Translate - Language

id Indonesian zh-CN Chinese (Simplified) nl Dutch en English tl Filipino fr French de German it Italian ja Japanese ko Korean ms Malay th Thai

Review Buku Rindu - Tere Liye

Published: Sunday, 23 July 2017 Written by Dipi

 

Judul Buku : Rindu

Jenis Buku : Fiksi

Pengarang : Tere Liye

Penerbit : Republika

Tahun Terbit beserta Cetakannya : Cetakan XL Oktober 2016

Dimensi Buku : 13,5 cm x 20,5 cm

Jumlah Halaman : 544 halaman

Harga Buku : Rp. 69.000

 

"Apalah arti memiliki,

ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?

Apalah arti kehilangan,

ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan,

dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?

Apalah arti cinta,

ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah?

Bagaimana mungkin, kami tertunduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? 

Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.

 

Isi Cerita

Tanggal 1 Desember 1938 merapatlah sebuah kapal besar milik perusahaan Belanda di Pelabuhan Makasar, sebuah kapal penumpang yang bisa memuat ribuan orang yang berazzam untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci. Kapal tersebut bernama Kapal Blitar Holland yang dikomandoi oleh Kapten Phillips.

 

Di antara banyaknya penumpang kapal yang berangkat dari Pelabuhan Makasar tersebut naiklah seorang tua, alim ulama yang terkenal di Makasar bernama Ahmad Karaeng yang biasa dipanggil Gurutta, lalu naik juga keluarga Daeng Andipati yang terdiri dari Daeng, istri dan kedua putrinya, Anna dan Elsa, serta seorang anak muda pendiam dan berwajah suram bernama Ambo Uleng.

 

Sergeant Lucas, pemimpin pasukan militer Belanda yang ditugasi untuk mengawal kapal tersebut, dari awal memang sudah membenci Gurutta sehingga kerap mencari-cari kesalahan ulama tersebut selama perjalanan kapal, padahal Gurutta sudah berupaya untuk menghindari perselisihan sedapat mungkin. Kebencian Lucas yang membabi buta sangat tidak disukai seisi penumpang kapal, termasuk kru kapal dan kapten Phillips sendiri. Larangan Sergeant Lucas terhadap ide Gurutta untuk menyelenggarakan kegiatan belajar di kapal untuk anak-anak, serta pengajian rutin selepas shubuh sempat membuat suasana memanas.

 

Sementara intrik terus berlanjut dalam perjalanan berhari-hari menuju tanah suci, terjalinlah persahabatan antara Ambo Uleng dengan putri kecil Daeng Andipati. Bahkan Ambo Uleng tak pernah menyangka hidupnya bisa bertakdirkan dengan anak sekecil Anna. Semua karena suatu kejadian dimana Anna menghilang di sebuah pasar di Surabaya yang tiba-tiba rusuh karena serangan bom.

 

Tidak seperti yang lain, Ambo Uleng naik kapal Blitar Holland bukan untuk pergi haji, melainkan pergi dari kenyataan hidupnya yang pahit. Sakit hatinya yang dalam membuatnya ingin lari sejauh mungkin dari Makasar. Ambo melamar pekerjaan di kapal pada Kapten Phillips yang menerimanya lebih kepada karena rasa kasihan dan empati. Apa artinya cinta sejati jika tak dapat bersatu? Maka Ambo memilih menyerah dalam hidupnya. Namun di kapal inilah justru Tuhan mempertemukannya dengan takdir yang pada akhirnya mengubah jalan hidupnya 180 derajat.

 

Daeng Andipati yang kehidupannya dipandang orang begitu sempurna, ternyata pada kenyataannya jauh dari sempurna. Hidupnya dihantui rasa benci pada seseorang yang seharusnya disayangi, padahal saat itu ia sekeluarga sedang menempuh perjalanan suci. Apakah Allah akan menerima haji orang yang membenci sepertinya? Benarkah kehidupanku bahagia? Demikian pertanyaan yang menghantui Daeng selama ini.

 

Tuan Ahmad Karaeng, alim ulama yang terhormat, pandai menasehati orang lain. Pandai dalam wawasan agama. Pandai segala-galanya. Namun sebenarnya ia pun mempertanyakan keberanian dirinya sendiri dalam memperjuangkan agama dan kemerdekaan bangsa. Begitu tak inginnya ia menyakiti orang lain hingga dirinya selalu dalam keragu-raguan dalam mengambil tindakan. Ia mempertanyakan kebijakan kata-kata yang sering ia ucapkan. Sesungguhnya ia merasa khawatir dirinya adalah munafik. Tak diduga dalam perjalanan kapal menuju tanah suci inilah ia mendapatkan jawaban atas pertanyaan besar tersebut, justru dari orang yang tak disangka.

 

Pasangan mbah kakung dan mbah putri yang naik Kapal Blitar Holland dari Pelabuhan Semarang adalah pasangan paling romantis di kapal. Mereka berjalan bersisian, bergandengan tangan, bahkan memandang mesra satu sama lain. Tapi Tuhan menakdirkan mbah putri berpulang kesisiNya di tengah perjalanan. Jenazahnya dimakamkan di lautan. Sirna sudah cahaya kehidupan mbah kakung. Berhari-hari ia mengurung diri dan hanya makan sedikit. Mengapa Tuhan memanggil mbah putri di saat mereka belum tiba di tanah suci? Mengapa tidak menunggu sebentar lagi saja. Mbah kakung sudah memimpikan ibadah ini bersama-sama dengan istrinya sekian lama, bahkan berencana untuk dimakamkan berdekatan jika mereka sudah tiada. Siapa kah yang bisa membantu menjawabkan pertanyaan besar mbah kakung ini sementara kondisi kesehatan mbah makin menurun. Benarkan takdir Tuhan itu kejam?

 

Guru cantik yang mengajar mengaji anak-anak di kapal itu sungguh pendiam dan selalu memisahkan diri dari rombongan, ia dan suaminya tak pernah makan bersama penumpang lainnya di ruang makan yang besar itu. Tak heran orang-orang jadi bertanya-tanya. Bonda Upe menyimpan masa lalu yang kelam dan memalukan sehingga ia selalu mengindari kebersamaan dengan orang lain. Tapi ajakan Gurutta dan semua penumpang yang terus menyemangatinya akhirnya meluluhkan hatinya. Bersama suami dan rombongan Gurutta mereka pergi makan bersama di restoran Batavia. Namun justru saat itulah identitas masa lalunya terbongkar. Siapakah Bonda Upe di masa lalunya? Dapatkan ia berhasil keluar dari bayang-bayang masa lalunya yang kelam?

 

Badai besar datang beberapa kali membuat penumpang kapal khawatir, mesin rusak sehingga mereka berada dalam ancaman terkatung-katung di lautan, juga adanya penumpang ilegal yang bermaksud jahat telah menunggu di kegelapan koridor-koridor kapal yang gelap di malam hari.

 

Lalu puncak dari segala peristiwa yang ada, perompak pun datang, membunuh beberapa kelasi kapal, menyandera seluruh penumpang dan kapten Philliips, bahkan tentara Belanda yang dipimpin oleh Sergeant Lucas diikat dan dianiaya perompak. Hanya Ambo Uleng, Gurutta, Chef Lars kepala koki kapal, dan beberapa orang yang berhasil menyembunyikan diri. Tuan Gurutta sendiri bisa lolos karena ia saat itu sedang berada dalam penjara kapal, dipenjarakan oleh Sergeant Lucas gara-gara sebuah buku yang ia tulis selama perjalanan di kapal. Apa ide mereka untuk bisa mengalahkan perompak?

 

Pesan Moral

Buku Rindu karangan Tere Liye memang sepenuhnya mengisahkan sebuah kerinduan yang pekat pada makna kehidupan yang sejati, bahagia, cinta, perjuangan hidup, dan keberanian.

 

Melalui kisah Ambo Uleng, kita belajar bahwa masa lalu yang menyakitkan bisa kita kenang dengan cara yang baik tanpa perlu merusak masa depan kita. Takdir di masa depan dapat berubah selama kita menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, dengan penuh rasa syukur, dan mendekatkan diri pada Tuhan.

“Lepaskanlah, Ambo. Maka besok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti kembali dengan cara yang mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu.” (Halaman 492)

“... maka tidak mengapa kalau kau patah hati, tidak mengapa kalau kau kecewa, atau menangis tergugu karena harapan, keinginan memiliki, tapi jangan berlebihan. Jangan merusak diri sendiri. Selalu pahami, cinta yang baik selalu mengajari kau agar menjaga diri. Tidak melanggar batas, tidak melewati kaidah agama.” (Halaman 493)

“Jika harapan dan keinginan memiliki itu belum tergapai, belum terwujud, maka teruslah memperbaiki diri sendiri, sibukkan dengan belajar,” ... ,”Maka teruslah menjadi orang baik seperti itu. Insya Allah, besok lusa, Allah sendiri yang akan menyingkapkan misteri takdirnya.” (Halaman 493)

“Sekali kau bisa mengendalikan harapan dan keinginan memiliki, maka sebesar apa pun wujud kehilangan, kau akan siap menghadapi, Ambo. Kau siap menghadapi kenyataan apa pun. Jikapun kau akhirnya tidak memiliki gadis itu, besok lusa kau akan memperoleh pengganti yang lebih baik.” (Halaman 493)

 

Kisah Daeng Andipati mengajarkan kita untuk memaafkan masa lalu, berdamai dengannya, serta memulai kehidupan yang baru.

“Kenapa kita tetap memutuskan untuk membenci? Karena boleh jadi, saat kita membenci orang lain, kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri.” (Halaman 373)

“Kenapa kau memilih benci, sedangkan orang lain memilih berdamai dengan situasi di sekitarnya?”... “Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati.” (Halaman 375)

“Buka lembaran baru, tutup lembaran yang pernah tercoret. Jangan diungkit-ungkit lagi”. (Halaman 376)

 

Dari cerita kehidupan Bonda Upe kita belajar untuk tidak lari dari kenyataan hidup betapapun nista dan menyakitkan, hidup dengan tegar, fokus pada masa depan, jalani hidup dengan selalu berbuat baik, serta tak pernah putus asa pada kasih sayang Tuhan.

“Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu,” ... ,”Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan, dia akan memudar sendiri. Disiram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia.” (Halaman 312)

“Kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Karena toh, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu.” (Halaman 314)

“Hanya Allah yang tahu. Kita hanya bisa berharap dan takut. Senantiasa berharap atas ampunannya. Selalu takut atas azabnya. Selalulah berbuat baik. Maka semoga besok lusa, ada satu perbuatan baikmu yang menjadi sebab kau diampuni”. (Halaman 314)

 

Kisah Mbah Kakung yang ditinggal Mbah Putri hingga membuatnya hilang semangat hidup mengajarkan pada kita tentang hakikat takdir Tuhan.

“... Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Segala sesuatu yang kita anggap buruk, boleh jadi baik untuk kita.” (Halaman 470)

“... biarkan waktu mengobati seluruh kehidupan....” (Halaman 472)

“... mulailah memahami kejadian ini dari kacamata yang berbeda, agar lengkap...” (Halaman 472)

 

Dan yang terakhir kisah sang ulama besar Makasar, Ahmad Karaeng atau yang biasa dipanggil Gurutta. Dari kisahnya kita belajar tentang keberanian hidup dan perjuangan melawan kebatilan, juga kebijakan dan kesederhanaan hidup.

“Lawanlah kemungkaran dengan tiga hal. Dengan tanganmu, tebaskan pedang penuh gagah berani. Dengan lisanmu, sampaikan dengan perkasa. Atau dengan benci di dalam hati, tapi itu sungguh selemah-lemahnya iman.” (Halaman 532)

“Tapi malam ini kita tidak bisa melawan kemungkaran dengan benci dalam hati atau lisan. Kita tidak bisa menasehati perompak itu dengan ucapan-ucapan lembut. Kita tidak bisa membebaskan Anna, Elsa, Bonda Upe, Bapak Soerjaningrat, dan seluruh penumpang dengan benci di dalam hati. Malam ini kita harus menebaskan pedang.” (Halaman 533)

“Gurutta menyeka pipinya yang basah, menatap kelasi yang bahkan baru beberapa hari lalu bisa shalat dengan genap. Saatnya ia menunaikan tugasnya sebagai ulama, yang memimpin di garis terdepan melawan kezaliman dan kemungkaran.” (Halaman 533)

 

Ide dalam Cerita

Saya sepenuhnya menyukai semua ide cerita yang Tere Liye tuangkan dalam buku Rindu. Pemecahan-pemecahan masalah yang diberikan dapat diselesaikan dengan baik, klimaks dan antiklimaks yang sempurna, memuaskan dan tak tertebak. Atau mungkin juga saya malas menebaknya karena begitu tenggelam dalam cerita.

 

Sesungguhnya buku Rindu adalah bacaan yang memikat dari awal cerita sampai akhir. Kecerdasannya dalam menggiring pembaca pada beragam konflik dalam cerita begitu elegan. Apalagi jika mengingat dalam buku ini bukan cuma menceritakan satu atau dua kisah tokoh, melainkan beberapa orang tokoh utama, belum lagi ditambah beberapa tokoh pelengkap cerita. Kalau bukan karena kemampuan menulis yang begitu hebat, saya hampir yakin banyak penulis yang kerap gagal membangun ide cerita yang begitu kompleks namun tertata rapih.

 

Yang paling memukau dari cerita pada akhirnya adalah penutup yang tak terduga. Seakan-akan setelah dikenyangkan oleh beragam cerita yang apik dari awal sampai akhir, kita masih pula dibonusi dengan hidangan penutup yang manis. Yang pasti, saya jelas mengakhiri membaca halaman terakhir dari buku ini sambil berseru, “Buku ini memang pantas mendapatkan pujian dan apreasiasi sebagai Buku Islam Terbaik Islamic Book Award 2015”.

 

Kekuatan Bahasa

Seperti biasa buku Tere Liye populer juga karena banyaknya kalimat dalam buku yang bisa dijadikan quote. Demikian pula dengan buku Rindu. Tampaknya kemampuan berbahasa adalah salah satu kekuatan yang dimiliki penulis ini.

 

Tidak cuma pandai merangkai kata bijak, ia pun cerdas membahasakan beragam situasi yang ada dalam cerita. Simak saja narasi Tere Liye di bawah ini yang menggambarkan situasi mencekam di kapal, sebuah teka-teki bayangan dan suara-suara misterius.

“Suara ketukan itu semakin dekat. Untuk kemudian terhenti sebentar. Kemudian muncul lagi. Kali ini ketukan itu berputar-putar di tempat, lantas menjauh. Hilang. Daeng Andipati menahan napas. Seperti ada sesuatu yang berjalan mondari-mandir di ujung lorong yang gelap.” (Halaman 270)

“Daeng Andipati merapat di belakang punggung Gurutta, bersiap. Apapun itu yang keluar dari sudut gelap, Gurutta adalah pertahanan terbaiknya. Suara gemerisik terdengar. Dari balik kotak-kotak peralatan, terlihat keluar sesuatu. Perlahan. Membuat langit-langit lorong terasa pekat, menegangkan.” (Halaman 276)

 

Demikian pula kepiawaian Tere Liye membangun suasana tegang menuju klimaks, suatu kejadian tergambar jelas dalam rangkaian kalimatnya yang cerdas.

“Petir menyambar membuat terang semuanya. Pisau itu berkilauan, memperlihatkan pemegangnya yang memakai kedok kain di wajah. Sosok pembawa pisau itu mengendap-endap di belakang, siap menghujamkan pisau itu ke punggung Daeng Andipati.” (Halaman 353)

“Dua kelasi tewas seketika terkena peluru. Perwira senior masih sempat lari ke lorong, lantas dengan cepat memukul kenop tanda bahaya. Suara sirine segera meraung ke seluruh kapal. Membuat Kapten Philliips terlonjak di ruang kemudi. Ada apa?” (Halaman 519).

 

Suasana kegembiraan perjalanan kapal pun tak lupa turut ternarasikan dengan baik.

“Empat puluh meter di samping kapal, berenang cepat puluhan lumba-lumba, seperti mngikuti laju kapal. Tubuh ikan itu timbul tenggelam di bawah permukaan laut. Mengkilat tertimpa cahaya matahari senja.” Halaman337

 

Karakter Tokoh

Tokoh-tokoh utama cerita yang terdiri dari Daeng Andipati, Ambo Uleng, Bonda Upe, Gurutta Ahmad Karaeng, Anna, Elsa, Mbah Putri dan Mbah Kakung mengambil porsi cerita yang berimbang, bergantian, dan bersinergi satu sama lain. Novel berhalaman 544 ini sukses membangun karakter tiap tokoh, yang sebenarnya jumlahnya tidak sedikit ya. Bukan saja jumlahnya tidak sedikit, namun juga tiap tokohnya berbeda latar belakang satu sama lain. Ada yang perempuan dan laki-laki tua, ada juga yang muda, bahkan masih anak-anak. Ada yang saudagar kaya, pelaut miskin, anak-anak yang ceria, ulama yang bijak, dan seterusnya.

 

Kerumitan ditambah pula dengan hadirnya tokoh-tokoh pelengkap yang perlu dibangun penggambaran karakternya agar bisa mendukung keseluruhan cerita dengan baik. Namun nyatanya Tere Liye berhasil melakukan itu semua dengan baik.

 

Latar

Berlatar belakang tahun 1938 saat Belanda masih menjajah Indonesia, novel ditulis dengan manis. Suasana pelabuhan, latar kapal secara keseluruhan, maupun tempat-tempat dan kota-kota transit kapal pun dinarasikan dengan baik. Simak narasi dalam buku Rindu yang mendeskripsikan ruang makan di bawah ini.

“Kantin itu ada di geladak tengah, berbeda satu lantai dengan masjid. Perusahaan dari Rotterdam itu tahu kantin adalah bagian penting dari kapal setelah masjid sehingga juga diletakkan di bagian strategis yang memudahkan penumpang dari sisi kapal mana pun. Tidak susah menemukannya, karena itulah satu-satunya ruang paling luas di kapal. Ada puluhan meja dan kursi panjang tersusun rapi di sana. Dapur langsung menghadap meja-meja dan kursi itu, hanya dipisahkan oleh meja-meja tempat meletakkan makanan. Belasan kelasi sedang sibuk bekerja, mengirim nampan makanan ke bagian kantin.” (Halaman 61)

 

Rekomendasi

Kedalaman dan kekayaan makna yang ada dalam buku Rindu membuat saya ingin merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh semua orang. Ya, semua orang. Tua muda, suku apapun, latar belakang bagaimanapun, bahkan agama dan keyakinan yang beragam, meskipun sudut pandang penceritaan buku Rindu memang sarat dengan ajaran dan nilai-nilai agama Islam.

 

Buku ini tidak cuma menghibur tapi juga mengedukasi kehidupan manusia karena mengangkat topik-topik yang menurut saya menjadi pertanyaan hidup sebagian besar dari kita. Hidup yang bahagia, masa lalu, cinta, takdir, kematian, kehidupan, keberanian, perjuangan, persahabatan, dan masih banyak lagi.

 

Hits: 1020
0
0
0
s2sdefault

Comments   

0 #1 Mutiara 2017-10-01 00:11
Tiap ke toko buku emang novel ini kaya menggoda gitu sih. Cuma karena sekarang aku udah jarang bgt baca novel jadi takut kalo ga kebaca gitu. Aku aja masih ada novel yang belum kebaca, masa mau beli-beli lagi huhuhu. Walaupun hawa nafsu buat beli novel ini selalu ada, tapi sekarang aku lebih bisa menahan diri wkwk

REPLY
Jadi inget dulu waktu sibuk dengan kerjaan dan kuliah, sampe ga bisa baca buku. Beli sih tetap beli... tapi trus bukunya nangkring di rak bahkan kadang segelnya belum dibuka hahaha.
Quote

Add comment


Security code
Refresh

Sponsored Post, Job Review, Special Request, Postingan Lomba

Review Buku Something in Between - Melis…

15-10-2017 Hits:73 Features Dipi - avatar Dipi

    Judul : Something in Between Penulis : Melissa de la Cruz Jenis Buku : Novel Penerbit : Harlequin Teen Tahun Terbit : 2016 Jumlah Halaman : 432 halaman Dimensi Buku : 20.07 x 13.21 x 3.05 CM Harga...

Read more

Buku To All The Boys I've Loved Before E…

02-10-2017 Hits:168 Features Dipi - avatar Dipi

  Bulan September lalu kebetulan saya mendapatkan kesempatan yang langka untuk bisa membaca buku yang sama namun dengan edisi yang berbeda. Bukunya tidak lain adalah buku To All The Boys I've...

Read more

Review Buku Rich People Problems - Kevin…

29-09-2017 Hits:281 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : Rich People Problems Penulis : Kevin Kwan Jenis Buku : Fiksi - Novel Penerbit : Random House USA Inc Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  384 halaman Dimensi Buku : 15.60 x 23.20...

Read more

Review Buku

Review Buku Rahasia Sang Suami (The Husb…

13-10-2017 Hits:101 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Rahasia Sang Suami Judul Asli : The Husband's Secret Penulis : Liane Moriarty Jenis Buku : Fiksi - Novel Terjemahan Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : 2016 Jumlah Halaman : 496 halaman Dimensi...

Read more

Review Buku Sihir Perempuan - Intan Para…

05-10-2017 Hits:166 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Sihir Perempuan Penulis : Intan Paramaditha Jenis Buku : Kumpulan Cerpen Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : April 2017 (Pernah diterbitkan oleh Kata Kita pada 2005) Jumlah Halaman : 366 halaman Harga...

Read more

Review Buku Dusta-Dusta Kecil - Big Litt…

02-10-2017 Hits:170 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Dusta-Dusta Kecil Judul Asli : Big Little Lies Penulis : Liane Moriarty Jenis Buku : Fiksi - Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Cetakan Kedua Mei 2017 Jumlah Halaman : 512...

Read more

Cerita Dipidiff

J.CO Jatinangor Town Square : Duduk Menu…

11-10-2017 Hits:105 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Book blogger juga manusia, yang terkadang tidak ada ide menulis, hilang fokus, pikiran lelah, serta kurang nafsu makan (padahal tadi sarapan sebakul 😅). Teman-teman pernah merasakan keadaan yang seperti itu...

Read more

Giggle Box Jatinangor - Alternatif Tempa…

11-10-2017 Hits:98 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Dulu sekali, tahun lalu tepatnya, saya pernah menulis tentang J.Co di Jatos. Waktu itu saya sedang hamil moonlight dan saat berkunjung ke sana saya cukup antusias untuk datang kembali mengingat...

Read more

Sudut Buku di Transmart Carrefour Cipadu…

08-10-2017 Hits:120 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Mungkin tidak semua orang seperti saya, yang setiap berkunjung ke mall atau supermarket pasti langsung mencari book corner. Tentu saya paling bahagia kalau di sana ada toko bukunya. Tapi jika...

Read more