis novel-novel science fiction. Pada tahun 1970 Dean Koontz mulai menulis buku bergenre suspense dan horror fiction. Beberapa menggunakan nama aslinya dan beberapa buku lainnya menggunakan nama penanya. Dalam satu tahun ia bisa mempublikasikan 8 buah karya.A tas saran editornya, akhirnya Dean Koontz mulai menggunakan nama aslinya di tiap novelnya.

Buku bestseller pertamanya yang berjudul Demon Seed terjual lebih dari 2 juta kopi dalam setahun. Setelah itu banyak dari novelnya yang kemudian mendapatkan posisi pertama di The New York Times Bestseller List. Tahun 2008 ia juga menjadi salah satu penulis termahal bersanding dengan John Grisham yang juga penulis kawakan.

The Silent Corner mendapatkan rating 3.98 di situs Goodreads dan 4.4 di situs Amazon dengan jumlah reviewer yang banyak.

 

Rekomendasi

Saya rekomendasikan novel ini untuk pembaca dewasa yang menyukai genre suspense dengan tokoh utama wanita cantik, pintar dan jagoan yang juga berlatar belakang agen FBI. Alur cerita menarik ditunjang dengan deskripsi tokoh dan latar yang detail, teman-teman pasti suka. Kasus yang diangkat berkaitan dengan teknologi molekuler dan rekayasa genetika super jenius, fakta-fakta ilmiah penunjang cerita logis dan tidak terlalu banyak jumlahnya. Actionnya oke dan tentu berdarah-darah. Yah, makanya ini untuk pembaca dewasa.

My Rating : 4/5

 

 

Review Buku Perfect - Cecilia Ahern

13-09-2018 Hits:65 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Perfect Penulis : Cecilia Ahern Jenis Buku : Fiksi. Young Adult. Penerbit : HarperCollins Tahun Terbit : 2018 Jumlah Halaman :  432 halaman Dimensi Buku :  19.80 x 12.90 x 0.00 cm Harga : Rp...

Read more

Review Buku Rainbirds - Clarissa Goenawa…

12-09-2018 Hits:55 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Rainbirds Penulis : Clarissa Goenawan Jenis Buku : Novel - Fiksi Sastra Penerbit : Gramedia Tahun Terbit : 2018 Jumlah Halaman :  400 halaman Dimensi Buku :  20 cm Harga : Rp. 89.000 ISBN : 9786020379197 Edisi...

Read more

Review Buku The President is Missing - B…

12-09-2018 Hits:52 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : The President is Missing Penulis : Bill Clinton & James Patterson Jenis Buku : Fiksi Penerbit : Penguin Random House Tahun Terbit : Juni 2018 Jumlah Halaman :  513 halaman Harga : Rp.235.000 ISBN :...

Read more

Review Buku With The End in Mind - Kathr…

12-09-2018 Hits:47 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : With The End in Mind – Dying, Death, and Wisdom in an Age of Denial Penulis : Kathryin Mannix Jenis Buku : Non Fiksi Penerbit : Harper Collins Publisher Tahun Terbit : 2017 Jumlah...

Read more

Review Buku The Girl With All The Gifts …

12-09-2018 Hits:53 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : The Girl With All The Gifts Penulis : M.R. Carey Desain Sampul : Agung Wulandana Jenis Buku : Novel – Sci Fiction - Horor Penerbit : Mizan Fantasi Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku Semua Anak Bintang - Munif C…

11-09-2018 Hits:49 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Semua Anak Bintang Menggali Kecerdasan dan Bakat Terpendam dengan Multiple Intelligences Research (MIR) Penulis : Munif Chatif Jenis Buku : Non Fiksi – Psikologi & Pendidikan Anak Penerbit : Kaifa Tahun Terbit : Juli 2017 Jumlah...

Read more

Magnus Chase and The God of Asgard – The…

10-07-2018 Hits:43 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Magnus Chase and The God of Asgard – The Hammer of Thor Penulis : Rick Riordan Jenis Buku : Novel - Fantasi Penerbit : Disney-Hyperion Tahun Terbit : Oktober 2016 Jumlah Halaman :  480 halaman Harga :...

Read more

Review Buku Aroma Karsa - Dee Lestari

08-07-2018 Hits:198 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Aroma Karsa Penulis : Dee Lestari Jenis Buku : Fiksi Penerbit : Bentang Tahun Terbit : 2018 Jumlah Halaman :  710 halaman Dimensi Buku :  13,5 x 20 cm Harga : Rp. 125.000 ISBN : 978-602-291-463-1 Soft Cover                                                                                       ...

Read more

Review Buku A Sweet Mistake - Vevina Ais…

24-05-2018 Hits:213 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : A Sweet Mistake Penulis : Vevina Aisyahra Jenis Buku : Novel Young Adult Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Desember 2017 Jumlah Halaman : 248 halaman Dimensi Buku :  13,5 x 20 cm Harga : Rp. 59.000 ISBN...

Read more