Translate - Language

id Indonesian zh-CN Chinese (Simplified) nl Dutch en English tl Filipino fr French de German it Italian ja Japanese ko Korean ms Malay th Thai

Bubur Kacang Ijo untuk Moonlight

Published: Saturday, 10 March 2018 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

follow link  

Usia Moonlight sudah 12 bulan sekarang. Sebagai emak-emak pada umumnya, hati saya pun gembira sekali melihat perkembangan anak. Moonlight sudah cukup lancar jalannya, dia sehat, aktif bermain, makannya bagus, dan giginya sudah tumbuh 4 biji. Maka, saya pun mulai lebih sering bertugas lagi di dapur. Masak ini itu buat Moonlight. Emak-emak pasti paham, masakin anak bikin hati bahagia ga karuan 😅, apalagi kalo dimamam ludes dan pake nambah. Wuiihh, endorfinnya ngelebihin waktu dilamar sama ayahnya dulu 😂😂. Serasa dunia milik berdua. Ayah Moonlight cuma ngontrak 😅.

 

Minggu ini saya sudah berencana mau bikin bubur kacang ijo. Untunglah Moonlight kuat makan santan. Kemarin sudah dicoba pake menu pudding santan dan habis dua porsi sekali makan. Kacang ijo dan gula merahnya saya beli di minimarket dekat rumah, kelapa parut sudah pesan pula di mang Gun Gun, tukang sayur langganan ibu ibu komplek. Saya intip di pekarangan tanaman pandan saya juga belum gundul 😅, daunnya masih cukup buat dibikin burcangjo kali ini. Buat variasinya saya mau campurkan kacang merah juga, tapi pas beli di mang Gungun ternyata yang ada kacang endul. Untungnya kacang ini masih satu rasa lah ya dengan kacang merah. Malah lebih empuk jadi ga butuh waktu lama saat direbus. Temen-temen pernah bikin burcangjo pake kacang merah juga ga?

 

Nah, ini resep burcangjo + kacang merah yang saya bikin.

Bahan :

250 gram kacang ijo
250 gram kacang merah
200 gram gula merah atau kacang endul

Air 1000 ml
Santan 1000 ml
Gula pasir 5 sdm
Garam 1, 5 sdt

Cara :

  • Rebus 250 gr kacang ijo dalam 1000 ml air hingga empuk (gambar a).
  • Masukkan 250 gr kacang merah (atau kacang endul) dan rebus lagi selama 10 menit (gambar b).
  • Masukkan 1000 ml santan dan 1 lembar daun pandan. Aduk perlahan hingga mendidih (gambar c).
  • Potong kecil-kecil gula merah dan larutkan dalam sedikit air panas lalu saring. Masukkan air gula merah yang telah disaring. Rebus bersama bahan lainnya hingga matang (gambar d).
  • Tambahkan gula dan garam. Aduk rata.
  • Bubur kacang ijo + kacang merah siap disajikan.

 

 

 

Dengan sejumlah bahan tersebut, kita bisa dapatkan bubur kacang sepanci penuh yang berukuran sedang. Kurang lebih cukup untuk 7-10 porsi makan. Moonlight sendiri ga begitu banyak makan sih, karena ini bubur kacangnya yang pertama. Jadi saya juga ga ngasih banyak. Senengnya masak dalam porsi cukup banyak seperti ini adalah kita jadi bisa berbagi ke tetangga. Testimoni para tetangga sih katanya burcangjo + kc merah nya enak banget 😁. Alhamdulillah sukses.

 

Resep bubur kacang ini saya dapatkan dari almarhumah ibu saya. Ini memang salah satu menu cemilan saya waktu kecil. Dulu saya bisa abis banyak kalo makan bubur ini. Makanya begitu saya menikah, saya ingin sekali bisa membuatkannya juga untuk anak saya. Eh, Moonlight trus lahir, dream comes true deh 😊😘.

 

Teman-teman boleh coba resepnya ya, siapa tau suka dan cocok. Ga cuma buat anak-anak, burcangjo + kc merah tentu bisa dinikmati oleh berbagai usia. Makanan ini lejat jika dinikmati hangat-hangat maupun dingin, dan bisa dimasukkan juga ke lemari es hingga kita bisa menikmatinya dalam kondisi duinginn syekali 😁.

Nah, sekian dulu cerita saya kali ini tentang bubur kacang ijo plus kacang merah yang saya buat buat Moonlight ya. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat juga untuk yang membacanya. Sampai ketemu lagi di tulisan saya yang lainnya. 😘😘

 

 

0
0
0
s2sdefault

Batik Kepret Motif Bunga dan Lingkaran

Published: Thursday, 08 March 2018 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

 

Sudah hampir satu bulan kayaknya sejak terakhir membatik. Kok rindu ya 😅. Kain mori sudah ready, malam dan pewarna juga masih cukup untuk satu batik lagi. Jadi kayaknya kondisi sudah mendukung banget untuk berkreasi lagi dengan batik kepret. Cuma tinggal nunggu hari yang pas aja, hari yang cocok dimana tidak ada begitu banyak kesibukan. Ngebatik kepret sebenarnya ga makan waktu lama sih, tapi tetap aja ga bisa juga membuatnya dengan terburu-buru. Khawatir malah jelek hasilnya.

Selagi menunggu hari yang pas datang, tiba-tiba saya ada ide buat bikin pola bunga pake cetakan puddingnya moonlight buat diterapin di batik kepret. Polanya dibuat di kertas bekas kalender. Pemanfaatan kertas bekas kalender ini ide Bu Akih juga sih. Batik kepret memang wadah kreatifitas dan daur ulang kayaknya, selagi ada barang bekas yang bisa dimanfaatkan ya gunakan saja 😘.

Pola bunga-bunga hasil ngejiplak dari cetakan puding saya bikin sekitar 100 buah. Lalu seperti biasa bunga-bunga tersebut disebar di seluruh bagian kain morinya. Malam dipanaskan di atas api kompor, dan setelah mencair lalu di kepret-kepretkan ke permukaan kain dengan bantuan sapu lidi. Gara-gara saya gagal menghidupkan kompor portabel, akhirnya saya gunakan kompor di dapur, sementara ngebatiknya dilakukan di halaman depan. Iiihh riweuh deh emak-emak ngebatik teh, jadi mondar-mandir manjah kayak setrikaan areng basah 😅.

Picture : pola bunga dan penerapannya di kain mori

Beres mengepret tentu tiba saatnya mewarnai. Kali ini saya mencoba bentuk lingkaran "kruwel-kruwel" dengan ekspektasi hasilnya indah mempesonah, eh ternyata pewarna tuh memang begitu ya. Rada liar ga bisa ditebak kemana larinya. Akhirnya setelah berkutat beberapa saat, terciptalah motif seperti yang tampak pada foto di bawah ini. Waktu saya posting di medsos ada yang bilang mirip galaksi milky ways, ada yang bilang seperti target panahan juga. Yang pasti pak haji yang kebetulan lewat depan rumah sepulang jumat-an langsung komen, "Bikiinn apaaa bu Aguuss? Ngelukis panahan yaa?". Pertanyaan tersebut saya jawab dengan, "Hehehehe." Rupanya sangking abstraknya motif ini, imajinasi orang-orang menjadi ikutan abstrak ya 😅.

Ditengah-tengah proses mewarna fokus saya sempat pecah. Mungkin karena saya agak terburu-buru ingin cepat selesai karena hari sudah mulai mendung. Kalau keburu hujan, proses mengeringkan kain tentu makin sulit akibat terbatasnya ruang ngebatik yang digunakan. Jangan sampai deh kain batik yang masih basah oleh zat warna terkena air hujan pula. Bisa-bisa warna jadi jelek, dan batik pun rusak. Gara-gara sempat hilang fokus, saya lupa bagian mana saja yang sudah saya lapis zat warnanya, lalu sempat tertukar botol isi zat pewarna juga, dari yang seharusnya biru malah keambil warna hijau 😅. Wah bikin batik ternyata bahaya juga ya kalo ga fokus. Akhirnya tahap mewarnai pun selesai. Hasilnya bisa dilihat seperti foto di bawah ini 🙌😘.

Picture : Proses mewarnai batik

Tak lama dari selesainya proses mewarnai, hujan pun turun. Padahal kain belum kering benar. Memang sih pewarnanya sudah ga netes-netes kalo kain diangkat, tapi alangkah baiknya kalo kain kering dalam posisi "dijembreng" seperti saat sedang diwarnai. Tapi karena hujan turun, akhirnya kain saya jemur di tempat jemuran besar. Curiganya sih bakal ada zat warna yang melipir ke bawah karena belum kering benar.

Dua hari kemudian cuaca masih mendung dan hujan. Kain batik akhirnya kering di hari ketiga. Saya langsung siapkan satu dandang berisi air mendidih yang telah dicampur dengan soda abu sesendok makan. Kain batik dilorod, dicelup-celupkan dalam air tadi. Lalu dibilas dan dikucek hingga bersih hingga warnanya tidak lagi meluntur ketika dibilas. Terakhir, kain direndam deterjen yang mengandung pelembut. Setelah itu baru dijemur. Kalau sudah kering kain disetrika rapih.

Picture : Proses melorod dan menjemur kain batik

 

Beres dilorod baru deh ketahuan seperti apa motif yang terbentuk pada kain batik. Fotonya ada di bawah ini. Cukup jauh berbeda ya dengan motif awalnya. Teman-teman suka ga dengan motif batik kepret buatan saya kali ini, abstrak banget ya 😂😂😂. Kalau saya sih suka. Ya sudah lah, kain batik ini mau saya bikin baju outer saya kalo begitu 😁😁.

Picture : Hasil akhir kain batik

 

Dari pembuatan batik kali ini saya mencatat beberapa hal penting untuk pembelajaran ngebatik kepret ke depannya.

  • Kalo kain diwarnai selebar 5 cm, warna akan melebar menjadi 7-10 cm.
  • Pewarna dilapis 2 kali, warna menjadi lebih gelap dan tebal.
  • Kuas dipake untuk berbagai warna, warna yang terbentuk pasti kombinasi.
  • Menjemur kain terlalu cepat di jemuran baju setelah diwarnai, pewarna meleber ke bawah.
  • Kurang soda abu saat melorod, ya tabah aja jika malam jadi sukar meluruh.
  • Bikin batik di musim hujan, itu banyak cobaannya.
  • Kualitas kain mori mempengaruhi kualitas batik pada akhirnya. Kain mori yang saya gunakan kali ini mutunya dibawah kain mori yang saya pakai sebelumnya. Ternyata malam sukar dilorod, menempel kuat di kain, dan kain juga terlihat buluk akibat dikucek-kucek terlama kuat atau lama dalam rangka menghilangkan malam.

Meski beberapa hal tidak memuaskan hati saya, terutama karena hasil akhir terlihat sekali kain batik tidak begitu bagus kualitasnya akibat penggunaan kain mori bermutu rendah, hati saya tetap senang. Yah begitulah kalo ngebatik kepret 😁, persis seperti filosofi shibori, batik kepret pun mengajarkan pada kita untuk menemukan keindahan dari ketidaksempurnaan.

Khusus perihal motif, saya juga mencatat beberapa hal dari pengerjaan batik kali ini. Motif bunga yang diharapkan muncul ternyata tidak begitu terlihat pada hasil akhir kan batik. Lain kali pola yang digunakan sebaiknya lebih jelas sudut-sudutnya dan dikepret lebih sering pas di pola tersebut agar motifnya terlihat di hasil akhir. Lalu motif lingkaran pewarna tampak terbentuk di hasil akhir, namun gara-gara proses pewarnaannya yang tidak merata ketebalannya dan sempat tertukar warna, jadi di hasil akhir terlihat ada bagian yang tebal warnanya dan ada juga yang tidak.

Picture : motif bunga jadi terlihat seperti bentuk lingkaran kecil biasa. Pewarnaan yang tidak merata membuat bagian tersebut tampak tidak tebal warnanya

Picture : pewarna meleber ke bawah karena kain dijemur dalam kondisi yang belum kering benar

 

Begitu ya ternyata. Banyak pengalaman yang saya dapat dari membuat batik kali ini. Sementara ini saya masih punya satu kain mori lagi yang berukuran 2 meter. Rencananya kain itu akan saya buat shibori dulu mengingat malam dan naftol untuk ngebatik kepret sudah habis. Lain kali saya mau mencoba ngebatik kepret dengan kain mori yang bermutu bagus atau mungkin juga malah gunakan kain mori jenis yang berbeda biar nanti tahu hasil akhirnya seperti apa bedanya. Terimakasih ya teman-teman sudah menyimak tulisan ini 😊. Semoga bisa jadi tulisan yang bermanfaat. Sampai ketemu lagi di tulisan saya yang lainnya 😘🙌.

 

 

0
0
0
s2sdefault

Membuat Shibori

Published: Tuesday, 27 February 2018 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

 

Me time ya shibori time 😁🙌, pasti begitu kata para pecinta shibori. Teman-teman sudah pernah dengarkah tentang shibori? Jujur saja usia saya tahun ini 37, dan saya baru saja mendengar kata "shibori". Duh kemana saja ya saya? 😅. Tapi tak apa jika pun teman-teman sama seperti saya. Justru lewat tulisan ini saya ingin share sedikit pengalaman saya waktu membuat shibori beberapa waktu lalu. 😊

 

Untuk singkatnya, shibori adalah teknik pewarnaan kain dengan cara melipat, melilit, mengikat, lalu mencelupkan kain pada pewarna. Teknik ini berasal dari Jepang berabad-abad yang lalu (abad 8 ).

Waktu belajar membuat shibori, saya cukup terpesona dengan tekniknya yang aduhai beragamnya. Dari berbagai teknik tersebut (di literatur disebutkan ada ratusan jumlahnya) dihasilkanlah banyak sekali motif kain shibori yang cantik-cantik.

Enam macam teknik yang umum dikenal adalah kanoko shibori, miura shibori, kumo shibori, nui shibori, arashi shibori dan itajime shibori. Pada kanoko, kain diikat acak atau dilipat, atau kombinasi keduanya, baru dicelup. Motifnya nanti serupa bercak lingkaran. Pada miura kain diikat dengan benang dengan pola dan kekuatan ikatan yang tida seragam. Pada kumo, kain dilipat, diikat, dan dicelup hingga motifnya menbentuk serupa jaring laba-laba. Nui menggunakan jahitan berpola tertentu. Arashi menggunakan bantuan pipa, kain dililit di pipa, dan motif akhirnya nanti serupa badai yg indah. Pada itajime, kain dijepit di antara 2 potong kayu lalu diikat dan dicelup. Motif akhirnya berbentuk kotak-kotak.

Gara-gara motifnya yang khas mirip batik itulah di Indonesia shibori dikenal juga dengan sebutan batik Jepang. Teknik tye die (ikat celup) yg mendasari shibori juga terdapat pada batik negeri kita, sebut saja batik pelangi dari Palembang, tritik atau jumputan di Jawa dan sasarengan di Banjarmasin.

 

Kain shibori yang kali ini saya buat menggunakan teknik itajime dan kanoko. Satu kain 2 teknik tak apalah ya 😊. Prosesnya sebenarnya cukup sederhana. Kami menggunakan tutup botol dan teknik lipatan segitiga untuk shibori kami. Tak lupa karet-karet gelang digunakan untuk mengencangkan si tutup botol dan lipatan-lipatan tadi. Karet tersebut nanti akan memberikan motif tertentu juga pada kain. Bersama Bu Neneng, saya melipat dan mengikat kain tersebut dengan seksama. Bu Neneng sudah memiliki banyak pengalaman membuat shibori. Saya senang sekali beliau hari ini bisa datang untuk membuat shibori bersama. Terimakasih bu guru 😘.

 

Picture : proses mengikat dan melipat

Setelah beres proses ikat mengikat, maka tibalah saatnya untuk mewarnai kain. Bahan pewarna indigo dilarutkan ke dalam air dan campurkan larutan air garam. Setelah diaduk rata, kain kita celupkan pada bahan pewarna tersebut. Gunakan ember-ember kecil, atau kaleng bekas untuk proses mencelup. Sisa bahan pewarna bisa disimpan untuk project shibori lain hari 😊. Kita bisa gunakan sarung tangan agar tangan kita tidak terkena bahan pewarna, tapi jika pun tidak maka tak mengapa. Cukup pegang kain hati-hati saat mencelup. Warna yang digunakan bebas sesuai keinginan kita. Bisa hanya satu jenis warna saja atau beberapa warna sekaligus. Justru bagi sebagian orang kesenangan membuat shibori salah satunya terletak pada kebebasan bereksperimen warna dan motif yang bisa diterapkan pada kain.

Picture : Proses mencelup

Beres mencelup, kain dijemur hingga cukup kering, ditandai dengan tidak adanya lagi air yang menetes dari buntalan kain shibori tersebut. Kali ini cuaca agak mendung, hingga saya butuh satu hari untuk mencapai tahap itu. Tapi tidak masalah, kalau pun hujan dan tidak bisa dijemur di bawah sinar matahari, buntalan kainnya bisa kita letakkan di tempat mana pun asal terlindung dari air serta kondisi basah lainnya. Setelah kain cukup kering, buka ikatan pada kain, dan jemur kain dalam kondisi terpapar. Baru setelah kering sempurna, kain kita rendam dalam deterjen yang mengandung pelembut dan pewangi. Kita cuci dan bilas, lalu dijemur kembali hingga kering. Kain pun siap dipakai. Kain bisa kita jahit untuk taplak meja, kerudung, atau benda-benda lainnya.

Picture : Proses menjemur kain shibori

 

Salah satu filosofi terbaik yang saya pelajari dari shibori adalah filosofi mendasarnya orang Jepang, yakni bagaimana menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan. Motif kain shibori jelas menunjukkan hal tersebut. Pola-pola pada kain memang bisa kita rancang, namun pada akhirnya belum tentu juga persis seperti yang kita prediksikan. Belum lagi motif-motif kain shibori memang cenderung tidak seragam. Bulatan atau kotak-kotak yang tercetak pada kain pasti tidak seukuran, apalagi jika kita mengombinasikan beberapa teknik sekaligus dalam satu kain. Meski demikian, kain shibori tetap terlihat indah dan unik 😘.

Terpikirkan oleh saya bahwa filosofi ini bisa diterapkan juga dalam kehidupan. Hidup manusia tidak ada yang 100% sempurna. Pasti ada kurangnya, ada sedihnya, dan lain sebagainya. Tapi jika kita bisa menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan tersebut, hidup akan terasa lebih bahagia, lebih banyak bersyukurnya, dan lebih bermakna 😊.

Beberapa hal yang menjadi catatan saya dari proses pembuatan shibori kali ini saya tuliskan di bawah ini :

  • Lebih baik mencoba teknik di kain berukuran kecil. Setelah teknik dirasa mantap dan sesuai keinginan, baru terapkan di kain yang lebih besar sesuai kebutuhan
  • Pastikan mengikat kain dengan erat agar pola yang terbentuk bagus. Pewarna tidak meleber kemana-mana
  • Gunakan sarung tangan bagi yang tidak suka tangannya jadi ikut berwarna-warni setelah membuat shibori
  • Pewarna indigo menghasilkan warna yang lembut dan samar-samar. Untuk yang menyukai warna cerah, tebal, dan mencolok maka harus menggunakan jenis pewarna lain. Tapi indigo termasuk pewarna yang paling ramah lingkungan
  • Menerapkan lebih dari satu teknik shibori pada kain ternyata menghasilkan motif yang indah juga, maka beranikan diri untuk terus bereksperimen pada teknik.

 

Teman-teman, demikian cerita saya tentang membuat shibori kali ini. Terimakasih sudah menyimak sampai selesai ya. Lain waktu saya akan berbagi pengalaman saya yang lainnya saat membuat shibori dengan teknik atau warna yang berbeda 😊. Sampai bertemu lagi di lain cerita ya.

 

 

0
0
0
s2sdefault

Sponsored Post, Job Review, Special Request, Postingan Lomba

Review Buku The Productivity Project - C…

01-04-2018 Hits:444 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : The Productivity Project – Accomplishing More by Managing Your Time, Attention, and Energy Penulis : Chris Bailey Jenis Buku : Non Fiksi – Self Improvement Penerbit : Crown Business Tahun Terbit : Agustus 2017 Jumlah...

Read more

Review Buku The Silent Corner - Dean Koo…

30-03-2018 Hits:523 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : The Silent Corner Penulis : Dean Koontz Jenis Buku : Novel Suspense Penerbit : Random House Tahun Terbit : Oktober 2017 Jumlah Halaman :  576 halaman Harga : Rp. 143.000 ISBN : 978-0-345-54679-1 Mass Market Paperbound Edisi Bahasa Inggris New York...

Read more

Review Buku Magnus Chase and The Sword o…

29-03-2018 Hits:590 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : Magnus Chase and The God of Asgard - The Sword of Summer Penulis : Rick Riordan Jenis Buku : Novel Fantasy Penerbit : Disney Book Group Tahun Terbit : 2015 Jumlah Halaman :  499 halaman Dimensi Buku...

Read more

Review Buku

Review Buku Into The Water - Paula Hawki…

06-04-2018 Hits:221 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Into The Water Penulis : Paula Hawkins Jenis Buku : Novel Suspense Penerbit : Noura Books Publishing Tahun Terbit : September 2017 Jumlah Halaman :  480 halaman Harga : Rp. 89.000 ISBN : 9786023853366 Edisi Terjemahan Penulis Terlaris #1 New...

Read more

Review Buku Gentayangan - Intan Paramadh…

29-03-2018 Hits:635 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Gentayangan Penulis : Intan Paramadhita Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Oktober 2017 Jumlah Halaman :  512 halaman Harga : Rp. 125.000 ISBN : 978-602-03-7772-8 Edisi Soft Cover Karya sastra bidang prosa terbaik pilihan...

Read more

Review Buku The Girl Who Drank the Moon …

20-03-2018 Hits:826 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : The Girl Who Drank The Moon Penulis : Kelly Barnhill  Jenis Buku : Novel Fantasi Penerbit : Bhuana Ilmu Populer Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  420 halaman Harga : Rp. 115.000 ISBN : 978-602-394-731-7 Edisi...

Read more

Cerita Dipidiff

Bubur Kacang Ijo untuk Moonlight

10-03-2018 Hits:1232 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Usia Moonlight sudah 12 bulan sekarang. Sebagai emak-emak pada umumnya, hati saya pun gembira sekali melihat perkembangan anak. Moonlight sudah cukup lancar jalannya, dia sehat, aktif bermain, makannya bagus, dan...

Read more

Batik Kepret Motif Bunga dan Lingkaran

08-03-2018 Hits:1416 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Sudah hampir satu bulan kayaknya sejak terakhir membatik. Kok rindu ya 😅. Kain mori sudah ready, malam dan pewarna juga masih cukup untuk satu batik lagi. Jadi kayaknya kondisi sudah...

Read more

Membuat Shibori

27-02-2018 Hits:1870 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Me time ya shibori time 😁🙌, pasti begitu kata para pecinta shibori. Teman-teman sudah pernah dengarkah tentang shibori? Jujur saja usia saya tahun ini 37, dan saya baru saja mendengar...

Read more