Translate - Language

id Indonesian zh-CN Chinese (Simplified) nl Dutch en English tl Filipino fr French de German it Italian ja Japanese ko Korean ms Malay th Thai

Review Buku Lincoln in The Bardo - George Saunders

Published: Tuesday, 16 January 2018 Written by Dipi

Judul : Lincoln in The Bardo

Penulis : George Saunders

Jenis Buku : Novel

Penerbit : Random House

Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman :  368 halaman

Harga : Rp. 140.000

Edisi Bahasa Inggris

Man Booker Prize Winner

Available at Periplus Setiabudhi Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi)

 

Sekelumit Tentang Isi

Pada bulan Februari tahun 1892 dilatarbelakangi Perang Dunia yang saat itu masih berlangsung sengit, Presiden Lincoln mengalami tragedi dalam hidupnya dengan meninggalnya satu-satunya putra yang ia sangat cintai, young Willie, yang saat itu masih berusia 11 tahun. Willie dimakamkan di pemakaman Georgetown. Segera setelah itu suratkabar melaporkan presiden Lincoln didapati datang berulangkali ke lokasi pemakaman untuk memeluk dan menimang jenazah anaknya.

Ayah yang berduka ini tak dapat melepaskan putranya pergi. Cinta dan dukanya begitu besar hingga menenggelamkan kesadarannya. Sementara itu roh Willie pun menjadi tidak bisa pergi ke alam selanjutnya.

Father promised, the boy said. How would that be, if he came back and found me gone?”

Page 106

 

Berada di antara The Bardo, yang dalam tradisi Tibet berarti suatu kehidupan transisi antara fase mati dan menuju kehidupan di alam selanjutnya, jiwa Willie menghadapi perjuangannya sendiri untuk tetap tinggal demi ayahnya atau pergi ke fase selanjutnya.

Sementara itu roh-roh yang terjebak dan memilih untuk tetap tinggal di alam sementara di pemakaman Georgetown mengamati fenomena ayah dan anak tersebut. Roger Bevins, Hans Vollan, dan Reverend Everly Thomas adalah tiga roh tertua di sana yang pada akhirnya memutuskan untuk mendorong Willie untuk segera pergi bersama malaikat ke alam selanjutnya.

If your father comes, the Reverend said, we will tell him you had to leave. Explain to him that it was for the best

  • roger bevins iii

Page 107

 

Diberitakan pula bahwa kondisi ibu Wilie, Mary Linlcoln, semakin buruk setelah putranya meninggal dunia.

Mrs. Lincoln was unable to leave her room or rise from bed for many weeks after the tragedy.

  • Sloane, op.cit.

Page 182

 

Duka ayah Willie yang membawanya datang berulangkali ke pemakaman anaknya, membuat roh-roh yang ada di sana menjadi tesadarkan, betapa sanak famili mereka sudah meninggalkan mereka dan tidak pernah berkunjung kembali menunjukkan cinta dan kasih sayang mereka seperti saat mereka masih hidup.

Sebagian roh bahkan tak sadar jika mereka sudah mati. Bagi mereka kehidupan seolah berlanjut seperti biasa, yang justru itulah yang membuat mereka menjadi semakin terjebak di dalam the Bardo. Kehadiran jiwa Willie yang masih murni, menarik mereka ke dalam suatu pemahaman baru dan memancing ingatan lama. Mereka yang akhirnya menyadari, kemudian memutuskan untuk pergi dan siap menuju alam selanjutnya.

Tentu saja iblis tak tinggal diam, ada pertempuran terjadi. Selagi malaikat turun dan membukakan jalan bagi mereka yang telah menerima kondisi kematian mereka.

Akankah Presiden Lincoln merelakan Willie pergi? Apakah keputusan Willie kemudian? Bagaiman cara Roger Bevins, Hans Vollan, dan Reveren Everly Thomas membantu Wilie untuk pergi ke alam baka? Apakah mereka juga akhirnya siap untuk pergi ke sana? Roh siapa saja kah yang akhirnya tetap tinggal di pemakaman?

Dan pada akhirnya, pertanyaan terpenting dari kisah ini adalah How do we live and love when we know that everything we love must end?”

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Disain cover buku yang dominan warna biru toska dengan ilustrasi gambar pemandangan alam terbuka yang dipenuhi cahaya membawa saya pada suatu kesan akan kehidupan baru. Mungkin itu erat kaitannya dengan kisah buku ini dimana Willie dan roh-roh lainnya sedang berada di kehidupan transisi setelah kematian dan hendak menuju alam selanjutnya tempat di mana roh-roh tenang dalam cahaya yang terang.

Buku ini mengisahkan cerita yang sangat emosional, hingga kesan di atas pun baru saya dapatkan setelah selesai membaca bukunya dan baru kemudian memperhatikan kembali disain covernya. Coba teman-teman nanti pikirkan, apakah kita punya pendapat yang sama atau berbeda? Yang pasti mau covernya seperti apapun, khusus untuk Lincoln in The Bardo, saya memang sudah tertarik dengan buku ini karena ini buku juara Man Booker Prize 2017 yang review Amazonnya luar biasa bertolak belakang satu dengan yang lainnya. Jelas ini salah satu karya yang fenomenal. 

Picture : Ilustrasi gambar pemakaman Georgetown menjadi pembuka kisah Lincoln in the Bardo

 

Tokoh dan Karakter

Tokoh-tokoh yang ada di buku bisa kita kategorikan menjadi dua, yakni yang hidup dengan yang mati. Tokoh yang masih hidup tentu saja ada Presiden Lincoln, Mary Lincoln (hanya disinggung sedikit di dalam cerita), orang-orang disekitar presiden seperti pejabat sejawat, staff, dan teman-teman yang testimoni dan kesan-kesannya dituliskan di dalam buku sebagai bagian dari saksi mata saat periode kisah ini berlangsung.

Sedangkan tokoh yang sudah mati paling tidak ada tiga yang utama, roh Roger Bevins, Hans Vollan, dan Reverend Everly Thomas. Tiga roh ini lah yang paling banyak muncul narasinya di dalam buku. Satu dengan yang lainnya saling sahut-menyahut, ribut mengomentari segala hal, hingga kepala kita agak sedikit “sakit” karena kata-kata mereka. Selain mereka bertiga, ada beberapa roh lain yang juga berbicara, tapi porsinya hanya sedikit saja.

Meskipun gaya narasi yang unik ini, terutama saat roh-roh gentayangan sedang berbicara, terasa rumit dan kadang mengacaukan alur cerita, pada akhirnya saya memutuskan George Saunders berhasil membuat tiap tokohnya memiliki karakter yang ajeg dan sama sekali tidak mengawang-awang. Bahkan asal-usul dan alasan kenapa roh-roh tersebut terjebak atau memilih tinggal di masa transisi serta hidup “gentayangan” pun dijelaskan di dalam buku.

 

Alur dan Latar

Jelas bahwa Lincoln in The Bardo memiliki alur cerita kombinasi. Kadang maju kadang mundur. Mungkin inilah salah satu penyebab beberapa pembaca merasa kurang nyaman dan kesulitan memahami sudut pandang cerita yang disuguhkan dari bab awal hingga akhir. Kita akan butuh fokus yang lebih kuat untuk dapat memahami konteks bacaan, baru kemudian bisa memetakan alur cerita dengan lebih baik, dan setelah itu barulah bacaan bisa kita mengerti dan dinikmati. Dari keunikan alur cerita saja, Lincoln in The Bardo, jelas menantang untuk pembaca yang mencari pengalaman baru dan tantangan dalam membaca. Sementara sebagian yang lain kemungkinan akan merasa sangat lelah dan kemudian memutuskan berhenti untuk membaca.

Bagian terbaik lainnya dari buku ini adalah ke-brilianan ide George Saunders dalam memadukan model narasi teater dan novel ke dalam bukunya. Berlatarbelakang sejarah perang dunia yang nyata, para arwah yang resah, serta tragedi keluarga Lincoln, George Saunder mengolah itu semua menjadi sebuah cerita yang menggugah dan menguras emosi kita.

Sebagian besar kisah berlatar White House dan Georgetown cemetery. Berbeda dengan novel-novel lainnya yang mendeskripsikan latar dari sudut pandang orang tertentu (pertama, kedua, atau ketiga), latar pada buku ini dideskripsikan oleh beberapa orang sekaligus. Kuncinya adalah menempatkan kita sebagai seseorang yang seperti sedang mendengar “orang-orang berbicara menceritakan kesannya masing-masing”, mungkin cara ini akan membantu kita untuk bisa menempatkan diri dengan benar dari sudut seorang pembaca buku.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Harus diakui saat pertama kali membaca buku ini saya merasa bingung dengan model narasinya. Mengapa? Karena tak jelas siapa yang berbicara, tahu-tahu muncul nama-nama orang yang saya bahkan tidak tahu itu siapa :D. Setelah sampai pada halaman 10 saya lalu berhenti membaca dan membuka-buka review orang-orang di situs Amazon untuk sekadar mencari arahan. Baru setelah membaca review mereka saya memiliki pijakan sendiri untuk memulai membaca lagi dari awal.

Picture : Tiba-tiba ada nama-nama yang muncul, hans vollman dan roger bevins iii,

yang saya tidak tahu itu siapa

 

Keunikan lain dari buku ini adalah bab-babnya yang menggunakan huruf Romawi. Mungkinkah ini disebabkan karena latar cerita yang terjadi di tahun 1892? Bagaimana menurut teman-teman.

Picture : Bab dengan huruf Romawi

 

Lalu, ketika membaca bagian inilah untuk pertama kalinya saya mulai menduga ini buku yang emosional, dan seiring makin banyaknya halaman yang saya baca, mau tak mau saya setuju dengan pendapat reviewer di situs Amazon serta para kritikus dan tokoh-tokoh yang memberikan testimoni untuk karya ini bahwa melalui bukunya ini, George Saunders jelas telah berhasil menghadirkan suatu kisah yang sangat menggugah pikiran dan perasaan kita dengan ide cara bercerita yang benar-benar baru.

We embraced the boy at the door of his white stome home.

  • hand vollman

He gave us a shy smile, not untouched by trepidation at what was to come.

  • the reverend every thomas

Go on, Mr. Bevins said gently. It is for the best.

  • hans vollman

Off you go, Mr. Vollman said. Nothing left for you here.

  • roger bevins iii

Goodbye then, the lad said.

Nothing scary about it, Mr. Bevins said. Perfectly natural.

  • hans vollman

Then it happened.

  • roger bevins iii

An extraordinary occurrence.

  • hans vollman

Unprecedented, really.

  • the reverend every thomas

The boy's gaze moved past us.

  • hans vollman

He seemed to catch sight of something beyond.

  • roger bevins iii

His face lit up with joy.

  • hans vollman

Father, he said.

  • the reverend everly thomas.

Page 42.

# di bagian ini, Willie sebenarnya sudah siap pergi meninggalkan the Bardo. Tiga roh yang ada sudah mendorongnya untuk pergi. Namun Willie tiba-tiba berubah pikiran. “Wajah Willie dibanjiri rasa bahagia,” kata tiga roh tersebut, yakni ketika Willie melihat ayahnya datang ke pemakamannya untuk pertama kalinya.

 

Kneeling before the box, the man looked down upon the lads

  • the reverend everly thomas

He looked down upon the lad's form in the sick-box.

  • hans vollman

Yes.

  • The reverend everly thomas

At which point, he sobbed.

  • hans vollman.

He had been sobbing all along.

  • roger bevins iii

He emitted a single, heartrending sob.

  • hans vollman.

Or gasp, I heard it as more of a gasp. A gasp of recognition.

  • the reverend everly thomas

Of recollection.

  • hans vollman

Of suddenly remembering what had been lost.

  • the reverend everly thomas

And touched the face and hair fondly.

  • hans vollman

As no doubt he had many times done when the boy was –

  • roger bevins iii

Less sick.

  • hans vollman

A gasp of recognition, as if to say: Here he is again, my child, just as he was. I have found him again, he who was so dear to me.

  • the reverend everly thomas

Who was still so dear.

  • hans vollman

Yes.

  • roger bevins iii

The lost having been quite recent.

  • the reverend everly thomas

Page 47.

# Presiden Lincoln datang, menimang Willie, mengusap rambutnya penuh cinta, raut mukanya penuh kedukaan serta rasa kehilangan yang begitu besar, hingga roh-roh yang ada merasa tercekat akan suatu perasaan yang telah lama hilang dari dalam diri mereka.

 

Kesedihan yang dinarasikan oleh banyak orang juga menguatkan emosi yang ada di dalam cerita. Ketika mereka menjadi saksi hidup periode presiden Lincoln mengalami tragedi Willie, kesan-kesan dan kesaksian yang mereka berikan terasa nyata dan membuat kisah ini menjadi lebih sedih lagi.

At about 5 o’clock this afternoon, I was lying half asleep on the sofa in my office, when his entrance aroused me. "Well, Nicolay," said he choking with emotion, "my boy is gone - he is actually gone! and bursting into tears, turned and went into his own offiice.

  • In "With Lincoln in the White House," by John G. Nicolay, edited by Michael Burlingame.

 

I assisted in washing him and dressing him, and then laid him on the bed, when Mr. Lincoln came in. I never saw a man so bowed down with grief. He came to the bed, lifted the cover from the face of his child, gazed at it long and lovingly, and earnestly, murmuring, "My poor boy, he was too good for this earth. God has called him home. I know that he is much better off in heaven, but then we loved him so. It is hard, hard so have him die!"

  • Keckley, op.cit.

Page 49

 

Great sobs choked his utterance. He buried his head in his hands, and his tall frame was convulsed with emotion. I stood at the food of the bed, my eyes full of tears, looking at the man in silent, awe-stricken wonder. His grief unnerved him, and made him a weak, passive child. I did not dream that his rugged nature could be so moved. I shall never forget those solemn moments - genius and greatness weeping over love's lost idol.

  • Keckley, op.cit.

Page 50

 

Willie anak yang baik semasa hidupnya. Tak heran jiwanya begitu murni dan kematiannya menjadi tragedi.

Wille Lincoln was the most lovable boy I ever know, bright, sensible, sweet-tempered and gentle-mannered.

  • In "Tad LIncoln's Father" by Julia Taft Rayne

He was the sort of child people imagine their children will be. before they have children

  • Randall, op.cit

 

Di dalam buku ini kadang Willie yang membawakan sendiri narasinya. Bagian ini juga terasa sangat menyentuh emosi saya. Bagaimana Wilie merasakan cinta ayahnya yang begitu besar, mendengar bisikan-bisikan ayahnya di pemakamannya, kedukaan ayahnya yang dalam atas kepergiannya.

Mouth at the worm's ear, Father said:

We have loved each other well, dear Willie, but now, for reasons we cannot understand, that bond has been broken. But out bond can never be broken. As long as I live, you will always be with me, child.

Then let out a sob

Dear Father crying. That was hard to see. And no matter how I patted & kissed & made to concole, it did no.

You were a joy, he said. Please know that. Know that you were a joy. To us. Every minute, every season, you were a - you did a good job. A good job of being pleasure to know.

Chapter XXI

 

Tak selalu kesedihan yang diceritakan di buku ini. Meski rasanya muskil, ternyata percakapan antar roh kadang-kadang terasa ada lucunya juga. Meski kita harus pandai menempatkan diri agar bisa mengerti lelucan para hantu ini.

Again pushen aside?

Because I am small?

  • abigail blass

Perhaps it is because you are so dirty.

  • roger bevins iii

I live close to the ground, sir. As I believe you –

  • abigail blass

Page 80

 

Percakapan tentang malaikat dan iblis juga menarik untuk disimak, bagaimana penampakan mereka dan peran mereka dalam kisah ini.

At one moment, the angels stepping end masse back into a ray of moonlight to impress me with their collective radiance, I glanced up and saw, spread out around the white stone home, a remarkable tableau of suffering; dozens of us, frozen in misery; cowed, prone, crawling, winging before the travails of the particularized onslaught each was under going

  • the reverend everly thomas

Page 91

 

Dan ketika klimaks terjadi, narasinya dibawahkan oleh para hantu. Menakjubkan menyimak percakapan-percakapan mereka seperti di bawah ini contohnya.

Now came the critical moment.

  • roger bevins iii

Boy and father must interact.

  • hans vollman

This interaction must enlighten the boy; must permit or encourage him to go

  • roger bevins iii

Or all was lost

  • the reverend everly thomas

Chapter LXVII

 

Father. Here I am.

What should I

If you tell me to go   I will

If you tell me stay   I will

I wait upon your advice   Sir)

I listened for Father's reply

Chapter LXXXV

 

Saya terkejut dan senang ketika di akhir halaman saya menemukan adanya tulisan khusus readers guide yang berisi Reading Group Questions and Topics for Discussion. Contohnya saya tuliskan satu di bawah ini.

The presence of a child in the bardo is rare, but what other things about Willie make him different from the other ghosts?

 

Picture : Halaman yang berisi bahan diskusi buku

 

Halaman ini membuat saya berpikir, buku Lincoln in The Bardo tidak hanya merupakan buku berkualitas tapi juga buku yang sangat berguna untuk dijadikan bahan diskusi literasi (kemungkinan besar di tingkat dewasa, misal di SMA atau perguruan tinggi).

Mengenai gaya penuturannya yang unik, pilihan bahasanya yang punya sentuhan emosional yang dalam, dan ide cara penyampaian ceritanya yang benar-benar terasa baru, saya tidak banyak berkomentar kecuali akhirnya mengakui betapa pantasnya buku ini menjadi juara Man Booker Prize 2017.

Mengulang kalimat dari buku “Origin – Dan Brown”, bahwa seni modern tidak terletak pada hasil seninya semata tapi lebih kepada kesegaran, keunikan, dan kecerdasan cara seniman tersebut dalam menciptakan karyanya. Dengan itu saya menyadari, Lincoln in The Bardo, meski bagi sebagian pembaca berpendapat buku ini berisi cerita yang tidak jelas, narasinya kacau, plotnya hancur, tapi harus diakui George Saunders menghadirkan suatu terobosan di dunia kepenulisan lewat karyanya Lincoln in The Bardo.

 

Baca juga : Review Buku Origin – Dan Brown

 

Siapa George Saunders

Berikut buku-buku yang dikarang oleh George Saunders

Fiksi

  1. CivilWarLand in Bad Decline
  2. Pastoralia
  3. The Very Persistent Gappers of Frip
  4. The Brief and Frightening Reign of Phil
  5. In Persuasion Nation
  6. Tenth of December
  7. Lincoln in the Bardo

 

Non Fiksi

  1. The Braindead Megaphone
  2. Congratulations, by the Way

 

George Saudners adalah penulis 9 buku, termasuk Tenth of December, yang menjadi finalis pada National Book Award dan memenangkan inaugural Folio Prize dan Story Prize. Dia telah menerima MacArthuir dan Guggenheim fellowships dan Malamud Prize. Pada tahun 2013 namanya disebut-sebut sebagai salah satu orang paling berpengaruh versi Time Magazine. George Saunders mengajar program creative writing di Syracuse University.

Karir kepenulisan George Saunders sangat banyak. Selain menulis buku-buku, ia juga berkontribusi dan kolom mingguan di American Physche, dan The Guardian antara tahun 2006-2008.Saunders memenangkan National Magazine Awards untuk kategori fiksi di tahun 1994, 1996, 2000, dan 2004, serta O. Henry Awards di tahun 1997. Buku CivilWarLand in Bad Decline adalah salah satu finalis PEN/Hemingway Award tahun 1996. Tahun 2006 Saunders menjadi juara World Fantasy Award untuk cerpennya yang berjudul CommComm. Banyak sekali penghargaan dan juara yang dikantongi oleh Sauders hingga rasanya terlalu banyak untuk dituliskan di sini.

Penghargaan yang dimenangkan oleh George Saunders.

Novel Lincoln in The Bardo mendapatkan rating 3,88 di Goodreads dan 3,8 di situs Amazon dengan jumlah review mencapai seribu lebih. Jelas ini karya yang fenomenal sekaligus kontroversial. Sangat dimaklumi pula rating novel ini belum mencapai 4 karena beberapa alasan yang sudah saya sebutkan sebelumnya.

 

Rekomendasi

Teman-teman, bersabarlah dalam membaca buku ini ya. Kalau sekiranya mengalami bingung dan pusing, tak apa berhenti, mungkin ini memang bukan buku yang tepat untuk dibaca. Tapi bagi yang suka tantangan, ingin membaca buku yang membutuhkan fokus tinggi, emosi yang tergali dengan baik, dengan segala keunikan yang hampir tidak terpikirkan oleh penulis manapun di dunia, maka buku Lincoln in The Bardo berada di urutan nomor satu buku-buku rekomendasi saya.

Catatan : Untuk pembaca remaja dan dewasa

My Rating : 5/5

 

0
0
0
s2sdefault

Comments   

0 #7 Erick Paramata 2018-01-29 00:45
President Lincoln ini emang sering dibikin ceritanya ya, sepertinya semua hal tentang sang presiden ini sangat menarik. Haha.

Sampe googling, ternyata beneran dia pernah punya anak namanya WIllie dan meninggal saat masih sangat muda. Cuma kayaknya tahunnya aja yang beda kali ya. 1982?

Kerennya juga sih soal percakapan setelah mati ini. Goerge kayaknya dapat banget mengilustrasikannya terus berani mengambil latar belakang keluarga Lincoln.

Harus ditunggu nih versi terjemahannya, baca englisnya susah euy kayakanya. haha

REPLY
Iya, tahunnya memang beda. Di buku Willie juga disebutkan sebagai satu-satunya putra, meski sejarah mencatat putra Presiden Lincold bukan cuma Willie. Nama istri Presiden seperti yang aslinya juga, Mary. Jadi memang ada yang sama dan ada yang beda. Mungkin sengaja dibegitukan agar bisa dibedakan dengan realitanya.
Semoga cepat ada terjemahannya ya. Ini buku juara Man Booker Prize, semoga dilirik sama penerbit mayor kita :D
Quote
0 #6 Rifqi Banyol 2018-01-26 07:15
Wuih dapet rating 5. Mantap!

Dengan keterbatasan yang ada dalam bahasa inggris, rasanya buku ini begitu sulit ditaklukkan, Hehehe

Tapi sekarang mulai belajar bahasa inggris sih kak. Mulai baca2 blog n berita luar negeri, kali aja nambah kosa kata. HAHAHA *Tetep didampingi kamus! :D

REPLY
Aku pun masih buka kamus kok :D. Diriku kan ga sakti sakti amat hahaha. Justru lewat sering baca begini akhirnya kosakata nambah. Cobain baca ya buku ini ya dek... pusing dikit mah sabar aja.. :D
Quote
0 #5 Andi Nugraha 2018-01-24 15:00
Saya jadi penasaran sama koleksi buku, Teh Dipi dirumahnya nih..hehe
Andai ada bahasa Indonesianya. Tapi dari pemaparan diatas, saya makin penasaran akan isi keseluruhan bukunya..

Soal review mereview mah teh Dipi jagoanya.
Teh buku pak Dwi yang di IG jadi di review, penasaran akan isinya juga. Kebetulan belum bisa beli, anggaran belum mencukupi untuk jajan buku..hehe

REPLY
Koleksi buku ku biasa aja kok :D. Kayaknya malah banyakan Andi :). Yes, aku memang mau review buku mas Dwi. Isi buku beliau bagus ya. Aku suka
Quote
0 #4 Rahul Syarif 2018-01-23 15:03
Gue sangat berharp buku2 peraih Man Booker banyak diterjemahkan. Walaupun gue masih jarang punya buku pemenang Man Booker namun gue cukup antusias melihat nominasi yang masuk Man Booker~

REPLY
Aamiin. Aku pun berharap demikian. Buku-buku Man Booker berkualitas. Semoga segera diterjemahkan ya ke dalam bahasa Indonesia
Quote
0 #3 Zakia Maharani 2018-01-22 20:15
Review yg bagus sekali, kak. Sungguh!
Saya jadi tahu kalau novel ini ternyata harus benar-benar dibaca dengan fokus. Apalagi dengan alur yg berubah ubah, pembaca tidak bisa menebak ceritanya.

Detail sekali hingga karya penulis dan sepak terjang penulis. Pantas saja bila mendapat rating 5.

Semangat review buku lagi kak!

REPLY
Terimakasih banyak adik Zakia. InsyaAllah semangat teruusss.. :D
Quote
0 #2 Agus Hernowo 2018-01-20 15:06
Mantap kak review nya...

Semoga bukunya ada terjemahan bahasa Indonesia

REPLY
Terimakasih ya :). aamiin.. semoga segera ada versi terjemahannya
Quote
0 #1 ponco adi nugroho 2018-01-18 04:58
pengen baca, sayangnya kemampuan bahasa inggris belum mumpuni. mau nunggu terjemahannya aja. barangkali ada penerbit yang berbaik hati mau menerjemahkan dan menerbitkan buku ini.

kalo liat dari teknik penulisan yang tiba-tiba ada karakter yang muncul dan nggak tau itu siapa, aku jadi keinget Pedro Paramo.

baca reviewnya sih bikin aku tertarik dan pengen baca buku ini. sangat imajinatif dan emosional memang kalo ada yang ngangkat cerita-cerita tentang dua dunia yang udah berbeda.
Quote

Add comment


Security code
Refresh

Sponsored Post, Job Review, Special Request, Postingan Lomba

Review Buku Finding Audrey - Sophie Kins…

31-01-2018 Hits:321 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : Finding Audrey Penulis : Sophie Kinsella Jenis Buku : Novel Remaja (Young Adult) Penerbit : Ember Tahun Terbit : 2015 Jumlah Halaman :  304 halaman Dimensi Buku :  20.83 x 13.97 x 1.52 cm Harga...

Read more

Meraih Kebahagiaan Sejati dengan Jalani …

24-01-2018 Hits:505 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : Jalani Nikmati Syukuri Penulis : Dwi Suwiknyo Jenis Buku : Non Fiksi (Agama dan Spiritual) Penerbit : Noktah (DIVA Press) Tahun Terbit : Cetakan pertama, 2018 Jumlah Halaman :  260 halaman Dimensi Buku : ...

Read more

Review Buku Lincoln in The Bardo - Georg…

16-01-2018 Hits:413 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : Lincoln in The Bardo Penulis : George Saunders Jenis Buku : Novel Penerbit : Random House Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  368 halaman Harga : Rp. 140.000 Edisi Bahasa Inggris Man Booker Prize Winner Available at...

Read more

Review Buku

Review Buku Revan & Reina - Christa …

15-01-2018 Hits:538 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Revan & Reina "Look, don't leave" Penulis : Christa Bella Jenis Buku : Novel Remaja Penerbit : Penerbit Ikon Tahun Terbit : Juni 2016 Jumlah Halaman :  halaman Dimensi Buku :  130 x 190 mm Harga...

Read more

Review Buku Para Pendosa (Truly Madly Gu…

01-01-2018 Hits:448 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Para Pendosa Judul Asli : Truly Madly Guilty Penulis : Liane Moriarty Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2017 Jumlah Halaman :  600 halaman Dimensi Buku :  13,5...

Read more

Review Buku Kisah Hidup A.J. Fikry (The …

27-12-2017 Hits:601 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Kisah Hidup A.J. Fikry Judul Asli : The Storied Life of A.J. Fikry Penulis : Gabrielle Zevin Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Cetakan Pertama 2017 Jumlah Halaman :  280 halaman Dimensi Buku :...

Read more

Cerita Dipidiff

Yuk Yoga dan ngeGym biar "Kencang…

02-02-2018 Hits:230 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Upppsss... apanya ya yang kencang ya? Hahaha. Yah apalagi kalo bukan otot, kulit, lingkar perut, lingkar pinggul, dan bagian-bagian lain yang rentan menggelambir. Maklum lah, habis lahiran wanita pada umumnya...

Read more

Suatu Siang di Wendy's bersama Sahabat

29-01-2018 Hits:260 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Saya masih teringat pada satu lirik lagu yang nge-hits sekali di jamannya, yakni "persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu." Lirik ini banyak disetujui orang-orang karena kebenarannya, dan saya akui...

Read more

J.CO Jatinangor Town Square : Duduk Menu…

11-10-2017 Hits:1143 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Book blogger juga manusia, yang terkadang tidak ada ide menulis, hilang fokus, pikiran lelah, serta kurang nafsu makan (padahal tadi sarapan sebakul 😅). Teman-teman pernah merasakan keadaan yang seperti itu...

Read more