Translate - Language

id Indonesian zh-CN Chinese (Simplified) nl Dutch en English tl Filipino fr French de German it Italian ja Japanese ko Korean ms Malay th Thai

Yuk Yoga dan ngeGym biar "Kencang"

Published: Friday, 02 February 2018 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

 

Upppsss... apanya ya yang kencang ya? Hahaha. Yah apalagi kalo bukan otot, kulit, lingkar perut, lingkar pinggul, dan bagian-bagian lain yang rentan menggelambir. Maklum lah, habis lahiran wanita pada umumnya memang begitu itu, banyak lipatan dan gumpalan yang ga jelas bentuk dan fungsinya. Sebelum lahiran pun kalau malas olahraga kadang bodi bentuknya begitu juga. Belum lagi soal daya tahan tubuh yang menurun. Intinya sih, ga penting berat badan mau berapa kilo, asal kencang dan sehat kan bagus-bagus aja menurut saya. Entah menurut Viky Burki #kayak yang kenal mba Viky aja 😅

 

Nah, gara-gara pemikiran itulah makanya akhirnya saya memutuskan untuk ikut yoga dan nge-gym lagi. Eh kalo nge-gym baru pertama kali deng 😅. Yoga sih sudah pernah. Dulu itu jaman saya rutin yoga harus diakui dalam waktu sebulan badan saya terasa bugar banget. Belum lagi bodi yang ngebentuk asyik, ramping dan kencang. Kalo sekarang sih memang masih langsing cuma bentuknya cenderung mirip botol minyak rambut orang aring. Bergerigi di pinggir-pinggirnya 😂.

 

Makanya, begitu tau ada tempat yoga di Jatos, saya girang bukan kepalang. "Yes, inilah saatnya," pikir saya. Apalagi setelah tanya-tanya, di Global Gym ini ada sesi trial nya. Ideal banget kan ya jika kita bisa nyoba gratis dulu sebelum memutuskan untuk join in. Jadi member di Global Gym sendiri menurut saya ga mahal amat. Sebulan bayar 300 ribu dan bisa ikut kelas apapun yang ada selama periode itu. Ga cuma kelas yoga, ada salsa, cardio, dan yang pasti fitness pake alat-alat khusus itu. Saya sih sebenarnya ga tertarik untuk gunakan berbagai mesin di gym. Udah mentok banget di treadmill aja 😁. Jadi sebenarnya saya ga nge-gym ya, lebih tepatnya saya numpang treadmill-an di sana 😅.

 

Selasa siang saya berangkat ke Global Gym untuk trial. Rada telat setengah jam waktu tiba di sana, gara-gara saya ke dokter gigi dulu dan sempat nongkrong di rumah sakit tanpa hasil. Yes, dokter giginya ternyata bukan dokter yang biasa ngerawat gigi saya. Untung ternyata meski telat, peserta boleh saja masuk di tengah sesi yoga. Waktu itu instrukturnya ibu Inderayani.

 

Tanpa bermaksud ngomong porno, yang pertama kali saya catat dari ibu instruktur justru bodinya. Duh itu yang namanya badan asyik banget dilihatnya. Beliau terhitung berbodi berisi, tapi pinggangnya ramping, bokong padat, dan pas lihat wajahnya, eh ternyata sudah berusia lumayan senior pastinya. Artinya yoga memang bisa bikin badan kita bugar dan kencang. Lalu, arti keduanya adalah, kulit wajah tetap bagian yang memang butuh perawatan yang berbeda. Kerut dan elastisitasnya cenderung berbanding lurus dengan pertambahan umur meski digimanain juga.

 

Picture : bersama instruktur yoga

 

Teman-teman sudah pernah ikut yoga ga? Buat yang sudah, ya begitulah rasanya. Badan ditekuk, kadang ditarik, napas tahan lalu hembus (inhale exhale), dan fokus pada pose yang sedang dilatih. Tantangan terbesar buat saya di yoga sudah pasti gimana caranya bisa mencapai pose-pose yoga yang benar seperti yang dicontohkan instruktur. Lha, ya pasti gagal. Kan ini baru pertama kali lagi sejak dulu itu 😅. Kalau dipaksa nanti malah cedera. Akhirnya banyak pose yang dilakukan ala kadarnya. Sebagian berhasil karena tubuh pada dasarnya sudah pernah dilatih kelenturannya, sebagian lagi nyangkut di tengah tahapan berikut napas yang ngos ngosan.

 

Tapi saya muji banget ke ibu Inderayani karena beliau bisa bawakan kelas yoganya dengan santai, humor, dan terus memotivasi peserta. Jadi kita juga merasa nyaman dan semangat untuk terus mengikuti gerakan beliau hingga selesai. Kalau ada yang merasa mual dan pusing, itu wajar, karena kata beliau, mual dan pusing pertanda tubuh banyak kolesterol atau penyakit lainnya, dan yoga sedang memproses pembuangan zat-zat tersebut. Kalau kata saya sih mual pusing bisa juga karena masuk angin, telat makan, hamil, atau kayak saya yang mulai yoga di tengah-tengah sesi tanpa pemanasan yang cukup 😂. Situ pusing? Ya iyalah, ngambil pose jungkir badan sampe ngebentuk setengah bolanya ga pake matras dan ga pemanasan 😁. Tapi salah siapa ya datangnya telat. Udah syukur dibolehin ikut kelas dan ga disetrap.

 

Pose favorit tentu namaste, yang berdiri atau duduk sempurna sambil nangkupin tangan di dada ala Budha gitu. Mudah sih soalnya... hihihi. Atau pose yang lebih favorit lagi pas di akhir. Tidur terlentang dan mengatur nafas sedemikian rupa hingga tenang dan mengalir. Ok fix, efeknya ngantuk terus ketiduran 😅.

 

Ruang kelas yoga di Global Gym agak remang-remang. Memang di setting begitu sih kayaknya. Rasanya jadi adem begitu masuk ke dalamnya. Di bagian depan ada panggung mini yang tingginya ga seberapa, cukup supaya kita bisa lihat instrukturnya dengan jelas. Daya tampung sekitar 50 orang kayaknya muat. Cuma matras yoganya terbatas, jadi harus gesit datang duluan kalau mau kebagian. Atau bawa matras sendiri biar aman. Seluruh dinding ruangan dilapisi kaca. Yoga sebenarnya bisa dilakukan di rumah juga. Tapi kayaknya beda aja kalau latihan yoga di ruangan khusus seperti ini. Setidaknya kaca-kaca besar yang ada bisa membantu kita untuk melihat sejauh apa tahapan pose yoga yang sedang kita latih.

Oh iya, di akhir sesi, pas lagi foto-foto, saya ketemu mba Dita, tetangga dekat rumah saya. Duh senengnya ketemu orang yang dikenal di tempat baru macam begini. Langsung saya peluk mesra 😁. Saya celingukan ke peserta lainnya, siapa tau ada yang kenal lagi. Tapi kayaknya ngga ada deh. Untuk menambah teman, saya akhirnya berkenalan dengan sesama peserta lainnya. Ga ada waktu ngobrol sih sebenarnya. Begitu beres yoga, trus foto, lalu pada pulang. Buk ibuk banyak kesibukan kan ya.

 

Picture : bersama teman-teman yoga 

 

Di sini juga disediakan loker dan kamar mandi yang merangkap tempat ganti baju. Ruangannya terpisah di bagian paling belakang. Semua ruangan yang ada bersih dan cukup nyaman. Tapi kayaknya loker pria dan wanita lokasinya dicampur deh. Entahlah dengan tempat mandinya. Saya tidak begitu memperhatikan detail.

 

Dari latihan yoga saya ini ada beberapa hal yang jadi catatan saya. Mungkin bisa jadi tips juga buat kita bersama ya. Ini dia poin-poinnya.

  • Ikuti yoga dari awal sesi. Hindari mulai di pertengahan tanpa pemanasan. Hindari cedera.
  • Jauh lebih baik gunakan matras untuk menghindari cedera dan pastinya lebih nyaman beryoga di atas matras.
  • Bawa matras sendiri biar aman, siapa tau rebutan matras lawan emak berbodi besar trus kalah. Kan sedih.
  • Tidak memaksakan pose yoga jika tidak mampu. Hindari cedera. Bila terasa pusing dan mual lebih baik istirahat sejenak.
  • Pakai pakaian yang nyaman, menyerap keringat, dan ..... tetap trendi #apasih.
  • Pastikan semua barang disimpan di loker kecuali hape kalau memang butuh koneksi kontinyu. Kunci loker jangan diletakkan di sembarang tempat. Nanti lupa loh.
  • Boleh bawa air minum ke dalam ruang kelas. Jadi siapkan bekal air yang cukup. Jaga tubuh jangan sampe dehidrasi. Sebab jajan minuman di tengah sesi itu tidak memungkinkan.
  • Tak usah riweuh repot rempong selfie di sesi yoga. Nanti juga ada yang motoin dan ada sesi foto bersama. Foto-fotonya bisa kita minta filenya. Problem solved.

 

Ruang gym terang benderang. Treadmill sengaja diletakkan di paling sisi dan menghadap keluar jendela kaca yang berpemandangan pohon dan area mall Jatos. Baru kali ini saya pakai treadmill. Ternyata begitu ya rasanya, seperti lari di eskalator yang arahnya kebalik 😂. Tapi asyik sih, ga lama saya langsung menikmatinya. Pencet-pencet angka untuk naikin kecepatan dan sudut kemiringin. Rada belagu gitu, lupa kalau pemula 😅. Soalnya pas nengok ke kanan ada wanita muda yang lihai banget lari di treadmillnya, pake headset, dan lari cukup cepat serta lama. Dan di sebelah kiri ada pria muda yang wajahnya terawat ala pria metroseksual, yang juga jalan santai di treadmillnya sambil sibuk pencet-pencet hapenya.

 

Picture : suasana ruangan gym

 

Semua orang kayaknya natural banget di atas treadmill. Like they were born to be there. Yang ga luwes ya cuma saya pastinya. Dua puluh menit pertama langsung stop dan duduk di sisi sambil puyeng. Nyerah? Oh tidak. Minum sebentar trus lari lagi. Mososih saya kalah sama wanita muda dan pria metroseksual. #narik napas putus putus # Gustiiiii... kenapa hidup gini gini amat , mestinya mereka angkat beban sana, jangan di sebelah saya.. bikin panas aja 😭😅.

 

Picture : demikianlah adanya

 

Akhirnya wanita di samping kanan pun usai berlari. Ia pindah bersepeda statis di ujung ruangan. Dan pria metroseksual tampak limbung dengan hapenya, kemudian memutuskan berhenti lalu duduk di sudut nun jauh di sana. Dengan penuh kelegaan saya tekan tombol STOP pada mesin treadmill. Fffiiuuhhh... demi apa coba saya berlari kesetanan seperti dikejar mba Viky Burki begini. Ya demi harga diri lah ya, harga diri yang ga tinggi-tinggi amat sebenarnya. Lebih cenderung harga diri yang ga logis justru, seperti halnya dulu waktu esde saya menang lomba makan kerupuk lawan cewek yang bandonya bermotif totol totol lebih banyak dari bando yang saya pake. Ga banget kalo saya sampe kalah sama dia. Please deh, itu kan ga penting padahal kan ya. # soal jumlah totol di bando maksud saya.

 

Nah, beres deh olahraga hari ini. Yoga selesai, treadmill-an juga beres. What next? Pasti teman-teman pada menduga saya trus rehat lalu maem dan minum yang banyak ya. Ah tidak, kan saya masih harus ke dokter gigi tadi yang belum usai urusannya. Ah endingnya ga happy ya 😅. 

 

Tapi memang itu yang saya lakukan. Dengan badan berpeluh dan terasa lelah, saya kembali menuju rumah sakit. Saya antri dengan sabar, duduk pun dengan tawakal, pasrah ketika bor gigi yang berbunyi ngiung-ngiung itu masuk ke rongga mulut selagi saya menganga lebar-lebar. Perawatan gigi itu something banget lah. Tapi hasilnya sepadan. Itu aja sih yang penting. Sebab hidup memang begitu, harus tabah, harus kuat, harus siap menghadapi situasi yang ga selamanya enak, nyaman, dan indah. Yang penting kita pastikan semua itu berujung pada hal-hal yang baik. Awal yoga bikin badan remuk, treadmill-an bikin napas ngos ngosan dan kepala pusing, perawatan gigi rasanya ngilu, tapi kalau nanti badan saya jadi bugar, sehat, ramping dan kencang, ... Nah, itu barulah berujung "hal-hal yang baik" namanya. Sepadan dong ya.

Sekian cerita saya kali ini, rada singkat padat dan akurat 😁. Terimakasih buat yang sudah menyimak 😘.

Teman-teman olahraganya apa? Yoga juga kah?

 

0
0
0
s2sdefault

Suatu Siang di Wendy's bersama Sahabat

Published: Monday, 29 January 2018 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

 

Saya masih teringat pada satu lirik lagu yang nge-hits sekali di jamannya, yakni "persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu." Lirik ini banyak disetujui orang-orang karena kebenarannya, dan saya akui juga memang demikian lah adanya. Salah satu episode persahabatan saya yang positif yang selalu bisa mengubah ulat dalam diri saya menjadi kupu-kupu, meski entah kupu-kupu jenis apa, adalah persahabatan saya dengan Mama Ori. Wanita paruh baya yang awet muda, cerdas, berwawasan, tangguh, supermom sejati, dan berpengalaman dalam dunia emak-emak ini banyak memberikan pengaruh dalam cara saya memandang kehidupan.

 

Maka, pertemuan dengan beliau memang selalu saya nanti-nantikan. Apalagi kami memang sudah agak lama tidak bertemu, mungkin mencapai satu tahun lamanya. Iya dong segitu itu terasa lama, mestinya saya paling tidak bertemu dengannya sebulan sekali soalnya, makin sering makin baik :D. Untung sekali hari Selasa lalu jadwal kami sama-sama klop, bisa diatur, dan fleksibel. Janjian kali ini tampaknya akan berhasil, tidak seperti janji-janji bertemu yang dulu-dulu itu, yang selalu berakhir dengan kegagalan.

 

Lokasi pertemuan kami sepakati di McD Cibiru. Sebuah lokasi yang saya anggap cukup strategis dan berada di tengah-tengah jarak tempuh rumah kami. Jadi adil kan ya. Meski usulan saya untuk bertemu di sana sempat dikecam beliau. Tapi dengan alasan saya "ngidam" ayam McD, akhirnya lokasi pun disetujui. For your infomation, McD Cibiru tampaknya tempat ngongkrong-nongkrong para mahasiswa dan remaja. Muka kami berdua jelas tampak kurang ngepas begitu disandingkan dengan kawula muda yang sedang nongkrong di sana. Mungkin karena itulah mama Ori memilih duduk di kursi barisan tersudut yang jauh dari pandangan mata customer lainnya. # asumsi pribadi 😅.

 

Di sini saya makan ayam dan nasi dengan lahap, biar tampak.meyakinkan ngidamnya. Kami ngobrol ngalor ngidul, mulai dari topik rumah tangga (seputar anak) hingga gosip positif orang-orang yang kami kenal. Saya paling ingat, di sinilah kami menggosipkan salah satu kenalan kami yang jago sekali marketingnya. Beliau "pedagang" properti yang sukses. Seorang ibu pekerja keras, yang bahasa dan gayanya berubah-ubah mengikuti gaya dan bahasa lawan bicara prospekannya. Sungguh hebat ibu tersebut dalam melakukan trik dagangnya. Kami menggosipkan kelihaian beliau ini dengan air liur yang menetes-netes sanking inginnya kami bisa seperti itu. Sslllrrrrppp... aakkhhhh. Hebat kali kau buk!.

 

Karena list topik gosip masih panjang dan tampaknya kami sudah kelamaan berada di sana, maka diputuskanlah pindah lokasi. But where? Pikir punya pikir, renung dan merenung, akhirnya kami ke Transmart Cipadung. Kenapa ke sana? Alasannya klise, saya pengen duduk depan kolam ikan yang ada di Tansmart. Kasihan, di rumah ga ada yang begituan, paling jauh yang ada cuma pemandangan tanaman cikur yang tumbuh subur di pekarangan depan.

 

Setibanya di sana, mushalla adalah lokasi pertama yang kami tuju. Saya baru tahu kalau transmart punya mushalla yang terhitung bersih dan nyaman. "Nah begini dong, mushallanya ga di basement," komentar saya begitu lihat mushalla di sana. Mukena yang ada di sana juga cukup banyak dan bersih kondisinya. Nice banget lah pokoknya.

 

Selepas shalat mama Ori mengarahkan saya untuk makan di Wendy's. Pilihan lainnya ada Coffee Bean di sana. Tapi saya sudah pernah ngopi di Coffee Bean itu. Jadi Wendy's tampaknya ide yg paling bagus. Tak perlu antri, Wendy's sepi hari itu (Selasa siang). Kami sempat menjadi satu-satunya costumer yang memilih menu. Terus terang ini kali pertama saya makan di Wendy's. Idih sedih ya, hari gini baru tau Wendy's. Nah, salahkan McD dan Kfc yang rajin buka cabang di sepanjang Cibiru hingga Jatinangor. Jadi pikiran saya sudah terhipnotis sama merek mereka dari dulu. Semoga ada owner atau manajer Wendy's yang baca tulisan ini ya. "Please, Pak, Bu, buka cabang dong di area segitiga Cibiru, Cielunyi, Jatinangor. Dijamin bisnisnya ramai. Ini lokasi terstrategis di Kabupaten Bandung loh." # lagi-lagi asumsi pribadi 😅

 

Berhubung belum pernah makan sekalipun di Wendy's, proses memesan menu bisa jadi proses tersulit, bagaikan membeli kucing dalam karung istilahnya, rada tebak-tebakan menu itu enak atau tidak. Untung selama kegiatan ini mama Ori setia mendampingi, memberikan advice, overview, dan review-review menu-menu yang ada. Kami sempat membahas menu baked potato cukup lama dan mendalam. Hingga akhirnya saya begitu terkesan dengan segala ulasan tentang baked potato yang super lejat tiada duanya itu, dan kemudian memutuskan memesan spageti chili sauce yang ga dibahas sama sekali. Yah, you know lah... wanitah makhluk yang tak dapat ditebak kan yahhh.

 

Maka duduklah kami di kursi-kursi yang menghadap kolam ikan hias itu. Wow, suasana begitu santai dan memabukkan. Mabuk kebahagiaan. Yang paling berbahaya dari situasi model begini cuma dua. Satu, sesi ngobrol makin hangat hingga enggan pulang. Dua, karena lama nongkrong akhirnya pesan menu berulang. Pulang-pulang isi dompet kosong 😅. Spageti chili yang saya pesan ternyata enak, saya juga mencicipi menu wafel kejunya Mama Ori yang ternyata ga kalah enaknya. Gosipnya sih baked potato primadona menu di Wendy's. Yah next time lah ke sini lagi dan nyoba menu lainnya.

 

 

Sekilas review saya untuk resto fastfood Wendy's di Cipadung saya ringkas sebagai berikut :

  1. Makanan enak. Menu cukup variatif, bahkan ada beberapa menu andalan yang tidak ditemukan di resto fastfoid lainnya.
  2. Harga makanan standar resto fastfood. Tidak mahal.
  3. Suasana nyaman. Bisa pilih duduk di dalam kalau ingin tempat yang adem dan tidak berangin, atau duduk di luar menghadap kolam ikan. Di luar mungkin akan sedikit panas atau berangin, tergantung cuaca, tapi tentu terasa lebih segar.
  4. Ada musik tapi suaranya tidak begitu keras. Rasanya itu terdengar dari mall bukan dari Wendys nya
  5. Staff ramah, pelayanan cukup cepat.
  6. Saya tidak tahu soal wifinya. Tidak sempat bertanya karena sudah asyik ngobrol dengan Mama Ori.

 

Sambil menikmati makanan obrolan kami berlanjut kembali pada topik kehidupan pribadi saya. Dilema khas emak-emak ya salah satunya kegalauan tentang kembali ngantor atau fokus di rumah mengurus anak. Di satu sisi saya butuh membuat otak saya bekerja supaya tidak jenuh dan melantur ga jelas arah. Pendapatan dari ngantor juga bisa ditabung untuk kebutuhan si kecil dan lainnya. Tapi saya tidak nyaman meninggalkan anak dari pagi hingga sore hari, apalagi usianya masib sangat kecil. Dari mama Ori saya banyak mendapat masukan tentang hal ini. Well yah, saya anggap periode kerja kantoran saya memang sudah usai sih sebenarnya, fokus saya memang pada pertumbuhan anak untuk saat ini dan ke depannya. Dan soal otak tadi, jelas saya pilih aktivitas yang lebih fleksibel waktunya. Teman-teman mungkin ada juga yang mengalami periode kegalauan seperti yang saya rasakan ini ya. 

 

 

Tentu saja mumpung lagi bertemu kami juga bahas buku. Kami sama-sama hobi baca buku. Dan mumpung sedang bersama mama Ori juga, saya jadi minta tolong pada beliau untuk foto saya saat sedang pose membaca. Sebenarnya sih waktu itu memang saya ga sedang baca bukunya di sana, tapi saya seringkali baca buku di cafe atau tempat-tempat makan yang nyaman sambil ngemil dan ngopi. Tak lupa kami menggaet staff Wendy'syang baik dan ramah untuk jadi tim pengambilan foto dadakan ini, agar foto berdua kami tampak natural dan ga wefie mode on 😂.

 

 

Hari sudah petang, sudah waktunya pulang. Ini hari yang menyenangkan buat saya. Bersama sahabat memang selalu demikian ya. Beruntung sekali jika kita memiliiki banyak sahabat yang memberikan pengaruh positif dalam hidup kita. Saya pikir ini salah satu hal yang ga bisa dibeli dengan uang, yakni sahabat.

Dari pertemuan dengan mama Ori saya jadi bisa menyimpulkan beberapa hal sederhana tentang persahabatan.

  1. Menjalin persahabatan yang positif dengan seseorang membuat hidup kita lebih bahagia dan menyehatkan pikiran kita
  2. Persahabatan tidak harus satu range usia. Usia saya dan mama Ori tidak sama, mama Ori agak jauh usianya di atas saya
  3. Bertemu dengan sahabat adalah momen yang tepat untuk membahas ide dan mencari solusi dari masalah-masalah tertentu.
  4. Bersahabatlah dengan orang-orang yang bisa menularkan energi positif dalam kehidupan kita.

 

Teman-teman juga punya sahabat kah seperti saya? Pasti punya ya. Semoga persahabatannya langgeng dan bisa membahagiakan satu sama lain. Pertemuan saya dengan mama Ori berakhir di sini. Saya sangat berharap bisa berjumpa lagi dengan beliau dalam waktu dekat. Mudah-mudahan nanti ada waktu yang klop lagi bagi kami untuk bertemu. Kali lain mau kemana ya kami? Ke Wendy's lagi kah? Atau teman-teman ada ide untuk tempat kami bisa duduk ngobrol sambil makan enak? 😊

 

0
0
0
s2sdefault

J.CO Jatinangor Town Square : Duduk Menulis Ditemani Secangkir Teh Hot Chamomile

Published: Wednesday, 11 October 2017 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

 

Book blogger juga manusia, yang terkadang tidak ada ide menulis, hilang fokus, pikiran lelah, serta kurang nafsu makan (padahal tadi sarapan sebakul 😅). Teman-teman pernah merasakan keadaan yang seperti itu tidak? Saya pernah, hari ini malah. Makanya dalam rangka menyegarkan pikiran kembali, biasanya ada dua cara yang saya lakukan, pergi memanah, atau nongkrong di cafe-cafe berfasilitas wifi. Biasalah, saya anggota wifi hunter club 😅😂, yang order secangkir teh atau kopi, tapi duduk di cafenya berjam-jam. Yuk menghela nafas sama-sama #helaaaanafaaaassss.

 

Jadi pergilah saya tadi ke JCO di Jatinangor Town Square. Saya sudah pernah ke sana sebelumnya, bahkan cukup sering berkunjung ke sana. Cafe JCO di Jatos memang salah satu tempat favorit saya kalau sedang butuh inspirasi menulis atau jenuh bekerja dari rumah. Saya bahkan sudah pernah membuat tulisan tentang JCO di Jatos tahun lalu.

 

Baca juga : "JCo di Jatos"

 

Cukup lama saya berdiri di depan etalase donat itu pastinya, karena staff JCO yang bertugas mulai gelisah dan akhirnya memberanikan diri menawarkan berbagai menu pada saya. "Donatnya kak, atau kopinya mungkin". "Teh nya juga bisa." Dan semua tawaran itu saya sambut gembira dan antusias, meski tentu saja akhirnya menu pilihan tetap berakhir pada secangkir teh atau kopi polos. # sedih 😁.

 

Picture : etalase dan papan menu yang sering membuat galau

 

Hari ini pilihan saya jatuh pada teh chamomille buatan pabrik yang ada di London. Darimana coba saya tahu? Dari staff yang melayani saya langsung. Karena saya tampak begitu galau dan menyedihkan, Anggi, nama staff JCo itu, langsung menunjukkan tiga kotak teh di depan saya untuk saya pilih. Jenis chamomile, green tea, dan yang satu lagi saya lupa (efek usia bukan ya?). Di kotak teh chamomile ada tulisan London, juga teh satu lagi yang saya tidak ingat namanya itu, sedangkan green tea bertuliskan Japan. Hmmm... saya mau ke London atau Jepang ya (?) Imajinasi saya terbang terlalu jauh seolah sedang memilih tiket liburan 😅. Oke, karena antrian di belakang tampak mulai gelisah, akhirnya setelah hitung kancing terpilihlah teh chamomile sebagai pemenangnya. Yeah!

 

Picture : menu pilihan hari ini

 

Begitu hendak mengambil order, saya melihat ada sebuah donat yang duduk manis bersama teh yang saya pesan. Wow, salah order mungkin ya, pikir saya. Tapi ternyata itu memang order saya. Rupanya tiap pembelian minuman apapun di sini akan mendapatkan free donat polosnya JCO. Lumayan sekali ya. Waktu dulu saat saya ke JCO juga begitu sih, cuma saya lupa lagi (ini efek usia bukan sih?).

 

Pilih memilih lokasi duduk di dalam cafe JCO sebenarnya gampang, soalnya semua tempat tampak nyaman. Jenis kursi dan meja yang tersedia memang berbeda-beda. Ada sofa empuk yang cocok untuk pengunjung yang ingin makan dan ngobrol dengan tenang. Lalu ada kursi beserta meja tinggi di tengah ruangan berfasilitas stop kontak yang banyak, ini pasti untuk wifi hunter seperti saya. Ada juga beberapa kursi yang berada agak di sudut dengan tingkat keremangan yang lumayan, itu untuk pasangan barangkali ya. Biar suasananya lebih romantis mungkin. Tapi saya akhirnya memilih kursi yang menghadap ke luar cafe yang berpemandangan suasana di dalam mall Jatos. Pertimbangannya diambil berdasarkan adanya stop kontak di tiap kursi tapi jarak antar satu kursi dengan yang lainnya tidak terlalu berdekatan. Pandangan mata saya juga tidak terhalang orang lain, jika jenuh saya bisa memandang keluar kaca dan menikmati suasana lalu lalang orang di dalam mall.

 

Picture : kursi pilihan saya hari ini

Picture : meja dengan stop kontak yang banyak jumlahnya 😘

Picture : kursi di sudut sana juga nyaman dan penerangannya redup

Picture : buat yang suka duduk dekat jendela kaca dan disinari cahaya matahari

 

Menu

Rasanya hampir semua tahu menu JCO ya. Tapi saya ceritakan sedikit menu-menu JCO yang ada di Jatos, hanya sebagai informasi saja. Di JCO ini ada varian donat dan ada juga berbagai jenis kue. Kunjungan sebelumnya saya memesan Red Velvet, rasanya aduhai sekali, nikmat. Di kunjungan saya hari ini saya makan donat polos. Lalu ada juga varian kopi dan teh. untuk lengkapnya teman-teman bisa lihat-lihat sendiri di website mereka jcodonuts.com.

 

Harga

Teh chamomile yang saya order harganya Rp.19.000. Mungkin lidah saya yang keseleo, kebiasaan minum teh tradisional di rumah, jadi rasa teh impor London ini agak aneh di lidah (cuma habis seperempat cup jadinya). Untuk kategori harga, JCO termasuk sedang saja, masih di bawah harga-harga di Coffee Bean. Sebenarnya harga sangat relatif. Untuk ukuran cafe yang bagus, terstandar, bermerek, serta berada di dalam mall, harga-harga yang ditawarkan JCO terhitung normal.

 

Wifi

Inilah yang paling saya sukai dari JCO di Jatos. Wifi nya lancar dan stop kontaknya banyak. Cukup koneksikan perangkat laptop kita ke This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it., maka internet otomatis dapat kita nikmati. Saya sudah mencoba ini dan berhasil. Kecepatannya juga bagus. Saya bisa menulis, dan mengunggah foto-foto dengan lancar ke dalam blog saya. Di sini cukup banyak orang-orang muda yang menikmati wifi dan secangkir minuman (ditambah free donat) seperti saya. Mereka tampak asyik di depan laptopnya masing-masing. Saya menduga mereka mahasiswa yang kuliah di kampus yang lokasinya berdekatan dengan mall Jatos. Mungkin UNPAD, IPDN, IKOPIN, UNWIM, atau ITB. Staff JCO sepertinya juga sudah maklum dengan pengunjung seperti kami. Mereka tetap melayani dengan ramah meski kami duduk berjam-jam di sana.

 

Ada kalanya cafe ini sepi dan kadang ada kalanya juga ramai sekali. Biasanya weekend cenderung lebih penuh dengan pengunjung. Kalau teman-teman memiliki waktu yang lebih luang dan ingin menulis atau membaca di sana, saya sarankan untuk datang di hari kerja saja, karena cenderung sedikit pengunjung sehingga terasa lebih nyaman.

 

Musik

Ada musik tidak ya di dalam cafe (?), saya tidak begitu mengamati. Memang terdengar lagu-lagu, tapi saya cenderung mengasumsikan itu berasal dari mall bukan dari cafe JCO. Tapi pada intinya, musik yang terdengar cukup enak dan tidak mengganggu konsentrasi kita.

 

Menu Baru

Hampir saja saya lupa cerita bahwa di kedatangan saya kali ini di JCO rupanya sedang ada menu baru ya. Teman-teman mungkin sudah tahu, nama menunya AFFOGATO. Saya ditawari tadi saat sedang memilih menu. Sayang sekali affogato itu berupa minuman yang mengandung es. Saya sedang tidak bisa minum minuman dingin, khawatir terkena flu dan radang tenggorokan. Tapi menu minuman baru ini tampaknya lejat, sebab ada toping ice cream di atasnya.

 

Picture : menu baru "affogato"

 

How to Get Here

Picture : Gedung mall Jatos, tampak JCO berada di bagian depan lobby atas mall

 

Mudah sekali untuk menemukan lokasi JCO. Silakan teman-teman mencari Jatinangor Town Square di google map. Lalu cari JCO di lantai tiga dekat pintu lobby atas, cafenya ada di sebelah kanan dan etalase JCO ada di bagian tengah.

 

Picture : JCO di Jatos

 

Angkutan umum yang lewat di depan Jatos banyak berseliweran, ada angkot coklat jurusan Cileunyi Tj Sari, ada angkot hijau merah jurusan Sayang -Gede Bage, dan ada bis damri juga. JCO di Jatos buka setiap hari dengan mengikuti jam buka dan tutup mall Jatos, umumnya pukul 10.00 - 10.00 malam.

 

Sudah hampir sore, azan ashar sudah terdengar. Saya mulai membereskan buku-buku serta laptop untuk segera pulang. Sekarang pikiran sudah mulai cerah kembali. Nanti malam saya pasti bisa menemukan banyak ide untuk tulisan di buku saya. Semoga semuanya lancar ya. Terimakasih teman-teman sudah menyimak cerita saya hari ini. Sampai ketemu lagi saya di cerita saya yang lainnya ya 😊.

 

0
0
0
s2sdefault

Sponsored Post, Job Review, Special Request, Postingan Lomba

Review Buku Finding Audrey - Sophie Kins…

31-01-2018 Hits:318 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : Finding Audrey Penulis : Sophie Kinsella Jenis Buku : Novel Remaja (Young Adult) Penerbit : Ember Tahun Terbit : 2015 Jumlah Halaman :  304 halaman Dimensi Buku :  20.83 x 13.97 x 1.52 cm Harga...

Read more

Meraih Kebahagiaan Sejati dengan Jalani …

24-01-2018 Hits:484 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : Jalani Nikmati Syukuri Penulis : Dwi Suwiknyo Jenis Buku : Non Fiksi (Agama dan Spiritual) Penerbit : Noktah (DIVA Press) Tahun Terbit : Cetakan pertama, 2018 Jumlah Halaman :  260 halaman Dimensi Buku : ...

Read more

Review Buku Lincoln in The Bardo - Georg…

16-01-2018 Hits:411 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : Lincoln in The Bardo Penulis : George Saunders Jenis Buku : Novel Penerbit : Random House Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  368 halaman Harga : Rp. 140.000 Edisi Bahasa Inggris Man Booker Prize Winner Available at...

Read more

Review Buku

Review Buku Revan & Reina - Christa …

15-01-2018 Hits:527 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Revan & Reina "Look, don't leave" Penulis : Christa Bella Jenis Buku : Novel Remaja Penerbit : Penerbit Ikon Tahun Terbit : Juni 2016 Jumlah Halaman :  halaman Dimensi Buku :  130 x 190 mm Harga...

Read more

Review Buku Para Pendosa (Truly Madly Gu…

01-01-2018 Hits:445 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Para Pendosa Judul Asli : Truly Madly Guilty Penulis : Liane Moriarty Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2017 Jumlah Halaman :  600 halaman Dimensi Buku :  13,5...

Read more

Review Buku Kisah Hidup A.J. Fikry (The …

27-12-2017 Hits:587 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Kisah Hidup A.J. Fikry Judul Asli : The Storied Life of A.J. Fikry Penulis : Gabrielle Zevin Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Cetakan Pertama 2017 Jumlah Halaman :  280 halaman Dimensi Buku :...

Read more

Cerita Dipidiff

Yuk Yoga dan ngeGym biar "Kencang…

02-02-2018 Hits:225 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Upppsss... apanya ya yang kencang ya? Hahaha. Yah apalagi kalo bukan otot, kulit, lingkar perut, lingkar pinggul, dan bagian-bagian lain yang rentan menggelambir. Maklum lah, habis lahiran wanita pada umumnya...

Read more

Suatu Siang di Wendy's bersama Sahabat

29-01-2018 Hits:257 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Saya masih teringat pada satu lirik lagu yang nge-hits sekali di jamannya, yakni "persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu." Lirik ini banyak disetujui orang-orang karena kebenarannya, dan saya akui...

Read more

J.CO Jatinangor Town Square : Duduk Menu…

11-10-2017 Hits:1132 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Book blogger juga manusia, yang terkadang tidak ada ide menulis, hilang fokus, pikiran lelah, serta kurang nafsu makan (padahal tadi sarapan sebakul 😅). Teman-teman pernah merasakan keadaan yang seperti itu...

Read more