Translate - Language

id Indonesian zh-CN Chinese (Simplified) nl Dutch en English tl Filipino fr French de German it Italian ja Japanese ko Korean ms Malay th Thai

Review Buku Magpie Murders - Antony Horowitz

Published: Sunday, 07 January 2018 Written by Dipi

follow site

 

http://amazingshops.ru/turkestan-kupit-sneg.html Judul : Magpie Murders

Закладки Легалки Тверь Penulis : Antony Horowitz

Jenis Buku : Novel

Penerbit : Orion Publishing Co

Tahun Terbit : Juni 2017

Jumlah Halaman :  560 halaman

Dimensi Buku : 20.00 x 13.00 x 3.50 cm

Harga : Rp. 129.000

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

The Sunday Times Bestseller

New York Times Bestselling Author

Available at Periplus Setiabudhi Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi)

 

Sekelumit Tentang Isi

Pada suatu pagi yang dingin editor Susan Ryeland menerima satu bundel draft buku dari atasannya, Charles. Itu adalah draft buku yang ditulis oleh Alan Conway, sebuah fiksi kriminal yang terkenal dengan figur detektif Atticus Pund - nya. Selagi asyik menyimak lembar demi lembar kisah kriminal itu, Susan akhirnya menyadari bahwa tidak ada yang lebih membingungkan dan mengesalkan selain membaca sebuah draft buku yang sangat bagus tapi tidak lengkap. Ada dua atau tiga bab akhir yang hilang sehingga misteri pembunuhan di draft tersebut jadi menggantung begitu saja.

Susan menghubungi Charles, CEO Cloverleaf Books tempat ia bekerja. Nyatanya Charles pun katanya menerima draft yang serupa seperti Susan. Lalu Alan Conway ditemukan tewas terjatuh dari salah satu menara di rumahnya yang eksentrik. Permasalahannya, tanpa draft buku yang lengkap, tentu saja karya tersebut tidak dapat naik cetak, padahal Cloverleaf Book sangat membutuhkan karya tersebut untuk mendongkrak dan menyelamatkan penjualan buku-buku mereka yang akhir-akhir ini sepi tanpa kategori bestseller. Alan Conway meski seorang penulis yang tidak menyenangkan dan arogan tapi tetaplah penulis yang mendatangkan banyak keuntungan bagi perusahaan penerbitan mereka. Oleh karena itu Susan lalu memutuskan untuk mencari penggalan draft buku yang hilang tersebut.

Dalam upayanya untuk mencari bagian naskah buku yang hilang, Susan mulai mencurigai bahwa kematian Alan Conway bukanlah bunuh diri seperti yang disangka semula. Ini sepertinya kasus pembunuhan. Satu per satu petunjuk bermunculan, seiring bahaya semakin mengintainya tanpa ia sadari. Rupanya Alan Conway menyimpan rahasia besar dalam karir kepenulisannya. Rupanya cukup banyak yang membenci Conway hingga sanggup untuk membunuhnya.

Sementara itu hubungan Susan dengan Andreas juga berjalan tidak begitu mulus. Andreas ingin Susan berhenti mengusik kasus Conway, dan ia juga ingin Susan berhenti dari pekerjaannya sebagai editor lalu menikah dengannya dan pindah ke sebuah kota di pinggiran, mengelola hotel yang tenang bersama saudara-saudara Yunani-nya di sana. Sedangkan Susan justru semakin penasaran dengan misteri kematian Alan Conway beserta penggalan draft buku yang hilang tersebut. Ia juga bahkan ditawari atasannya untuk menggantikan posisinya di penerbit sebagai CEO.

Dapatkah Susan menemukan penggalan draft buku yang hilang tersebut? Siapakah yang membunuh Alan Conway? Apa rahasia yang disimpan Alan Conway semasa hidupnya? Bagaimana akhir hubungannya dengan Andreas?

 

Magpie Murders memberikan kesempatan bagi kita untuk menikmati dua kisah kriminal sekaligus dalam satu buku dengan dua sudut pandang yang berbeda, rasa yang berbeda, dan dengan gaya bahasa yang berbeda, namun keduanya memiliki kualitas cerita yang sama baiknya.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Saya suka sekali dengan disain covernya. Subjektif memang, karena saya favorit warna merah, apalagi jika dikombinasikan dengan warna hitam. Bagaimanapun juga, cover ini memang terlihat menarik, menantang, berbahaya, sekaligus menyimpan aura gelap (gara-gara ada warna hitamnya), sehingga eye-catching, elegan, dan tidak main-main. Ilustrasi gambar burung magpie dan dahan-dahannya itu ternyata memang ada dijabarkan dalam satu paragraf di dalam buku. 

Picture courtesy Amazon

 

Waktu saya lihat disain cover versi lainnya yang lebih sederhana, tampak kesamaan pilihan warna pada kedua buku ini, juga kesamaan ilustrasi gambar burung. Sekilas tak jauh berbeda ya konsepnya.

 

Tokoh dan Karakter

Membahas tokoh dan karakter di buku Magpie Murders mau tak mau membuat saya harus memilahnya menjadi dua bagian. Seperti yang sudah banyak dibicarakan para reviewer lainnya, Magpie Murders memang buku "cerita di dalam cerita". Untuk cerita inti yang berkisah tentang editor Susan Ryeland, buku Magpie Murders memiliki beberapa tokoh inti yakni sang editor (Susan Ryeland), Charles (CEO Cloverleaf Books), Andreas, James, dan beberapa tokoh pendukung lainnya, termasuk si mati sendiri (Alan Conway). Semua tokoh memiliki perannya masing-masing dan memiliki karakter tersendiri. Tentu saja khas cerita kriminal selalu demikian, karakter yang seolah terbaca protagonis belum tentu sebenarnya memang baik. Jangan-jangan dia lah pembunuhnya malah 😅.

Susan Ryeland, wanita paruh baya (eh dia sudah cukup berumur loh), belum menikah, percaya diri, mandiri, cerdas, tapi rapuh dalam hubungan-hubungan sosialnya. Charles adalah figur atasan yang sukses dan pekerja keras, juga ayah serta kakek yang penyayang. Andreas, pacar Susan berkebangsaan Yunani, pria yang baik, percaya diri, peduli, stabil, dan dapat diandalkan. Sementara Alan Conway justru memiliki karakter-karakter jahat yang menyebabkan seolah-olah dia tokoh yang pantas mati dibunuh 😅.

Tokoh dan karakter bagian kedua adalah yang terlibat di dalam draft buku yang ditulis Alan Conway. Ini dirasa perlu juga dibahas dan disebutkan karena pada buku Magpie Murders, draft buku Magpie Murders (buku yang ditulis Alan juga berjudul Magpie Murders) tersebut ditulis semuanya sehingga saya sebagai pembaca jelas-jelas bisa mengikuti kisah detektif Atticus Pund karangan Alan Conway tersebut. Tokoh-tokoh intinya adalah detektif Atticus Pund, Magnus Pie, Mary Blakiston, Osborne, Chubb, Dr Redwings, dan masih banyak lagi.

Tentu saja paling menarik untuk mengamati karakter sang detektif. Atticus Pund dan asistennya Fraser mau tak mau memang mengingatkan kita pada tokoh Hercule Poirot dan Kapten Hastings - nya Agatha Christie. Meskipun demikian mereka juga memiliki perbedaan sifat yang nyata.

Antony Horowitz jelas dapat mendeskripsi tokoh yang ada dengan kalimat-kalimat yang luwes.

The familiar face of the detective inspector appeared at the front door. Fraser had telephoned him before they left and Chubb had evidently been awaiting their arrival. Plump and cheerful, with his Oliver Hardy moustache, he was dressed in an ill-fitting suit with one of his wife's latest knitting creations below, this one a particularly unfortunate mauve cardigan. He had put on weight. That was the impression he always gave. Pund had once remarked that he had the look of a man who had just finished a particularly good meal. He came bounding down the front steps, evidently pleased to see them.

Halaman 106

 

Alur dan Latar

Dengan alur yang sepenuhnya maju, cerita ini bergulir dengan cepat dari satu adegan ke adegan lainnya. Hampir tidak ada bagian yang monoton. Di sana-sini terdapat petunjuk-petunjuk yang membuat saya terjaga, atau jika tidak, selalu ada kecurigaan-kecurigaan baru hingga otak saya jadi ikut berpikir dan menebak-nebak jalan ceritanya. Memang benar bahwa awalnya saya terkecoh masalah sudut pandang cerita 😁, saya kurang waspada, sehingga saya mengira cerita Atticus Pund adalah cerita inti dari buku ini. 

Buku-buku detektif kriminal memerlukan narasi deskripsi yang baik di unsur latarnya. Bukan hanya agar pembaca dapat mengimajinasikannya dengan baik, memberikan rasa tertentu dalam benak pembaca, tetapi juga karena diperlukan untuk memperkuat sisi logika dari alur cerita penuh misterinya.

Maka, Antony Horowitz jelas memiliki kemampuan dalam hal tersebut. Deskripsi latarnya detail, saya bahkan sangat menyukai latar Pye Hall dan Dingle Dell, yakni dua lokasi dimana pembunuhan Mary Blakiston (kasus Atticus Pund) terjadi. Saya kutipkan di bawah ini sebagian dari keseluruhan paragraf-paragraf yang ada. 

Pye Hall was on the other side of Dingle Dell, fifteen minutes on foot and no more that a five minute drive. It had always been there, as long as the village itself, and although it was a mishmash of architectural styles it was certainly the grandest house in the area. It had started life as a nunnery but had been converted into a private home in the sixteenth century then knocked around in every century since. What remained was a single elongated wing with an octagonal tower - constructed much later - at the far end. Most of the windows were Elizabethan, narrow and mullioned, but there were also Georgian and Victorian additions with ivy spreading all around them as if to apologise for the indiscretion. At the back, there was a courtyard and the remains of what might have been cloisters. A separate stable block was now used as a garage.

Halaman 17

Latar tempat kejadian perkaranya juga digambarkan dengan baik, contohnya di bawah ini.

The door led directly into a large rectangular room with a staircase in front of them and two more doors, left and right. Fraser saw at once where the body of Sir Magnus had lain and he felt the usual stirring in the pit of his stomach. There was a Persian rugm gleaming darkly, still soaked with blood. The blood had spread onto the flagstones, stretching towards the fireplace, encircling the legs of one of the leather chairs that stood there. The whole room stank of it. A sword lay diagonally, with its hilt close to the stairs, its blade pointing towards the head of a deer that looked down with glass eyes, perhaps the only witness to what had occured. The rest of the armour, an empty knight, stood beside one of the ....

Halaman 111

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Ketika pertama kali membuka buku ini, ada halaman pujian di bagian awal buku yang sangat menarik perhatian saya. Membaca testimoni-testimoni tersebut membuat saya semakin penasaran dengan isi buku ini. "Tampaknya buku ini akan luar biasa," demikian pikir saya waktu itu.

 

Picture : Halaman pujian untuk Magpie Murders

 

Bagian yang ini segera membuat saya tersenyum miring karena mengena sekali di diri saya, mungkin juga di hati dan pikiran teman-teman semua. Semua pecinta buku dan yang hobi baca pasti paham betapa nikmatnya membaca buku, sambil ngemil, saat turun hujan. Tentunya bedanya saya dengan editor Susan adalah saya tidak minum wine dan tidak merokok.

A bottle of wine. A family-sized packet of Nacho Cheese Flavoured Tortilla Chips and a jar of hot salsa dip. A packet of cigarettes on the side (I know, I know). The rain hammering against the windows. And a book.

What could have been lovelier?

Halaman 1

 

Lagi-lagi saya menandai satu bagian lagi dari paragraf yang saya temukan gara-gara ini terasa benar sekali, persis seperti yang saya rasakan dan pikirkan saat membaca buku-buku bergenre detektif kriminal.

As far as I'm concerned, you can't beat a good whodunnit: the twist and turns, the clues and the red herrings and then, finally, the satisfaction of having everything explained to you in a way that makes you kick yourself because you hadn't seen it from the start.

Halaman 3

# adakalanya saya tidak menebak-nebak juga, dan menyerahkan sepenuhnya jiwa dan raga saya untuk hanya menikmati alur cerita tentunya.

 

Nah, bagian ini nih yang menipu saya untuk pertama kali. Cerita di dalam cerita. Ada keterangan penulisnya, ada halaman pujiannya, saya mengira inilah cerita inti dari buku Magpie Murders.

Picture : halaman depan Magpie Murders - Atticus Pund

 

Picture : halaman tentang penulis (Alan Conway)

 

Pada bagian cerita Atticus Pund, saya menyukai latarnya yang mengingatkan saya pada desa tempat Miss Marple (Agatha Christie) tinggal. Klasik sekali. Pedesaan khas Inggris. Membaca kisah Atticus Pund membuat saya bernostalgia pada masa-masa menyenangkan menikmati buku-buku Agatha Christie. Silakan teman-teman coba ya 😊, benar-benar mengobati rasa rindu pada jenis buku yang satu itu.

Of course, that was to be expected of community like Saxby-on-Avon. Somehow, in some unfathomable way, everyone knew everything about everyone and it had often been said that if you sneezed in the bath someone would appear with a tissue.

Halaman 9

# kedengarannya mirip sekali ya sama desanya tempat Miss Marple tinggal, yang tetangga-tetangganya pada nyadar gosip dan setiap orang tahu urusan orang lain.

 

Permainan emosi di buku-buku khas detektif di kisah Atticus Pund sangat mengena. Di bawah ini saya kutipkan bagian ketika timbul kecurigaan bahwa kematian yang terjadi bukan karena kecelakaan.

She took three eggs and lowered them gently into the pan - two for him, one for her. One of them cracked as it came into contact with the boiling water and at once she thought of Mary Blakiston with her skull split open after her fall. She couldn't avoid it. Even no she shuddered why that should be.

Halaman 15

Dr Redwing had discovered something. It was quite serious, and she'd been about to go and find Arthur to ask his advice when the housekeeper had suddenly appeared as it summoned by a malignant spirit. And so she had told her instead. Somehow, during the course of a busy day, a bottle had gone missing from the surgery. The contents, in the wrong hands, could be highly dangerous and it was clear that somebody must have taken it.

Halaman 22

# ada kecurigaan di pikiran Dr Redwings perihal kematian Mary. Ini narasi pertama yang mengindikasikan adanya kasus

 

lalu kehadiran tokoh yang mencurigakan,

And here was something rather strange. One of the mourners was already leaving even though the vicar was still speaking. Jeffrey hadn't noticed his standing at the very back of the crowd, separated from them. He was a middle-aged man dressed in a dark coat with a black hat. A fedora. Jeffrey had only glimpsed his face but thought it familiar. He had sunken cheeks and a beak-like nose. Where he had seen him before? Well, it was too late. He was already out of the main gate, making his way towards the village square.

Halaman 48

 

Kemudian pembunuhan kedua terjadi, oh detektif harus segera turun tangan! Saya merasa ingin ikut bergegas.

'Already there have been two deaths: three, if you include the child who died in the lake all those years ago. They are all connected. We must move quickly before there is a fourth.'

Halaman 150

 

Tapi kemudian sang detektif tidak dalam kondisi baik dan pingsan di tengah wawancara, membuat saya merasa gregetan karenanya. Bagaimana kasus bisa selesai kalau Atticus Pund meninggal dunia! #panik 😅

Atticus Pund's eyes were closed. His face was white. He didn't seem to be breathing at all.

Halaman 246

 

Kondisi-kondisi korban dideskripsikan oleh Antony Horowitz dengan detail dan memadai, baik itu di cerita editor Susan maupun di cerita Atticus Pund.

And there, sure enough, was Mary Blakiston, lying sprawled out on a rug, one arm stretched in front of her, partly concealing her head. From the very first sight, Dr Redwing was fairly sure that she was dead. Somehow, she had fallen down the stairs and broker her neck. She wasn't moving, of course. But it was more than that. The way the body was lying was too unnatural. It had that broken-doll look that Redwing had observed in her medicine books.

Halaman 19

 

Nah yang ini nih, paragraf ini menipu saya, membuat saya mengira dari sinilah judul buku berasal. Tapi ternyata tidak. Silakan teman-teman temukan sendiri ya mengapa buku ini diberi judul Magpie Murders. 

Something made Jeffrey look up. The stranger had passed beneath a larga elm tree that grew on the edge of the cemetery and something had moved, sitting on one of the branches. It was a magpie. And it wasnt alone. Looking a second time, Jeffrey saw that the tree was full of them. How many were there? It was difficult to see with the thick leaves obscuring them but in the end he counted seven and that put him in mind of the old nursery rhyme he had learned as a child.

One for sorrow,

Two for joy,

Three for a girl,

Four for a boy,

Five for silver,

...

Halaman 48

# rima di atas mengingatkan saya juga pada kekhasan karya Agatha Christie yang suka menggunakan syair lagu atau pantun buku-bukunya

 

Seperti yang sudah saya sebutkan tentang tokoh Atticus Pund di atas, banyak bagian dari figur ini yang mengingatkan saya pada Hercule Poirot. Selain deskripsi Atticus Pund, Antony Horowitz memberikan deskripsi tokoh-tokoh lainnya dengan baik sehingga imajinasi kita bisa bermain lepas.

The name Atticus Pund was familiar to him, of course. He was often mentioned in the newspapers - a German refugee who had managed to survive the war after spending a year in one of Hitler's concentration camps. At the time of his arrest he had been a policeman working in Berlin - or perhaps it was Vienna - and after arriving in England, he had set himself up as a private detective, helping the police on numerous occasions. He did not look like a detective. He was a small man, very neat, his hands folded in front of him. He was wearing a dark suit, a white shirt and a narrow black tie. His shoes were polished. If he had not known otherwise, the doctor might have mistaken him for an accountant, the sort who would work for a family firm ...

Halaman 54

 

Meskipun ternyata beberapa karakternya tampak berkebalikan dengan Hercule Poirot.

'I would have come a lot further to see you, Mr. Pund. I've read about you in the newspapers. They say you're the best detective who ever lived, that there's nothing you can't do.'

Atticus Pund blinked. Such flattery always made him a little comfortable. With a slightly twitchy movement, he adjusted his glasses and half-smiled.

Halaman 61

#Nah, jelas berbeda ya karakternya dengan Hercule Poirot. Atticus tampaknya lebih rendah hati ketimbang Poirot. Untuk kesamaan dan perbedaan lainnya saya tidak akan bercerita di sini. Teman-teman bisa temukan sendiri dengan membaca bukunya langsung.

 

Bagian yang ini menurut saya ide yang bagus kalau bisa diwujudkan di dunia nyata. Sebuah buku yang berisi teknis dan hal ihwal investigasi sepertinya menarik untuk disimak 😊

He had been thinking about his book, the work of a lifetime, already four hundred pages long and nowhere near complete. It had a title : The Landscape of Criminal Investigation. Fraser had typed up the most recent chapter and he drew it towards him.

Halaman 59

 

Meskipun ini cerita detektif kriminal ternyata ada saja kalimat yang bisa saya catat dan dijadikan quotes.

"It is true what we have many ways of coping with loss, and grief is never rational."

Halaman 64

"If there was one thing that life had taugh, it was the futility of making plans. Life had its own agenda.

Halaman 100

 

Wow, ini dia salah satu bagian yang saya suka, yakni ketika sang detektif sedang menjabarkan suatu kondisi yang orang lain tidak ada yang mengerti. Dia jadi terlihat cerdik sekali. Bagian-bagian seperti ini cukup banyak ada di dalam buku. Teman-teman pasti akan menikmatinya, terutama ketika kasus terpecahkan dan teka-teki terjawab satu per satu. Bagian yang saya kutipkan di bawah ini buka akhir cerita, ini adegan awal sekali saat Atticus baru menyelidiki salah satu pembunuhan yang terjadi.

'Sir Magnus knew the person who killed him,' Pund muttered.

"How can you possibly know?' Fraser asked.

'The position of the suit of armour and the layout of the room,' Pund gestured. 'See for yourself, James. The entrance is behind us. The armour and the sword are further inside the room. If the killer had come to the front door and wished to attack Sir Magnus, it would have been necessary to go round him to reach the weapon and at that moment, if the door was open, Sir Magnus could have made good his escape. However, it seems more likely that Sir Magnus was showing someone out. They come in from living room. Sir Magnus is first. His killer is behind him. As he opens the front door, he does not see that his guest had drawn out the sword. He turns, sees the guest moving towards him, perhaps pleads with him. The killer strikes. And all is as we see it.'

Halaman 112

 

Cerita di dalam cerita memang terdengar agak rumit ya. Mungkin buat sebagian pembaca akan terasa memusingkan, tapi bagi pembaca yang lain yang menyukai twist turn puzzle dan sebagainya, kemungkinan besar justru akan merasa tertarik dan tidak bosan karenanya. Bagian yang memisahkan kisah Atticus Pund dan kisah buku Magpie Murders yang sebenarnya dibedakan dengan penggunaan jenis huruf yang berbeda serta dengan gaya bahasa yang berbeda pula, ditambah penomoran halaman ganda. Model pencetakan yang berbeda seperti ini sangat membantu kita untuk memetakan mana yang merupakan cerita detektif Atticus Pund dan mana cerita editor Susan.

Picture : Jenis huruf untuk bagian cerita editor Susan

Picture : Jenis huruf untuk bagian cerita Atticus Pund

 

Jika dari tadi saya banyak bercerita tentang kesan-kesan saya terhadap kisah Atticus Pund, maka sekarang saya akan berbagi pengalaman tentang perasaan dan pikiran saya saat membaca kisah Magpie Murders yang sebenarnya, yang tokoh utamanya adalah editor tersebut.

Membaca buku Magpie Murders dari sudut pandang sang editor membuat wawasan saya bertambah tentang cara pandang dunia kepenulisan, genre kriminal khususnya. Meski ini buku fiksi, tapi saya merasa ini cukup logis, sehingga pasti versi dunia nyatanya akan sama saja. Salah satunya seperti yang saya kutipkan di bawah ini.

There was a shelf of reference books: the Shorter Oxford English Dictionary (two volumes), Roget's Thesaurus, the Oxford Dictionaryof Quotations, Brewer's Book of Phrase and Fable and encyclopaedias of chemistry, biology, criminology and law. They were lined up like soldiers. He had a complete set of Agatha Christie, about seventy paperbacks arranged, as far as I could see, in chronological order beginning with The Mysterious Affair of Styles. It was significant that they were also in his reference section. He had not read them for pleasure: he had used them.

Halaman 38

 

Lalu, ada beberapa hal baru saya ketahui karena membaca buku ini, salah satunya tentang Sophie Hannah. Selain itu banyak wawasan juga yang saya dapatkan seputar kepenulisan dan publikasi buku, contohnya di bawah ini yang menceritakan strategi-strategi penjualan dan publikasi buku 😊 #meski itu hanya ide asal.

Sophie Hannah had done a great job with Poirot but she would have to solve the murder first, something which I had signally failed to do. We could publish it as a very annoying Christmas present: something to give someone you didn't like. We could have a competition - Tell us who killed Sir Magnus Pye and win a weekend on  the Orient Express. Or we could keep looking and just hope the wretched chapters would turn up.

Halaman 63

#Ternyata ada karya Agatha Christie yang diteruskan oleh orang lain. Waktu saya cek di internet ternyata memang benar. Tapi tidak mengherankan sih. Saya teringat pada buku Millenium Series - Stieg Larsson yang seri lanjutannya diteruskan oleh David Lagercrantz yang beberapa bulan lalu saya tulis reviewnya. Bukunya dilanjutkan oleh penulis lain karena Stieg Larsson sudah meninggal dunia. Tapi untuk Sophie Hannah saya baru saja mengetahuinya. Padahal saya penggemar Agatha Christie 😅. 

 

Bagi saya yang seorang penggemar sejati Hercule Poirot, yang hidupnya dibayang-bayangi kesuksesan gaya cerita Agatha Christie, menyimak alur cerita editor Susan harus diakui tidak senikmat saat menyimak alur cerita Atticus Pund yang bergaya-gaya Hercule Poirot tersebut. Di sinilah mungkin letak kerapuhan dari buku Magpie Murders. Pesona cerita Atticus Pund terasa membayang-bayangi kisah sang editor, menciptakan gap yang tak disadari, memunculkan kemungkinan ada bagian yang akan membuat pembaca merasa bosan ketika tiba di bagian cerita Susan Ryeland. Namun bagaimanapun juga, kepiawaian Antony Horowitz bukanlah hal yang perlu diragukan. Ending ditutup dengan baik. Logika tanpa cela. Akhir yang manis. Saya secara pribadi merasa puas dari buku ini dan merasa wajib merekomendasikannya kepada semua pembaca penggemar genre detektif kriminal yang ada 😊.

 

Siapa Anthony Horowitz

Anthony Horowitz adalah seorang novelis dan penulis naskah asal Inggris spesialis genre misteri dan suspense. Banyak sekali karya-karya yang telah ia hasilkan. Mulai dari young adult, anak-anak, hingga dewasa, dari buku-buku, hingga script untuk acara televisi. Buku pertamanya yang berjudul The Sinister Secret of Frederick K Bower dipublikasikan pada tahun 1979, dan ia terus menulis hingga saat ini. 

 

Pada tahun 1988, bukunya yang berjudul Groosham Grange memenangkan penghargaan Lancashire Children's Book of the Year. Buku Diamond Brothers series karangannya juga merupakan seri yang sukses hingga difilmkan pada tahun 1898. Kepopuleran Antony Horowitz makin bersinar setelah ia mengeluarkan seri novel Alex Rider. Tahun 2011, Antony Horowitz resmi menjadi penulis baru untuk novel-novel lanjutan Sherlock Holmes, yang kemudian berlanjut menjadi penulis untuk novel James Bond.

Magpie Murders mendapatkan rating 4,1 di Amazon dan 3,97 di Goodreads.

Berikut beberapa novel yang juga dikarang oleh Antony Horowitz :

  • William S. (1999)
  • Mindgame (2001)
  • The Killing Joke (2004)
  • The House of Silk (2011)
  • Moriarty (2014)
  • Trigger Mortis (2015)
  • Magpie Murders (2016)
  • The Word is Murder (2017)

 

Rekomendasi

Novel ini saya rekomendasikan kepada pembaca dewasa yang menyukai genre detektif kriminal, misteri pembunuhan, yang beralur cerita maju tapi tidak sesederhana yang terlihat, yang menyukai teka-teki dan berharap pada penjelasan yang logis dan menyeluruh atas tiap pertanyaan yang muncul, yang menyukai cerita detektif klasik dan non detektif pada saat yang bersamaan, dengan kualitas bahasa yang baik untuk menunjang kenikmatan membaca, yang menyukai sedikit kisah cinta sebagai bumbu dari cerita, dan yang tidak keberatan menemukan kejutan cerita di dalam cerita. Khusus penggemar karya-karya Agatha Christie, saya rekomendasikan buku ini untuk dibaca, agar bernostalgia, dan menderita karena ternyata Atticus Pund hanyalah tokoh yang lewat selintas saja 😅.

 

Catatan : Adegan kekerasan, topik pembunuhan, detail kondisi korban, lokasi tempat kejadian, dll. Hanya untuk pembaca dewasa.

 

My Rating : 5/5 

 

 

0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh

Sponsored Post, Job Review, Special Request, Postingan Lomba

Review Buku The Productivity Project - C…

01-04-2018 Hits:440 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : The Productivity Project – Accomplishing More by Managing Your Time, Attention, and Energy Penulis : Chris Bailey Jenis Buku : Non Fiksi – Self Improvement Penerbit : Crown Business Tahun Terbit : Agustus 2017 Jumlah...

Read more

Review Buku The Silent Corner - Dean Koo…

30-03-2018 Hits:521 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : The Silent Corner Penulis : Dean Koontz Jenis Buku : Novel Suspense Penerbit : Random House Tahun Terbit : Oktober 2017 Jumlah Halaman :  576 halaman Harga : Rp. 143.000 ISBN : 978-0-345-54679-1 Mass Market Paperbound Edisi Bahasa Inggris New York...

Read more

Review Buku Magnus Chase and The Sword o…

29-03-2018 Hits:588 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : Magnus Chase and The God of Asgard - The Sword of Summer Penulis : Rick Riordan Jenis Buku : Novel Fantasy Penerbit : Disney Book Group Tahun Terbit : 2015 Jumlah Halaman :  499 halaman Dimensi Buku...

Read more

Review Buku

Review Buku Into The Water - Paula Hawki…

06-04-2018 Hits:219 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Into The Water Penulis : Paula Hawkins Jenis Buku : Novel Suspense Penerbit : Noura Books Publishing Tahun Terbit : September 2017 Jumlah Halaman :  480 halaman Harga : Rp. 89.000 ISBN : 9786023853366 Edisi Terjemahan Penulis Terlaris #1 New...

Read more

Review Buku Gentayangan - Intan Paramadh…

29-03-2018 Hits:631 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Gentayangan Penulis : Intan Paramadhita Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Oktober 2017 Jumlah Halaman :  512 halaman Harga : Rp. 125.000 ISBN : 978-602-03-7772-8 Edisi Soft Cover Karya sastra bidang prosa terbaik pilihan...

Read more

Review Buku The Girl Who Drank the Moon …

20-03-2018 Hits:824 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : The Girl Who Drank The Moon Penulis : Kelly Barnhill  Jenis Buku : Novel Fantasi Penerbit : Bhuana Ilmu Populer Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  420 halaman Harga : Rp. 115.000 ISBN : 978-602-394-731-7 Edisi...

Read more

Cerita Dipidiff

Bubur Kacang Ijo untuk Moonlight

10-03-2018 Hits:1229 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Usia Moonlight sudah 12 bulan sekarang. Sebagai emak-emak pada umumnya, hati saya pun gembira sekali melihat perkembangan anak. Moonlight sudah cukup lancar jalannya, dia sehat, aktif bermain, makannya bagus, dan...

Read more

Batik Kepret Motif Bunga dan Lingkaran

08-03-2018 Hits:1414 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Sudah hampir satu bulan kayaknya sejak terakhir membatik. Kok rindu ya 😅. Kain mori sudah ready, malam dan pewarna juga masih cukup untuk satu batik lagi. Jadi kayaknya kondisi sudah...

Read more

Membuat Shibori

27-02-2018 Hits:1868 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Me time ya shibori time 😁🙌, pasti begitu kata para pecinta shibori. Teman-teman sudah pernah dengarkah tentang shibori? Jujur saja usia saya tahun ini 37, dan saya baru saja mendengar...

Read more