Translate - Language

id Indonesian zh-CN Chinese (Simplified) nl Dutch en English tl Filipino fr French de German it Italian ja Japanese ko Korean ms Malay th Thai

Review Buku Warcross - Marie Lu

Published: Thursday, 26 October 2017 Written by Dipi

 

Judul : Warcross

Penulis : Marie Lu

Jenis Buku : Novel

Penerbit : Penguin Books Ltd

Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman : 368 halaman

Dimensi Buku : 15,5 x 23,30 x 2,90 cm

Harga : Rp. 170.000

Edisi Bahasa Inggris

#1 New York Times Bestselling Author

 

Tersedia di Periplus Setiabudhi Bandung Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi)

  

"Every looked door has a key."

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Emi tak menyangka akibat meretas di pertandingan Warcross ia jadi orang yang diburu banyak pihak, mulai dari wartawan hingga pendiri dan pembuat game Warcross itu sendiri. Ia yang tadinya gadis biasa saja, hidup susah, menunggak hutang, dan berkeliaran di Dark World untuk mencari uang kini menjadi semacam selebriti yang dicari semua orang. Sebagian mengidolakannya, sisanya membenci. Awalnya Emi menyangka Hideo menghubunginya untuk memberinya hukuman karena telah mengganggu jalannya turnamen Warcross, tapi ternyata Hideo memberikan penawaran yang lain untuk Emi. Bersediakah Emi bekerja untuk Hideo?

Perjumpaan pertama mereka di Tokyo membawa kesan tersendiri dalam hati Hideo. Emi yang cerdas memiliki bakat meretas yang luar biasa. Ia dengan singkat bisa menemukan beberapa kelemahan dalam sistem dan ribuan kode yang Hideo rancang. Sedangkan bagi Emi, Hideo memang sejak lama sudah menjadi idolanya. Diam-diam ia mengamati Hideo, dan mungkin merindukan pertemuan ini sejak dulu. Akankah Emi dan Hideo menjadi pasangan yang saling jatuh cinta?

Masuknya Emi dalam tim Warcross awalnya hanya untuk menyelesaikan misi yang sederhana, tapi makin lama Emi menyadari yang dihadapinya lebih mirip konspirasi daripada satu kasus kriminal biasa. Kini keselamatan dirinya terancam, akankah Emi berhasil menyingkap siapa pelaku dibalik pemboikotan Warcross? Apakah Emi berhasil selamat?

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

Kalau memperhatikan disain covernya, saya rasanya sedikit bingung antara "ini buku novel atau non fiksi". Soalnya gambar ilustrasi tulisan warcross pada cover membuat saya teringat pada game online virtual. Tadinya bahkan sempat menduga ini buku panduan bermain game atau bahkan cara membuat game untuk para game progammer 😂. Lebih tidak menyangka lagi kalau buku ini ternyata isi ceritanya asik untuk dinikmati, sebab awalnya saya mengira bakal rumit begitu tahu sekilas topik ceritanya tentang game dan berbagai kode-kode programnya. Kalimat 'dont judge the book by its cover' ternyata benar ya... atau mungkin ini disebabkan karena kurangnya insting saya terhadap buku-buku bagus 😁.

Apapun itu, tulisan #1 New York Times Bestselling Author tetap menjadi salah satu pertimbangan saya dalam "mencurigai" suatu buku termasuk katagori buku yang bakal asyik untuk dibaca. Untung sekali tulisan itu tampak nyata di cover buku di bagian bawah nama penulis. Buku Marie Lu memang baru kali ini saya baca, jadi saya belum familiar dengan namanya. Namun setelah membaca buku Warcross, tampaknya saya akan selalu mempertimbangkan buku beliau ke dalam buku-buku yang saya rekomendasikan di blog saya ini 😊

 

Tokoh dan Karakter

Tokoh utama dalam novel Warcross adalah Emika Chen (Emi), seorang gadis yang masih berusia belasan tahun, dengan latar belakang keluarga yang cukup sedih, ayah meninggal, mabuk dan berjudi, sedang ibunya pergi meninggalkan mereka ketika Emi masih kecil. Walaupun situasi dan masa kecil Emi demikian, Emi tumbuh menjadi pribadi yang mandiri karena desakan situasi. Ia juga cerdas dan jago meretas. Emi mungkin sempat tergoda untuk melakukan sesuatu yang kurang jujur, tapi secara totalitas karakter yang ditampilkan Emi di dalam Warcross sebenarnya penuh integritas dan komitmen pada kebenaran. Saya suka Emi.

Lalu ada tokoh Hideo, yang dari sisi usia juga masih terhitung muda. Jenius dalam menciptakan program dan berbagai inovasi teknologi. Warcross adalah ciptaan Hideo yang prototypenya ia buat ketika ia bahkan tak lebih dari remaja belia. Ada trauma masa kecil yang menghantuinya hingga dewasa, hingga karakter Hideo menjadi tertutup, keras, dingin, dan tak mudah percaya kepada orang lain. Bagaimanapun juga ia terkesan pada Emi dan jatuh cinta.

Tokoh-tokoh lainnya cukup banyak di dalam buku ini. Ada para peserta game Warcross, orang-orang dari Dark World, rekan kerja Hideo, orangtua Hideo, dan lain sebagainya. Termasuk tokoh antagonis, seorang peretas yang diduga hendak menyabotase Warcross yang berasal dari Darkworld. Dia lah yang Emi kejar dan ingin Emi bongkar identitasnya demi keselamatan Hideo. 

Semua tokoh terasa wajar dan tidak ambigu. Karakternya sesuai dengan perannya masing-masing. Menurut saya, inilah salah satu sebab buku ini begitu enak untuk dinikmati jalan ceritanya.

  

Alur dan Latar

Imajinatif sudah jelas, dan soal latar, Marie Lu bisa disebut salah satu yang jago dalam mendeskripsikan latar cerita dengan baik. Menyimak buku Warcross membuat kita seperti dibawa ke berbagai tempat di dunia, ditambah dunia yang sifatnya maya, dunia warcross dan dark world. Ada lokasi Manhattan, New York, lalu Tokyo.

 

Jika di review buku lainnya saya pernah mengutip betapa larutnya saya dalam deskripsi latar cafe milik Tom yang sejuk dan damai dalam buku Dusta-dusta Kecil - Liane Moriarty, maka di buku Warcross saya menjumpai deskripsi latar yang sama memukau tapi dengan kesan yang jauh berbeda. Deskripsi kota Tokyo di bawah ini terasa begitu fantastis bagi saya.

 

Unlike New York, or the rest of America, Tokyo seems completely redone for virtual reality. Names of buildings hover in neon colors over each of the skycrapers, and bright, animated advertisements play across entire sides of buildings. Virtual models stand outside clothing shops, each twirling to show off a variety of outfits. I recognize one of the virtual models as a character from the latest Final Fantasy game, a girl with bright blue hair, now greeting me by name and showing off her Louis Vuitton purse. A Buy Now button hovers right over it, waiting to be tapped.

The sky is filled with virtual flying ships and colorful orbs, some displaying news, others displaying commercials, still others just there seemingly because they look pretty. As we drive, I can see faint, translucent text in the centre of my vision telling us how many kilometers we are from the center of the Shibuya district, as well as the current temperature and weather forecast.

The street are crowded with young people in elaborate getups-giant lace skirts, elaborate umbrellas, ten-inch-tall boots, eyelashes that seem miles long, face masks that glow in the dark. Some of them have their Warcross level floating over their heads, along with hearts and stars and trophies. Other have virtual pets.

Page 76

Alur cerita menurut saya cukup proporsional. Beberapa reviewer menyebutkan alur Warcross termasuk lambat di bagian awal, namun saya sebagai pembaca pertama buku Marie Lu merasa alurnya justru membuat saya merasa nyaman, sebab bagaimanapun juga saya baru saja berkenalan dengan buku Marie Lu. Bagaimana pun juga ini buku pertama dari Warcross series, di buku lanjutannya saya memang berharap ada plot-plot yang lebih cantik, segar, dan tak tertebak.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

 

 

Sebenarnya hampir di semua buku impor yang saya baca selalu ada cerita tentang Penulis di bagian halaman belakang buku. Profilnya memang tidak banyak, hanya satu paragraf biasanya. Tapi ini sangat membantu saya sebagai pembaca yang sering merasa penasaran dengan penulis buku jika buku tersebut termasuk buku yang saya sukai. Begitu pun dengan buku Warcross, ada tulisan singkat tentang profil Marie Lu di bagian belakang buku. Dari sanalah saya untuk pertama kalinya tahu jika Marie Lu memang pernah punya pengalaman bekerja di perusahaan game, tak heran buku Warcross yang ia tulis terasa begitu hidup, mungkin salah satunya karena pengalamannya itu.

 

Beberapa bagian dalam cerita novel Warcross sebenarnya terkategori kisah yang sedih, sebab masa kecil Emi bersama mendiang ayahnya kerap kali diceritakan di awal-awal buku. Memori yang manis sekaligus getir terasa sekali di dalam kalimat-kalimatnya. Marie Lu menurut saya berhasil memainkan emosi pembaca dengan baik.

I turn my head toward the rest of the apartment and pretend that he's here, the healthy, un-sickly version of him, his tall, slender silhouette outlined in light near the doorway, his forest of dyed blue hair shining silver in the darkness, facial scruff neatly trimmed, black-rimmed glasses framing his eyes, dreamer's face on. He would be wearing a black shirt that exposed the colorful tattoos winding up and down his right arm, and his appearance would be impeccable - his shoes polished and trousers perfectly ironed - except for flecks of paint staining his hands and hair.

I smile to myself at the memory of sitting in a chair, swinging my legs and staring at the bandages on my knees while my father put temporary streaks of color into my hair. Tears still stained my cheeks from when I'd run home from school, sobbing, because someone had pushed me down at recess and I'd scraped holes in my favorite jeans. Dad hummed while he worked. When he finished, he held a mirror up to me, and I gasped in delight. Very Givenchy, very on trend, he said, tapping my nose lightly. I giggled. Especially when we tie it up like this. See? He gathered my hair up into a high tail. Don't get too used to it - it'll wash out in few days.  Now, let's go get some pizza.

Page 21

 

Sejujurnya, rasanya saya sudah pernah mendengar sesuatu tentang dunia virtual sebelumnya. Namun, tetap saja, ketika pertama kali membaca bagian ini, saya merasa ingin mendecakkan lidah, "ckkk...ckkk...ckkk, not bad at all", karena apa yang diceritakan di dalam buku Warcross tetap terasa fantastis untuk dunia imajinasi saya. Ide cerita yang liar dan futuristik. Terlebih karena Marie Lu dapat membawakan semua ide cerita tersebut dengan baik dalam setiap narasinya. Meski dalam dunia nyata Kim dan Mourborgne dalam bukunya Blue Ocean Shift menyampaikan bahwa teknologi google glasses (yang juga berarti termasuk apple glasses) merupakan produk teknologi yang belum berhasil karena belum tepatnya pendekatan pasar maupun kurang ramahnya produk tersebut jika ditinjau dari sisi pemakaian.

So Hideo created the best brain-computer interface ever built. A pair of sleek glasses. The Neurolink.

When you wore it, it helped your brain render virtual worlds that loked and sounded indistinguishable from reality. Imagine walking around in that world - interacting, playing, talking. Imagine wandering through the most realistic virtual Paris ever, or lounging in a full simulation of Hawaii's beaches. Imagine flying through a fantasy world of dragons and elves. Anything.

With the press of a tiny button on its side, the glasses could also switch back and forth like polarized lenses between the virtual world and the real world. And when you looked at the real world through it, you could see virtual things hovering over real-life objects and places. Dragon flying above your street. The names of stores, restaurant, and people.

To demonstrate how cool the glasses were, Hideo made a video game that came with each pair. This game was called Warcross.

Page 31

 

Saya mencatat beberapa kalimat yang juga memiliki makna yang dalam dan berkesan. Saya selalu suka quotes dari buku-buku :)

You have to learns to look at the whole of something, not just the parts. Relax your eyes. Take in the entire image at once.

Every looked door has a key. Page 33

Everyone in the world is connected in some way to everyone else. Page 131

 

Beberapa hal yang diceritakan dalam Warcross juga membuat saya merenung, mungkinkah apa yang disampaikan oleh kalimat tersebut benar dan bisa saya ambil sebagai pesan, atau cuma rangkaian kata yang berfungsi sebagai penguat cerita. Contohnya kalimat-kalimat yang saya tulis di bawah ini.

If I could solve these problems, then I could control something. And If I could control something. I could forgive myself for the one problem that I could never have solved, the one person I could never have saved. Everyone has a different way of escaping the dark stillness of their mind. This, I learned, was mine.

Page34

 

Maybe I was wrong, and maybe someday Il'l look back and regret lashing out like that. I'm still not entirely sure why I threw myself into the fire over this specific incident. but sometimes, people kick you to the ground at recess because they think the shape of your eyes is funny. They lunge at you because they see a vulnerable body. Or a different skin color. Or a difficult name. Or a girl. They think that you wont hit back - that you'll just lower your eyes and hide. And sometimes, to protect yourself, to make it go away, you do.

But sometimes, you find yourself standing in exactly the right position, wielding exactly the right weapon to hit back. So I hit. I hit fast and hard and furious. I hit with nothing but the language whispered between circuits and wire, the language that can bring people to their knees.

Page 74.

 

"Everything's science fiction until someone makes it science fact," Hideo says.

Page 92

 

"They believe that objects have souls. The more  love you put into one, the more beautiful it becomes."

Page 243

 

It is hard to describe loss to someone who has never experienced it, impossible to explain all the ways it changes you. But for those who have, not a single word is needed.

Page 271.

 

Selain ide cerita tentang teknologi 'kacamata' yang spektakuler itu, ada banyak ide-ide lainnya di dalam buku. Beberapa terasa baru, lainnya terasa sudah berlalu. Tapi karena cara Marie Lu yang baik dalam menyampaikan ide tersebut, semua terasa sama fantastisnya. Salah satunya yang saya tuliskan di bawah ini, yakni ketika kita tak perlu kesulitan lagi dengan bahasa asing, karena 'kacamata' yang Hideo ciptakan otomatis menerjemahkan setiap bahasa asing yang tidak kita pahami.

It takes me a second to register that Jiro is speaking to me in Japanese - and that it doesn't matter, because I can see transparent white text appearing right below his face, English subtitles translating what he's saying.

Page 74 

 

Penggambaran yang bagus untuk menunjang fantasi jelas diperlukan untuk jenis buku sci-fiction seperti Warcross, sebab seringkali ide yang bagus bisa gagal hanya karena ketidakmampuan penulisnya untuk menjabarkannya dengan baik kepada pembaca. Coba teman-teman baca ya :), menurut saya Marie Lu pandai dalam urusan tersebut. Mulai dari hal yang paling sederhana saja, deskripsi kostum dan profil fisik tokoh.

Then there's Asher, the team's captain, who is the farthest from where I'm floating. Originally known only as the younger brother of Daniel Batu Wing, an actor and stuntman. Asher's now famous in his own right because of Warcross. He has thick brown hair so light that it's almost blond, and his eyes are a playful blue, the same color as the virtual lagoon below him. His deep sapphire armor is finished with steel shoulder plates and leather straps along his arms and waist.

... dan seterusnya ...

Page 39

 

Lalu, saya juga merasa tercekam dan ikut deg-degan saat Emi ketahuan meretas di tengah jalannya pertandingan Warcross, apa yang akan terjadi pada Emi? Di saat yang sama saya juga merasa Emi keren sekali, ingin rasanya jadi Emi #eh :'D.

Then I notice that Asher is looking right at me. Like he can see me.

I think. That's impossible. I'm in the audience. But Jena is staring at me, too. Their eyes are wide. That's when I realize that the Sudden Death power-up is now officially in my account. I see it in my inventory at the bottom of my vision.

Page 45

 

Di beberapa postingan instagram @dipidiff_thebookblogger, saya sudah menyebutkan bahwa bagi penggemar Harry Potter mungkin buku Warcross bisa jadi buku yang menarik untuk mereka baca. Itu saya asumsikan dari dua hal. Yang pertama karena Warcross juga kaya akan imajinasi dan fantasi seperti buku Harry Potter. Yang kedua karena Warcross jelas-jelas menyebutkan dan memasukkan beberapa hal tentang Harry Potter dalam ceritanya. Bahkan saya mendapat kesan jika pertandingan Warcross sedikit mengingatkan saya pada pertandingan Quidditch.

JK. Rowling jelas penulis yang mempengaruhi banyak penulis lain setelahnya. Selain Warcross saya menemukan Jenny Han juga menyebutkan tentang Potter di dalam bukunya To All The Boys I've Loved Before. Ada beberapa hal lain di dalam Warcross yang juga mengingatkan saya pada ide cerita Harry Potter, tapi tidak akan saya ceritakan di sini, supaya teman-teman bisa temukan sendiri saat nanti membaca Warcross :). Mungkin pendapat kita akan sama, tapi mungkin juga tidak. Bagaimanapun juga semua akan kembali pada persepsi masing-masing :).

Annie Pattridge was an awkward, shy girl in my high school, a kid with gentle eyes who kept to herself and ate her lunches in a corner of the school's little library. Sometimes I ran across here in there. I wasn't her friend, exactly, but we were friendly - we'd chatted a couple of times about our shares love of Harry Potter and Warcross and League of Legends and computers. Other times, I'd see her picking her books off the ground after someone had knocked them out of her arms, or catch her backed up against that lockers while a bunch of kids stuck gum in her hair, or glimpse her stumbling out of the girls' bathroom with a crack in her glasses.

Page 72

 

Sebagai penutup, saya ingin menceritakan kepada teman-teman bagian dari buku Warcross yang juga menyentuh emosi saya. Bagian ini menceritakan kenangan Hideo akan hari dimana adiknya menghilang.

Sasuke! Sasuke!" Each shout sounds more like a scream than the last. Hideo calls and calls until his voice begins to crack.

He stops abruptly, gasping for air, and clutches is head with his hands. "Calm down. Sasuke went home," he whispers. He nods to himself, believing it. "He went home early without telling me. That's where he is." Without another hesitation, he starts running home, scanning the sidewalks wildly, looking for the back of a small boy wearing a bright blue scarf. "Please, please," I realize he's whispering to himself as he goes. The word trails out in a repeated line, thin as a ghost.

He doesn't stop running until he reaches his home, a house I now recognize. He pounds on the door until his father opens it, his face bewildered. "Hideo - what are you doing here?" He cranes his neck and looks behind Hideo at the sidewalk."Where's your brother?"

At this question, Hideo seems to waver in place, and I can see that, in this instant, he knows his brother never come home.

Page 268.

 

Ending Warcross terasa menggantung bagi saya, tapi setelah mencari tahu lebih banyak, ternyata Warcross memang direncanakan untuk menjadi buku series. Tak heran ujung cerita terkesan menyisakan tanda tanya. Marie Lu sendiri memang menulis buku dengan genre dystopia, yakni buku-buku yang bercerita tentang masa depan yang situasinya lagi hancur, kacau, serta penuh konflik. Genrenya mengingatkan kita juga pada buku Hunger Game, Divergent, dan Red Queen. Teman-teman menyukai cerita Hunger Game atau Divergent? Jika iya, maka mungkin kalian akan menyukai juga buku Warcross :).

 

Siapa Marie Lu

Marie Lu adalah penulis novel young adult dari Amerika yang mengkhususkan karyanya pada buku bergenre dystopia. Sebelum menjadi penulis, Marie Lu adalah Art Director di sebuah perusahaan video game. Marie Lu terkenal karena buku Legend series nya yang kemudian dilirik perusahaan perfilman untuk diangkat menjadi movie. 

 

Buku lain yang ditulis oleh Marie Lu adalah sebagai berikut :

  • Legend Series (Legend, Prodigy, Champion, Life Before Legend)
  • The Young Elites Series (The Young Elites, The Rose Society, The Midnight Star)
  • Warcross Series 

 

Buku Warcross adalah buku terbaru yang ia terbitkan di tahun 2017. Rating amazon untuk buku Warcross mencapai 4 bintang lebih, sedangkan goodreads 4 bintang penuh. Tentu ini merupakan pencapaian yang bagus untuk sebuah buku.

 

Rekomendasi

Buku Warcross saya rekomendasikan kepada pembaca dewasa yang menyukai novel bergenre dystopia, yang suka pada kisah yang penuh fantasi, futuristik, kecanggihan teknologi, game, hacker dan kode, imajinasi, berunsur petualangan, action, dibalut kisah asmara, dan yang berharap pada novel yang mampu menunjang ide fantasi yang luar biasa dalam bentuk narasi serta alur yang bagus. Buku ini saya rekomendasikan juga pada pembaca yang suka buku Harry Potter, Hunger Game, dan Divergent, disebabkan karena ada kesamaan genre atau kemiripan ide cerita.

Catatan : Sexual content, dan topik kekerasan terdapat dalam buku ini.

 

 

 

 

 

0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh

Sponsored Post, Job Review, Special Request, Postingan Lomba

Review Buku The Sun and Her Flowers - Ru…

15-11-2017 Hits:98 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : The Sun and Her Flowers Penulis : Rupi Kaur Jenis Buku : Puisi Penerbit : Andrews McMeel Publishing   Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman : 256 halaman Dimensi Buku : 19.56 x 12.45 x 2.03 CM Harga : Rp...

Read more

Review Buku The Four Tendencies - Gretch…

02-11-2017 Hits:181 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : The Four Tendencies The Indispensable Personality Profiles That Reveal How to Make Your Life Better (and Other People's Better, too) Penulis : Gretchen Rubin Jenis Buku : Non Fiksi - Humaniora Penerbit...

Read more

Review Buku Asrama - Muhammad Fatrim (Gi…

28-10-2017 Hits:521 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : Asrama Penulis : Muhammad Fatrim Jenis Buku : Novel (Horor) Penerbit : Penerbit Haru Tahun Terbit : Cetakan Pertama September 2017 Jumlah Halaman : 296 halaman Dimensi Buku : 19 cm Harga : Rp. 67.000 ISBN...

Read more

Review Buku

Review Buku Satu Pembohong (One of Us is…

10-11-2017 Hits:216 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Satu Pembohong Judul Asli : One of Us is Lying Penulis : Karen McManus Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman : 408 halaman Dimensi Buku : 20 cm Harga :...

Read more

Review Buku Rahasia Sang Suami (The Husb…

13-10-2017 Hits:344 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Rahasia Sang Suami Judul Asli : The Husband's Secret Penulis : Liane Moriarty Jenis Buku : Fiksi - Novel Terjemahan Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : 2016 Jumlah Halaman : 496 halaman Dimensi...

Read more

Review Buku Sihir Perempuan - Intan Para…

05-10-2017 Hits:423 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Sihir Perempuan Penulis : Intan Paramaditha Jenis Buku : Kumpulan Cerpen Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : April 2017 (Pernah diterbitkan oleh Kata Kita pada 2005) Jumlah Halaman : 366 halaman Harga...

Read more

Cerita Dipidiff

J.CO Jatinangor Town Square : Duduk Menu…

11-10-2017 Hits:323 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Book blogger juga manusia, yang terkadang tidak ada ide menulis, hilang fokus, pikiran lelah, serta kurang nafsu makan (padahal tadi sarapan sebakul 😅). Teman-teman pernah merasakan keadaan yang seperti itu...

Read more

Giggle Box Jatinangor - Alternatif Tempa…

11-10-2017 Hits:339 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Dulu sekali, tahun lalu tepatnya, saya pernah menulis tentang J.Co di Jatos. Waktu itu saya sedang hamil moonlight dan saat berkunjung ke sana saya cukup antusias untuk datang kembali mengingat...

Read more

Sudut Buku di Transmart Carrefour Cipadu…

08-10-2017 Hits:406 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Mungkin tidak semua orang seperti saya, yang setiap berkunjung ke mall atau supermarket pasti langsung mencari book corner. Tentu saya paling bahagia kalau di sana ada toko bukunya. Tapi jika...

Read more