Translate - Language

id Indonesian zh-CN Chinese (Simplified) nl Dutch en English tl Filipino fr French de German it Italian ja Japanese ko Korean ms Malay th Thai

Review Buku A Hole in The Head - Annisa Ihsani

Published: Tuesday, 26 December 2017 Written by Dipi

Judul : A Hole in The Head

Penulis : Annisa Ihsani

Jenis Buku : Novel

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman :  232 halaman

Dimensi Buku :  20 cm

ISBN : 978-602-03-7744-5

Harga : Rp. 58.000

 

  

Ada perbedaan besar antara memiliki pikiran terbuka dengan memiliki lubang di kepalamu sehingga otakmu bocor ke luar.

Halaman 207

 

Sekelumit Tentang Isi

Ann kali ini berlibur di tempat ayahnya di kota Lauterbrunnen, kota dimana ayahnya dan Mama Nina mengelola penginapan cantik milik mereka sendiri. Sudah terbayang betapa akan menyenangkannya liburan Ann, hiking ke gunung, main di danau, atau sekadar menikmati sarapan berpemandangan hutan yang indah.

Tapi penginapan Monchblick Inn ternyata sepi, padahal saat ini sedang musim liburan. Tamu-tamu yang datang berbisik-bisik gelisah dan cepat-cepat pergi begitu saja. Terdengar kabar hantu Matteo mengganggu orang-orang di penginapan. Suara ketokan di pintu, bunyi langkah, hingga bayangan hitam di kamar 303.

Ann tak ingin berdiam diri begitu saja menyaksikan penginapan ayahnya sepi pengunjung. Apalagi ia tak tega melihat wajah Mama Nina yang murung dan tertekan. "Kalau penginapan sepi bagaimana adikku, Emil, bisa beli susu dan popok?!", pikir Ann. Maka dibantu oleh Jo, teman yang ia temui di sana, Ann memulai penyelidikannya.

Siapakah hantu Matteo? Dapatkah Ann menguak misteri hantu ini? Berhasilkan hantu tersebut diusir dari penginapan? Benarkah ada hantu atau ada hal yang lain yang sebenarnya terjadi di penginapan?

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Berhubung tadinya saya tidak tahu apa isi buku A Hole in The Head, jadinya saya tidak punya gambaran juga tentang disain covernya. Baru setelah membaca sinopsis super singkat di bagian belakang buku, terlintas beberapa dugaan. Hantunya mungkin bersemayam di pohon 😅, seperti yang tampak pada ilustrasi cover. Ilustrasi dua anak kecil membuat saya menduga-duga, mungkin ini buku hantu untuk pembaca usia anak-anak atau remaja. Itu pun kalau memang benar ini cerita hantu. Pilihan warna yang cenderung gelap saya pikir sesuai dengan topik cerita yang ke-hantu-hantuan.

Picture : ilustrasi layout buku

Paling senang saat mendapati ada ilustrasi di halaman-halaman buku. Kebetulan saya memang tipe visual sekali. Buku ini memang tidak tebal, pas untuk ukuran bacaan remaja awal, dan ilustrasi yang ada juga cocok untuk pembaca di usia tersebut. Duh, jangan takut-takuti pembaca pemula usia muda dengan buku yang isinya huruf melulu, apalagi yang ukurannya kecil dan tebalnya minta ampun. Sedangkan pembaca lansia seperti saya, ilustrasi yg kanak-kanak begini juga nyatanya tak masalah. Selera saya tetap muda rupanya 😅.

 

Tokoh dan Karakter

Ada Ann sebagai tokoh utama. Gadis remaja yang cerdas, pandai main sulap, sopan, baik hati, dan berani. Tokoh Ann sangat pantas dijadikan figur tokoh remaja 😁.

Lalu ada Jo, remaja laki-laki yang bekerja di penginapan. Sifatnya periang, sedikit penakut, setia kawan, dan senang mengobrol. Mama Nina (mama tiri Ann) adalah wanita yang baik hati, rajin, tapi saat ini kelelahan karena harus mengurus bayi dan menghadapi kendala di penginapan yang ia kelola. Gertjan, ayah Ann, juga pria yang baik, sangat menyayangi Ann, dan berusaha sebisa mungkin membantu istrinya mengurus penginapan dan bayi mereka.

Lalu ada paman Daniel yang tampak ramah dan suka mengobrol. Selain itu ada Igor, Melanie, Olivia, dan beberapa tokoh lainnya, termasuk ibunya Ann yang memiliki peran kecil tapi melengkapi alur cerita.

 

Alur dan Latar

A Head in The Hole adalah kisah beralur maju yang stabil kecepatannya 😁. Sekali lagi saya pikir, ini juga salah satu alasan kenapa buku ini akan cocok untuk dibaca oleh pembaca pemula usia remaja. Permainan teka-teki dan konfliknya pun sederhana serta menarik. Tak ada aksi kekerasan yang berlebihan, tak ada kisah percintaan yang romance abis, dan nuansa petualangan remajanya sangat terasa.

Deskripsi latar yang diberikan penulis juga memancing imajinasi dengan baik. Secara pribadi saya berharap Annisa bisa memberikan deskripsi latar yang lebuh detail, karena dal benak saya kota Lauterbrunnen ini pastilah indah sekali. Tapi mungkin Annisa sengaja memberikan deskripsi latar yang secukupnya saja. Mungkin ini sengaja disesuaikan untuk pembaca remaja, dan bukan buat pembaca usia tua macam saya yang baru saja dibayang-bayangi buku Origin Dan Brown yang jelas-jelas genrenya beda 😅.

Gertjan mengajak Ann turun. "Kita masih perlu jalan ke danau. Sekitar satu jam dari sini."

Mereka melangkah ringan ke jalur hiking yang menanjak landai. Lenguhan sapi mengiringi langkah mereka. Sebentar saja Ann sudah berkeringat dan melepas jaketnya. Sesekali dia berhenti dan mengambil foto untuk ditunjukkan ke ibunya. Di antara pemandangan gletser, padang rumput hijau, dan bunga-bunga liar di pinggir jalan, dia tidak bisa memutuskan mana yang harus dikirimkan nantinya.

# saya berharap ada deskripsi latar yang lebih banyak tentang danau, penginapan, hutan pinus, dan masih banyak lagi. Kota Lauterbrunnen tampaknya seperti kota yang sangat indah.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Nah ini yang paling saya suka dari buku ini. Belum apa-apa sudah ada pesan positif yang bisa dipetik dari cerita.

Ann bukanlah gadis tercantik di sekolah, tapi itu tidak pernah menjadi masalah besar karena dia selalu diajarkan bahwa senyum yang tulus jauh lebih penting ketimbang wajah cantik.

Halaman 17.

 

Ini memang bukan pertamakalinya saya dengar soal anak-anak di bawah umur yang bepergian sendirian. Pernah nonton Home Alone, dan film thriller jadul yang ada adegan serupa. Tapi untuk di buku memang baru kali ini. Istilahnya ternyata unaccompanied minor ya. Maskapai domestik kita juga banyak yang memberikan pelayanan ini, meski saya belum pernah melihatnya secara langsung.

Karena Ann masih di bawah umur dan bepergian tanpa ditemani orang dewasa, ibunya mendaftarkannya ke layanan unaccompanied minor untuk penerbangan ini.

Halaman 28

 

Kisah tentang ibu yang baru memiliki bayi yang ada di buku ini juga terasa benar sekali adanya 😅... seperti saya 😂. Gaya penuturan penulis membuat saya merefleksikan situasi tersebut pada diri saya sendiri, saya membacanya sambil tersenyum.

"Dia baru saja tidur," bisik Mama Nina. Matanya sayu dan dia mengibas-ngibaskan lengannya seolah pegal. "Sudah waktunya, setelah sejam minta digendong.... Sekarang, kopi." Dia membuka stoples kaleng dan menyendokkan bubuk kopi banyak-banyak ke dalam mug. Lalu dia menuangkan air panas dari termos dan mengaduknya. Setelah tegukan pertama, dia berbisik, "Ah, akhirnya. Tadinya aku tidak suka kopi. Tapi sekarang tanpa kafein aku tidak bisa bertahan."

#meski saya tidak minum kopi seputus asa itu tentunya.

 

Bagian ini bahkan ingin saya share rasanya agar dibaca oleh para ayah. Para ibu memerlukan waktu untuk dirinya sendiri bukan karena tidak mencintai bayinya, para ibu butuh bahagia. #eh curhat 😁

Dengan suara lebih lembut, Indira menambahkan, "Tapi, Nina, bagaimana kabarmu? Bukan bayimu. Kau."

"Aku... oh," gumam Nina. Dia terperangah, seakan sudah lama sekali tidak mendengar seseorang menanyakan kabarnya. "Aku baik. Baik."

Perasaan nostalgia memenuhi dada Indira. Respons Nina mengingatkannya ke dirinya sendiri bertauun-tahun yang lalu: muda dan kebingungan dan kurang tidur. "sangat melelahkan, bukan? Mengurus bayi?" tanyanya lembut.

Nina mengerjap-ngerjapkan mata, menyembunyikan air mata yang mulai menggenang. "Ya," bisiknya. "Ya."

"Sejak Ann lahir sampai umurnya enam bulan, aku menangis setiap hari."

"Sungguh?"

"Sungguh."

"Maaf, aku - entahlah. Aku mencintainya sepenuh hati, tapi terkadang... terkadang rasanya, aku tidak begitu menyukainya. Oh, apakah kedengarannya mengerikan sekali? Aku merasa gagal sebagai ibu."

"Sejujurnya, aku juga tidak begitu menyukai Ann sampai dia berusia kira-kira lima tahun. Tapi jangan biilang kepadanya. Atau Gertjan."

Nina mengeluarkan dengusan yang terdengar seperti gabungan antara tawa kecil dan isakan yang tertahan.

"Sulit untuk menyukai siapa pu, termasuk orang yang paling kita cintai, jika kita sedang lelah," kata Indira bijaksana.

# para ayah tidak pernah mengerti bahwa para ibu juga butuh jeda dari bayi mereka

 

Annisa mungkin bukan penulis yang humoris, atau buku A Hole in The Head memang bukan buku humor, tapi kalimat-kalimatnya yang luwes dan karakter yang ia pilihkan untuk tokohnya mau tak mau kadang mengundang senyum. Terutama figur Mama Nina yang rempong dengan urusan bayinya.

"Apa dia kerasukan?" tanya Melanie. "Arwah jahat suka menguasai pikiran yang kosong."

"Kita mulai sekarang, Bu Vogel?"

"Ya, silakan saja, Igor. Dan aku tidak kerasukan, Melanie. Aku sedang menghitung jumlah kalori makanan Emil untuk besok."

Halaman 184.

 

Adegan sulap di dalam buku membuat saya teringat pada seorang teman, saya bahkan sempat berharap namanya disebut dibuku ini 😁, meski ternyata tidak. Saya mendapati bahwa penulis pastilah dengan sengaja menciptakan karakter Ann sebagai seorang gadis dengan pikiran yang logis, pandai, dan menyukai sulap. Bukankah sulap pada dasarnya kumpulan trik logika matematika (?). Ini akan berkesesuaian sekali dengan alur cerita dimana Ann lah yang mengungkap kebenaran kasus hantu Matteo di penginapan.

"Sekarang pilih satu kartu dari tumpukan merah, terserah Paman yang mana saja. Tidak, jangan diambil, biarkan saja di situ," kata Ann. "Selipkan dua kartu As tadi sehingga mengapit kartu yang Paman pilih."

...

Dia menyerahkan kedua tumpukan kartu tadi kepada Paman Daniel dan memintanya membuka identitas kartu yang terapit As. Paman Daniel membuka kartu di tumpukan berpunggung merah: "Tujuh Sekop. Dia lalu membuka kartu di tumpukan biru dan dengan kaget menemukan identitasnya juga Tujuh Sekop.

Halaman 72 

 

Bagian menarik dari tiap buku cerita bertopik hantu tentu tentang hantu itu sendiri. Laki-laki atau perempuan? Bayangan atau tubuh tanpa kepala? Vampir? Mohon maaf, hampir tidak ada cerita hantu yang membuat saya takut, kecuali hantunya Indonesia sekali. #FavSundelBolong

"Rumornya di situlah dia gantung diri," bisik Paman Daniel. "Penginapan ini baru dibangun ketika kami kecil tapi pohon itu sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu."

Halaman 76

 

Ah, senangnya membaca bagian yang satu ini. Mengingatkan saya pada nuansa buku-buku petualangan anak dan remaja yang dulu jadi favorit saya waktu seusia itu. Apalagi kalau bukan petualangan dan bekal makanan beserta deskripsinya. Saya berharap Annisa bisa menambah porsi adegan-adegan seperti ini di bukunya, apalagi mengingat latar ceritanya adalah kota Lauterbrunnen yang sangat indah nun jauh di sana.

Mereka menyiapkan bekal makan siang bersama. Ayah merebus telur, sementara Ann meletakkan potongan tomat dan keju di atas lembaran roti. Dia menangkupkan sehelai roti lagi di atasnya dan membelah dua roti lapis itu menjadi segitiga. Mereka memasukkan beberapa perlengkapan lain -  sebungkus keripik kentang, dua botol air, dan termos besar berisi cokelat panas - ke tas, lalu bersiap berangkat.

Halaman 80

 

Dan seolah menyimpulkan inti cerita, sebuah kalimat ini layak dicatat dan diingat.

Ada perbedaan besar antara memiliki pikiran terbuka dengan memiiliki lubang di kepalamu sehingga otakmu bocor ke luar.

Halaman 207

 

Siapa Annisa Ihsani

Annisa Ihsani adalah penulis novel Teka-Teki Terakhir dan A untuk Amanda. Sebelum berkecimpung dalam dunia tulis-menulis, dia mempelajari ilmu komputer di Unversitas Indonesia dan linguistik komputasi di University if Groningen.

A Hole in The Head mendapatkan rating 3,43 di Goodreads. Poin yang tak terlalu tinggi sebenarnya. Tapi siapa yang tahu, mungkin yang membaca dan yang mereview harusnya memang remaja, jika perlu yang masih sekolah SMP. Sebab saya merasa cukup yakin cerita ini pasti menarik dan cocok untuk mereka.

 

Rekomendasi

Saya rekomendasikan novel ini untuk pembaca usia remaja (awal), terutama yang baru ingin memulai hobi membacanya, atau yang sedang dalam tahap lanjutan buku bacaan anak ke novel remaja, yang mencari topik cerita petualangan, persahabatan, berunsur misteri, ada hantu-hantunya sedikit, dan banyak penjelasan logisnya. Cukup banyak pesan moral yang bisa diambil dari cerita, mulai dari persahabatan, karakter diri, dan hubungan keluarga. Buku ini juga saya rekomendasikan kepada orangtua yang mencari buku bacaan untuk anak remajanya, buku yang bebas dari adegan kekerasan yang berlebihan atau adegan percintaan.

Gaya petualangan dan misterinya sekilas mengingatkan saya pada buku-buku Enid Blyton dan cerita Scooby doo 😅.

 

My Rating : 4/5

 

0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh

Sponsored Post, Job Review, Special Request, Postingan Lomba

Review Buku First They Killed My Father …

17-01-2018 Hits:95 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : First They Killed My Father Penulis : Loung Ung Jenis Buku : Novel based on true story Penerbit : Harper Perennial Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  288 halaman Dimensi Buku :  20.32...

Read more

Review Buku Lincoln in The Bardo - Georg…

16-01-2018 Hits:101 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : Lincoln in The Bardo Penulis : George Saunders Jenis Buku : Novel Penerbit : Random House Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  368 halaman Harga : Rp. 140.000 Edisi Bahasa Inggris Man Booker Prize Winner Available at...

Read more

Review Buku Rumah Tanpa Jendela - Asma N…

12-01-2018 Hits:189 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : Rumah Tanpa Jendela Penulis : Asma Nadia Jenis Buku : Novel Penerbit : Republika Jumlah Halaman :  221 halaman Dimensi Buku : 13.5 cm x 20.5 cm Harga : Rp. 57.000     Sekelumit Tentang Isi Rara ingin...

Read more

Review Buku

Review Buku Revan & Reina - Christa …

15-01-2018 Hits:67 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Revan & Reina "Look, don't leave" Penulis : Christa Bella Jenis Buku : Novel Remaja Penerbit : Penerbit Ikon Tahun Terbit : Juni 2016 Jumlah Halaman :  halaman Dimensi Buku :  130 x 190 mm Harga...

Read more

Review Buku Para Pendosa (Truly Madly Gu…

01-01-2018 Hits:155 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Para Pendosa Judul Asli : Truly Madly Guilty Penulis : Liane Moriarty Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2017 Jumlah Halaman :  600 halaman Dimensi Buku :  13,5...

Read more

Review Buku Kisah Hidup A.J. Fikry (The …

27-12-2017 Hits:307 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Kisah Hidup A.J. Fikry Judul Asli : The Storied Life of A.J. Fikry Penulis : Gabrielle Zevin Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Cetakan Pertama 2017 Jumlah Halaman :  280 halaman Dimensi Buku :...

Read more

Cerita Dipidiff

J.CO Jatinangor Town Square : Duduk Menu…

11-10-2017 Hits:846 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Book blogger juga manusia, yang terkadang tidak ada ide menulis, hilang fokus, pikiran lelah, serta kurang nafsu makan (padahal tadi sarapan sebakul 😅). Teman-teman pernah merasakan keadaan yang seperti itu...

Read more

Giggle Box Jatinangor - Alternatif Tempa…

11-10-2017 Hits:993 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Dulu sekali, tahun lalu tepatnya, saya pernah menulis tentang J.Co di Jatos. Waktu itu saya sedang hamil moonlight dan saat berkunjung ke sana saya cukup antusias untuk datang kembali mengingat...

Read more

Sudut Buku di Transmart Carrefour Cipadu…

08-10-2017 Hits:1066 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Mungkin tidak semua orang seperti saya, yang setiap berkunjung ke mall atau supermarket pasti langsung mencari book corner. Tentu saya paling bahagia kalau di sana ada toko bukunya. Tapi jika...

Read more