Translate - Language

id Indonesian zh-CN Chinese (Simplified) nl Dutch en English tl Filipino fr French de German it Italian ja Japanese ko Korean ms Malay th Thai

Review Buku Into The Water - Paula Hawkins

Published: Friday, 06 April 2018 Written by Dipi

Judul : Into The Water

Penulis : Paula Hawkins

Jenis Buku : Novel Suspense

Penerbit : Noura Books Publishing

Tahun Terbit : September 2017

Jumlah Halaman :  480 halaman

Harga : Rp. 89.000

ISBN : 9786023853366

Edisi Terjemahan

Penulis Terlaris #1 New York Times

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Sungai itu indah. Penampilan yang menipu, karena sebenarnya, itu adalah tempat paling mematikan di seluruh penjuru kota. Airnya yang gelap dan dingin menyembunyikan apa yang ada di bawahnya ...

Beckford bukan tempat bunuh diri. Beckford adalah tempat untuk menyingkirkan perempuan yang merepotkan.

Halaman 119



Salah satu sudutnya, dikelilingi tebing batu tinggi yang menggodamu melongok ke tepi, selama berabad-abad telah merenggut banyak nyawa. Semuanya perempuan. Kebanyakan tidak bernama, tidak berwajah. Sungai itu memikat mereka yang tidak beruntung, yang putus asa, yang tidak bahagia, yang tersesat, agar datang ke sana. Mereka menyebutnya Kolam Penenggelaman.

Inilah tempat yang, selama berabad-abad, telah merenggut nyawa Libby Seeton, Mary Marsh, Anne Ward, Ginny Thomas, Lauren Slater, Katie Whittaker, dan banyak lagi – tak terhitung banyaknya, tak bernama dan tak berwajah.

Halaman 57

 

Kini sungai itu kembali menelan korban: Nel Abbot, wanita yang bertekad untuk menyingkap rahasia sungai itu dan menuliskan kisah-kisahnya. Kali ini, semua orang mendapat kesempatan untuk mencari tahu penyebabnya, alasannya: kenapa dan bagaimana?
Apakah dia jatuh? Apakah dia bunuh diri? Apakah dia ... dibunuh?

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Covernya suram ya. Memberikan gambaran sekali akan sungai yang jadi latar utama cerita. Tadinya sempat menduga bakal ada ilustrasi riak air seperti novel Salt to The Sea. Tapi ternyata beda. Nice 😊. Menurut saya gambar covernya juga cocok dengan judul bukunya. Into The Water tentu kurang pas kalau covernya mengambil sudut gambar sungai dari kejauhan. Lebih baik close up seperti ini, toh yang ini kesannya juga dingin dan misterius. Novel The Girl on The Train juga nuansanya kelabu. 

 

Ilustrasi di tiap Bagian yang berlatar air sungai, dengan riaknya yang tenang, berwarna hitam, secara keseluruhan menghadirkan suasana yang mencekam, cocok dengan misteri dan kengerian yang dibawakan oleh cerita.

Picture : ilustrasi bab

 

Tokoh dan Karakter

Tokoh dalam cerita cukup banyak. Tokoh-tokoh ini secara bergantian juga menjadi sudut pandang penutur cerita. 

Ada Lena, anak Nell Abbott yang baru-baru ini ditemukan mati di sungai. Jules, adik dari Nell Abbott. Josh, adik Katie, salah seorang perempuan yang mati di sungai sebelum Nell Abbott. Louise, ibu Josh yang sangat berduka karena kematian anaknya. Mark, guru tampan di sekolah. Nickie, perempuan yang katanya bisa berkomunikasi dengan arwah. Sean dan ayahnya yang terhormat tapi mencurigakan. Lalu ada Erin dan detektif, petugas kepolisian yang menyelediki kasus ini.Tak cukup dengan semua tokoh itu, ada pula tokoh-tokoh korban yang juga diceritakan dan kadang menjadi penutur cerita pula. Misalnya Libby dan Katie.

Buku ini jelas unggul dalam permainan tokoh, karakter dan sudut pandang ceritanya. Jika teman-teman suka dengan model cerita yang penuturnya berubah-ubah, bisa dipastikan akan menyukai novel ini. Tapi untuk pembaca yang lebih suka bacaan yang ringan dan sudut pandang ceritanya sama dari awal hingga akhir, ada kemungkinan membaca novel ini akan membingungkan atau melelahkan.

Sama dengan novel The Girl on The Train karangan Paula Hawkins sebelumnya, si pemecah misteri bukanlah tokoh yang berkarakter pahlawan super dengan fisik yang mempesona. Bukan tipe jagoan Jane Hawk di The Silent Corner - Dean Koontz yang seorang agen FBI, cantik, cerdas, dan jago bela diri. Buku ini akan cocok buat pembaca yang tak keberatan kalau yang memecahkan misterinya itu orang biasa yang ada di lingkungan tersebut.

 

Alur dan Latar

Alur cerita novel ini menurut saya kombinasi, kadang maju dan mundur. Terutama alur jadi mundur kalau sedang menceritakan si korban yang mati di sungai. Sama seperti novel The Girl on The Train, buku ini alurnya pelan. Paragraf-paragrafnya banyak berfokus pada pengolahan emosi para tokoh. Alur cerita cukup proporsional dan ditutup dengan ending yang logis.

Latar kota Beckford dominan di dalam cerita, dengan detail sungai, rumah-rumah para tokoh, beberapa lokasi di kota, kantor detektif, dan lain-lain. Deskripsi latar mencukupi, begitu juga deskripsi lokasi kejadian.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku inii.

Prolognya yang mencekam pas sekali dengan genre suspensenya. Tidak ada yang lebih baik untuk sebuah prolog cerita suspense kecuali menghadirkan suasana ngeri si korban di awal cerita supaya pembaca langsung terlibat secara emosi ke dalam cerita.

Libby

“LAGI! LAGI!”

Para pria itu mengikatnya lagi. Kali ini berbeda: jempol tangan kiri ke jempol kaki kanan, jempol tangan kanan ke jempol  kaki kiri. Tali membelit pinggangnya. Kali ini, mereka membopongnya ke air.

“Kumohon.” Dia mulai memohon, karena tidak yakin bisa menghadapinya, kegelapan dan rasa dingin itu. Dia ingin kembali ke rumah yang tak lagi ada, ke masa ketika dia dan bibinya duduk di depan perapian dan bertukar cerita. Dia ingin berada di ranjangnya di pondok mereka, dia ingin menjadi kecil kembali, menghirup asap kayu perapian, mawar, dan kehangatan manis kulit bibinya.

“Kumohon.”

Dia tenggelam. Pada saat mereka menariknya keluar untuk kedua kalinya, bibirnya sebiru memar, dan napasnya hilang untuk selamanya.

 

Kadang-kadang sudut pandang penceritaan dilakukan oleh tokoh yang berbeda. Untuk membantu kita memahaminya, ada nama si tokoh di sebutkan di awal bab tersebut.

Picture: Bab yang penutur ceritanya berbeda-beda tokohnya

 

Terkadang ada beberapa bab yang sudut pandang ceritanya khusus dibawakan oleh si korban.

 

Terdapat catatan kaki yang menjelaskan istilah dan kata tertentu. Sangat membantu saya sebagai pembaca untuk memahami konteks cerita.

Picture: catatan kaki

 

Kalimat-kalimatnya yang banya berfokus pada emosi tokoh cerita, di satu sisi membuat alur cerita terasa lamban tapi di sisi lain sangat baik untuk membawa emosi pembaca ke dalam cerita. Contohnya seperti ini.

Salah seorang pria punya tongkat dan menyodokan tongkat itu ke punggungnya, menekannya terus dan terus hingga dia tidak bisa berdiri. Dia menggelincir, ke arah air.

Dia tenggelam.

Rasa dingin itu begitu mengejutkan hingga dia lupa di mana dia berada. Dia membuka mulut untuk menarik napas dan menelan air hitam, dia mulai tersedak, dia meronta, dia menendang-nendang dengan kedua kakinya, tetapi dia kebingungan, tak lagi merasakan dasar sungi di bawah kakinya.

Tali itu menariknya kuat-kuat, menggigit pinggangnya, mengoyak kulitnya.

Ketika mereka menariknya ke bantaran, dia menangis.

“Lagi!”

Seseorang berteriak meminta siksaan kedua.

“Dia tenggelam!” teriak seorang wanita. “Dia bukan penyihir, dia hanya anak kecil.”

“Lagi! Lagi!”

Para pria mengikatnya lagi untuk siksaan kedua. Kali ini berbeda: jempol tangan kiri ke jempol tangan kanan, jempol tanan kanan ke jempol tangan kiri. Tali membelit pinggangnya. Kali ini, mereka membopongnya ke dalam air.

Halaman 122

 

Ketika membaca ulang, hal yang tak kupahami adalah bagaimana Sean bisa tetap tinggal di sini. Seandainya pun tidak melihat kejatuhan ibunya, dia ada di sana. Apa akibatnya terhadap dirinya? Namun, kurasa waktu itu dia masih kecil. Enam atau tujuh tahun? Anak-anak bisa memblokir trauma seperti itu. Namun, ayahnya? Dia berjalan-jalan di tepi sungai setiap hari. Aku pernah melihatnya. Bayangkan itu. Bayangkan berjalan melewati tempat kau kehilangan seseorang, setiap hari. Aku tidak bisa memahaminya, tidak bisa melakukannya. Namun, kemudian, kurasa aku belum pernah benar-benar kehilangan seseorang. Bagaimana aku bisa tahu bagaimana rasanya kedukaan semacam itu?

Halaman 167

 

Serial Midsomer Murders itu tampaknya populer ya. Setidaknya novel Mugpie Murders yang sangat saya sukai itu juga menyebut-nyebut tentang Midsomer Murders. Ternyata Midsomer Murders itu adalah sebuah drama detektif di telivisi di Inggris yang memang populer. Ceritanya diangkat dari buku seri detektif yang aslinya diadaptasi oleh Anthony Horrowitz. Saya baru sadar pantas saja serial itu disebut dalam buku Mugpie Murders sebab buku itu memang ditulis oleh Anthony Horowitz juga. Dan Paula Hawkins yang menulis novel ini juga berasal dari Inggris, jadi pasti tahu Midsomer Murders. Di Indonesia ada tidak ya tayangan drama ini di channel berbayar?

Sungguh: bagaimana mungkin seseorang bisa terus melacak semua mayat di sekitar sini? Ini seperti serial Midsomer Murders, tetapi dengan kecelakaan, bunuh diri, dan penenggelaman bersejarah berlatar misoginis yang mengerikan, alih-alih orang-orang yang jatuh ke dalam tangki berisi cairan atau orang-orang yang saling memukulkan kepala.

Halaman 166

 

Ada bagian dalam cerita Into The Water yang mengisahkan tentang pernikahan yang retak dan mendingin akibat duka dan penyesalan yang mendalam akibat kematian anak. Ini mengingatkan saya pada topik buku Truly Madly Guilty - Liane Moriarty dan Critical Eleven - Ika Natassa. Padahal ketiga buku ini beda tipenya. Into the Water buku Suspense, Truly Madly Guilty buku novel bertopik keluarga dan rumah tangga, dan Ika Natassa lebih ke arah romance.

Jadi, garis-garis patahan mulai muncul dalam perkawinan yang dianggap Louise tak tergoyahkan. Namun, tentu saja dia tidak tahu apa-apa sebelumnya. Kini, hal itu sudah jelas: tidak ada perkawinan yang bisa bertahan dari rasa kehilangan ini.

...

Mereka berdua pergi tidur, terlelap, dan mendapati ranjang kosong Katie pada pagi hari, tetapi tak sekejap pun membayangkan Katie berada di bawah air.

Halaman 173

 

Secara pribadi, saya lebih suka buku The Girl on The Train daripada Into The Water. Mungkin karena konflik, misteri, dan penyelesaiannya yang lebih tak terbaca serta mengejutkan daripada Into The Water. Yang paling saya rasakan ketika membaca buku ini adalah pelannya alur cerita. Buku ini akan lebih cocok untuk dibaca secara santai, karena hanya dengan situasi itu kita bisa meresapi banyaknya paragraf yang penuh emosi para tokohnya.

Sama seperti The Girl on The Train, Into the Water juga bergenre psychological suspense/thriller, yang meminjam definisi dari wikipedia artinya,

Psychological thriller is a fictional thriller story which emphasizes the psychology of its characters and their unstable emotional states. There is a dissolving sense of reality, moral ambiguity, and complex and tortured relationships between obsessive and pathological characters.

Maka tak heran kalau jalan cerita novel ini memang berkutat pada deskripsi emosi tokohnya, sebab tokoh-tokoh cerita psycological suspense/thriller menekankan pada adanya tokoh yang tidak stabil emosinya yang kemudian menggiring mereka pada tindakan yang di luar logika dan kemanusiaan.

 

Siapa Paula Hawkins

Paula Hawkins  adalah penulis Inggris yang terkenal karena novel thriller psikopatnya The Girl on The Train. Tema-tema yang ia angkat dalam novel itu memang sensitif, yakni kekerasan rumah tangga, pecandu alkohol, narkoba, dan perselingkuhan. Tak hanya jadi novel yang laris terjual bak kacang goreng, novel ini juga diangkat menjadi film dengan Emily Blunt sebagai bintangnya di tahun 2016.

Pengalaman menulis Paula Hawkins telah terasah dengan bertahun-tahun menjadi jurnalis. Ia bekerja sebagai jurnalis di The Times dan menulis freelance di berbagai media.

Sekitar tahun 2009, Paula Hawkins mulai menulis fiksi bergenre komedi romantis dengan nama pena Amy Silver. Karya-karyanya tersebut terbilang biasa, dan kepopulerannya yang pertama memang ia peroleh ketika novel thriler The Girl on TheTrain - nya diterbitkan di tahun 2015.

 

Berikut buku-buku yang ditulis oleh Paula Hawkins:

  • Guerrilla Learning: How to Give Your Kids a Real Education With or Without School(2001) (Amy Silver) (with co-author Grace Llewellyn) 
  • Confessions of a Reluctant Recessionista (2009) (Amy Silver)
  • All I Want for Christmas (2010) (Amy Silver)
  • One Minute to Midnight (2011) (Amy Silver) 
  • The Reunion (2013) (Amy Silver)
  • The Girl on The Train (2015) (Paula Hawkins)
  • Into The Water (2017) (Paula Hawkins)

 

Novel Into The Water terbit setahun setelah The Girl on The Train. Novel ini mendapat rating 3.53 di situs Goodreads dan 3. 4 di Amazon. 3.4. Kedua rating ini berada di bawah pencapaian buku The Girl on The Train.

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca dewasa yang menyukai buku bergenre psycological suspense. Novel ini beralur kombinasi dan lamban. Sudut pandang ceritanya dibawakan oleh beberapa tokoh. Ending ditutup dengan rapi dan logis. Ada bagian dalam novel ini yang tak "semenggigit" The Girl on The Train, karya Paula Hawkins sebelumnya.

 

My Rating : 3.5/5

 

 

 

0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh

Sponsored Post, Job Review, Special Request, Postingan Lomba

Review Buku The Productivity Project - C…

01-04-2018 Hits:434 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : The Productivity Project – Accomplishing More by Managing Your Time, Attention, and Energy Penulis : Chris Bailey Jenis Buku : Non Fiksi – Self Improvement Penerbit : Crown Business Tahun Terbit : Agustus 2017 Jumlah...

Read more

Review Buku The Silent Corner - Dean Koo…

30-03-2018 Hits:515 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : The Silent Corner Penulis : Dean Koontz Jenis Buku : Novel Suspense Penerbit : Random House Tahun Terbit : Oktober 2017 Jumlah Halaman :  576 halaman Harga : Rp. 143.000 ISBN : 978-0-345-54679-1 Mass Market Paperbound Edisi Bahasa Inggris New York...

Read more

Review Buku Magnus Chase and The Sword o…

29-03-2018 Hits:582 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : Magnus Chase and The God of Asgard - The Sword of Summer Penulis : Rick Riordan Jenis Buku : Novel Fantasy Penerbit : Disney Book Group Tahun Terbit : 2015 Jumlah Halaman :  499 halaman Dimensi Buku...

Read more

Review Buku

Review Buku Into The Water - Paula Hawki…

06-04-2018 Hits:213 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Into The Water Penulis : Paula Hawkins Jenis Buku : Novel Suspense Penerbit : Noura Books Publishing Tahun Terbit : September 2017 Jumlah Halaman :  480 halaman Harga : Rp. 89.000 ISBN : 9786023853366 Edisi Terjemahan Penulis Terlaris #1 New...

Read more

Review Buku Gentayangan - Intan Paramadh…

29-03-2018 Hits:625 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Gentayangan Penulis : Intan Paramadhita Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Oktober 2017 Jumlah Halaman :  512 halaman Harga : Rp. 125.000 ISBN : 978-602-03-7772-8 Edisi Soft Cover Karya sastra bidang prosa terbaik pilihan...

Read more

Review Buku The Girl Who Drank the Moon …

20-03-2018 Hits:815 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : The Girl Who Drank The Moon Penulis : Kelly Barnhill  Jenis Buku : Novel Fantasi Penerbit : Bhuana Ilmu Populer Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  420 halaman Harga : Rp. 115.000 ISBN : 978-602-394-731-7 Edisi...

Read more

Cerita Dipidiff

Bubur Kacang Ijo untuk Moonlight

10-03-2018 Hits:1225 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Usia Moonlight sudah 12 bulan sekarang. Sebagai emak-emak pada umumnya, hati saya pun gembira sekali melihat perkembangan anak. Moonlight sudah cukup lancar jalannya, dia sehat, aktif bermain, makannya bagus, dan...

Read more

Batik Kepret Motif Bunga dan Lingkaran

08-03-2018 Hits:1411 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Sudah hampir satu bulan kayaknya sejak terakhir membatik. Kok rindu ya 😅. Kain mori sudah ready, malam dan pewarna juga masih cukup untuk satu batik lagi. Jadi kayaknya kondisi sudah...

Read more

Membuat Shibori

27-02-2018 Hits:1866 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Me time ya shibori time 😁🙌, pasti begitu kata para pecinta shibori. Teman-teman sudah pernah dengarkah tentang shibori? Jujur saja usia saya tahun ini 37, dan saya baru saja mendengar...

Read more