Translate - Language

id Indonesian zh-CN Chinese (Simplified) nl Dutch en English tl Filipino fr French de German it Italian ja Japanese ko Korean ms Malay th Thai

Features

Review Buku Asrama - Muhammad Fatrim (Give Away)

Published: Saturday, 28 October 2017 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

 

Judul : Asrama

Penulis : Muhammad Fatrim

Jenis Buku : Novel (Horor)

Penerbit : Penerbit Haru

Tahun Terbit : Cetakan Pertama September 2017

Jumlah Halaman : 296 halaman

Dimensi Buku : 19 cm

Harga : Rp. 67.000

ISBN : 978-602-6383-27-3

Penerjemah : Shahida Harun

Disainer Sampul : Pola

Penata Sampul : @fadiaaaa_

Edisi Terjemahan

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Dahlia tinggal di asrama sekolahnya yang baru. Gedung-gedungnya tua dan tak sebagus sekolah lama Dahlia, tapi ia tetap memutuskan untuk sekolah di SMK Sri Bayu. Di hari pertama kedatangannya, loker di dalam kamarnya sudah dikerjain orang. Tiga orang teman sekamarnya, May, Lena dan Farah pun awalnya bertingkah cukup aneh, tapi untung lama kelamaan ia bisa juga bersahabat dengan mereka.

Di sekolah itu ada tiga kelompok siswa, Princess, Queen, dan Slave. Geng Queen dan Princess sering melakukan perisakan terhadap siswa-siswa dari kelompok Slave. Mereka kejam dan sewenang-wenang. Dahlia pun tak luput dari perisakan mereka. Di suatu malam dengan mata tertutup ia dibawa entah kemana oleh geng Queen. Lalu ketika ia membuka matanya ada seorang pemuda yang hendak berbuat tak senonoh dengannya. Tentu saja Dahlia takut dan dendam.

Terdorong oleh rasa dendam dan ingin menolong siswa-siswa lain yang juga sering dirisak geng Queen, Dahlia mengajak tiga teman sekamarnya untuk bermain Spirit of The Coin untuk memanggil arwah. Lalu arwah bernama Amira pun menjawab panggilan tersebut. Roh itu meminta syarat berupa darah kotor atas permintaan Dahlia untuk membalas dendam kepada geng Queen dan mengusir mereka dari sekolah.

Dari sanalah kisah ini bergulir makin lama makin berubah menjadi teror yang mencekam. Sekali roh terlepas, akan sulit untuk mengikatnya kembali. Misteri demi misteri semakin bermunculan di kehidupan asrama yang Dahlia tempati. Dahlia kini bahkan mulai dihantui mimpi buruk tentang seorang gadis yang bernama Angel yang mati dibunuh dengan leher digorok.

Sementara itu, Dahlia mulai tertarik dengan Adam, teman sekelasnya yang pintar dan tegas. Persahabatannya dengan Lena, May, dan Farah juga berkonflik sesekali. Lalu ia juga berkenalan dengan Ira dan Maria, teman sekolahnya yang kadang datang dan pergi dengan tiba-tiba seperti hantu.

Dapatkan arwah membantu Dahlia membalaskan dendamnya pada geng Queen? Kisah horor apa saja yang ada di asrama? Apakah konsekuensi yang harus ditanggung Dahlia karena telah meminta pertolongan arwah? Ada apa dengan pohon ara dan hantu tanpa kepala? Siapa sebenarnya Angel? Bagaimana hubungan Dahlia dengan Adam selanjutnya?

Terlalu banyak pertanyaan pada buku ini, sehingga sebaiknya dibaca saja bukunya sampai tuntas 😊.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

Saya sejujurnya suka dengan disain cover buku ini, sebab tidak tampak berlebihan dan tetap sesuai dengan isi cerita. Daripada covernya bergambar gedung asrama, kalau ada pemilihan cover buku, saya pasti pilih yang satu ini. Lebih sederhana dan mengena. 

 

Sempat juga saya mencari tahu disain cover versi aslinya, siapa tahu sama, tapi ternyata berbeda. Seperti biasa penerbit Haru memang selalu memiliki ide-ide sendiri seputar buku yang mereka terjemahkan. Kalau bukan di cover mungkin di ilustrasi. Dan biasanya ide tim Penerbit Haru menurut saya oke 😊.

 

Picture : Cover Novel Asrama versi Malaysia

 

Ilustrasi lainnya ada pula pada jenis huruf judul buku serta bab. Agak berbentuk seperti yang berbercak darah kalau menurut saya. Ini pasti dipertimbangkan dari isi buku yang bergenre horor.

 

Picture : Ilustrasi huruf pada judul yang seperti berbercak darah

 

Bukunya hanya 296 halaman lho teman-teman. Ukuran hurufnya pun tidak kecil. Buat yang biasa membaca, novel asrama bisa dihabiskan sehari dan maksimal 2 hari saja. Pas juga buat dibaca di saat perjalanan karenanya. Untuk teman-teman yang lebih suka novel horor yang tidak terlalu tebal, buku asrama bisa jadi salah satu pilihan.

 

Ada pembatas buku yang eye catching, senada dengan disain cover bukunya. Jadi kita tak perlu repot menyiapkan pembatas buku kita sendiri, karena Penerbit Haru sudah menyiapkannya di dalam buku.

Picture : Pembatas buku yang eye catching

 

Tokoh dan Karakter

Tokoh utama di novel asrama adalah Dahlia, gadis SMA yang berlatarbelakang keluarga kaya. Ia cantik, gadis baik-baik, dan cukup pintar di sekolah. Sifatnya pada dasarnya ceria, ceroboh seperti remaja, condong pada kebenaran dan keadilan, tapi sesekali tergoda berbuat usil dan nakal karena pengaruh teman (misalnya menyelinap ke luar asrama).

Lalu ada ayah dan ibu Dahlia yang bernama Rashid dan Kalsom. Pasangan suami istri yang saling mencintai tapi sering berdebat satu sama lain. Ayah Dahlia digambarkan sebagai seorang pengusaha kontraktor kaya yang tidak sepenuhnya jujur dan kurang memiliki integritas.

Ada teman-teman sekamar Dahlia yang bernama May, Farah, serta Lena. Ada juga Geng Queen dan Princess, Pak Darus, Ustaz Firdaus, Adam, Azhar, Ira, Maira, dan beberapa tokoh lainnya. Ada yang berperan cukup banyak di dalam cerita, ada yang cuma selintas saja.

Bisa dibilang beberapa tokoh tampak mubazir, ini pasti terasa oleh pembaca yang biasa mengamati novel dengan tokoh-tokoh yang berperan secara imbang dan sesuai fungsinya di dalam cerita. Tapi, untuk pembaca yang menyukai novel dengan tokoh dan karakter yang banyak dan bervariasi dan jalan ceritanya tidak panjang, mungkin akan menyukai gaya penulisan Muhammad Fatrim di novel Asrama ini.

 

Alur dan Latar

Ada beberapa bagian dalam cerita yang alurnya terasa janggal. Mungkin M. Fatrim memang sengaja melakukannya untuk memunculkan efek penasaran, atau mungkin juga bagian yang janggal tersebut akan disinggungnya di novel Asrama #2. Saya tidak tahu persis mengapa, tapi itulah yang saya rasakan. Gara-gara itu saya merasa alur novel Asrama jadi kurang rapih.

Meskipun demikian di akhir-akhir novel tampaknya semua misteri dan teka-teki yang dilemparkan penulis mampu membuat saya merasa penasaran. Nice! :). Tentu saja itu berakibat tak bisa lepasnya saya dari terus saja membaca novel ini 😅. Beberapa tertebak jalan ceritanya, sisanya tidak. Oleh karena itu saya menganggap dari sisi puzzle, novel Asrama termasuk buku yang akan cukup asyik dinikmati oleh para pecinta novel yang suka dengan alur teka-teki, sebab jumlah teka-tekinya cukup banyak.

Penggambaran latar asrama tentu mendominasi cerita. Agak seram juga membayangkan gedung tua berhantu dengan loker-lokernya yang sudah tak baru lagi. Belum pohon-pohon besar serupa hutan yang melingkupi area asrama. Ada pula pohon Ara besar yang konon merupakan tempat bersemayam makhluk halus. Untung sekolah saya dulu biasa saja gedungnya 😅. Tidak ada hutannya, meski pernah ada kejadian siswa yang kerasukan 😰. #horor

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Sudah cukup lama sejak saya membaca buku bergenre horor. Kalau tidak salah buku Kumpulan Budak Setan adalah buku horor terakhir yang saya baca sebelum buku Asrama, dan itu pun saya baca tahun lalu. Ada juga buku Sihir Perempuan yang lumayan horor, tapi juga nyastra dan berasa sudut pandang feminisnya. Secara pribadi saya berpendapat mencari novel horor yang bagus itu sulit.

Buku Kumpulan Budak Setan yang saya nilai sebagai buku horor yang berhasil, kebetulan ternyata tidak setipe dengan buku Asrama. Yang satu sepenuhnya ditulis untuk pembaca dewasa, yang satu lagi untuk remaja atau pembaca dewasa yang suka membaca buku apapun seperti saya 😅. Bagaimanapun juga nuansa dan gaya remaja sangat terasa di buku horor ini. Teman-teman usianya remaja bukan? Kalau iya, berarti ada kemungkinan cocok dengan buku ini 😊.

 

Awal membaca saya sudah menyukai gaya penulisan Muhammad Fatrim yang lumayan humoris, mungkin ini untuk memunculkan karakter Dahlia juga yang pada dasarnya ceria.

Itu kali kedua dia datang setelah sesi pendaftaran dua hari lalu. Mobil ayahnya segera diparkir, dia pun langsung keluar mobil. Hatinya senang dan gembira, membuatnya jadi ingin berjoget Sumazau. Namun dia mengurungkan keinginannya tersebut supaya tidak terlihat berlebihan.

Halaman 10

# membayangkan joged Sumazau itu membuat saya tersenyum.

Dahlia menyeret kopernya memasuki area sekolah. Sepatu Bata yang dipakainya menapak nyaman, koper Polo beroda yang ditariknya mengeluarkan bunyi, sementara dia memegang sebuah ember merah yang sudah dibubuhi namanya dengan huruf besar-besar. Supaya orang tahu bahwa itu ember miliknya. Kalau bisa dia ingin menempelkan foto pada ember tersebut, baru keren.

Halaman 11

# Ide menempel foto juga terasa lucu, khas tokoh dengan karakter yang usil dan ceria. Mana dia bilang keren pula 😅.

 

Tentu saja emosi terpenting dari sebuah buku horor adalah rasa takut. Nah, ketika membaca bagian inilah untuk pertama kalinya saya merasakan sensasi itu. Hantu-hantu dan berbagai situasi yang seram yang diceritakan dalam novel Asrama memang tak jauh berbeda dengan hantu-hantu dan suasana versi Indonesia. Makanya buat saya jadi terasa lebih menyeramkan. Apalagi kebetulan saya membaca novel ini di malam hari pukul 1 dini hari 😅. 

Ketika hendak keluar dari kamar, mata Ustaz Firdaus tanpa sadar memandang sesuatu di atas loker Sarah. Dia berhenti. Faizal dan Nazif mengamati dengan heran. Ustaz Firdaus beranggapan mungkin benda itulah yang mengganggu Sarah.. Sekali lagi ia membaca beberapa potong ayat, sehingga bayangan yang dilihatnya di atas loker Sarah itu berangsur hilang. Bulu roma Ustaz Firdaus berdiri tegak,  tetapi dia tetap terlihat tenang. Dia kemudian pergi dari situ bersama Faizal dan Nazif.

Halaman 48

 

Beberapa kalimat membuat saya bertanya-tanya. Contohnya di bawah ini. Ternyata produk buatan Indonesia punya image yang lebih baik, benarkah (?)

Bagi Dahlia, Adam adalah robot keluaran Tiongkok dan tanpa tanda SIRIM. Turun pamor, sudah baik tadi buatan Indonesia, sekarang malah jadi buatan Tiongkok. Rasakan! Bagaimana tidak. Kerjanya hanya mengomentari orang.

Halaman 63

 

Membaca novel Asrama meski sudah diterjemahkan namun tetap terasa gaya Malaysianya. Hal-hal seperti ini justru menjadi daya tarik bagi saya. Kualitas terjemahannya juga bagus.

"Benar yang dibilang si Lena itu Dahlia, kamu harus menenangkan pikiran. Ayo, join kami membaca ini, best tahu...." May mengajaknya dari bawah sambil membuka-buka majalah hiburan bersama Farah.

Halaman 70

 # Cara orang-orang Malaysia yang suka mencampuradukkan bahasa mereka dengan bahasa Inggris memang benar adanya kan ya.

 

 "Kamu ini May! Diam-diam ubi berisi!" ujar Farah.

Halaman 215.

 # Ada pula ungkapan yang baru saya dengar, tampaknya memang asli dari sana. Ubi berisi!

 

Selain ungkapan dan gaya bahasa, ada banyak lagi yang bernuansa Malaysia sekali di dalam buku. Membaca buku ini membuat saya secara tidak langsung menikmati beberapa kebiasaan, budaya, bahkan cerita-cerita mistik mereka. Meskipun cukup banyak terdapat istilah, peristiwa, dan sebutan-sebutan khas Malaysia yang asing di telinga saya, namun saya tidak merasa kesulitan untuk memahaminya. Ini semacam sudah menjadi gayanya Penerbit Haru, untuk memberikan catatan di bagian bawah buku yang menjelaskan hal-hal tersebut.

 

Picture : Di sepanjang buku banyak terdapat catatan di kaki halaman

 

Nah, teman-teman yang suka membaca, menulis, serta berfoto dengan buku, khusus untuk novel Asrama ini ternyata kita bisa ikutan tagarnya :D. Pengumuman ini terdapat pada bagian awal buku, khusus dari Penerbit Haru.

 

 

Siapa Muhammad Fatrim (?)

Muhammad Fatrim adalah penulis dari Malaysia. Kalau kita cari informasi di goodreads, M. Fatrim disebutkan masih bersekolah di jenjang universitas. Buku-buku yang ia tulis sudah banyak jumlahnya. Asrama #2 adalah novel terbaru yang ia publikasikan. Tampaknya ia memang mengkhususkan diri pada buku bergenre horor.

 

Berikut buku-buku Muhammad Fatrim :

  • Asrama (2013)
  • Patung (2015)
  • Malam (2014)
  • Teman Roh (2014)
  • Fobia Kumpulan Cerpen
  • Asrama 2 (juli 2017)
  • Revenge (des 2016)
  • Kapur Kasut vs. kapur tulis : koleksi 50 kisah alam persekolahan
  • Pemangsa (juni 2017)
  • Cerpen hari jumaat vol 2

 

Rating buku Asrama di Goodreads mendapatkan poin 3,9. Poin yang cukup tinggi ini menandakan banyak juga pembaca yang menyukai karyanya, khususnya novel Asrama.

 

Rekomendasi

Novel ini saya rekomendasikan kepada pembaca usia remaja yang menyukai novel horor dengan jumlah halaman yang tidak terlalu tebal, teka-teki yang mampu membuat pembaca penasaran hingga akhir, cerita seram dengan hantu-hantu yang mirip dengan di Indonesia (perempuan tanpa kepala, suara-suara misterius, orang-orang yang mendadak muncul lalu menghilang, dan lain-lain), serta pembaca yang ingin merasakan sensasi horor baca buku hantu Malaysia lengkap dengan suasana khas di sana disertai kualitas terjemahan yang memadai.

Catatan : dibaca oleh remaja + 17 dengan pendampingan. Perisakan, pemerkosaan, pembunuhan, dan menyinggung sedikit konten seksual.

 

GIVE AWAY

Selama periode 28 Oktober hingga 5 November 2017, teman-teman bisa mengikuti rangkaian Blogtour Novel Asrama - Muhammad Fatrim di blog teman-teman host lain yang tercantum di banner di bawah ini ya. Di akhir periode Blogtour, kamu juga bisa ikut Giveaway buku gratis di facebook Penerbit Haru pada tanggal 7 November 2017.

Cara mengikuti give awaynya adalah dengan menuliskan jawaban dari pertanyaan yang ada direview semua host blog tour di kolom komentar pada postingan final giveaway di facebook Penerbit Haru. Pemilihan dan pengumuman bisa dilihat di fp Penerbit Haru.

Nah, ini pertanyaan di blog saya,
"Siapa nama roh yang menjawab panggilan spirit of the coin yang dimainkan oleh Dahlia dan teman-temannya?"

 

 

Sudah tahu jawabannya? Simpan dan gunakan nanti saat mengikuti giveaway final ya 😊.
Semoga teman-teman berhasil! 🙌😁

 

 

 

0
0
0
s2sdefault

Review Buku The Four Tendencies - Gretchen Rubin

Published: Thursday, 02 November 2017 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

 

Judul : The Four Tendencies

The Indispensable Personality Profiles That Reveal How to Make Your Life Better (and Other People's Better, too)

Penulis : Gretchen Rubin

Jenis Buku : Non Fiksi - Humaniora

Penerbit : Penguin Random House

Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman :  257 halaman

Harga : Rp. 203.000

Edisi Bahasa Inggris

#1 New York Times Bestselling Author of The Happiness Project

Available at Periplus Setiabudhi Bandung Bookstore

 

 "Finally I am coming to the conclusion that my highest ambition is to be what I already am."

- Journal of Thomas Merton (Rebel) -

 

 

Sekelumit Tentang Isi

The Four Tendencies adalah salah satu buku non fiksi kategori humaniora yang saya baca di tahun 2017. Tak dapat dipungkiri, buku ini adalah salah satu buku yang saya sukai karena isinya yang berbeda dan membuka wawasan baru tentang manusia. Jika sudah sejak lama saya mengenal istilah emotional question (EQ), emotional intellegencies (EI), dan empat tipe kepribadian manusia (sanguinis, koleris, plegmatis, dan melankolis), maka 4 tendensi manusia (upholder, rebel, questioner, dan obliger) yang dikemukakan oleh Gretchen Rubin benar-benar hal yang baru saya ketahui.

 

Seperti yang disampaikan oleh Gretchen Rubin sendiri dalam The Four Tendency, 4 kelompok tendensi tersebut bukan merupakan kepribadian dan kecerdasan pada diri manusia. Tendensi hanyalah salah satu sisi dari sekian banyak faktor yang membentuk kepribadian seorang individu. Meski demikian, tendensi memiliki peran yang penting pada kepribadian, terutama respon individu terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya. Oleh karena itu mempelajari 4 macam tendensi menjadi suatu hal yang penting untuk dipelajari dan juga menarik untuk disimak.

The Four Tendencies describes only one narrow aspect of a person's character - a vitally important aspect, but still just one of the multitude of qualities that form an individual. The Four Tendencies explain why we act and why we don't act.

... there's no best or worse Tendency. The happiest, healthiest, most productive people aren't those from a particular Tendency, but rather they're the people who have figured out how to harness the strengths of their Tendency, counteract the weakness, and built the lives that work for them.

Halaman 12

 

Dengan mempelajari The Four Tendencies, kita akan dapat memahami diri kita dengan lebih baik. Menurut Gretchen Rubin, salah satu kunci kebahagiaan adalah dengan memahami diri sendiri. Lalu, The Four Tendencies juga memberikan kita wawasan yang penting dalam memahami perasaan dan cara berfikir orang lain. Dengan demikian sosialisasi dan komunikasi kita bersama mereka bisa menjadi lebih efektif dan toleran.

When we consider the Four Tendencies, we're better able to understand ourselves. This self-knowledge is crucial because we can build a happy life only on the foundation of our own nature, our own interest, and our own values.

Just as important, when we consider the Four Tendencies, we're able to understand other people. We can live and work more effectively with others when we identify their Tendencies - as coworkers and bosses, teachers and coaches, husbands and wives, parents and children, health-care providers and patients.

Understanding the Four Tendencies gives us a richer understanding of the world

Halaman 9

 

Yuk kita intip apa daftar isinya 😊.

Your Tendency

1. The Four Tendencies

The Origin of The Four Tendencies

How The Tendencies Weaves Throughout Our Characters

Why It's Helpful to Identify Our Own Tendency

Why It's Helpful to Identity Other's Tendencies

 

Upholder

"Discipline is my freedom"

3. Understanding the Upholder

"Do what's right even when people call you uptight"

Strength

Weaknesses

Variations Within the Tendency

Why Upholders Have an Instinct to Self-preservation

How Upholders Can Manage Upholder Tightening

Why Upholders Must Articulate Their Inner Expectations

4. Dealing with an Upholder

"Just Do It"

Work

Spouse

Child

Health Client

Choosing a Career

 

Questioner

"I'll comply - if you convince me why"

5. Understanding the Questioner

"But why?"

Strength

Weaknesses

Variation Within the Tendency

Why Questioners Dislike Being Questioned

How Questioners can Master Analysis-Paralysis

How Questioners Can Meet Unjustified

Expectations by Finding Their Own Justifications

6. Dealing with a Questioner

"Why do we need a motto?"

Work

Spouse

Child

Health Client

Choosing a Career

 

Obliger

"You can count on me, and I'm counting on you to count on me."

7. Understanding the Obliger

"I'll do anything you ask. Until I won't"

Strengths

Weaknesses

Variations Within the Tendency

How Obligers Can Meet Inner Expectations by Creating Outer Accountability

When Outer Accountability Disappears

How Obligers Can Manage the Pros and Cons of the Tendency

How Obligers Shift the Line Between Outer and Inner Expectations

How to Understand and Protect Against Obliger-Rebellion

8. Dealing with an Obliger

"Say yes to less"

Work

Spouse

Child

Health Client

Choosing a Career

 

Rebel

"You can't make me, and neither can I"

9. Understanding the Rebel

"It's so hard I have to, and so easy when I want to"

Strength

Weaknesses

Variation Within the Tendency

How Others Can Influence Rebels to Meet and Expectation

How Rebels Can Influence Themselves to Meet an Expectation

Why Rebels May Be Drawn to Lives of High Regulation

10. Dealing with a Rebel

"You're not the boss of me"

Work

Spouse

Child

Health Client

Choosing a Career

 

Applying the Four Tendencies

11. When the Four Tendencies Pair Up

12. Speaking Effectively to Each Tendency

13. Whatever Out Tendency, We Can Learn to Harness Its Strength

 

Appendix

Acknowledgments

Flash Evaluation for Gretchen Rubin's Four Tendencies

Further Resources on Gretchen Rubin's Four Tendencies

The Better App: Gretchen Rubin's Four Tendencies 

Notes

 

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

Cover buku The Four Tendencies yang berwarna biru kuning cerah terasa ceria ya. Setidaknya begitulah yang saya rasakan. Cocok untuk buku bergenre humaniora yang di dalamnya ada semacam "petunjuk" hidup sukses dan bahagia 😄. Seperti kebanyakan buku non fiksi impor lainnya, cover The Four Tendencies juga didisain simple. Yang menonjol dari cover cuma bagian judul dan nama penulis. Tak ada ilustrasi gambar lain. Paling lingkaran yang ada di cover mungkin mengacu pada bentuk diagram yang sering muncul dalam pembahasan buku.

Saya jadi teringat dengan cover buku humaniora lainnya yang saya baca, The Subtle Art of Not Giving a F*ck juga memiliki disain yang sederhana dengan menonjolkan warna cover oranye gelapnya dan judulnya yang nyeleneh. Tapi buku itu laris di pasaran 😘.

Baca juga : "Review Buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck"

 

The Four Tendencies bukan buku yang tebal seperti buku Emotional Intelligence garapannya Daniel Goleman, buku ini hanya terdiri dari 257 halaman. Tapi, ukuran hurufnya menurut saya termasuk lebih kecil dari rata-rata, jadi teman-teman siap-siap saja untuk membaca dengan lebih teliti dan hati-hati (juga sabar 😊).

 

Opini

Buku-buku non fiksi termasuk di antaranya yang bergenre humaniora tentu membutuhkan lebih banyak pengakuan dari berbagai pihak-pihak profesional ketimbang buku non fiksi, mengingat buku tersebut tentu akan ditimbang dari sudut kelogisan, aplikatif, dan kelengkapan materinya. Pihak profesional yang saya maksud di sini diantaranya adalah penulis senior, surat kabar terkenal, para ahli, bahkan tokoh tertentu yang dianggap berpengaruh. Lihat saja buku Option B - Sheryl Sandberg yang salah satu testimoninya di tulis oleh Malala Yousafzai, yakni gadis yang ditembak Taliban tepat di kepala karena menolak aturan Taliban dalam "melarang perempuan mengenyam pendidikan".

Baca juga : "Review Buku Option B - Sheryl Sandberg"

 

Maka ketika saya membaca buku The Four Tendencies - Gretchen Rubin, halaman pertama yang saya temui memang penuh dengan semacam testimoni dari orang-orang profesional di bidang yang berbeda-beda. Secara pribadi saya menyukai hal ini, karena dari testimoni tersebut setidaknya saya mendapatkan bayangan seperti apa isi dan kegunaan buku The Four Tendencies. Jika novel memiliki sinopsis, maka saya biasanya mengandalkan tulisan testimoni ini di buku-buku non fiksi.

 

Picture : Opini-testimoni dari berbagai orang tentang The Four Tendencies

 

Halaman awal lainnya yang juga menarik perhatian saya adalah sebuah diagram lingkaran yang menampakkan empat kelompok tendensi manusia dengan bagian-bagian yang bersinggungan satu sama lain. Ada kelompok Upholder, Obliger, Rebel, dan Questioner. Di tiap nama kelompok terdapat sedikit keterangan, yang entah maknanya apa. Saya berasumsi semua akan dijelaskan Gretchen Rubin di dalam bukunya. Bagaimanapun juga, diagram tersebut saya perhatikan dengan seksama, dan secara tak sadar saya mulai menebak-nebak arti dari diagram tersebut. Daripada langsung masuk ke dalam topik pembahasan, Gretchen sepertinya memahami psikologis sebagian pembacanya yang senang pada gambar-gambar visual dan terkategori bersifat penasaran pada apapun yang dianggapnya menarik 😂. Padahal bagi pembaca yang lain mungkin ini malah dianggap bertele-tele atau halaman yang kurang penting.

 

Picture :

 

Sedikit saya tuliskan di sini tentang 4 kelompok tendensi manusia yang menjadi inti topik buku The Four Tendencies agar teman-teman bisa lebih memahami bahasan saya berikutnya ya 😊.

  1. Upholders respond readily to both outer expectations and inner expectations
  2. Questioners question all expectations; they meet an expectation only if they believe it's justified, so in effect they respond only to inner expectations
  3. Obligers respond readily to outer expectations but struggle to meet inner expectations
  4. Rebels resist all expectations, outer and inner alike

Halaman 6

 

Di bab-bab awal Gretchen memulai pembahasannya dengan banyak teori, berbagi pengalaman, mengangkat kisah nyata (termasuk kisah hidupnya sendiri), serta menjelaskan kepada pembaca alasan pentingnya untuk mempelajari 4 tendensi pada manusia. Sejujurnya saya menikmati bagian ini. Gretchen terasa manusiawi dan bukan seorang marketing buku.  Lagipula apa yang ia kemukakan terasa logis dalam pikiran saya. Saya juga senang cara membahas Gretchen Rubin yang cukup detail tentang bukunya. Secara objektif ia mengakui bahwa tendensi memang hanya satu bagian kecil dari kepribadian manusia, dan dalam satu individu bisa terdapat lebih dari satu tendensi, meski pada akhirnya hanya ada satu atau dua tendensi yang paling berperan.

Also, there's an enormous range of personalities, even among people who share the same Tendency. Regardless of Tendency, some people are more or less thoughtful than others, or ambitious, intellectual, controlling, characteristic, kind, anxious, energetic, or adventurous. These qualities dramatically influence how they express their Tendencies. An ambitious Rebel who wants to be a well-respected business leader will behave differently from one who doesn't care much about having a successful career.

People often argue that they're a mix Tendencies. ...

This may sound sensible, but I must say that when I ask a few more questions, the person falls easily within a single Tendency, almost without exception. ...

And of course, it's also true that no matter what our fundamental Tendency, a small part of each of us is Upholder, Questioner, Obliger, and Rebel.

Halaman 10

 

Gaya bertuturnya yang persuasif juga cukup melenakan 😄. Siapa sih yang tidak ingin hidupnya lebih bahagia dan sukses. Menurut Gretchen Rubin, mengenali tendensi diri kita dapat memperbesar peluang kita untuk menjadi orang yang lebih sukses.  

When we recognize our Tendency, we can tweak situations to boost our chances of success. It's practically impossible to change our own nature, but it's fairly easy to chance circumstances in a way that suits our Tendency.

Halaman 15

 

Masih segar dalam ingatan saya, di salah satu review buku yang saya posting beberapa hari yang lalu, yakni buku Warcross - Marie Lu, saya mengungkapkan ketakjuban saya perihal banyaknya penulis yang mengaitkan dunia Harry Potter - J.K. Rowling ke dalam buku mereka. Ada yang menjadikannya percakapan dalam tokoh ceritanya, bahkan ada yang menjadikannya bagian dari ide cerita. Tadinya saya berpikir itu hanya terjadi pada penulis buku fiksi, tapi ternyata tidak 😁. Buku The Four Tendencies juga demikian, padahal ini buku non fiksi.

For instance, one of the famous Upholders is certainly Hermione Granger from J.K. Rowling's Harry Potter series. Hermione never falls behind on her homework, constantly reminds Harry and Ron about the regulations of the magical world, and becomes anxious when anyone steps out of line. Nevertheless, when she believes that conventional expectations are unjust, she crusades against them - she sees the rules beyond the rules - even in the face of other's indifference or outright disapproval. 

...

I love the Harry Potter books, in part because I love seeing an Upholder uphold in such an admirable way.

Halaman 31

 

Lalu, apakah isi buku ini mudah untuk dicerna oleh pembaca. Saya kira jawabannya akan kembali pada teman-teman. Tapi, jika meninjau dari sudut kesistematisan dan kelengkapan pembahasan, menurut saya The Four Tendencies termasuk buku yang nyaman dibaca dan mudah dipahami karena sistematis dan lengkap. Setelah di bab awal kita disuguhkan tentang pengertian tendensi serta kegunaan dan perannya dalam hidup manusia, maka bab selanjutnya teman-teman akan menemukan questioner. Saya sendiri telah mencoba mengisi questioner ini. Pertanyaan pada questioner akan membantu kita untuk mengenali tendensi yang kita miliki. Tendensi saya rupanya gabungan antara Upholder dan Obliger.

 

Picture : Bab Questioner

Picture : contoh pertanyaan yang ada dalam questioner 4 tendensi manusia

 

Dengan mengetahui tendensi saya, apa yang disampaikan di bab selanjutnya jadi bisa saya petakan dengan lebih baik, mana bab pembahasan yang saya butuhkan untuk lebih mempelajari tendensi saya pribadi dan mana bab yang saya pelajari untuk lebih mengenal tendensi orang-orang lain. Sambil membaca saya terkadang terbayang satu dua orang teman dekat, rekan kerja, dan beberapa saudara yang sepertinya memiliki tendensi serupa yang sedang saya simak pembahasannya di dalam buku. Serta merta saya jadi mengerti sedikit demi sedikit beberapa peristiwa yang terjadi di masa lampau tentang mereka, "Oh, rupanya itu mungkin yang ia pikirkan dan alasan mengapa responnya seperti demikian," seru saya dalam hati 😁.

 

Kelengkapan pembahasan tiap tendensi saya anggap mencukupi. Selain ada penjelasan lebih detail tentang tendensi yang dimaksud, terdapat pula penjelasan tentang kekuatan dan kelemahan tiap tendensi. Lalu cara untuk meminimalkan kelemahan dan memaksimalkan kekuatan, serta penjabaran tentang mengapa kita perlu menyiasati lingkungan agar dapat mendukung hasil yang baik pada tiap tendensi. Pada akhir bab kita akan dibantu pula oleh sebuah ringkasan berbentuk poin-poin penting.

 

Picture : Ringkasan kekuatan dan kelemahan Upholder

 

Secara aplikatif, Gretchen Rubin juga melakukan pendekatan yang cukup baik. Ada pembahasan tentang karir bagi tiap tendensi, cara berhadapan dengan tiap tendensi baik itu ketika berperan sebagai orangtua, pemimpin suatu tim kerja, bahkan pihak medis yang sedang  berhadapan dengan pasien.

Khusus tentang karir, menurut Gretchen Rubin tidak ada satu karir yang tepat untuk jenis tendensi tertentu. Hampir semua posisi karir sebenarnya bisa diisi oleh keempat tendensi ini. Yang penting dalam poin pembahasan ini sebenarnya adalah cara untuk bisa menyesuaikan lingkungan karir sehingga bisa mendukung tendensi yang kita miliki. Di bagian ini penjelasan Gretchen saya anggap penting karena ia menguraikan cara-caranya.

Thinking about Tendency and career isnt a simple matter of "Upholders should work as bank regulators or traffic cops, because they's enforce rules all day." Just about every job could be done by a different Tendency, in that Tendency's own way, but it's true that certain circumstances tend to favor - or not - different Tendencies.

Upholders do well in roles that require people to be self-starters, such as starting a business, solo consulting, or freelancing, because once they decide to meet an aim, they can work toward it without supervision or accountability.

Halaman 54

 

Most jobs could be filled by all of the Tendencies, because of many factors contribute to success in a particular career. After all, the Tendency describes only how a person responds to an expectation, not what the person's talents, personality, intelligence, or interests are.

Halaman 96

 

Ada ringkasan juga tentang bagaimana menghadapi orang-orang dari tiap tendensi.

Picture : Ringkasan Cara Berhadapan dengan Upholder

 

Untuk memudahkan pembaca dalam memahami topik yang sedang dibahas, Gretchen Rubin bahkan menyertakan tulisan berbentuk cerita dari berbagai orang. Ia memang memiliki blog dimana siapapun bisa memberikan komentar terhadap tulisan yang ia posting seputar topik The Four Tendencies. Hadirnya tulisan-tulisan tersebut membuat saya merasa buku The Four Tendencies lebih nyaman dibaca serta memiliki sentuhan manusia.

 

 

 

Menarik pula untuk merenungkan kalimat yang ditulis di awal bab pembahasan karena merefleksikan jalan pikiran tiap jenis tendensi, lalu di bawahnya ada gambar diagram lagi yang dihitamkan bagian tendenci yang sedang dibahas. Saya pikir ini akan memudahkan untuk orang dengan tipe gaya belajar visual untuk memahami topik pembahasan serta membuat mereka tidak cepat bosan dan lelah.

Picture : Awal Bab

 

Aplikasi teori 4 tendensi yang dikemukakan oleh Gretchen dapat diterapkan di beberapa jenis hubungan yakni antar rekan kerja, antara orangtua dan anak, dan antara pihak medis dengan pasiennya. Secara tidak langsung ini berarti Gretchen juga menyampaikan topik parenting dengan pendekatan 4 tendensi tersebut. Sebagai ibu dari seorang anak, saya merasa senang saat mengetahui ada pembahasan ini, bahkan ini juga bisa dipraktikkan oleh guru pada siswanya. Simak penjelasan Gretchen tentang anak yang memiliki tendensi Obliger di bawah ini ya 😊.

In my observation, it's often difficult to tell if a child is an Obliger or not. Upholders and Rebels are very extreme personalities and tend to show up fairly early, but children aren't autonomous in the way that adults are, and adults control children's lives to a very great extent - so it can be hard to pinpoint Obliger characteristics.

Halaman 146

... If and Obliger child wants to meet inner expectation, parents should help him or her to figure out a system of external accountability to reinforce follow-through. One parent recalled, "My daughter wanted to teach our puppy a bunch of tricks. So I said, "Great! Let's enter you in the 4-H dog show at the state this year."

However, beware of setting expectations too much, "Great! Let's enter you in the 4-H dog show. I'm sure you and Barnaby can win the blue ribbon!" - because the child may feel great pressure to meet them, which can lead to Obliger-rebellion.

Halaman 147

 

Pada pembahasan tentang cara berhadapan dengan berbagai tendensi di bidang kesehatan, Gretchen bahkan menyisipkan percakapan antara pihak medis dengan pasien untuk memudahkan kita memahami apa yang sedang ia sampaikan.

 

 

Dan diantara semua jenis tendensi, perhatian saya memang paling besar jatuh pada tendensi Rebel. Saya cukup memahami cara pendekatan pada kelompok Upholders, Obligers, dan Questioners, tapi khusus untuk Rebels rasanya cukup sulit mengingat mereka hanya mau melakukan sesuatu sesuai keinginan mereka sendiri. Mereka tidak menerima ekspektasi luar maupun dari dalam dengan mudah. Berarti memang ada trik khusus untuk menghadapi orang-orang dengan jenis tendensi ini. 

 

 

Bab yang juga menarik untuk disimak adalah bab yang menjelaskan situasi jika keempat tendensi ini berpasangan. Apa ya yang akan terjadi dan bagaimana cara yang tepat untuk menjembatani perbedaan akibat tendensi ini. Di sini teman-teman akan mendapatkan penjelasan situasi serta triknya. Berikut di bawah ini pendapat Gretchen tentang hubungan antar tendensi saat mereka berpasangan.

No relationship is doomed, or assured, based on the Tendencies. Nevertheless, when people from different Tendencies pair up - as romantic partners, as parent and child, as colleagues, or any other kind of pairing - certain patterns tend to emerge.

When we first meet someone, we're often attracted to the very qualities that, over time, will drive us nuts. An Upholders might initially be intrigued by a Rebel's refusal to play by the rules, and the Rebel may be drawn to be Upholder's ability to get things done - but five years into the marriage - those qualities look much less attractive.

It's not the only thing that matters, of course, but understanding the Four Tendencies can give us a useful insight into our relationships.

Halaman 211

 

Kemudian ada bab juga yang menjaskan cara berkomunikasi yang efektif untuk tiap tendensi. Ternyata cara serta kalimat yang digunakan berbeda-beda untuk tiap tendensi. Contohnya pada upholders dan questioners yang saya kutipkan sedikit di bawah ini.

Whether we're at work, at home, or out in the world, we're all constantly trying to persuade of influence people to do what we want them to do (even if what we want them to do is to leave us alone).

In a nutshell, to influence someone to follow a certain course, it's helpful to remember :

- Upholders want to know what should be done

- Questioners want justification

...

Halaman 229

 

"Jadi tendensi mana yang merupakan orang yang paling bahagia dan sukses ya?". Kita simak jawaban Gretchen di bawah ini.

Once afternoon, after I gave a talk about The Four Tendencies a man asked me, "Which Tendency makes people the happiest?" I was startled to realize that this very obvious question had never crossed my mind. "Also," he continued, with an equally obvious follow-up question, "Which Tendency is the most successful?"

I realize that the answer is - as it is so often - "It depends." It depends on how a particular person deals with the upside and downside of a Tendency. The happiest and most successful people are those who have figured out ways to exploit their Tendency to their benefit and, just as important, found ways to counterbalance its limitations. For all of us, it's possible to take the steps to create the life we want - but we must do that in the way that's right for us.

When we understand our Tendency, we're better able to grasp how, and when, and why to pay - and how to build the life we want. Halaman 244

 

Siapa Gretchen Rubin

Gretchen Rubin ada penulis Amerika yang juga seorang blogger dan pembicara. Buku-bukunya bergenre humaniora yang mengangkat topik tentang manusia. Ia pernah bekerja sebagai editor di Yale Law Journal. Gretchen juga pernah memenangkan Edgar M. Cullen Prize.

Buku-bukunya yang berjudul Better Than Before, Happier at Home, dan Happiness Project menjadi buku #1 Ney York Times Bestseller yang terjual lebih dari dua juta kopi dan tersebar di seluruh dunia serta diterjemahkan dalam 30 bahasa.

The Four Tendencies adalah buku terbaru yang ia publikasikan di September 2017. Rating Amazon untuk buku ini adalah empat setengah bintang, sedangkan Goodreads mencatat 3,9 poin untuk buku ini.

Beberapa buku Gretchen Rubin lainnya adalah sebagai berikut :

  • Better than Before
  • Happier at Home
  • The Happiness Project
  • Forty Ways to Look at JFK
  • Power Money Fame Sex : A User's Guide
  • Profane Waste (with Diana Hoey)

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca remaja maupun dewasa yang suka pada buku non fiksi kategori humaniora, yang sedang mencari buku yang berisi cara hidup lebih sukses dan bahagia dengan pendekatan yang berbeda yakni pendekatan tendensi manusia. The Four Tendencies mudah dicerna, serta poin-poinnya bisa diapikasikan dalam kehidupan berkarir, keluarga, dan profesional medis.

Membaca buku ini membuka wawasan baru pembaca tentang pemahaman terhadap diri sendiri maupun orang lain. Berkomunikasi secara efektif sesuai tendensi individu yang bersangkutan juga merupakan salah satu bahasan dalam buku ini. Tak usah khawatir, karena di dalam buku The Four Tendencies sudah tersedia halaman questioner yang memudahkan kita untuk menentukan tendensi apa yang kita miliki.

 

 

0
0
0
s2sdefault

Review Buku The Sun and Her Flowers - Rupi Kaur

Published: Wednesday, 15 November 2017 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

 

Judul : The Sun and Her Flowers

Penulis : Rupi Kaur

Jenis Buku : Puisi

Penerbit : Andrews McMeel Publishing  

Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman : 256 halaman

Dimensi Buku : 19.56 x 12.45 x 2.03 CM

Harga : Rp. 238.000

Edisi Bahasa Inggris

Available at Periplus Setiabudhi Bandung Bookstore

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

Cover sederhana sesederhana puisi-puisi dan bait-baitnya, disainnya manis selaras dengan judulnya. Hanya satu yang ingin saya komentari, cover buku dengan dominasi warna putih sebaiknya disampul rapi, karena rentan noda, dan lebih cepat kelihatan lusuh dimakan waktu :D.

Tiap puisi di dalam buku disertai dengan ilustrasi gambar. Kebanyakan maknanya gamblang, tak ada yang rumit. Termasuk ketika Rupi Kaur menuliskan puisi yang erotis, gambarnya pun demikian apa adanya.

Nuansa abu-abu dan putih di sepanjang halaman hingga akhir ini memberikan kesan lembut, sendu, dan syahdu. Cocok untuk dinikmati ketika hari hujan sambil bersembunyi di bawah selimut :D. Tapi saya suka tema abu-abu putih ini, hanya untuk urusan gambar ilustrasi, kalau boleh memilih, saya lebih suka yang tidak terlalu erotis.

 

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Ini bisa disebut sebagai buku puisi pertama yang saya tulis dan publikasikan reviewnya :). Senang rasanya bisa membuat postingan tentang buku puisi. Sudah sejak lama saya menyukai puisi-puisi, mungkin karena jiwa melankolis saya yang satu itu membuat puisi terasa lebih dalam dan menguras emosi. 

Khusus untuk buku Rupi Kaur ini, saya bahkan memperhatikan judul-judul babnya. Ada wilting, falling, rooting, rising, dan blooming. Saya menduga-duga mungkin ini akan erat kaitannya dengan tema-tema dalam puisi-puisinya. Kemungkinan besar tentang cinta menurut saya. Tapi ternyata tebakan saya benar sekaligus salah.

Picture : Bagian-bagian Buku Puisi The Sun and Her Flowers

 

Tema-tema puisi di luar dugaan ternyata tidak melulu hanya tentang cinta. Rupi Kaur mengangkat beragam topik kehidupan meski memang masih dalam kisaran emosi yang sama. Puisi-puisi di bab Wilting terasa sedih, sepi, layu, dan lelah, dan tentu saja bab Blooming berisi puisi-puisi yang lebih bersemangat, bahagia, serta harapan. Di bawah ini saya tuliskan salah satu puisi di bab Wilting.

You left

and I wanted you still

yet I deserved someone

who was willing to stay

Page 17

 

Seringkali di bagian bawah syair puisinya Rupi Kaur juga menambahkan tulisan yang dimiringkan. yang menegaskan topik puisi yang bersangkutan. Karena perspektif puisi bisa sangat beragam, saya sangat terbantu dengan tulisan tersebut yang seolah-olah menjaga pikiran dan perasaan saya untuk tetap berada di konteks yang diinginkan Rupi.

Picture: Tulisan yang dimiringkan di akhir puisi

 

Puisi-puisi patah hati yang ditulis Rupi Kaur juga membuat saya mengangguk-anggukkan kepala sambil berujar di dalam hati, "Ya, ya, kurang lebih memang seperti itu rasanya."

I live for that first second in the morning\when I am still half-conscious

I hear the hummingbirds outside

flirting with the flowers

I hear the flowers giggling

and the bees growing jealous

when I turn over to wake you

It starts all over again

the panting

the wailing

the shock

of realising

that you've left

- the first mornings without you 

Page 23.

 

kadang puisinya hanya terdiri dari dua baris syair, bahkan ada yang satu baris saja

I envy the winds

who still witness you

Page 25

 

terkadang sampai 3-4 lembar halaman

Picture : ada puisi yang hanya terdiri dari satu atau dua baris,

ada juga yang berlembar-lembar halaman

 

Tapi berapapun banyaknya baris syair nyatanya tidak mengurangi kedalaman makna puisinya.

 

Ada juga puisi yang membuat saya tersenyum ironis dan menertawakan diri sendiri karena kebenaran isi puisi tersebut.

I long

for you

but you long

for someone else

I deny the one

who wants me

cause I want someone else

- the human condition

Page 39

 

Day by day I realise

everything I miss about you

was never there in the first place

- the person I fell in love with was a mirage

Page 50

 

atau saya ikut merasa lebih bersemangat karena adanya harapan

Like the rainbow

after the rain

joy will reveal itself

after sorrow

Page 89

 

terkadang terkejut karena dihadapkan pada puisi dengan emosi yang jauh berbeda

Somewhere along the way

I lost the self-love

and became my greatest enemy

I thought I'd seen the devil before

in the uncles who touches us as children

the mobs that burned our city to the ground

but I'd never seen someone as hungry

for my flesh as I was

I peeled my skin off just to feel awake

wore it inside out

sprinkled it with salt to punish myself

turmoil clotted my nerves

my blood curdled

I even tried to bury myself alive

but the dirt recoiled

you have already rotted it said

there is nothing left for me to do

- self-hate

Page 102

 

First

I went for my words

the I can'ts. I won'ts. I am not good enoughs.

I lined them up and shot them dead

then I went for my thoughts

invisible and everywhere

there was no time to gather them one by one

I had to wash them out

I wove a linen cloth out of my hair

soaked it in a bowl of mint and lemon water

carried it in my mouth as I climbed

up my braid to the back of my head

down on my knees I began to wipe my mind clean

It took twenty-one days

my knees bruised but

I did not care

I was not given the breath

in my lungs to choke it out

I would scrub the self-hate off the bone

till it exposed love

- self-love

Page 105

 

Bahkan judul bagian-bagian puisi (wilting, falling, rooting, rising, dan blooming) ternyata tidak dipilih sembarangan oleh Rupi Kaur, ada puisi di halaman 114 yang setidaknya menjelaskan hal tersebut. Teman-teman temukan sendiri puisi ini di bukunya ya :).

 

Tentu saja Rupi Kaur tidak hanya menggubah syair tentang cinta dan patah hati, tapi juga sisi kehidupan yang tak terduga. Contohnya seperti di bawah ini.

They have no idea what it is like

to lose home at the risk of

never finding home again

to have your entire life

split between two lands and

become the bridge between two countries

-immigrant

Page 119

 

You are all open wound

and we are standing

in a pool of your blood

- refugee camp

Page 121

 

atau yang ini, puisi tentang ibu.

 

 

My mother sacrificed her dreams

so I could dream

Page 148

 

Kejutan lainnya yang saya temui adalah puisi di halaman 173. Sepertinya puisi inilah yang dipilih oleh Rupi dan dijadikan judul bukunya. The Sun and Her Flowers. Penempatannya memang tidak di akhir buku sehingga tidak seperti sebuah puisi penutup, tapi memang berada di akhir sebuah bagian dalam buku. Teman-teman silakan cari puisi ini nanti di dalam bukunya ya :).

 

Saya suka sebagian besar puisi-puisi di bagian Blooming karena makna puisinya yang menyiratkan kedewasaan cara berpikir serta kebijaksanaan dalam menyikapi kehidupan. Bukan hanya topik cinta, tapi juga keluarga, bahkan sisi kehidupan lainnya.

I will no longer

compare my path to others

- I refuse to do a disservice to my life 

Page 200

 

The day you have everything

I hope you remember

when you had nothing

Page 219

 

Dan sebagai penutup, saya ingin mengutip puisi terakhir di buku ini. Sebuah puisi penutup yang baik menurut saya, karena menghadirkan perasaan cukup, jelas, nyaman, persetujuan, sekaligus harapan akan masa depan yang lebih baik.

There is nothing left

to worry about

the sun and her flowers are here

Page 248

 

Secara spesial tampaknya Rupi Kaur memilih dua buah puisi untuk dijadikan puisi yang diletakkan di halaman tertentu, yakni di awal dan di akhir, ditandai dengan halamannya yang berwarna abu-abu dan hurufnya yang berwarna putih.

 

 

Secara keseluruhan saya sangat menyukai puisi-puisi Rupi Kaur, meski saya agak sedikit khawatir buku ini terbaca oleh remaja. Ada beberapa puisinya yang bertopikkan erotisme, ditambah pula dengan ilustrasi gambarnya.

 

Siapa Rupi Kaur

Rupi Kaur adalah penulis yang mendapatkan predikat top ten Sunday Times bestselling author and ilustrator untuk buku puisi. Rupanya ia memang telah berlatih melukis sejak berusia 5 tahun. Setelah menyelesaikan studinya di bidang kepenulisan, ia mempublikasikan buku puisinya yang pertama yakni Milk and Honey pada tahun 2015, yang dengan cepat menjadi international bestseller. Buku Milk and Honey terjual 1,5 juta kopi di seluruh dunia dan diterjemahkan ke dalam 23 bahasa. Buku The Sun and Her Flowers merupakan buku keduanya yang mengeksplorasi berbagai tema diantaranya adalah cinta, kehilangan, trauma, penyembuhan, dan feminitas.

 

Rekomendasi

Buku The Sun and Her Flowers saya rekomendasikan kepada pecinta puisi yang mencari puisi-puisi dengan tema beragam dalam satu buku namun tetap disajikan secara sistematis sehingga tetap nyaman disimak. Ada tema cinta, patah hati, kehilangan, kasih sayang keluarga, trauma, duka, masa-masa penyembuhan, feminitas, kebangkitan setelah keterpurukan, dan realita kehidupan. Syairnya memiliki makna yang dalam, sehingga bisa kita rasakan emosinya hingga kebenarannya. Puisinya membuat kita merenung dan merasa, bukan tentang hal-hal yang dangkal, yang pasti tidak termasuk "small talk".

Catatan : Beberapa puisi dan gambar ilustrasi di dalam buku ini termasuk erotisme. Buku ini hanya untuk pembaca dewasa.

 

 

0
0
0
s2sdefault

Sponsored Post, Job Review, Special Request, Postingan Lomba

Review Buku The Sun and Her Flowers - Ru…

15-11-2017 Hits:98 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : The Sun and Her Flowers Penulis : Rupi Kaur Jenis Buku : Puisi Penerbit : Andrews McMeel Publishing   Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman : 256 halaman Dimensi Buku : 19.56 x 12.45 x 2.03 CM Harga : Rp...

Read more

Review Buku The Four Tendencies - Gretch…

02-11-2017 Hits:179 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : The Four Tendencies The Indispensable Personality Profiles That Reveal How to Make Your Life Better (and Other People's Better, too) Penulis : Gretchen Rubin Jenis Buku : Non Fiksi - Humaniora Penerbit...

Read more

Review Buku Asrama - Muhammad Fatrim (Gi…

28-10-2017 Hits:520 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : Asrama Penulis : Muhammad Fatrim Jenis Buku : Novel (Horor) Penerbit : Penerbit Haru Tahun Terbit : Cetakan Pertama September 2017 Jumlah Halaman : 296 halaman Dimensi Buku : 19 cm Harga : Rp. 67.000 ISBN...

Read more

Review Buku

Review Buku Satu Pembohong (One of Us is…

10-11-2017 Hits:214 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Satu Pembohong Judul Asli : One of Us is Lying Penulis : Karen McManus Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman : 408 halaman Dimensi Buku : 20 cm Harga :...

Read more

Review Buku Rahasia Sang Suami (The Husb…

13-10-2017 Hits:342 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Rahasia Sang Suami Judul Asli : The Husband's Secret Penulis : Liane Moriarty Jenis Buku : Fiksi - Novel Terjemahan Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : 2016 Jumlah Halaman : 496 halaman Dimensi...

Read more

Review Buku Sihir Perempuan - Intan Para…

05-10-2017 Hits:418 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Sihir Perempuan Penulis : Intan Paramaditha Jenis Buku : Kumpulan Cerpen Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : April 2017 (Pernah diterbitkan oleh Kata Kita pada 2005) Jumlah Halaman : 366 halaman Harga...

Read more

Cerita Dipidiff

J.CO Jatinangor Town Square : Duduk Menu…

11-10-2017 Hits:322 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Book blogger juga manusia, yang terkadang tidak ada ide menulis, hilang fokus, pikiran lelah, serta kurang nafsu makan (padahal tadi sarapan sebakul 😅). Teman-teman pernah merasakan keadaan yang seperti itu...

Read more

Giggle Box Jatinangor - Alternatif Tempa…

11-10-2017 Hits:337 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Dulu sekali, tahun lalu tepatnya, saya pernah menulis tentang J.Co di Jatos. Waktu itu saya sedang hamil moonlight dan saat berkunjung ke sana saya cukup antusias untuk datang kembali mengingat...

Read more

Sudut Buku di Transmart Carrefour Cipadu…

08-10-2017 Hits:403 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Mungkin tidak semua orang seperti saya, yang setiap berkunjung ke mall atau supermarket pasti langsung mencari book corner. Tentu saya paling bahagia kalau di sana ada toko bukunya. Tapi jika...

Read more