Translate - Language

id Indonesian zh-CN Chinese (Simplified) nl Dutch en English tl Filipino fr French de German it Italian ja Japanese ko Korean ms Malay th Thai

Review Buku Finding Audrey - Sophie Kinsella

Published: Wednesday, 31 January 2018 Written by Dipi

http://www.finmserd.ru/contact/[TRANSLITN]-355.html

Judul : Finding Audrey

Penulis : Sophie Kinsella

Jenis Buku : Novel Remaja (Young Adult)

Penerbit : Ember

Tahun Terbit : 2015

Jumlah Halaman :  304 halaman

Dimensi Buku :  20.83 x 13.97 x 1.52 cm

Harga : Rp. 135.000

ISBN : 978-0-555-53653-9

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Bestselling Author of The Shopaholic Series

Available at @Periplus_setiabudhi

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Selama berada dalam proses pemulihan dan terapi, Audrey tinggal di rumah. Ia cuti sekolah bahkan berhenti dari semua aktivitas sosialnya. Jika pun ia harus bepergian, Audrey selalu mengenakan kacamata hitamnya. Secara fisik Audrey tidak sakit, tapi secara mental ia memang memerlukan penanganan.

... here's the full diagnosis: Social Anxiety Disorder, General Anxiety Disorder, and Depressive Episodes.

Page 23 

 

Sementara itu di rumah, Mum keranjingan membaca Daily Mails yang isinya terutama tentang tips-tips pengasuhan anak, fenomena kekinian para remaja, anjuran makanan dan minuman sehat, yang tentu tidak semuanya bisa diterapkan di kehidupan nyata. Mum sedikit paranoid dalam mendidik anak-anaknya. Terutama Frank, yang akhir-akhir ini memang keranjingan bermain game LOC 3. Bagi Mum, Frank sudah kecanduan, dan itu harus segera ditangani serius. Contohnya dengan membuang laptop Frank keluar dari jendela kamar lantai atas. Lagi-lagi berkat artikel Daily Mails yang mengupas tentang remaja obesitas, Mum menyuruh Frank untuk olahraga lari agar lebih sehat dan lebih banyak aktivitas di luar ketimbang menghabiskan waktu berjam-jam bermain game.

 

Sementara Mum disibukkan dengan Frank, Audrey mendapati dirinya mulai berteman dengan Linus. Linus datang ke rumah mereka karena menjadi teman satu tim LOC dengan Frank. Tidak seperti orang lain, Linus memberikan perhatian dan usaha yang tulus untuk menjalin komunikasi dengan Audrey, meski Audrey bersembunyi, menghindari kontak mata, dan bahkan lari ketika Linus pertama kali datang ke rumah mereka.

 

Dad berusaha menjadi penengah di antara semua "kekacauan" ini. Tapi akhirnya ia pun menyerah ketika Frank mulai menginterupsi waktu kerjanya dengan bolak-balik menggunakan komputer yang tengah ia gunakan.

Untunglah ada Felix yang masih bertingkah normal layaknya anak berusia empat tahun. Meski ia menyukai game Candy Crush di iPad Audrey, tapi setidaknya Felix tidak kecanduan, dan bisa dibujuk dengan makanan kesukaannya. Bagi Audrey, Felix adalah satu-satunya orang yang bisa ia tatap matanya, bisa ia sentuh dan peluk tanpa merasa takut dan terbebani.

 

Bagaimana akhir dari kisah ini? Dapatkah Audrey sembuh dari gangguan mental yang ia alami? Apakah Linus berhasil membantu Audrey untuk sembuh dan bahkan menjadi teman spesial Audrey? Apakah Frank akhirnya tidak pernah bermain game lagi atau malah jadi ikut dalam turnamen LOC tingkat dunia? 

Buku ini berkisah tentang Audrey dalam upayanya menemukan kembali dirinya yang dulu, yang dapat bersosialisasi normal dengan lingkungannya, di tengah hiruk-pikuk keseharian keluarganya yang kadang sangat mengganggu tapi tetap sangat ia cintai.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Saya suka disain covernya, bukan hanya karena kombinasi warnanya yang menurut saya lucu dan ceria, tapi juga disain fisik bukunya yang unik. Ilustrasi gambar seorang gadis dengan kacamata hitam juga sesuai dengan tokoh utama dalam cerita.

Ilustrasi bukunya juga ada. Meski hanya terbatas pada halaman praise for. Dengan kertas yang glossy yang berkilap-kilap itu, buku ini tampak bagus dan mengundang untuk diadopsi lalu dikoleksi :D.

Picture : Fisik buku yang cantik dan glossy

 

Bagaimana ya disain cover buku versi terjemahannya. Beda atau sama? Nah, kalau teman-teman ingin tahu, bisa cek di reviewnya Sapta. Link nya ada di bawah ini, tinggal klik saja :).

Baca juga : "Review Buku Finding Audrey - Sophie Kinsella" oleh Sapta"

 

Tokoh dan Karakter

Tokoh utama cerita ini adalah Audrey, gadis remaja yang mengalami gangguan mental karena trauma akibat dirisak oleh teman sekolahnya. Audrey kesulitan dalam menjalin hubungan sosial, bahkan dengan anggota keluarganya pun Audrey memiliki batasan tertentu. Pada dasarnya Audrey anak yang baik, pintar, berkemauan, meski akibat trauma dan kondisi mentalnya, keputusannya kadang labil atau kurang pertimbangan. Seringkali Audrey merasa khawatir dan takut, pikirannya terbelit pada persepsi dirinya sendiri yang belum tentu benar.

Frank, kakak Audrey, sangat menyukai bermain game. Meski dilarang keras oleh ibunya, Frank tetap selalu punya akal dan alasan untuk bisa bermain game diam-diam. Mungkin Frank terlihat seperti anak yang tidak jujur dan tidak menghargai orangtua, tapi sebenarnya Frank berusaha patuh pada ibu dan ayahnya tapi juga ingin dihargai keinginannya. Dengan caranya sendiri Frank perhatian pada Audrey dan ingin adiknya cepat pulih. Kadang Frank terlihat tidak peduli dan lalai dalam tugas sekolahnya, tapi diam-diam dia ternyata punya prestasi. Frank jelas banyak akal, dan dia juga kadang lucu.

Linus awalnya terlihat tak banyak bicara, tapi nyatanya ia seorang yang ekstrovert dan pandai bergaul. Dia lucu, menggemaskan, baik hati, dan yang pasti sabar. Secara keseluruhan Linux memiliki karakter cowok idaman.

Mum memang ibu yang perhatian, bahkan cenderung panikan. Agak susah membuat Mum mengerti dunia remaja, tapi Mum sebenarnya berusaha untuk itu. Dad jarang mengambil peran dalam urusan rumah tangga. Dad hanya turun tangan jika situasi sudah tidak tertahankan. Dad berusaha tetap tenang meski situasi rumah sedang genting sekalipun, dan ia selalu berusaha mendukung apa yang Mum putuskan dalam mendidik anak-anak selama itu masuk akal. Tingkah Dad kadang lucu karena kekanak-kanakan, seperti saat kelepasan asyik bermain game bersama anak-anak padahal harusnya ia memberikan contoh orang dewasa yang lebih bijak, atau ketika ia menjawab sekenanya jawaban Mum karena perhatiannya sedang terpusat pada ponselnya, padahal saat itu Mum sedang menasehati Frank dan membutuhkan respon yang tepat dari Dad.

Lalu ada tokoh Felix yang menggemaskan, sahabat Audrey, teman sekolah, psikiater Audrey, dan beberapa orang lainnya.

Deskripsi tokoh-tokoh yang ada mencukupi untuk kita mengimajinasikan dengan baik. Contohnya di bawah ini.

People say I look like Mum, but I'm not as pretty as her. Her eyes are so blue. Like blue diamonds. Mine are wishy-washy- not that they're particularly visible right now.

Just so you can visualize me, I'm faily skinny, fairly nondescript, wearing a black vest-top and skinny jeans. And I wear dark glasses all the time, even in the house.

Page 12. 

 

Alur dan Latar

Cerita ini beralur maju, jalan ceritanya terhitung sederhana, tentang kehidupan Audrey dan kisah keluarganya. Konfliknya tidak berat menurut saya. Meski mungkin ada teman-teman yang agak pusing dengan rumitnya jalan pikiran Audrey.

Latar cerita mengambil lingkungan rumah keluarga Audrey, sebuah kompleks perumahan menengah ke atas, yang dalam imajinasi saya pasti tertata rapih. Lalu ada latar ruang konsultasi psikiater tempat Audrey menjalani terapinya dan beberapa restoran cepat saji. Deskripsi latarnya mencukupi, tidak terlalu detail, tapi juga tidak menyulitkan imajinasi kita untuk membayangkannya. 

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Di tahun 2015 ketika buku ini diterbitkan, jaman memang sudah memasuki era internet dengan game onlinenya. Maka topik yang dimunculkan dalam buku Finding Audrey dengan konflik Frank dan kecanduan game nya terasa sangat relevan. Bukan hanya untuk tahun 2015, sampai sekarang pun masalah kecanduan game masih merupakan bahasan yang terus didiskusikan dan dicari solusinya di dunia edukasi dan parenting. Saya sendiri cukup perhatian dengan fenomena ini. Makanya ketika membaca buku Finding Audrey dengan segala cara yang dilakukan tokoh Mum untuk membuat putranya berhenti bermain game, bagi saya terasa sangat menarik dan akhirnya memunculkan ide-ide tertentu di otak saya. 

Sophie Kinsella pada saat yang sama juga menggambarkan dengan jelas gap antar generasi yang memang terjadi di dalam kehidupan nyata. Seringkali orangtua tidak memahami perkembangan jaman karena kesenjangan tersebut. Soalnya dulu tidak mengalami hal yang serupa. Narasi yang Sophie Kinsella pilih sangat luwes dan cerdas, sehingga banyak topik yang alih-alih bisa menjadi sesuatu yang sensitif malah terasa lucu, ringan, dan segar ketika dimunculkan di dalam bukunya. Contohnya saya tuliskan di bawah ini.

She's been Googling "computer game addiction," I just know she has.

"A game."

"I know it's a game," Mom sounds exasperated. "But why does Frank play it all the time? You don't play it all the time, do you?"

...

"So what's the appeal?"

"Well, you know," I think for a moment. "It's exciting. You get reward. And the heroes are pretty good. Like, the graphics are amazing, and they just released this new warrior team with new capabilities, so...," I shrug.

Mum looks more bewildered than ever. The trouble is, she doesn't play games. So it's kind of impossible to convey to her the difference between LOC 3 and, say, Pac Man from 1985. 

Page 11

 

Kalimat-kalimat yang menggambarkan tingkah laku anak-anak terasa lucu dan menggemaskan. Saya kira memang begitulah gaya tulisan Sophie Kinsella. Ringan, menyenangkan, menghibur, dan mengundang senyum. Khusus untuk adegan yang melibatkan anak-anak, saya jadi teringat dengan penulis Liane Moriarty yang juga pandai dalam membawakan tingkah laku dan percakapan khas anak-anak. Contohnya di bawah ini.

Felix looks from us to the iPad. You can sense his mind is working as hard as his four-year old brain cells will let him.

"We must buy a plug," he suggests, with sudden animation, and grabs the iPad. "We can buy a plug and fix it?"

"The plug shop's closed," says Mum, "without missing a beat. "What a shame. We'll do it tomorrow. But guess what? We're going to have toast and Nutella now!"

"Toast and Nutella!" Felix's face burst into joyous beams. As he throws up his arms, Mum grabs the iPad from him and gives it to me. Five seconds latter I've hidden it behind a cushion on the bed.

"Where did the Candy Crush go?" Felix suddenly notices its disappearance and screws up his face to howl.

"We're taking it to the plug shop, remember? says Mum at once.

"Plug shop," I nod. "But hey, you're going to have toast and Nutella! How many pieces are you going to have?"

Poor old Felix. He lets Mum lead him out of the room, still looking confused.

Page14

 

Ketika sedang asyik-asyiknya membaca Finding Audrey, terbaca oleh saya salah satu judul buku yang saya kenal, atau tepatnya dikenal oleh banyak orang. To Kill a Mockingbird jelas buku yang fenomenal, karya Harper Lee yang memenangkan Pulitzer Award. Yang saya baru tahu ternyata cerita di buku itu ternyata diangkat juga menjadi suatu pentas teater di sekolah-sekolah menengah atas (benarkah? atau ini hanya cerita di dalam novel saja?). 

Linus. I remember Linus. He was in that school play, To Kill a Mockingbird, and he played Atticus Finch.

Page16

 

Bagian yang saya sukai lainnya adalah humor-humor keluarga Audrey. Salah satunya ketika Frank memperdaya ibunya ketika ia dipaksa olahraga lari karena ibunya khawatir Frank jadi remaja yang obesitas dan tidak kurang aktivitas di luar. Humor-humor keluarga seperti ini sering kita temui pada banyak film situasi komedia di televisi. Saya sudah jarang menonton film-film tersebut, maka ketika membaca buku Finding Audrey rasanya saya ternostalgia pada hal-hal tersebut.

Mum staring at him as though he's turned into elephant.

"Aren't you going to join in?" says Frank, barely pausing.

"Right," says Mum, getting onto her hands and knees. She does a couple of press-ups, then stops.

"Can't you keep up?" says Frank, panting. "Twenty three... twenty four..."

Mum does a few more press-ups, then stops, puffing. She's really not enjoying this.

"Frank, where did you learn to do those?" she says as Frank finishes. She sounds almost cross, like he's fooled her.

"School," he says succintly. "PE." He sits back on his knees and giver her a malicious little smile. "I can run too. I'm in the cross-country team."

"What?" Mum looks faint. "You didn't tell me."

"Shall we go?" Frank gets to his feet. "Only I don't want to turn into an obese teenage heart attack victim." As they head for the door, I hear him saying, "Did you know that most middle-ages women don't do enough press-ups? It was in the Daily Mail."

Page 48 

 

Tentu saja buku ini menceritakan kehidupan Audrey sebagai tokoh utama. Salah satunya adalah kisah cinta remaja antara Audrey dan Linus yang menurut saya sangat manis. Cara-cara Linus untuk mendekati Audrey dan membantunya pulih dari gangguan mental yang ia derita begitu tulus dan menyentuh. Salah satunya adalah ketika Linus menulis surat untuk Audrey sebagai ganti percakapan face to face yang tidak bisa Audrey lakukan. Bagian ini juga terasa sedih karena menimbulkan rasa kasihan pada Audrey. Selain menulis surat yang lucu dan so sweet itu, ada beberapa cara lain yang Linus lakukan. Teman-teman bisa membaca sendiri bukunya untuk tahu lebih banyak tentang kisah cinta Audrey dan Linus.

There's a long pause. Then the paper arrives back under my nose. He's done a drawing of a rhubarb stalk with dark glasses on. I can't help a snort of laughter.

"So, I'd better go." He gets to his feet.

"Ok. Nice to... you know. Chat."

"Same. Well, bye, then. See you soon."

I lift a hand, my face twisted resolutely away, desperately wishing I could turn towards him, telling myself to turn - but not turning.

Page 80

 

 

Kisah kehidupan Audrey dan keluarganya menyimpan banyak hal positif yang dapat kita ambil sebagai pembaca. Mulai dari konflik Frank yang kecanduan game, Audrey yang dirisak di sekolah hingga mengalami trauma dan gangguan mental, hingga orangtua yang keras mendidik anak-anaknya hingga mungkin lupa perbedaan antara mengarahkan dengan mengatur. Bagian terbaik dari cerita ini menurut saya adalah justru tentang keluarga dan cinta kasihnya. Kisah cinta antara Linus dan Audrey juga memilki pesan-pesan positif untuk para remaja.

 

Siapa Sophie Kinsella

Sophie Kinsella atau Madeleine Sophie Wickham adalah penulis buku genre chick lit asal Inggris. Buku-bukunya telah menjadi buku bestseller dan diterjemahkan ke dalam 30 bahasa. Novelnya yang berjudul The Secret Dreamworld of a Shopaholic dan Shopaholic Abroad di adaptasikan ke dalam film Confession of a Shopaholic pada tahun 2009.

Sophie Kinsella memiliki latar belakang kemampuan menulis jauh sebelum buku-bukunya menjadi terkenal. Novel pertamanya ia tulis pada usia 24 tahun. The Tennis Party menjadi novel yang sukses dan termasuk ke dalam top ten bestseller book. Pada saat itu ia menggunakan nama Madeleine Wickham. Nama pena Sophie Kinsella baru ia gunakan kemudian, yang kemudian diberitahukan kepada publik pada tahun 2005 saat novel Can You Keep a Secret? nya dipublikasikan.

Finding Audrey adalah buku pertamanya yang bergenre Young Adult, dipublikasikan pada tahun 2015. Buku ini mendapat rating 3,81 di Goodreads, dan 4 di Amazon.

 

Buku-buku Sophie Kinsella

The Shopaholic Series

  • Shopaholic to The Stars
  • Confession of a Shopaholic
  • Shopaholic Takes Manhattan
  • Shopaholic Ties the Knot
  • Shopaholic & Sister
  • Shopaholic & Baby
  • Mini Shopaholic

Novel lainnya :

  • I've Got Your Number
  • Can You Keep a Secret?
  • The Undomestic Goddess
  • Remember Me?
  • Twenties Girl
  • Wedding Night

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca remaja dan dewasa yang menyukai genre young adult dengan kisah cinta remaja dan kasih sayang keluarga. Topik yang dimunculkan adalah problematika remaja, mulai dari trauma akibat perisakan hingga perasaan tidak dimengerti oleh orangtua, dan masalah dalam percintaan khas remaja. Cerita beralur maju, ringan, dan tidak pelik. Gaya bahasa luwes, menghibur, dan mengundang senyum. Latar cerita kekinian, jaman internet dan game online. Para orangtua mungkin ada baiknya membaca novel ini karena topik kecanduan game pada anak di dalam buku ini. Apalagi tokoh utama, Audrey, mengalami trauma dan gangguan mental akibat dirisak di sekolah. Setidaknya dari isi cerita kita bisa mengambil hikmah dan pesan penting lainnya.

Catatan : Aman dibaca remaja. No sex content dan tidak ada adegan kekerasan.

My Rating : 4/5

 

Nah, untuk teman-teman yang ingin tahu lebih lanjut tentang buku Finding Audrey versi terjemahannya, kalian bisa cek link review buku yang ditulis oleh Sapta di bawah ini ya. Tentu tiap versi buku ada kelebihannya, dan pada akhirnya pilihan akan kembali kepada teman-teman sendiri, mungkin ada yang lebih suka membaca dan membeli buku versi Inggrisnya atau ada juga yang lebih suka versi terjemahannya. :)

Baca juga : "Review Buku Finding Audrey - Sophie Kinsella" oleh Sapta

 

0
0
0
s2sdefault

Comments   

0 #4 Aninda Resta 2018-02-06 02:12
wah kereeen, saya jadi penasaran..., mbak dipi bisa dibisikan sedikit gimana caranya mum mengatasi putranya yang kecanduan game yaaa? :-D ckckck
Quote
0 #3 Mutia 2018-02-06 01:40
Waah penasaran.. Apalagi caranya mum mengnhentikan putranya dr kecanduan game, gimana yaa.. Hehehe, bisa dibisikin sedikt mbak? :-D
Quote
0 #2 Andika Machmud 2018-02-05 08:52
Dari covernya juga saya suka. Perpaduan antar warna hijau dan kuning kayak gitu cocok banget. Enggak terlalu terang ataupun gelap.

Melihat dari review isi ceritanya, si penulis ini (Sophie Kinsella) cerdas dengan mengangkat masalah yang ada pada sekarang seperti: kecanduan pada game, dan Audrey yang terkena gangguan mental.
Quote
0 #1 Andi Nugraha 2018-02-04 04:52
Setuju, Teh. Saya juga suka sama warnanya. Perpaduan warna covernya terasa pas dan nggak mencolok mata. Sosok Mum seperti ibu saya, Teh. Selain perhatian juga kadang suka panikan gitu.

Keren ya penulisnya, udah best seller, dan bukunya juga udah diterjemahkan dalam 30 bahasa. Coba nanti saya mampir ke link review Sapta.
Quote

Add comment


Security code
Refresh

Sponsored Post, Job Review, Special Request, Postingan Lomba

Review Buku The Productivity Project - C…

01-04-2018 Hits:668 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : The Productivity Project – Accomplishing More by Managing Your Time, Attention, and Energy Penulis : Chris Bailey Jenis Buku : Non Fiksi – Self Improvement Penerbit : Crown Business Tahun Terbit : Agustus 2017 Jumlah...

Read more

Review Buku The Silent Corner - Dean Koo…

30-03-2018 Hits:708 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : The Silent Corner Penulis : Dean Koontz Jenis Buku : Novel Suspense Penerbit : Random House Tahun Terbit : Oktober 2017 Jumlah Halaman :  576 halaman Harga : Rp. 143.000 ISBN : 978-0-345-54679-1 Mass Market Paperbound Edisi Bahasa Inggris New York...

Read more

Review Buku Magnus Chase and The Sword o…

29-03-2018 Hits:763 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : Magnus Chase and The God of Asgard - The Sword of Summer Penulis : Rick Riordan Jenis Buku : Novel Fantasy Penerbit : Disney Book Group Tahun Terbit : 2015 Jumlah Halaman :  499 halaman Dimensi Buku...

Read more

Review Buku

Review Buku Into The Water - Paula Hawki…

06-04-2018 Hits:419 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Into The Water Penulis : Paula Hawkins Jenis Buku : Novel Suspense Penerbit : Noura Books Publishing Tahun Terbit : September 2017 Jumlah Halaman :  480 halaman Harga : Rp. 89.000 ISBN : 9786023853366 Edisi Terjemahan Penulis Terlaris #1 New...

Read more

Review Buku Gentayangan - Intan Paramadh…

29-03-2018 Hits:794 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Gentayangan Penulis : Intan Paramadhita Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Oktober 2017 Jumlah Halaman :  512 halaman Harga : Rp. 125.000 ISBN : 978-602-03-7772-8 Edisi Soft Cover Karya sastra bidang prosa terbaik pilihan...

Read more

Review Buku The Girl Who Drank the Moon …

20-03-2018 Hits:1000 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : The Girl Who Drank The Moon Penulis : Kelly Barnhill  Jenis Buku : Novel Fantasi Penerbit : Bhuana Ilmu Populer Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  420 halaman Harga : Rp. 115.000 ISBN : 978-602-394-731-7 Edisi...

Read more

Cerita Dipidiff

Bubur Kacang Ijo untuk Moonlight

10-03-2018 Hits:1393 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Usia Moonlight sudah 12 bulan sekarang. Sebagai emak-emak pada umumnya, hati saya pun gembira sekali melihat perkembangan anak. Moonlight sudah cukup lancar jalannya, dia sehat, aktif bermain, makannya bagus, dan...

Read more

Batik Kepret Motif Bunga dan Lingkaran

08-03-2018 Hits:1555 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Sudah hampir satu bulan kayaknya sejak terakhir membatik. Kok rindu ya 😅. Kain mori sudah ready, malam dan pewarna juga masih cukup untuk satu batik lagi. Jadi kayaknya kondisi sudah...

Read more

Membuat Shibori

27-02-2018 Hits:2030 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Me time ya shibori time 😁🙌, pasti begitu kata para pecinta shibori. Teman-teman sudah pernah dengarkah tentang shibori? Jujur saja usia saya tahun ini 37, dan saya baru saja mendengar...

Read more