Translate - Language

id Indonesian zh-CN Chinese (Simplified) nl Dutch en English tl Filipino fr French de German it Italian ja Japanese ko Korean ms Malay th Thai

Review Buku The Productivity Project - Chris Bailey

Published: Sunday, 01 April 2018 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

click

Judul : The Productivity Project – Accomplishing More by Managing Your Time, Attention, and Energy

Penulis : Chris Bailey

Jenis Buku : Non Fiksi – Self Improvement

Penerbit : Crown Business

Tahun Terbit : Agustus 2017

Jumlah Halaman :  304 halaman

Dimensi Buku :  20.32 x 12.95 x 1.52 CM

Harga : Rp. 198.000

ISBN : 978-1-101-90405-3

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

International Bestseller

Available at Periplus Setiabudhi Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi)

 

 

Sekelumit Tentang Isi

A fresh, personal, and entertaining exploration of a topic that concerns all of us: how to be more productive at work and in every facet of our lives.

Chris Bailey mendedikasikan hidupnya khusus untuk meneliti topik produktivitas ini selama setahun penuh. Dia bahkan menolak satu tawaran pekerjaan besar demi topik yang sudah menarik minatnya ini sejak ia masih remaja. Selepas mendapatkan gelar pendidikannya di bidang bisnis, ia membangun sebuah blog khusus yang berisi perkembangan projek produktivitas yang tengah ia garap.

Dalam upayanya untuk menuntaskan projek, Bailey melakukan hal-hal tertentu, mulai dari tidak mengonsumsi kafein dan gula, mengisolasi hidupnya selama 10 hari, hingga menggunakan smartphone hanya satu jam tiap harinya selama 3 bulan, yang semua itu ia lakukan untuk melihat pengaruh tindakannya terhadap kualitas dan jumlah pekerjaan yang ia tuntaskan.

Semua hal yang Chris Bailey alami dan teliti, kemudian ia tuangkan ke dalam buku The Productivity Project. Melalui buku ini Chris mengajarkan pada kita tentang cara bekerja penuh kesadaran, cara mengeliminasi hal-hal yang tidak penting, cara mengagendakan tugas-tugas secara efektif, cara meminimalisasi dan menghindarkan diri dari gangguan konsentrasi, cara menaklukkan penyakit menunda-nunda, dan the rule of three yang terkenal itu.

 

Yuk, kita intip daftar isinya.

Introduction

A New Definition of Productivity

PART ONE: LAYING THE GROUNDWORK

  1. Where to Start
  2. Not All Tasks Are Created Equal
  3. Three Daily Tasks
  4. Ready for Prime Time

PART TWO: WASTING TIME

  1. Cozying Up to Ugly Tasks
  2. Meet Yourself... From the Future
  3. Why the Internet is Killing Your Productivity

PART THREE: THE END OF TIME MANAGEMENT

  1. The Time Economy
  2. Working Less
  3. Energy Enlightenment
  4. Cleaning House

PART FOUR: THE ZEN OF PRODUCTIVITY

  1. The Zen of Productivity
  2. Shrinking the Unimportant
  3. Removing the Unimportant

PART FIVE: QUIET YOUR MIND

  1. Emptying Your Brain
  2. Rising Up
  3. Making Room

PART SIX: THE ATTENTION MUSCLE

  1. Becoming More Deliberate
  2. Attention Hijackers
  3. The Art of Doing One Thing
  4. The Meditation Chapter

PART SEVEN: TAKING PRODUCTIVITY TO THE NEXT LEVEL

  1. Refueling
  2. Drinking for Energy
  3. The Exercise Pill
  4. Sleeping Your Way to Productivity

PART EIGHT: THE FINAL STEP

  1. The Final Step

Afterword: One Year Later

 

Dengan membaca dan mempraktikkan buku ini kita akan dapat:

Identify the integral tasks in your work

Work on those tasks more effectively

Manage your time like a ninja

Quit procrastinating

Work smarter, not harder

Develop laserlike focus

Achieve zenlike mental clarity throughout the day

Have more energy than you have ever had before

And much more!

 

Seperti kata Chris Bailey, produktifitas itu kita peroleh dengan mengelola 3 hal, yakni:

Three ingredients of productivity:

Time: I observed how intelligently I used my time, how much I got done throughout the day, how many words and pages I wrote/read, and how often I procrastinated.

Attention: I noted what I focused on, how well I focused, and how easily I was distracted

Energy: I scrutinized how much drive, motivation, and overall energy I had, tracking how my energy levels fluctuated over the course of an experiment.

Page 29

 

Produktif tidak hanya berimbas pada kesuksesan saja, tapi jelas menyumbang pula pada persentase kebahagiaan hidup. Pada akhirnya tujuan menjadi manusia yang produktif tidak hanya supaya jadi orang yang lebih berguna tapi juga lebih bahagia.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Disain covernya sederhana ya, isinya huruf melulu 😅, tapi tidak heran juga sih, soalnya memang buku non fiksi model disainnya memang begini. Dan seperti biasa juga, semua hal yang membuat cover menjadi eye-catching biasanya pilihan warna dan tipe hurufnya. Untuk buku ini saya setuju cover biru muda ngejreng ini pasti cukup mencolok di display. Ada yang kepikiran kah tentang ukuran huruf pada kata productivity yang makin ke kanan makin besar? Mungkin itu ilustrasi makna isi buku ya, yang menggambarkan bahwa dengan membaca buku ini kita bisa mengubah hidup kita makin bertambah produktif setiap harinya.

Setiap Part nya dipisahkan secara jelas dengan tanda pergantian bagian di satu halaman seperti di bawah ini. Jadi saya sebagai pembaca dapat memetakan pengetahuan yang saya dapatkan dari bacaan dengan lebih baik. 

Picture : Model pembagian tiap Part pada buku

 

Opini

Hal pertama kali saya sadari dan yang membuat buku ini beda dari yang lain adalah adanya Estimated Reading Time di tiap bab, yang mana sesuai sekali dengan tema produktivitas yang dibahas di buku. Seolah-olah penulis hendak berkata, "Jangan baca lama-lama, kalau fokus kamu bisa selesaikan dalam waktu yang sudah terukur seperti yang ada di kolom Estimated Reading Time. Produktif dong!" 😅.

Belum cukup dengan keunikan itu, begitu masuk Part One, kita akan diberikan satu catatan khusus tentang poin-poin yang bisa kita dapatkan dari bab tersebut, tentu beserta estimasi waktu membacanya. Efektif efisien sekali ya 😁.

Picture : Catatan khusus di bagian awal tiap bab

Before each chapter, I’ve included a takeaway of what you’ll get out of it, you can prime your mind for what’s to come. I’ve also included an estimate of how long it will take you to read each chapter, based on an average reading speed of 250 words per minute.

Page 25

 

Dan di akhir bab kita diberikan juga semacam ringkasan tetapi lebih kena sasaran. Ringkasan ini disebut The Value Challenge yang isinya tentang tantangan apa yang harus kita lakukan setelah selesai membaca bab bersangkutan. Adanya poin ini menyebabkan buku The Productivity Project bukan hanya sebuah buku teori biasa, tapi juga yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan nyata. Selain itu isi bab juga jadi semakin mudah kita pahami.

Picture : Kolom ringkasan dan The Challenge buat para pembaca

 

 

Chris Bailey menjelaskan cara apa saja yang sudah ia praktikkan sehingga buku ini terasa valid dan nyata aplikasinya dalam kehidupan, alias bukan cuma teori kosong.

The idea behind the project was simple. For one entire year, I would devour everything I could get my hands on about productivity and write about what I learned on my website

For 365 days, I

Read countless books and academic journal articles on productivity, delving deep into the prevailing research on the topic

Interviewed productivity gurus to see how they live productivity every day

Conducted as many productivity experiments as I could, using myself as  a guniea pig to explore what it takes to become as productive as possible

Page 5-6

 

My productivity experiments included

Meditating for 35 hours a week

Working 90-hours weeks

Waking up at 5:30 every morning to see the impact on my productivity

Watching 70 hours of TED talks one week

Gaining 10 pounds of lean muscle mass

Living in total isolation

Drinking only water for a month

And many more

 

Gaya bahasa yang interaktif dan persuasif juga membuat saya merasa tidak bosan dan terus penasaran untuk menyimak isi buku hingga selesai.

If that sounds like a daunting list, don’t worry – it’ll be a blast, and we’ll tackle it all one page at a time.

You ready? Let’s do this

Page 7

 

Pada bab awal Chris Bailey banyak menjelaskan tentang apa produktivitas itu dan menyamakan mindset kita para pembaca. Ini model biasa yang umum ditemui di buku-buku non fiksi pengembangan diri. Bagaimanapun mindset memang harus sama dulu sebelum kita masuk pada inti bahasan. Saya sendiri sangat tertolong di bab bab awal ini, karena ternyata apa yang saya pahami tentang produktivitas tidak semuanya sama dengan yang ada di dalam buku. 

Productivity is about how much you accomplish.

Page 13

 

Productivity isn’t about doing more things – it’s about doing the right things.

Page 33

 

A task, project, or commitment is important for one of two reasons: because it’s meaningful to you (it’s connected with your value) or because it makes a large impact in your work.

Page 31

 

Harus diakui kalimat-kalimatnya yang juga argumentatif membuat saya meyakini kebenaran teori, cara, dan tips yang penulis berikan. Beberapa kali bahkan saya merasa tersindir 😅, soalnya apa yang dituliskan memang itulah kenyataannya.

At some level, everyone knows that not all task are equal – most people can see that they will accomplish more working on doing their taxes for an hour than watching a movie. But as the cliche goes, common sense isn’t always common action. Just because you know something to be true, doesn’t mean you’ll act on it – even though acting on what you kow is exactly what you have to do in order to become more productive.

Page 31

 

Dalam menjelaskan teorinya penulis tidak hanya menggunakan kalimat-kalimat saja, tapi juga diagram. Contohnya seperti di bawah ini.

Picture : Diagram aktivitas manusia dalam periode satu hari dan diagram unsur-unsur produktivitas

 

Yang mana diagram tersebut disertai pula dengan penjelasan berbentuk kalimat.

For example, getting enough sleep requires more time, but it boosts your energy and ability to manage your attention. Eliminating noise and distractions also takes time, but helps you manage your attention better because it provides you with more focus and clarity throughout the day. Changing your mindset takes energy and attention, but will let you get more done in less time.

Page 15

 

Bahkan ada juga yang disajikan dalam bentuk grafik.

Picture : Grafik Prime Time energi manusia

 

Dengan kombinasi huruf, diagram, dan grafik, tampaknya saya jadi merasa lebih tertarik, tidak cepat bosan, dan lebih mudah paham.

 

Banyak kalimat-kalimat bijak yang menyadarkan dan menginspirasi saya ketika membaca buku ini.

Simplicity makes it easier to evolve and innovate and deal with complexity.

Page 48

 

The most productive people take the time to not only understand what’s important, but also to simplify everything else.

Page143

 

The more you see yourself like a stranger, the more likely you are to give your future self the same workload that you would give a stranger, and the more likely you are to put things off to tomorrow – for your future self to do.

Page 71

 

At the end of most winters, I leave a 520 bill in my pocket, which completely forget about until I reach into my winter coat pocket the next year. While it's important to not be unfair to your future self, one of the awesome things you can do is treat your future self – whether that means saving for the future, saying no to eating pizza tonight, working out, learning calculus, putting on sunscreen, flossing, reading more – or leaving some money in your coat pocket to find six months later. You’ll feel incredible later on.

Page 74

 

Terdapat penjelasan ilmiah yang mendukung teori.

Your limbic systems is the emotional, instinctual part of your brain that includes, among other things, your pleasure center. Evolutionarily speaking, the limbic is an old part of your brain – like an animal, it’s what makes you instinctual and pushes you to give in to emotions and temptations. This is the part of your brain that tries to tempt you to put off doing your tasks to watch a few episodes of House of Cards.

....

Page 46

 

Juga penemuan atau teori pendukung dari lembaga atau tokoh lainnya.

The American Psychological Assosiation (APA) recently named nine of  the very best stress-relief strategies. Unlike quick fixes like shopping, gambling, drinking, an eating that dont actually reduce the cortisol levels in your body (the hormone your body produces in response to stress), the nine strategies the organization recommends all actually reduce your cortisol levels.

...

Page 174

 

An interesting  study conducted by Harvard psychologists Matthew Killingsworth and Daniel Gilberth found that we spend 47 percent of our waking hours (!!) in this daydreaming mode.

...

Page Chapter 18

 

Dan sekali lagi, teori serta tips ini menjadi meyakinkan karena sudah dipraktikkan semua oleh penulis.

Over the last decade or so, and especially during my project, I experimented with using dozens of to-do list and task-management apps that deal with the tasks and projects I’ve captured, and although many of them have worked well, there isnt one I recommeded above the others. In my experience, it doesn't matter how you organize your tasks and projects, as long as you find it helpful and user-friendly.

Page 151

 

Solusi dan trik yang diberikan juga jelas dan dapat diaplikasikan. Contohnya seperti ini:

For example, if the trigger is:

Boring: I got to my favorite cafe for an afternoon on Saturday to do my taxes over a fancy drink while doing some people watching.

Frustating: I bring a book to the same cafe, and set a timer on myphone to limit myself to working on my taxes for thirty minutes – and only work for longer if I’m on a roll and feel like going on

Difficult: I research the tax process to see what steps I need to follow, and what paperwork I need to gather. And I visit the cafe during my Biological Prime Time, when I’ll naturally have more energy.

....

Page 64

 

Here are a few great websites I’ve discovered over the last few years, and a couple that friends of mine have recommended – whether you’re looking for someone to work with you on a constant basis or on a per task basis (I dont have an affiliation with any of them, and have used them all)

  • Fancy Hands (FancyHands.com) for hiring virtual assistants
  • Zirtual (Zirtual.com) for hiring virtual assistant

....

Page 340

 

If you want to dive even further into externalizing the open loops in your head, here are a few more of my favorite ways to do so:

  • Notepads everywhere: I love capturing ideas as they come to me, but because I shut my phone off between 8 p.m and 8 a.m, it;s not always possible to capture them on my phone.

.....

Page 155

 

Buku The Productivity Project jelas bukan cuma buku yang berisi teori, tapi juga buku yang aplikatif. Memang ada hal-hal di dalam buku yang tidak bisa saya adopsi mutlak karena perbedaan latar belakang kasus, dan situasi. Tapi banyak hal dalam buku yang saya terapkan dalam kehidupan saya, dan hasilnya positif. Setidaknya beberapa tugas yang tadinya saya selalu tunda-tunda kini sudah mulai terlihat progress penyelesaiannya.

Beberapa konsep dan strategi yang paling saya sukai di dalam buku ini adalah konsep dan strategi pemanfaatan Prime Time, menghindari penundaan, model pengorganisasian data dan memori, serta topik distraksi konsentrasi. Semuanya ada dibahas di dalam buku. Teman-teman silakan baca sendiri ya di bukunya 😊.

Untuk penutup opini ini, saya ingin mengutip satu rangkaian kalimat yang menurut saya menarik.

I think the best to measure productivity is to ask yourself a very simple question at the end of every day: Did I get done what I intended to?

Page 29 

 

Siapa Chris Bailey

Chris Bailey adalah seorang penulis asal Kanada. Ketertarikannya pada topik produktivitas dimulai dari saat ia duduk di bangku sekolah menengah atas. Terutama setelah ia membaca buku David Allen yang berjudul Getting Things Done.

Setelah menyelesaikan studinya di bidang bisnis, ia kemudian mulai menggarap topik produktivitas dengan melakukan eksperimen, riset, membangun blog, dan lain-lain. Ia mengujicoba ulang berbagai teori produktivitas yang sudah ada dan menambahkan hal-hal baru yang lalu ia tuangkan semuanya di dalam buku.

The Productivity Project menjadi buku non fiksi bestseller di Kanada, dan versi buku audionya juga menjadi top-selling.

Buku ini mendapatkan rating 4.4 di situs Amazon dan 4.2 di situs Goodreads.

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan pada pecinta buku non fiksi genre pengembangan diri yang mencari serta membutuhkan buku yang berisi penjelasan dan strategi untuk menjadi manusia yang lebih produktif dengan cara-cara yang aplikatif dalam kehidupan nyata. Bahasanya yang sederhana tapi berisi membuat buku ini lebih mudah dipahami. Secara khusus, penulis mendedikasikan satu masa dalam hidupnya sendiri untuk mengujicobakan banyak teori produktivitas yang sudah ada, sehingga apa yang terdapat di dalam buku ini bukan lagi disebut teori melainkan sebuah strategi.

Jika kamu merasa banyak bekerja tapi sedikit tugas yang terselesaikan, atau kamu yang terjebak dalam kebiasaan menunda-nunda, atau kamu yang ingin mengubah hidupmu menjadi pribadi yang lebih sukses dan bahagia, buku ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca.

My Rating: 5/5

 

 

0
0
0
s2sdefault

Review Buku The Silent Corner - Dean Koontz

Published: Friday, 30 March 2018 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

 

Judul : The Silent Corner

Penulis : Dean Koontz

Jenis Buku : Novel Suspense

Penerbit : Random House

Tahun Terbit : Oktober 2017

Jumlah Halaman :  576 halaman

Harga : Rp. 143.000

ISBN : 978-0-345-54679-1

Mass Market Paperbound

Edisi Bahasa Inggris

New York Times Bestseller

Available at Periplus Setiabudhi Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi)

 

Sekelumit Tentang Isi

Suami Jane Hawk bunuh diri dengan meninggalkan sebuah pesan yang berbunyi, "I very much need to be dead". Pesan yang membuat Jane bingung, terlebih lagi suaminya tidak dalam keadaan depresi dan tidak pula bermental lemah dalam menghadapi tantangan kehidupan. Jelas Jane tidak percaya ini kasus bunuh diri.

Meski diselimuti perasaan duka, Jane memutuskan untuk segera mencari kebenaran atas kematian suaminya. Rupanya tingkat kasus bunuh diri orang-orang yang berbakat, berpengaruh, dan juga bahagia dalam hidupnya meningkat cukup pesat. Ada apa dibalik ini semua?

Ketika Jane memutuskan untuk menyelidiki kasus ini, Travis, putra satu-satunya kemudian diancam, dan Jane menjadi target yang harus segera dimusnahkan. Musuhnya yang ternyata memiliki kekuasaan dan pengaruh yang besar berupaya keras untuk menangkap dan membunuh Jane.

Tapi akankah mereka berhasil mencegah Jane Hawk mengungkap kebenaran di balik ini semua? Jane tidak cuma sangat cerdas dan berpengalaman, tapi juga ia bisa sangat licin dan kejam. Di atas itu semua, cinta lah yang menjadi alasan Jane Hawk untuk terus bertahan dan berjuang. Cinta adalah sebuah kekuatan yang tidak ada bandingannya.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Mungkin alasan dipilihnya ilustrasi gambar seorang perempuan di cover adalah sosok tokoh Jane Hawk yang memang dimaksudkan sebagai simbol dan inti cerita. Tidak perlu ada ilustrasi gambar lainnya. Cukup Jane Hawk saja, yang mengisyaratkan buku ini memang buku sepak terjangnya Jane Hawk. Saya jadi ingat buku Magnus Chase seriesnya Rick Riordan yang disain covernya juga berilustrasi gambar sosok Magnus. Bedanya di cover Magnus terdapat juga ilustrasi adegan cerita, sedangkan di buku Jane Hawk tidak ada (lebih sederhana). Mungkin karena pertimbangan genre nya juga ya. Jelas novel Jane Hawk diperuntukkan untuk pembaca dewasa, yang kalau saya perhatikan disain buku-bukunya memang lebih simple daripada buku-buku untuk young adult seperti Magnus Chase. Kenapa lebih ramai disainnya Magnus? Ya mungkin karena buku itu terkategori cerita fantasi, bukan suspense seperti The Silent Corner. Sekali-kali boleh ya saya bahas soal disain cover lebih panjang 😅.

 

Bicara soal fisik buku, buku The Silent Corner yang saya baca ukurannya cukup imut, seperti buku saku. Dan memang, karena ukurannya yang kecil inilah, buku ini jadi mudah dibawa-bawa, tidak makan tempat di dalam tas, dan eye-catching. Pilihan warna covernya yang biru kuning sangat saya suka. Plus model hurufnya yang seperti itu.

 

Yang jadi pertimbangan selanjutnya adalah ukuran huruf. Lumrah jika ukuran buku kecil, ukuran huruf juga jadi cenderung ikutan lebih kecil dan jaraknya pun rapat. Demikian pula lah dengan buku ini. Saran saya, bacalah buku ini di ruangan yang terang sehingga mata tidak terlalu cepat lelah. Lalu usahakan membaca dalam kondisi yang santai, karena Dean Koontz memanjakan pembacanya dengan deskripsi yang lumayan detail, jadi perlu dihayati biar lebih bisa dinikmati 😊. Jumlah halamannya yang cukup tebal juga bisa membuat pembaca lelah. Maka bacalah dengan santai dan tidak tergesa-gesa.

 

Di halaman awal saya menemukan ilustrasi seperti di bawah ini. Awalnya saya tidak menemukan kaitannya dengan cerita. Tapi setelah selesai membaca buku, sepertinya saya paham hubungan disain ilustrasi ini dengan jalan cerita. Teman-teman nanti bisa temukan sendiri setelah membaca bukunya ya.

Picture : ilustrasi yang menyerupai jaring laba-laba

 

Tokoh dan Karakter

Tokoh utama novel ini adalah Jane Hawk. Wanita yang ditinggal mati suaminya dan berputra satu ini memang anggota FBI, namun ia memutuskan untuk "keluar" dan agen FBI karena ingin mengungkap kebenaran atas kematian mendiang suami. Jane Hawk cantik, cerdas, memiliki kemampuan bela diri, dan kecakapan ala agen-agen FBI layaknya. Penggambaran atas tokoh Jane Hawk secara keseluruhan sangat memesona dan membuat kagum. 

Gavin dan Jess, pasangan suami istri baik hati yang kaya dan memiliki lokasi rumah yang terpencil serta terjaga dengan baik, bersedia membantu Jane dengan mengasuh dan merawat Travis di rumah mereka agar ia aman dari jangkauan pembunuh.

Nathan Silverman rekan kerja Jane di FBI. Pria yang jujur dan berdedikasi. Sayangnya semua itu hilang setelah Nathan pun menjadi korban.

John Harrow veteran perang yang pintar dan kaya. Akhirnya memutuskan membantu Jane Hawk bukan karena jumlah uang yang ditawarkan, tapi karena alasan lainnya.

Dan beberapa tokoh penjahat seperti Jimmy Radburn, Overton, Dr. Shenneck yang cerdas tapi licik dan sombong.

Tokoh-tokoh minor penunjang cerita juga cukup banyak tentunya. Dan di antara semua tokoh yang punya peran cukup banyak dalam cerita, tokoh favorit saya justru jatuh pada seorang tokoh minor bernama Mrs. Chang. Mrs. Chang adalah broker rumah yang membeli rumah Jane. Dia lah yang pertama kali menunjukkan keberpihakan positif terhadap Jane dan menebak dengan tepat apa yang sebenarnya dialami wanita tersebut, sekaligus mendorong Nathan Silverman untuk segera membantu Jane Hawk.

“There is the question for your FBI, Nathan. Your FBI should investigate just that very thing. What horrible kind of person would want to hurt that beautiful little hummingbird? You go find out. You go find that horrible person and lock him up.”

Page 263

 

Bagian terbaik dari novel suspense ini adalah deskripsi fisik tokoh-tokohnya yang detail. Terutama untuk pembaca yang rumit seperti saya 😅, adanya deskripsi-deskripsi seperti ini membuat saya lebih terlarut dalam cerita dan dapat pula mengimajinasikannya dengan lebih baik. Tapi mungkin, untuk pembaca yang tak suka berpanjang-panjang, boleh jadi novel ini jadi agak bertele-tele.

Jimmy Radburn looked like an adult Kewpie doll – pleasantly rounded but not truly fat, his face smooth and unlined and nearly beardless. He was well barbered, freshly scrubbed, and had the most perfectly manicured hands of any man Jane had seen.

Page 124

He wears black-and-white Louis Leeman sneakers, NFS ripped-and-repaired jeans, and an NFS palm-print T-shirt that is almost tested to destruction by his shoulders, biceps, and pecs. Encircling a wrist the size of some men’s forearms, a Hublot column-wheel watch in blue Texalium alloy, one of a limited edition of five hundred, virtually shouts power and money at any eye that beholds it.

Page 157

 

Alur dan Latar

The Silent Corner beralur maju. Bagian awal agak terasa lambat dan tak begitu jelas hingga saya menebak-nebak dengan ragu apa maksud dan kaitan bab-bab awal tersebut dengan alur cerita secara keseluruhan. Pada bagian ini tokoh memang baru diperkenalkan berikut kasus dan konfliknya.

Begitu masuk ke bagian tengah alur cerita barulah terasa situasi yang makin seru dan menegangkan. Jane Hawk jelas bisa mengibuli pengejarnya dan berhasil pula memperoleh informasi yang ia inginkan dengan berbagai strategi dan kecerdikan. Untuk twist saya masih lebih suka novel Al Chemist nya Christine Meyer, karena banyak detail strategi yang terasa baru dan mendebarkan. Tapi dari sisi detail, novel Silent Corner jauh lebih lengkap.

Alur terbaik tentu di seperempat bagian akhir buku, yakni saat klimaks dan anti klimaks. Karena ini buku seri, memang kasus tidak terselesaikan penuh, tapi bisa dibilang tidak menggantung juga. Efeknya, di satu sisi saya jadi tidak merasa terkatung-katung akibat ending yang ga jelas, tapi di sisi lainnya, rasa penasaran saya untuk melanjutkan membaca ke buku kedua juga tak begitu menggebu. 

Tapi untuk teman-teman mungkin berbeda ya. Aksi Jane Hawk yang cantik, pintar, dan heroic ini pasti banyak yang suka soalnya, sehingga buku keduanya kemungkinan ditunggu pula oleh banyak pembaca.

 

Hal lain yang saya temukan adalah deskripsi latar dalam cerita juga mendetail. Harus diakui tak semua penulis bisa seperti ini. Berikut saya kutipkan salah satu deskripsi latar yang ada di dalam novel ini.

Beyond the foyer, the main hall soared twenty feet to a coffered ceiling, and the floor featured French-limestone tiles. The house was constructed in a U, embracing three sides of a courtyard that could be seen between limestone columns, through floor-to-ceiling bronze-framed windows. The outdoor space was softly lighted by antique lampposts, and in the center of it, a swimming pool the size of a lake glowed as blue and sparkling as an immense sapphire, from which undulant currents of steam rose like yearning spirits.

The house stood in preternatural silence, a more profound quiet than Jane had ever heard before.

Along the hallway significant bronze statues stood on plinths and elegant sideboards held matched pairs of large Satsuma vases.

Page 305

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Quote-quotenya khas buku genre suspense atau thriller ya 😁. Tapi saya suka kalimat-kalimatnya.

If you let the news spoil your apetite, there wouldn't be a day you could eat.

Page 10

But people can pretend to be nice, and it’s hard to tell when they ‘re pretending.

Page 95

Even in the darkest darkness, hope was a lifeline, though sometimes as thin as a thread.

Page 104.

 

Mirip dengan cerita Al Chemist yang tokoh utamanya memanfaatkan perpustakaan umum, Jane Hawk di The Silent Corner juga demikian. Sepertinya ini sudah jadi trik yang diketahui umum bahwa pemakaian komputer di perpustakaan umum aman dari identifikasi personal pemakainya.

Her preferred computer source was a public library, whereever she might be. Even then, depending on the information she sought and reviewed online, she didn’t linger long at any location.

Page 41

 

Ternyata, meski The Silent Corner buku bergenre suspense yang banyak adegan actionnya, ada juga terselip bagian-bagian yang sedih. Setidaknya saya jadi tahu kalau Dean Koontz juga pandai meramu kalimat yang bisa membawa emosi pembaca. Sebagai ibu, saya bisa membayangkan seperti apa memperjuangkan seorang anak. # oh sepertinya emosi ini semakin mendalam karena saya sudah emak-emak juga seperti Jane Hawk 😅

Jane dropped to her knees, not merely to be at his level, but also because her legs suddenly grew weak and failed her. He came into her arms, and she held him as if someone might at any moment try to tear him from her. She couldn’t stop touching him, kissing his face. The smell of his hair was intoxicating, the softness of his sweet young skin.

Page 77

“Last time you came here, like after you left, I found this down at the creek, washed up on some stones. She looks like you.”

There was no remarkable resemblance, but Jane said, “She sort of does, doesn't she?”

“I knew right away it was good luck.”

“Like finding a shiny new penny.”

“Bigger luck. You came back and all.” He was solemn when he held the cameo out to her. “So you’ve got to have it.”

She understood the necessity of matching his solemnity. She accepted the charm. “I’ll always keep it in my pocket.”

“You gotta sleep with it, too.”

“I will.”

“Every night”

“Every night,” she agreed.

The idea of one last kiss, one last touch, seemed too much for him. He opened the door, scrambled from the car, closed the door, and waved good-bye.

Page 102-103

 

Tidak sedikit novel internasional karangan penulis kawakan yang mengangkat dan menyebut-nyebut tentang hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Sebut saja David Lagercratnz di The Girl Who Takes an Eye for an Eye, dan Rick Riordan di Magnus seriesnya. Ternyata The Silent Corner pun begitu, bedanya di sini hanya menyinggung isunya saja. Soal Boko Haram dan ISIS tepatnya. Di mata dunia, dua hal ini berkaitan dengan Islam kan. Meski banyak juga yang berpendapat mereka sama sekali bukan muslim karena kekejaman seperti itu memang tidak pernah ada dalam ajaran agama manapun.

“Sheerly for the fun of it, we could pack the little bugger off to some Third World snake pit, turn him over to a group like ISIS or Boko Haram, where they have no slightest qualms about keeping sex slaves.

Page 94

 

Tampaknya Dean Koontz suka menggunakan perumpamaan yang membutuhkan wawasan pembaca dalam kalimatnya. Untung saja Goliath dan Joan of Arc sudah jadi pengetahuan umum bagi banyak orang. Cara mengolah kalimatnya pintar juga ya. Jadi terasa luwes dan berbobot.

She was left with one role to play: David to their Goliath. She had no illusions that she could bring them down with one stone and a slingshot. They were not one giant. They were an army of Goliaths, as far as she knew, and her chances of coming out of this triumphant and alive were a decimal point awal from zero.

Page 98

I see the look you’re giving me, Moshe. I know I can’t change the world. I’m not suffering from Joan of Arc syndrome.

Page 221

 

Nah ini dia nih sisi yang terasa sekali ditonjolkan dalam cerita. Kombinasi tokoh utama yang seorang wanita cantik, pintar, dan mematikan biasanya banyak diidolakan 😁.

He is face-to-face with the most remarkable-looking girl, hair aniline black and eyes so hot-blue they look as if they could boil water as efficiently as gas flames.

Page 276

If that’s the crisis code that disarms the alarm but also alerts them that you’re under duress, if it summons help, here’s what’ll happen. Once I switch off the perimeter alarm you set when you came home, I won’t just drive away and let them come free you. I’ll stand here for five minutes, ten, to-see if there’s going to be an armed response from Vigilant Eagle ot the cops. And if there is, I’ll shoot you in the face. Now... do you want to give me another disarming code?”

Page 269

 

Pada halaman 329 teman-teman akan menemukan mengapa novel ini diberi judul The Silent Corner. Penjelasannya cukup menarik juga untuk disimak.

 

Sebagaimana novel suspense perlu memiliki dasar logika kasus dan solusinya, The Silent Corner pun demikian. Fakta-fakta ilmiah penunjang cerita ada di dalam buku ini. Tapi jumlahnya tak sebanyak novel Michael Critchton itu, jadi untuk yang tak begitu suka dengan banyaknya penjelasan-penjelasan ilmiah yang bikin pusing tak usah khawatir di buku ini akan ada yang demikian.

Ribosomes were mitten-shaped organelles that existed in great numbers in the cytoplasm of every human cell. They were the sites where proteins were manufactured. Each rhibosome had more than fifty different components. If you broke down a slew of them into their separate parts and thoroughly mixed them up in a suspending fluid, then Brownian movement – caused by encounters with molecules of the suspending medium – kept knocking them against one another until the fifty-some parts assembled into whole ribosomes.

Page 338

 

Lalu di bagian akhir ada cuplikan bab satu buku lanjutan The Silent Corner, judulnya The Whispering Room #Jane Hawk 2. Lumayan sekali untuk intip-intip seperti apa kelanjutan kasus yang ditangani oleh Jane Hawk.

Picture : bonus bab awal buku lanjutan The Silent Corner

Secara keseluruhan buku The Silent Corner menarik dari sisi penokohan, konflik, twist, aksi, dan strategi. Hanya mungkin buat yang biasa membaca novel suspense, ada beberapa bagian yang klise. Tapi mungkin juga memang itu tujuan penulis, biar berasa kekhasan novel yang tokoh-tokohnya berlatar agen FBI itu. 

 

Siapa Dean Koontz

Dean Ray Koontz adalah penulis asal Amerika yang memiliki nama pena yang cukup banyak, yakni Aaron Wolfe, Brian Coffey, David Axton, Deanna Dwyer, John Hill, K.R. Dwyer, Leigh Nichols, Anthony North, Owen West, dan Richard Paige. Ia penulis spesialis genre suspense dan thriller, meski kadang juga membuat karya bergenre horor, fantasi, sains fiksi, dan misteri. Banyak karyanya yang masuk ke dalam list The New York Times Bestseller. Buku-bukunya telah terjual lebih dari 450 juta kopi.

Novel pertama yang ia tulis berjudul Star Quest yang dipublikasikan pada tahun 1968. Setelah itu ia melanjutkan menulis novel-novel science fiction. Pada tahun 1970 Dean Koontz mulai menulis buku bergenre suspense dan horror fiction. Beberapa menggunakan nama aslinya dan beberapa buku lainnya menggunakan nama penanya. Dalam satu tahun ia bisa mempublikasikan 8 buah karya.A tas saran editornya, akhirnya Dean Koontz mulai menggunakan nama aslinya di tiap novelnya.

Buku bestseller pertamanya yang berjudul Demon Seed terjual lebih dari 2 juta kopi dalam setahun. Setelah itu banyak dari novelnya yang kemudian mendapatkan posisi pertama di The New York Times Bestseller List. Tahun 2008 ia juga menjadi salah satu penulis termahal bersanding dengan John Grisham yang juga penulis kawakan.

The Silent Corner mendapatkan rating 3.98 di situs Goodreads dan 4.4 di situs Amazon dengan jumlah reviewer yang banyak.

 

Rekomendasi

Saya rekomendasikan novel ini untuk pembaca dewasa yang menyukai genre suspense dengan tokoh utama wanita cantik, pintar dan jagoan yang juga berlatar belakang agen FBI. Alur cerita menarik ditunjang dengan deskripsi tokoh dan latar yang detail, teman-teman pasti suka. Kasus yang diangkat berkaitan dengan teknologi molekuler dan rekayasa genetika super jenius, fakta-fakta ilmiah penunjang cerita logis dan tidak terlalu banyak jumlahnya. Actionnya oke dan tentu berdarah-darah. Yah, makanya ini untuk pembaca dewasa.

My Rating : 4/5

 

 

0
0
0
s2sdefault

Review Buku Magnus Chase and The Sword of Summer #1 - Rick Riordan

Published: Thursday, 29 March 2018 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

Judul : Magnus Chase and The God of Asgard

- The Sword of Summer

Penulis : Rick Riordan

Jenis Buku : Novel Fantasy

Penerbit : Disney Book Group

Tahun Terbit : 2015

Jumlah Halaman :  499 halaman

Dimensi Buku : 21.08 x 14.99 x 4.06 CM

Harga : Rp. 189.000

ISBN : 978-1-4231-6091-5

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

No.1 New York Times Best-Selling Author

Available at Periplus Setiabudhi Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi)

 

Sekelumit Tentang Isi

Setelah ibunya meninggal, Magnus Chase resmi tinggal di jalanan. Hidupnya jelas berantakan, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya di Boston, makan di dapur umum, dan selalu berada dalam ancaman tertangkap oleh "polisi atau petugas sosial". Sejauh ini Magnus Chase berhasil selamat dari itu semua, tapi tidak ketika yang mencari dan mengejarnya bukan lagi manusia.

 

Pada waktu yang hampir bersamaan Magnus baru saja mengetahui bahwa dirinya anak dari salah satu dewa Viking bernama Frey. Dewa-dewa tampaknya sedang di ujung peperangan besar (Ragnarok) melawan troll, raksasa, dan monster. Tentu saja Loki turut andil di belakang ini semua. Untuk mencegah Ragnarok terjadi, Magnus Chase harus menemukan sebuah senjata yang hilang ribuan tahun yang lalu. Sebuah pedang yang dulu dimiliki ayahnya, pedang yang ketajamannya tiada duanya, Sumerbrander namanya.

 

Dalam suatu pertarungan melawan Surt, Magnus terdesak antara dua pilihan, nyawanya atau nyawa ratusan orang yang tak bersalah. Keputusannya lalu membawanya hidup kembali di Valhalla dan memulai petualangan dan pertempuran yang sesungguhnya.

Sometimes, the only way to start a new life is to die.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Nah ini dia cover US buku Magnus Chase seri satu. Kalau liat ilustrasi gambarnya sepertinya kita pasti langsung bisa menebak kalau itu Magnus Chase yang sedang memegang The Sword of Summer. Tapi serigala yang ada di depannya lain lagi. Teman-teman nanti bisa mengetahuinya setelah menyimak cerita di buku ini.

Cover versi UK nya berbeda dengan cover yang ini. Khusus untuk seri ini saya suka kedua disainnya. Ketiga buku Magnus series memang memberikan ciri khas pada disain cover. Kita bisa tahu itu kalau kita menjajarkan semua bukunya bersamaan.

Yang pasti buku ini tebal. Kurang lebih ada 500 halaman. Yang saya baca itu versi paperbacknya. Tapi tidak usah khawatir, ukuran hurufnya menurut saya tidak kecil. Jadi mata kita akan cukup nyaman saat membaca buku ini.

 

Tokoh dan Karakter

Gara-gara saya lebih dulu membaca Magnus Chase seri ketiga (The Ship of The Dead), dan saya jadi suka sekali dengan tokoh Jack si pedang, saya jadi sangat menunggu-nunggu saat dimana Jack sudah ditemukan oleh Magnus 😅. Karakter Jack di buku ini kurang lebih sama dengan dibuku ketiganya. Dia pintar, lucu, dan menggemaskan.

Begitu pun tokoh Magnus Chase yang juga sama lucu dan polosnya di buku ini. Hanya sisi karakter berani dan nekat ala Magnus memang lebih terasa. Magnus juga cerdas , dan yang pasti dia beruntung.

Samirah Al Abbas tidak terlalu dimunculkan sisi muslimahnya di sini. Dalam banyak alur cerita, Samirah berperan sebagai seorang gadis yang berpikiran dewasa dan logis sehingga banyak diandalkan dalam berbagai situasi.

Dua sahabat Magnus yang juga ternyata pelindungnya, yakni Hearthstone dan Blitzen banyak diceritakan di seri ini. Kemampuan sihir Heartstone belum sesakti seperti di buku seri ketiga. 

Selain tokoh-tokoh yang disebutkan di atas, ada masih cukup banyak tokoh lainnya yang berperan, mulai dari monster hingga dewa, yang masing-masing punya karakter dan personaliti tersendiri.

Saya tak ingin banyak komentar tentang ini, intinya, tak ada tokoh yang ambigu karakternya, dan semua tokoh terasa hidup dalam imajinasi saya 😊.

 

Alur dan Latar

Cerita seri pertama Magnus Chase ini beralur maju dengan banyak adegan yang menarik untuk disimak. Plotnya proporsional. Judul-judul babnya bahkan menggilitik dan membuat penasaran.

Untuk genre fantasi deskripsi fisik yang diberikan Rick Riordan juga cukup detail sehingga menunjang imajinasi pembaca. Contohnya deskripsi tokoh Gunilla yang saya kutip di bawah ini.

The girl looked about eighteen. She was big enough to play power forward, with snow-blond hair in braids down either shoulder. Over her green dress she wore a bandolier of ballpeen hammers, which struck me as an odd choice of weapon. Maybe Valhalla had a lot of loose nails. Around her neck hung a golden amulet shaped like a hammer. Her eyes were as pale blue and cold as a winter sky.

Page 84

 

Tak cuma deskripsi fisik tokoh-tokohnya yang bagus, cerita ini didukung pula oleh deskripsi latar yang baik. Itulah salah satu sebabnya saya sangat menyukai buku ini. Berikut saya kutipkan salah satu deskripsi latar kamar Magnus Chase di Valhalla.

The suite was nice than any place I’d ever lived, nicer than any place I’d ever visited, including Uncle Randolph’s mansion.

In a trance, I moved to the middle of the suite, where a central atrium was open to the sky. My shoes sank into the thick green grass. Four large oak trees ringed the graden like pillars. The lower branches spread into the room across the ceiling, interweaving with the rafters. The taller branches grew up through the opening of the atrium, making a lacy canopy. Sunlight warmed my face. A pleasant breeze wafted through the room, bringing the smell of jasmine.

...

I turned in a slow circle. The suite was shaped like a cross, with four section radiating from the centra atrium. Each wing was a large as my old apartment. One was the entry hall where we’d come in. The next was a bedroom with a king-size bed. Despite in size, the room was spare and simple; a beige comforter and fluffy-looking pillows on the bed, beige walls with no artwork or mirrors or other decoration. Heavy brown curtains could be drawn to close off the space.

Page 65

Latar cerita bervariasi mulai dari hotel Valhalla hingga wilayah Boston dan negeri-negeri imajinernya, seperti negerinya para raksasa, negeri para dewa, dan lain sebagainya.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Kalimat-kalimatnya yang lucu dan penuh humor memang sudah jadi ciri utama seri Magnus Chase yang saya tunggu-tunggu. Biasanya Magnus yang mengucapkan atau memikirkan banyak hal dari sudut pandang yang memancing tawa. Coba saja simak beberapa percakapan yang saya kutipkan di bawah ini.

I thought, if Satan were real, he would look like this guy.

Then I thought, No. Satan would be a schlub next to this guy. This guy is like Satan’s fashion consultant.

Page 35

 

“Gunilla”- Sam’s voice tightened – “this is Magnus Chase.”

I held out my hand. “Gorilla? Pleased to meet you.”

The girl’s nostrils flared. “It is Gunilla, captain od the Valkyries. And you, newcomer – “

Page 84

 

“If the daughter of Loki can show such bravery, why can’t we all? Samirah demonstrates the seven heroic qualities I’ll be highlighting in my upcoming book, Seven Heroic Qualities, which will be available in the Valhalla gift shop.”

# Membayangkan dewa Odin nulis buku non fiksi genre self-help rasanya lucu juga. 

“My friend, you also shall be released from Mimir’s service. I will personally bring you to Asgard, where I will teach you the runes in a ninety-minute one-on-one free tutoring session, accompanied by a DVD and signed copy of my book Rune Magic with the All-Father.”

# bahkan Odin pun punya model coaching program yang nanti dapat bonus DVD segala. 😅

 

Buat yang kangen dengan ulah dan tingkah Jack si pedang, kalian harus sabar menunggu ya. Sebab Jack baru muncul di akhir-akhir cerita.

 

Magnus ternyata suka baca buku ya. Beberapa penulis yang disebutkan juga penulis favorit saya, tapi ada beberapa penulis lain yang saya belum pernah dengar namanya. Mungkin karena suka membaca inilah yang membuat Magnus meski polos sekali tapi juga punya otak yang cerdik.

I scanned the bookshelves: my favorite fantasy and horror authors from when I was younger – Stephen King, Darren Shan, Neal Shusterman, Michael Grant, Joe Hill; my favorite graphic novel series – Scott Pilgrim, Sandman, Watchmen, Saga; plus a lot of books I’d been meaning to read at the library.

Page 71

 

Mengingat saya membaca Magnus Series dengan urutan yang terbalik, jadi wajar saja ada beberapa hal yang saya tidak pahami saat menyimak seri ketiganya itu. Nah, saat baca buku ini ternyata hal-hal tersebut ada penjelasannya. Jadi membaca seri Magnus dengan tidak berurutan pun sebenarnya bisa kalau menurut saya. Jalan ceritanya meski saling menyambung namun bisa kita nikmati secara tunggal.

In the old stories, Valhalla was for heroes who died in battle.

Page 72

“Ragnarok,” I said.

“Doomsday,” Sam said. “When the Nine Worlds are destroyed in a great conflagration and the armies of gods and giants meet in bettle for the last time.”

“Oh. That Ragnarok.”

Page 87

 

Hal lain yang sangat sukai dari buku ini adalah pesan moralnya yang cukup banyak, terutama tentang persahabatan dan karakter positif pada kepribadian manusia. Kalimat-kalimatnya pun pantas sekali diambil untuk dikutip.

You get what you pay for. Something comes cheap, it ain’t worth much.

Page 199

A hero’s bravery has to be unplanned – a genuine response to a crisis. It has to come from the heart, without any thought of reward.

Page 426

 

Khusus di edisi bahasa Inggris (saya tidak tahu apakah di buku terjemahan ada juga sama), ada beberapa bab khususnya. Ada glossary, ada petunjuk pengucapan berhubung banyak kata-kata yang asing, ada keterangan tentang nine world, dan informasi tentang runes yang dipakai di cerita ini. Bab-bab tambahan tersebut juga ada di seri ketiga Magnus Chase.

Baca juga : "Review Buku Magnus Chase and The God of Asgard - The Ship of The Dead"

 

Siapa Rick Riordan

Richard Russel Riordan Jr. yang lebih dikenal dengan nama pena Rick Riordan adalah penulis Amerika yang sangat terkenal. Karyanya yang populer meliputi buku seri Percy Jackson, diterjemahkan ke dalam 42 bahasa dan laku lebih dari 30 juta copy di Inggris. Dua bukunya telah pula diangkat menjadi film oleh rumah produksi terkenal, 20th Century Fox. Buku terbaru yang ia publikasikan adala seri Magnus Chase yang didasarkan atas mitologi viking.

Ide cerita Percy Jackson didapatkan Rick Riordan dari momen-momen dimana ia sering mendongengan putranya tentang mitologi Yunani berikut dewa-dewanya. 

Banyak sekali buku yang telah ditulis oleh Rick Riordan, jauh sebelum Percy Jackson menjadi bestseller. Genre yang ia tulis pun ternyata tidak hanya melulu fantasi.

Tres Navarre Series

  1. Big Red Tequile (1997)
  2. The Widower's Two-Step(1998)
  3. The Last King of Texas(2001)
  4. The Devil Went Down to Austin(2002)
  5. Southtown(2004)
  6. Mission Road(2005)
  7. Rebel Island(2008)

Percy Jackson & The Olympians

  1. The Lightning Thief (2005)
  2. The Sea of Monsters (2006)
  3. The Titan's Curse (2007)
  4. The Battle of the Labyrinth (2008)
  5. The Last Olympian (2009)

The Heroes of Olympus

  1. The Lost Hero (2010)
  2. The Son of Neptune (2011)
  3. The Mark of Athena (2012)
  4. The House of Hades (2013)
  5. The Blood of Olympus (2014)

Graphic Novels

  1. The Lightning Thief Graphic Novel(2010, in collaboration with Robert Venditti, Nate Powell, and Jose Villarrubia)
  2. The Red Pyramid Graphic Novel(2012, adapted by Orpheus Collar)
  3. The Sea of Monsters Graphic Novel(2013, in collaboration with Robert Venditti, Attila Futaki, and Tamas Gaspar)
  4. The Titan's Curse Graphic Novel(2013, in collaboration with Robert Venditti, Attila Futaki, and Gregory Guilhaumond)
  5. The Lost Hero Graphic Novel(2014, in collaboration with Robert Venditti, Nate Powell, and Orpheus Collar)
  6. The Throne of Fire Graphic Novel(2015, adapted by Orpheus Collar)
  7. The Son of Neptune Graphic Novel(2017, in collaboration with Robert Venditti, Antoine Dode, and Orpheus Collar)
  8. The Serpent's Shadow Graphic Novel(2017, adapted by Orpheus Collar)

The Kane Cronicles

  1. The Red Pyramid (2010)
  2. The Throne of Fire (2011)
  3. The Serpent's Shadow (2012)

The 39 Clues Series

  1. The Maze of Bones (2008)
  2. Introduction to The 39 Clues: The Black Book of Buried Secrets(2010)
  3. Vespers Rising (2011)

Stand Alone Novels

  1. Cold Springs(2004)

Demigods and Magicians crossover collection

  1. The Son of Sobek (2013)
  2. The Staff of Serapis (2014)
  3. The Crown of Ptolemy (2015)

Magnus Chase and the Gods of Asgard

  1. The Sword of Summer (2015)
  2. The Hammer of Thor(2016)
  3. The Ship of the Dead(2017)

The Trials of Apollo

  1. The Hidden Oracle (2016)
  2. The Dark Prophecy(2017)
  3. The Burning Maze(Scheduled for May 1, 2018)

Lainnya

  1. Introduction to the anthology Tales of the Greek Heroes, Roger Lancelyn Green (2009)
  2. Introduction to the essay collection Demigods and Monsters(2009, 2013)

 

Mengingat banyak sekali karya yang sudah ia hasilkan, Rick Riordan tak pelak lagi termasuk ke jajaran penulis yang produktif. Penghargaan yang telah ia terima juga luar biasa.

  • 1998 Shamus Award for Best First PI Novel and Anthony Award for Best Paperback Original for Big Red Tequilla
  • 1999 Edgar Award for Best Paperback Original for The Widower's Two-Step
  • 2008 Mark Twain Award for The Lightnigh Thief 
  • 2009 Mark Twain Award for The Sea of Monsters
  • 2009 Rebecca Caudill Award for The Lightning Thief
  • 2010 School Library Journal's Best Book for The Red Pyramid
  • 2011 Children's Choice Book Awards: Author of the Year
  • 2011 Children's Choice Book Awards: Fifth Grade to Sixth Grade Book of the Year for The Red Pyramid
  • 2011 Wyoming Soaring Eagle Book Award for The Last Olympian
  • 2011 Milner Award for Percy Jackson and the Olympians series
  • 2012 Indian Paintbrush Award for The Red Pyramid
  • 2013 Best Fiction Book for Children in Bulgaria for The Mark of Athena
  • 2017 Stonewall Book Award for Children's literature for The Hammer of Thor

 

Magnus Chase The Sword of Summer mendapatkan rating Amazon 4.6 dan Goodreads 4.26. Pada tahun 2015 buku ini memenangkan Goodreads Choice untuk kategori buku genre fantasi.

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca usia remaja dan dewasa yang menyukai genre fantasi yang tokoh-tokohnya meliputi manusia, kurcaci, elf, raksasa, zombie, dewa-dewa, dan monster. Kisah petualangan bersama sahabat yang memiliki pesan moral bisa kita dapatkan dari membaca buku ini. Gaya bahasanya yang luwes, tokohnya yang lucu, dengan leluconnya yang polos dan terkadang sarkasme membuat buku ini terasa segar dan tidak membosankan (seri Percy rasanya lebih serius ketimbang Magnus). Kepiawaian Rick Riordan mengemas cerita, menjadikan The Sword of Summer menjadi cerita fantasi yang luar biasa. Jika teman-teman menyukai buku-buku karangan J.R.R. Tolkien - The Lord of The Ring dan buku-buku fantasi berlatar dewa-dewa mitologi Nordik, maka jangan lewatkan buku Rick Riordan yang satu ini.

My Rating : 5/5

 

 

 

0
0
0
s2sdefault

Sponsored Post, Job Review, Special Request, Postingan Lomba

Review Buku The Productivity Project - C…

01-04-2018 Hits:444 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : The Productivity Project – Accomplishing More by Managing Your Time, Attention, and Energy Penulis : Chris Bailey Jenis Buku : Non Fiksi – Self Improvement Penerbit : Crown Business Tahun Terbit : Agustus 2017 Jumlah...

Read more

Review Buku The Silent Corner - Dean Koo…

30-03-2018 Hits:523 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : The Silent Corner Penulis : Dean Koontz Jenis Buku : Novel Suspense Penerbit : Random House Tahun Terbit : Oktober 2017 Jumlah Halaman :  576 halaman Harga : Rp. 143.000 ISBN : 978-0-345-54679-1 Mass Market Paperbound Edisi Bahasa Inggris New York...

Read more

Review Buku Magnus Chase and The Sword o…

29-03-2018 Hits:590 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : Magnus Chase and The God of Asgard - The Sword of Summer Penulis : Rick Riordan Jenis Buku : Novel Fantasy Penerbit : Disney Book Group Tahun Terbit : 2015 Jumlah Halaman :  499 halaman Dimensi Buku...

Read more

Review Buku

Review Buku Into The Water - Paula Hawki…

06-04-2018 Hits:221 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Into The Water Penulis : Paula Hawkins Jenis Buku : Novel Suspense Penerbit : Noura Books Publishing Tahun Terbit : September 2017 Jumlah Halaman :  480 halaman Harga : Rp. 89.000 ISBN : 9786023853366 Edisi Terjemahan Penulis Terlaris #1 New...

Read more

Review Buku Gentayangan - Intan Paramadh…

29-03-2018 Hits:635 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Gentayangan Penulis : Intan Paramadhita Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Oktober 2017 Jumlah Halaman :  512 halaman Harga : Rp. 125.000 ISBN : 978-602-03-7772-8 Edisi Soft Cover Karya sastra bidang prosa terbaik pilihan...

Read more

Review Buku The Girl Who Drank the Moon …

20-03-2018 Hits:826 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : The Girl Who Drank The Moon Penulis : Kelly Barnhill  Jenis Buku : Novel Fantasi Penerbit : Bhuana Ilmu Populer Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  420 halaman Harga : Rp. 115.000 ISBN : 978-602-394-731-7 Edisi...

Read more

Cerita Dipidiff

Bubur Kacang Ijo untuk Moonlight

10-03-2018 Hits:1232 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Usia Moonlight sudah 12 bulan sekarang. Sebagai emak-emak pada umumnya, hati saya pun gembira sekali melihat perkembangan anak. Moonlight sudah cukup lancar jalannya, dia sehat, aktif bermain, makannya bagus, dan...

Read more

Batik Kepret Motif Bunga dan Lingkaran

08-03-2018 Hits:1416 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Sudah hampir satu bulan kayaknya sejak terakhir membatik. Kok rindu ya 😅. Kain mori sudah ready, malam dan pewarna juga masih cukup untuk satu batik lagi. Jadi kayaknya kondisi sudah...

Read more

Membuat Shibori

27-02-2018 Hits:1870 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Me time ya shibori time 😁🙌, pasti begitu kata para pecinta shibori. Teman-teman sudah pernah dengarkah tentang shibori? Jujur saja usia saya tahun ini 37, dan saya baru saja mendengar...

Read more