Translate - Language

id Indonesian zh-CN Chinese (Simplified) nl Dutch en English tl Filipino fr French de German it Italian ja Japanese ko Korean ms Malay th Thai

Review Buku Finding Audrey - Sophie Kinsella

Published: Wednesday, 31 January 2018 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

Judul : Finding Audrey

Penulis : Sophie Kinsella

Jenis Buku : Novel Remaja (Young Adult)

Penerbit : Ember

Tahun Terbit : 2015

Jumlah Halaman :  304 halaman

Dimensi Buku :  20.83 x 13.97 x 1.52 cm

Harga : Rp. 135.000

ISBN : 978-0-555-53653-9

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Bestselling Author of The Shopaholic Series

Available at @Periplus_setiabudhi

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Selama berada dalam proses pemulihan dan terapi, Audrey tinggal di rumah. Ia cuti sekolah bahkan berhenti dari semua aktivitas sosialnya. Jika pun ia harus bepergian, Audrey selalu mengenakan kacamata hitamnya. Secara fisik Audrey tidak sakit, tapi secara mental ia memang memerlukan penanganan.

... here's the full diagnosis: Social Anxiety Disorder, General Anxiety Disorder, and Depressive Episodes.

Page 23 

 

Sementara itu di rumah, Mum keranjingan membaca Daily Mails yang isinya terutama tentang tips-tips pengasuhan anak, fenomena kekinian para remaja, anjuran makanan dan minuman sehat, yang tentu tidak semuanya bisa diterapkan di kehidupan nyata. Mum sedikit paranoid dalam mendidik anak-anaknya. Terutama Frank, yang akhir-akhir ini memang keranjingan bermain game LOC 3. Bagi Mum, Frank sudah kecanduan, dan itu harus segera ditangani serius. Contohnya dengan membuang laptop Frank keluar dari jendela kamar lantai atas. Lagi-lagi berkat artikel Daily Mails yang mengupas tentang remaja obesitas, Mum menyuruh Frank untuk olahraga lari agar lebih sehat dan lebih banyak aktivitas di luar ketimbang menghabiskan waktu berjam-jam bermain game.

 

Sementara Mum disibukkan dengan Frank, Audrey mendapati dirinya mulai berteman dengan Linus. Linus datang ke rumah mereka karena menjadi teman satu tim LOC dengan Frank. Tidak seperti orang lain, Linus memberikan perhatian dan usaha yang tulus untuk menjalin komunikasi dengan Audrey, meski Audrey bersembunyi, menghindari kontak mata, dan bahkan lari ketika Linus pertama kali datang ke rumah mereka.

 

Dad berusaha menjadi penengah di antara semua "kekacauan" ini. Tapi akhirnya ia pun menyerah ketika Frank mulai menginterupsi waktu kerjanya dengan bolak-balik menggunakan komputer yang tengah ia gunakan.

Untunglah ada Felix yang masih bertingkah normal layaknya anak berusia empat tahun. Meski ia menyukai game Candy Crush di iPad Audrey, tapi setidaknya Felix tidak kecanduan, dan bisa dibujuk dengan makanan kesukaannya. Bagi Audrey, Felix adalah satu-satunya orang yang bisa ia tatap matanya, bisa ia sentuh dan peluk tanpa merasa takut dan terbebani.

 

Bagaimana akhir dari kisah ini? Dapatkah Audrey sembuh dari gangguan mental yang ia alami? Apakah Linus berhasil membantu Audrey untuk sembuh dan bahkan menjadi teman spesial Audrey? Apakah Frank akhirnya tidak pernah bermain game lagi atau malah jadi ikut dalam turnamen LOC tingkat dunia? 

Buku ini berkisah tentang Audrey dalam upayanya menemukan kembali dirinya yang dulu, yang dapat bersosialisasi normal dengan lingkungannya, di tengah hiruk-pikuk keseharian keluarganya yang kadang sangat mengganggu tapi tetap sangat ia cintai.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Saya suka disain covernya, bukan hanya karena kombinasi warnanya yang menurut saya lucu dan ceria, tapi juga disain fisik bukunya yang unik. Ilustrasi gambar seorang gadis dengan kacamata hitam juga sesuai dengan tokoh utama dalam cerita.

Ilustrasi bukunya juga ada. Meski hanya terbatas pada halaman praise for. Dengan kertas yang glossy yang berkilap-kilap itu, buku ini tampak bagus dan mengundang untuk diadopsi lalu dikoleksi :D.

Picture : Fisik buku yang cantik dan glossy

 

Bagaimana ya disain cover buku versi terjemahannya. Beda atau sama? Nah, kalau teman-teman ingin tahu, bisa cek di reviewnya Sapta. Link nya ada di bawah ini, tinggal klik saja :).

Baca juga : "Review Buku Finding Audrey - Sophie Kinsella" oleh Sapta"

 

Tokoh dan Karakter

Tokoh utama cerita ini adalah Audrey, gadis remaja yang mengalami gangguan mental karena trauma akibat dirisak oleh teman sekolahnya. Audrey kesulitan dalam menjalin hubungan sosial, bahkan dengan anggota keluarganya pun Audrey memiliki batasan tertentu. Pada dasarnya Audrey anak yang baik, pintar, berkemauan, meski akibat trauma dan kondisi mentalnya, keputusannya kadang labil atau kurang pertimbangan. Seringkali Audrey merasa khawatir dan takut, pikirannya terbelit pada persepsi dirinya sendiri yang belum tentu benar.

Frank, kakak Audrey, sangat menyukai bermain game. Meski dilarang keras oleh ibunya, Frank tetap selalu punya akal dan alasan untuk bisa bermain game diam-diam. Mungkin Frank terlihat seperti anak yang tidak jujur dan tidak menghargai orangtua, tapi sebenarnya Frank berusaha patuh pada ibu dan ayahnya tapi juga ingin dihargai keinginannya. Dengan caranya sendiri Frank perhatian pada Audrey dan ingin adiknya cepat pulih. Kadang Frank terlihat tidak peduli dan lalai dalam tugas sekolahnya, tapi diam-diam dia ternyata punya prestasi. Frank jelas banyak akal, dan dia juga kadang lucu.

Linus awalnya terlihat tak banyak bicara, tapi nyatanya ia seorang yang ekstrovert dan pandai bergaul. Dia lucu, menggemaskan, baik hati, dan yang pasti sabar. Secara keseluruhan Linux memiliki karakter cowok idaman.

Mum memang ibu yang perhatian, bahkan cenderung panikan. Agak susah membuat Mum mengerti dunia remaja, tapi Mum sebenarnya berusaha untuk itu. Dad jarang mengambil peran dalam urusan rumah tangga. Dad hanya turun tangan jika situasi sudah tidak tertahankan. Dad berusaha tetap tenang meski situasi rumah sedang genting sekalipun, dan ia selalu berusaha mendukung apa yang Mum putuskan dalam mendidik anak-anak selama itu masuk akal. Tingkah Dad kadang lucu karena kekanak-kanakan, seperti saat kelepasan asyik bermain game bersama anak-anak padahal harusnya ia memberikan contoh orang dewasa yang lebih bijak, atau ketika ia menjawab sekenanya jawaban Mum karena perhatiannya sedang terpusat pada ponselnya, padahal saat itu Mum sedang menasehati Frank dan membutuhkan respon yang tepat dari Dad.

Lalu ada tokoh Felix yang menggemaskan, sahabat Audrey, teman sekolah, psikiater Audrey, dan beberapa orang lainnya.

Deskripsi tokoh-tokoh yang ada mencukupi untuk kita mengimajinasikan dengan baik. Contohnya di bawah ini.

People say I look like Mum, but I'm not as pretty as her. Her eyes are so blue. Like blue diamonds. Mine are wishy-washy- not that they're particularly visible right now.

Just so you can visualize me, I'm faily skinny, fairly nondescript, wearing a black vest-top and skinny jeans. And I wear dark glasses all the time, even in the house.

Page 12. 

 

Alur dan Latar

Cerita ini beralur maju, jalan ceritanya terhitung sederhana, tentang kehidupan Audrey dan kisah keluarganya. Konfliknya tidak berat menurut saya. Meski mungkin ada teman-teman yang agak pusing dengan rumitnya jalan pikiran Audrey.

Latar cerita mengambil lingkungan rumah keluarga Audrey, sebuah kompleks perumahan menengah ke atas, yang dalam imajinasi saya pasti tertata rapih. Lalu ada latar ruang konsultasi psikiater tempat Audrey menjalani terapinya dan beberapa restoran cepat saji. Deskripsi latarnya mencukupi, tidak terlalu detail, tapi juga tidak menyulitkan imajinasi kita untuk membayangkannya. 

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Di tahun 2015 ketika buku ini diterbitkan, jaman memang sudah memasuki era internet dengan game onlinenya. Maka topik yang dimunculkan dalam buku Finding Audrey dengan konflik Frank dan kecanduan game nya terasa sangat relevan. Bukan hanya untuk tahun 2015, sampai sekarang pun masalah kecanduan game masih merupakan bahasan yang terus didiskusikan dan dicari solusinya di dunia edukasi dan parenting. Saya sendiri cukup perhatian dengan fenomena ini. Makanya ketika membaca buku Finding Audrey dengan segala cara yang dilakukan tokoh Mum untuk membuat putranya berhenti bermain game, bagi saya terasa sangat menarik dan akhirnya memunculkan ide-ide tertentu di otak saya. 

Sophie Kinsella pada saat yang sama juga menggambarkan dengan jelas gap antar generasi yang memang terjadi di dalam kehidupan nyata. Seringkali orangtua tidak memahami perkembangan jaman karena kesenjangan tersebut. Soalnya dulu tidak mengalami hal yang serupa. Narasi yang Sophie Kinsella pilih sangat luwes dan cerdas, sehingga banyak topik yang alih-alih bisa menjadi sesuatu yang sensitif malah terasa lucu, ringan, dan segar ketika dimunculkan di dalam bukunya. Contohnya saya tuliskan di bawah ini.

She's been Googling "computer game addiction," I just know she has.

"A game."

"I know it's a game," Mom sounds exasperated. "But why does Frank play it all the time? You don't play it all the time, do you?"

...

"So what's the appeal?"

"Well, you know," I think for a moment. "It's exciting. You get reward. And the heroes are pretty good. Like, the graphics are amazing, and they just released this new warrior team with new capabilities, so...," I shrug.

Mum looks more bewildered than ever. The trouble is, she doesn't play games. So it's kind of impossible to convey to her the difference between LOC 3 and, say, Pac Man from 1985. 

Page 11

 

Kalimat-kalimat yang menggambarkan tingkah laku anak-anak terasa lucu dan menggemaskan. Saya kira memang begitulah gaya tulisan Sophie Kinsella. Ringan, menyenangkan, menghibur, dan mengundang senyum. Khusus untuk adegan yang melibatkan anak-anak, saya jadi teringat dengan penulis Liane Moriarty yang juga pandai dalam membawakan tingkah laku dan percakapan khas anak-anak. Contohnya di bawah ini.

Felix looks from us to the iPad. You can sense his mind is working as hard as his four-year old brain cells will let him.

"We must buy a plug," he suggests, with sudden animation, and grabs the iPad. "We can buy a plug and fix it?"

"The plug shop's closed," says Mum, "without missing a beat. "What a shame. We'll do it tomorrow. But guess what? We're going to have toast and Nutella now!"

"Toast and Nutella!" Felix's face burst into joyous beams. As he throws up his arms, Mum grabs the iPad from him and gives it to me. Five seconds latter I've hidden it behind a cushion on the bed.

"Where did the Candy Crush go?" Felix suddenly notices its disappearance and screws up his face to howl.

"We're taking it to the plug shop, remember? says Mum at once.

"Plug shop," I nod. "But hey, you're going to have toast and Nutella! How many pieces are you going to have?"

Poor old Felix. He lets Mum lead him out of the room, still looking confused.

Page14

 

Ketika sedang asyik-asyiknya membaca Finding Audrey, terbaca oleh saya salah satu judul buku yang saya kenal, atau tepatnya dikenal oleh banyak orang. To Kill a Mockingbird jelas buku yang fenomenal, karya Harper Lee yang memenangkan Pulitzer Award. Yang saya baru tahu ternyata cerita di buku itu ternyata diangkat juga menjadi suatu pentas teater di sekolah-sekolah menengah atas (benarkah? atau ini hanya cerita di dalam novel saja?). 

Linus. I remember Linus. He was in that school play, To Kill a Mockingbird, and he played Atticus Finch.

Page16

 

Bagian yang saya sukai lainnya adalah humor-humor keluarga Audrey. Salah satunya ketika Frank memperdaya ibunya ketika ia dipaksa olahraga lari karena ibunya khawatir Frank jadi remaja yang obesitas dan tidak kurang aktivitas di luar. Humor-humor keluarga seperti ini sering kita temui pada banyak film situasi komedia di televisi. Saya sudah jarang menonton film-film tersebut, maka ketika membaca buku Finding Audrey rasanya saya ternostalgia pada hal-hal tersebut.

Mum staring at him as though he's turned into elephant.

"Aren't you going to join in?" says Frank, barely pausing.

"Right," says Mum, getting onto her hands and knees. She does a couple of press-ups, then stops.

"Can't you keep up?" says Frank, panting. "Twenty three... twenty four..."

Mum does a few more press-ups, then stops, puffing. She's really not enjoying this.

"Frank, where did you learn to do those?" she says as Frank finishes. She sounds almost cross, like he's fooled her.

"School," he says succintly. "PE." He sits back on his knees and giver her a malicious little smile. "I can run too. I'm in the cross-country team."

"What?" Mum looks faint. "You didn't tell me."

"Shall we go?" Frank gets to his feet. "Only I don't want to turn into an obese teenage heart attack victim." As they head for the door, I hear him saying, "Did you know that most middle-ages women don't do enough press-ups? It was in the Daily Mail."

Page 48 

 

Tentu saja buku ini menceritakan kehidupan Audrey sebagai tokoh utama. Salah satunya adalah kisah cinta remaja antara Audrey dan Linus yang menurut saya sangat manis. Cara-cara Linus untuk mendekati Audrey dan membantunya pulih dari gangguan mental yang ia derita begitu tulus dan menyentuh. Salah satunya adalah ketika Linus menulis surat untuk Audrey sebagai ganti percakapan face to face yang tidak bisa Audrey lakukan. Bagian ini juga terasa sedih karena menimbulkan rasa kasihan pada Audrey. Selain menulis surat yang lucu dan so sweet itu, ada beberapa cara lain yang Linus lakukan. Teman-teman bisa membaca sendiri bukunya untuk tahu lebih banyak tentang kisah cinta Audrey dan Linus.

There's a long pause. Then the paper arrives back under my nose. He's done a drawing of a rhubarb stalk with dark glasses on. I can't help a snort of laughter.

"So, I'd better go." He gets to his feet.

"Ok. Nice to... you know. Chat."

"Same. Well, bye, then. See you soon."

I lift a hand, my face twisted resolutely away, desperately wishing I could turn towards him, telling myself to turn - but not turning.

Page 80

 

 

Kisah kehidupan Audrey dan keluarganya menyimpan banyak hal positif yang dapat kita ambil sebagai pembaca. Mulai dari konflik Frank yang kecanduan game, Audrey yang dirisak di sekolah hingga mengalami trauma dan gangguan mental, hingga orangtua yang keras mendidik anak-anaknya hingga mungkin lupa perbedaan antara mengarahkan dengan mengatur. Bagian terbaik dari cerita ini menurut saya adalah justru tentang keluarga dan cinta kasihnya. Kisah cinta antara Linus dan Audrey juga memilki pesan-pesan positif untuk para remaja.

 

Siapa Sophie Kinsella

Sophie Kinsella atau Madeleine Sophie Wickham adalah penulis buku genre chick lit asal Inggris. Buku-bukunya telah menjadi buku bestseller dan diterjemahkan ke dalam 30 bahasa. Novelnya yang berjudul The Secret Dreamworld of a Shopaholic dan Shopaholic Abroad di adaptasikan ke dalam film Confession of a Shopaholic pada tahun 2009.

Sophie Kinsella memiliki latar belakang kemampuan menulis jauh sebelum buku-bukunya menjadi terkenal. Novel pertamanya ia tulis pada usia 24 tahun. The Tennis Party menjadi novel yang sukses dan termasuk ke dalam top ten bestseller book. Pada saat itu ia menggunakan nama Madeleine Wickham. Nama pena Sophie Kinsella baru ia gunakan kemudian, yang kemudian diberitahukan kepada publik pada tahun 2005 saat novel Can You Keep a Secret? nya dipublikasikan.

Finding Audrey adalah buku pertamanya yang bergenre Young Adult, dipublikasikan pada tahun 2015. Buku ini mendapat rating 3,81 di Goodreads, dan 4 di Amazon.

 

Buku-buku Sophie Kinsella

The Shopaholic Series

  • Shopaholic to The Stars
  • Confession of a Shopaholic
  • Shopaholic Takes Manhattan
  • Shopaholic Ties the Knot
  • Shopaholic & Sister
  • Shopaholic & Baby
  • Mini Shopaholic

Novel lainnya :

  • I've Got Your Number
  • Can You Keep a Secret?
  • The Undomestic Goddess
  • Remember Me?
  • Twenties Girl
  • Wedding Night

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca remaja dan dewasa yang menyukai genre young adult dengan kisah cinta remaja dan kasih sayang keluarga. Topik yang dimunculkan adalah problematika remaja, mulai dari trauma akibat perisakan hingga perasaan tidak dimengerti oleh orangtua, dan masalah dalam percintaan khas remaja. Cerita beralur maju, ringan, dan tidak pelik. Gaya bahasa luwes, menghibur, dan mengundang senyum. Latar cerita kekinian, jaman internet dan game online. Para orangtua mungkin ada baiknya membaca novel ini karena topik kecanduan game pada anak di dalam buku ini. Apalagi tokoh utama, Audrey, mengalami trauma dan gangguan mental akibat dirisak di sekolah. Setidaknya dari isi cerita kita bisa mengambil hikmah dan pesan penting lainnya.

Catatan : Aman dibaca remaja. No sex content dan tidak ada adegan kekerasan.

My Rating : 4/5

 

Nah, untuk teman-teman yang ingin tahu lebih lanjut tentang buku Finding Audrey versi terjemahannya, kalian bisa cek link review buku yang ditulis oleh Sapta di bawah ini ya. Tentu tiap versi buku ada kelebihannya, dan pada akhirnya pilihan akan kembali kepada teman-teman sendiri, mungkin ada yang lebih suka membaca dan membeli buku versi Inggrisnya atau ada juga yang lebih suka versi terjemahannya. :)

Baca juga : "Review Buku Finding Audrey - Sophie Kinsella" oleh Sapta

 

0
0
0
s2sdefault

Meraih Kebahagiaan Sejati dengan Jalani Nikmati dan Syukuri - Review Buku Dwi Suwiknyo

Published: Wednesday, 24 January 2018 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

 

Judul : Jalani Nikmati Syukuri

Penulis : Dwi Suwiknyo

Jenis Buku : Non Fiksi (Agama dan Spiritual)

Penerbit : Noktah (DIVA Press)

Tahun Terbit : Cetakan pertama, 2018

Jumlah Halaman :  260 halaman

Dimensi Buku :  14 x 20 cm

Harga : Rp. 70.000

ISBN : 978 - 602 - 50754 - 5 - 2

Penulis Buku Best Seller Ubah Lelah Jadi Lillah

 

 

 

Apa artinya kesibukan, kalau tidak bisa kita nikmati?

Apa artinya pekerjaan bergengsi tapi bikin kita mudah stress?

Apa artinya kesuksesan kalau akhirnya membuat kita terkapar di rumah sakit?

Sepertinya, ada sesuatu yang tidak beres dan harus kita obrolkan di buku ini.

 

Sekelumit Tentang Isi

Kalimat-kalimat di atas merupakan pembuka dari buku Jalani Nikmati Syukuri yang ditulis oleh Dwi Suwiknyo. Sederhana tapi mengena kan ya? 😊. Mau tak mau kita teringat kembali pada kehidupan diri kita sendiri atau kisah kehidupan orang lain. Minimal kita jadi bertanya, "Kita begitu tidak ya?" tanya kita dalam hati. Dan meskipun jawabannya "tidak", tetap saja tidak mengurungkan keinginan kita untuk membaca isi buku ini lebih lanjut. Menurut saya, secara psikologis kalimat ini menarik dan mengena, dan secara penempatan kalimat ini tepat dan akurat.

Buku Jalani Nikmati Syukuri dibuka dengan suatu kisah nyata tentang seorang teman mas Dwi Suwiknyo yang jatuh sakit setelah bekerja dengan keras demi karirnya. Tentu ada hikmah yang dapat diambil pembaca dari cerita tersebut, salah satunya adalah tentang kebahagiaan. Pertanyaan terbesar selanjutnya memang berkutat pada satu titik yakni, "Sudahkah kita merasa bahagia selama menjalani kehidupan di dunia ini? Melalui gaya bahasanya yang santai dan mudah dicerna, mas Dwi Suwiknyo mengajak kita untuk merenungkan arti kebahagiaan. "Jangan lupa bahagia", kata beliau.

"Kita memang tidak bisa memilih bagaimana cara kita memulai hidup ini, tetapi kita masih diberi kesempatan untuk memikirkan bagaimana cara kita menikmati hidup ini, dan bagaimana cara kita menyikapi hasilnya."

Halaman 10.

"... jangan sampai semua kesibukan kita justru mengeraskan hati, mengeruhkan pikiran, dan harus diwaspadai bila sampai melemahkan iman."

Halaman 11.

 

Lalu, alih-alih langsung menjelaskannya lebih terperinci, penulis justru berhenti, memberi jeda kepada pembaca untuk melakukan refleksi diri. "Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh buku ini?" tanya beliau. "Untuk mendapatkan jawabannya, selamat membaca buku ini ya?" sambungnya lagi.

 

Nah, sampai sini mari kita intip ada bab-bab apa saja sih di dalam buku Nikmati Jalani Syukuri 😊

# Jangan Lupa Bahagia

# Yang Penting Yakin

# Belajar Menerima

# Belajar Melepaskan

# Kembali Belajar Melepaskan

# Belajar Bahagia

# Kejutan dari Allah

# Nilai diri Kita

# Insentif Cari Muka

# Kontes Kesengsaraan

# Upaya Memberi Nilai

# Kaya Belum Tentu Enak

# Hidup Modal Dendam

# 7 Tanda Kebahagiaan

# Kesengsaraan itu Hanya Ilusi

# Ajaibnya Tiga Kata

# Jangan Gampang Protes

# Tersakiti Saat Berbagi?

# Selalu ada Pilihan?

# Diskusi, Bukan Debat

# Kebencian itu Mematikan

# Ketika Semua Serba Salah

# Seni Memaklumi

# Rumus 9 Barangkali

# Ketemu Jalan Buntu

# Ketika Kita Difitnah

# Kesuksesan yang Tertukar?

# Kesuksesan Kita Berbeda

# Ketika Hidup Terasa Menjenuhkan

# Apa Kamu Mudah Stress?

# Jangan Terlalu Serius

# Tampil Lebih Kreatif

# Hiduplah Hari ini

# Berdamai dengan Diri Sendiri

# Berani Ambil Resiko

# Kemudahan Belum Tentu Baik

# Awas Budaya Instan

# Bukan untuk Dipamerkan

# Ternyata Aku Salah

# Tidak Perlu Minder

# Ketika Salah Menjadi Sumber Tawa

# Jangan Gampang Baper

# Manjakan Diri Sendiri

# Haters itu Anugerah

# Siapa Sebenarnya Teman Kita?

# Allah Selalu Punya Rahasia

# Apa yang Sebenarnya Kita Miliki?

# Mencoba Tetap Bertahan

# Bersyukur Saat Diuji

# Allah Maha Baik

# Epilog : Jangan Tunda Kebahagiaan

 

Pilihan judul-judul tiap bab banyak yang menggelitik rasa keingintahuan saya. Harus diakui saya ingin tahu lebih rinci apa yang dimaksud oleh semua judul tersebut, terlebih topik bahasan tiap bab memang problema yang kerap kita rasakan dalam kehidupan. Membaca buku Nikmati Jalani Syukuri tak pelak lagi dapat menjadi salah satu "pemuas dahaga" atas rasa haus akan bacaan yang menentramkan hati, memberikan solusi, dan mendekatkan diri kita pada Ilahi Robbi.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Siapa yang suka warna-wana cerah? Oh saya suka itu. Makanya disain cover buku ini benar-benar mewakili warna-warna favorit saya. Kombinasi warnanya juga berhasil menonjolkan tulisan judul dengan baik. Secara keseluruhan disain covernya memberikan kesan adanya semangat, harapan, masa depan yang lebih bahagia, yang mana sesuai dengan isi dari buku ini. 

Pada cover buku sudah terlihat keunikan disainnya. Coba perhatikan sudut kiri bawah buku yang bertuliskan "Tempel Foto SENYUM KAMU di sini ya" 😁. Yuk segera foto lalu tempel 😁.

Picture : Tempel Foto SENYUM KAMU

 

Teman-teman tak perlu khawatir, buku ini tidak akan terasa berat dan kebanyakan halamannya. Meskipun babnya banyak, tapi satu babnya biasanya hanya terdiri dari tiga hingga empat halaman saja. Jarang ada satu bab yang mencapai lebih dari lima halaman lebih. Apalagi tiap halaman dipercantik dengan ilustrasi dan model layout tulisan yang beragam sehingga banyak bab-bab di dalam buku ini yang hanya berisi poin-poin penting atau tabel-tabel yang memudahkankan kita untuk memahami topik bahasan.

Banyaknya ilustrasi dan model layout yang beragam benar-benar memanjakan pembaca secara visual. Kita jadi tidak merasa bosan serta jauh dari rasa lelah saat menyimak isi buku. Sudah umum kan ya kalau buku berisi huruf melulu memang membutuhkan fokus dan energi yang lebih, akibatnya kadang membuat kita merasa cepat capek saat membaca. Tapi buku Jalani Nikmati Syukuri jelas buku yang tidak seperti itu.

  

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Bagian yang saya suka dari buku Jalani Nikmati Syukuri adalah gaya bahasanya yang sederhana, santai, namun tepat mengena. Banyak dari kalimat-kalimat mas Dwi Suwiknyo yang sangat persuasif serta meyakinkan, dan lebih banyak lagi dari kalimatnya yang mengandung kebenaran. Coba kita simak bersama satu paragraf yang meyakinkan di bawah ini 😊.

Teman saya itu butuh waktu sampai satu minggu sampai benar-benar pulih dan diizinkan dokter untuk pulang. Dokter berpesan kepadanya agar tidak memforsir tubuh untuk terus-terusan bekerja, dan jangan sampai pusing berat lantaran mikirin target kerja. Karena dedikasi pada pekerjaan tidak harus ditandai dengan cara membunuh diri secara perlahan.

# Ada banyak cara untuk menunjukkan dedikasi kita dalam karir, dan yang pasti bukan dengan cara bekerja hingga jatuh sakit.

 

Beberapa bagian bahkan menggunakan bahasa yang apa adanya, lebih mirip bahasa lisan daripada tulisan. Sesekali mas Dwi selipkan guyonan-guyonan, diduga agar pembaca merasa bahagia saat membaca bukunya. Kan kata beliau "jangan lupa bahagia" 😁.

Begitulah. Memang sudah seharusnya hidup kita ini ada pahit-pahitnya. Latihan. Anggap saja kenyataan pahit itu seperti penyedap rasa dalam hidup kita. Lha, kalau hidup isinya cuma manis, ya bahaya itu. Bisa kena diabetes. Hehehe... canda.

Halaman 70.

 

Buku Jalani Nikmati Syukuri tidak hanya berusaha menyampaikan pesan-pesannya lewat kalimat, namun juga dengan berbagai pendekatan lainnya, kadang melalui pemaparan berbentuk daftar atau tabel, bahkan dengan cerita bergambar. Apakah teman-teman ada yang merasa lebih mudah menyimak cerita dengan gambar? Nah ini dia, di sini ada disediakan halaman khusus untuk itu. Luar biasa 😊.

Picture : Halaman cerita bergambar

 

Masalah-masalah yang dibahas oleh mas Dwi juga terasa "kekinian", sehingga baik pemaparan sudut pandang masalah maupun solusinya terasa nyata, penting, dan lagi-lagi "mengena". Salah satunya saya kutipkan di bawah ini.

Bisa jadi, kita pun telah terjebak dalam pusaran arus modern yang selalu menuntut untuk tampil sempurna. Punya pekerjaan bergengsi, berpenghasilan besar, pendidikan tinggi dengan nilai terbaik, harus punya barang-barang bagus meski terpaksa kredit, dan begitu banyak tekanan dari perkembangan zaman yang akhirnya semakin mengerdilkan jiwa kita.

Selain itu, muncul juga fakta yang unik, yakni ingin tampil memesona di hadapan orang lain, tetapi sejatinya kondisinya tidak sebagus yang terlihat. Kita pun sering menyembunyikan rasa sedih itu (menutupinya dengan topeng). Kita tidak lagi menjadi manusia yang jujur. Segala hal dilakukan agar tetap hebat, tangguh, kuat, padahal sebenarnya lemah dan rapuh. Karena kita lebih pusing memikirkan omongan orang lain ketimbang mensyukuri apa pun yang telah Allah amanahkan dalam diri kita. Akhirnya, kita merasa kalah bila tidak dipandang wah oleh orang lain.

Halaman 9-10.

 

Cara penulis membukakan pikiran kita terhadap suatu topik atau masalah terasa luwes, tidak menghakimi, dan selalu bernada memotivasi.

Betul bahwa kita berhak dan berkuasa atas diri kita, bisa menentukan impian, bisa membuat cita-cita setinggi langit, bisa saling bekerjasama dengan orang lain, tapi toh akhirnya Allah juga yang memutuskan bagaimana takdir hidup kita. Bisa saja kita berpikir, kalau semuanya sudah diatur sama Allah, kenapa kita capek-capek berikhtiar?

Di situlah Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk menunjukkan keseriusan, menunjukkan ikhtiar yang terbaik, dan diberi kesempatan untuk menjalankan setiap niatan baik. Itu justru peluang kita untuk show dan 'pamer' kebolehan kepada Allah. Sekaligus Allah akan melihat seberapa besarnya ketergantungan kita kepada-Nya.

Halaman 33.

 

Solusi-solusinya pun gamblang, mudah dipahami oleh kita, dengan pendekatan sisi rohani serta religi. Salah satunya saya kutipkan di bawah ini.

Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan agar kita bisa menguatkan iman kembali dan tidak terjebak dalam keburukan prasangka kepada Allah? Allah telah memberikan panduan kepada kita dalam surat al- A'laa terutama pada ayat 14 dan 15.

"Sesungguhnya, beruntunglah orang yang membersihkan diri, dan dia ingat nama Tuhannya lalu dia shalat."

Keberuntungan itu hadir setelah kita membersihkan diri, yakni dengan berlapang dada (mau menerima) dengan sabar atas apa pun yang Allah kehendaki. Selain itu beristighfar. 

...

Halaman 36

 

Selain mengingatkan kita pada ayat-ayat suci Al-Qur'an, hadist, dan kisah sahabat nabi, banyak solusi dan tips yang diberikan mas Dwi yang mengupas dari sudut bahasan yang umum, misalnya tips belajar bahagia dan 7 tanda kebahagiaan. Pemaparannya argumentatif dan persuasif. Terasa aplikatif dan cukup mudah untuk dilakukan saat itu juga 😊.

 

Tak lupa jika ada istilah yang dirasa tidak umum dipahami oleh orang awam, maka ada catatan kaki yang memberikan penjelasan lebih detail terkait istilah tersebut. Buku ini memang dimaksudkan untuk dapat dibaca dan dipahami oleh semua segmen pembaca.

Picture : Catatan kaki berisi keterangan istilah tertentu

 

Contoh-contoh kasus yang diberikan dalam buku ini diambil dari kisah nyata saat ini (dari teman dan saudara misalnya), dari kisah sahabat nabi, dan dari cerita kehidupan mas Dwi pribadi. Kadang diperkuat pula dengan cerita dan quotes tokoh-tokoh sukses di dunia masa kini. Pendekatannya yang sederhana dan penuh kerendahatian tak pelak lagi memunculkan rasa simpati di hati saya selaku pembaca, dan menginspirasi banyak hal yang tak terpikirkan oleh saya sebelumnya.

Ketemu Jalan Buntu

Ini kisah nyata. Seorang ibu bekerja sebagai tukang jahit. Beliau menjahit daster-daster di rumah. Sayangnya, beliau hanya menjahitkan . Jadi bahan daster dari sang pemberi proyek, lalu beliau jahit dan hasil jahitan dasternya diberikan kepada sang pemberi proyek tersebut. Untuk setiap daster, beliau mendapat upah Rp.3.000,00 saja.

Melihat sang ibu bekerja keras, anaknya (perempuan) memutar otak. Ia bekerja di sebuah minimarket dari pagi hingga sore. Kemudian, dari sore sampai malam, ia membuat pola.

....

Halaman 141

# kisah nyata

 

Nah, tentang konsep harta yang kita miliki ialah harta yang sudah kita nikmati dan apa yang sudah kita sedekahkan, ini ada satu kisah nyata yang sangat populer di dunia.

Dulu, di kota Madinah terjadi panceklik, kekeringan, dan kekurangan air. Padahal, para sahabat Muhajirin terbiasa meminum air yang jernih (air zamzam) ketika di Makkah. Saat itu di Madinah ada sumber air, tetapi milik warna Yahudi, sumur Raumah namanya. Rasa airnya pun mirip dengan air zamzam. Maka demi mendapatkan air tersebut, warga kota termasuk kaum muslimin pun rela antre untuk membeli air dari sumur tersebut klepada orang Yahudi itu.

.....

Halaman 81

# kisah sahabat Nabi

 

Sesederhana itu. Itulah obat pusing untuk orang kaya. Prinsip itu bukan memperkaya diri ini pun dinasihatkan oleh Mark Markkula Jr. - investor Apple - saat kali pertama memberi dananya kepada Steve Job.

Halaman 80

# cerita dari tokoh ternama masa kini

 

Nah teman-teman, mudah-mudahan sudah mendapatkan gambaran ya tentang buku Jalani Nikmati Syukuri 😊. Sepertinya kini sudah tiba saatnya bagi teman-teman untuk membaca sendiri buku ini agar segera mendapatkan banyak poin-poin positif darinya. Seperti kata Dwi Suwiknyo di akhir buku,

"Jangan Tunda Kebahagiaan"

"Kebahagiaan adalah anugerah dari-Nya yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang sehat".

Epilog

 

Dengan membaca buku ini pikiran jadi terbuka, hati menjadi lebih sehat, tumbuh motivasi baru dalam menjalani hidup, dan semoga kebahagiaan yang lebih dari sebelumnya dapat menjadi milik kita bersama segera.

 

Setelah berbulan-bulan list buku bacaan saya mayoritas diisi novel-novel dari berbagai genre, membaca buku Dwi Suwiknyo sungguh terasa bagai oase di padang pasir. Ademmm banget di hati, mengisi ruhani. Banyak kalimat-kalimat beliau yang penuh hikmah, mengingatkan saya kembali pada eksistensi seorang hamba yang pada dasarnya "lemah tak berdaya tanpa pertolongan dan kasih Allah SWT".

 

Siapa Dwi Suwiknyo

Dwi Suwiknyo lahir di Weleri, Kendal, Jawa Tengah, dan tinggal di Yogyakarta. Ayah dari tiga anak ini menyukai dunia kepenulisan sejak belajar di Pondok Pesantren Modern Selamat, Kendal. Hobinya tersebut makin ditekuninya selama kuliah strata dua (S2) di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Buku-bukunya telah tersebar di toko buku Gramedia. Ia pun menjadi trainer pelatihan kepenulisan sekaligus mengelola Pesantren Penulis (Trenlis).

Telah banyak buku-buku yang ditulis olehnya antara lain Ubah Lelah Jadi Lillah, Google is My Office, Menjadi Pribadi yang Selalu Beruntung, Jokowi : Pemimpin yang Rendah Hati, dan buku-buku yang ditulis bersama penulis lainnya seperti Menulis : Tradisi Intelektual Muslim, Ya Allah Izinkan Kami Menikah, Muslimah Anti Baper, dan Hanya Tuhan yang Tak Bisa Dikalahkan.

Buku Nikmati Jalani Syukuri adalah buku terbarunya, terbit di tahun 2018 dan dipublikasikan oleh Penerbit Noktah (DIVA Press).

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada semua segmen pembaca dari berbagai range usia, terutama pada mereka yang mencari buku bacaan berkualitas tentang pengembangan diri, non fiksi, spiritual dan keagaaman, dengan topik kebahagiaan dalam hidup, yang dibahas dalam sudut pandang rohani dan religi. Bahasanya yang ringan dan sederhana sangat mudah dicerna oleh pembaca. Banyak terdapat gambar dan ilustrasi yang bagus di dalam buku ini, membuat kita jauh dari rasa lelah saat membaca, dan memudahkan kita untuk memahami topik yang tengah disampaikan. Topik bahasan dilengkapi contoh-contoh cerita yang mencakup kisah nyata, pengalaman pribadi, dan cerita penuh hikmah para sahabat nabi. Solusi dan tipsnya yang aplikatif diberikan dalam bentuk poin-poin bahkan terkadang tabel yang dilengkapi dengan gambar yang menarik. Secara keseluruhan buku ini mengupas sisi problematika kehidupan masa kini dengan cara yang sangat mengena.

 

# Tulisan review buku ini disertakan dalam lomba Blog Review Buku Baru, "Jalani Nikmati Syukuri" yang diselenggarakan oleh Penerbit Noktah dan DIVA Press

 

 

0
0
0
s2sdefault

Review Buku Lincoln in The Bardo - George Saunders

Published: Tuesday, 16 January 2018 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

Judul : Lincoln in The Bardo

Penulis : George Saunders

Jenis Buku : Novel

Penerbit : Random House

Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman :  368 halaman

Harga : Rp. 140.000

Edisi Bahasa Inggris

Man Booker Prize Winner

Available at Periplus Setiabudhi Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi)

 

Sekelumit Tentang Isi

Pada bulan Februari tahun 1892 dilatarbelakangi Perang Dunia yang saat itu masih berlangsung sengit, Presiden Lincoln mengalami tragedi dalam hidupnya dengan meninggalnya satu-satunya putra yang ia sangat cintai, young Willie, yang saat itu masih berusia 11 tahun. Willie dimakamkan di pemakaman Georgetown. Segera setelah itu suratkabar melaporkan presiden Lincoln didapati datang berulangkali ke lokasi pemakaman untuk memeluk dan menimang jenazah anaknya.

Ayah yang berduka ini tak dapat melepaskan putranya pergi. Cinta dan dukanya begitu besar hingga menenggelamkan kesadarannya. Sementara itu roh Willie pun menjadi tidak bisa pergi ke alam selanjutnya.

Father promised, the boy said. How would that be, if he came back and found me gone?”

Page 106

 

Berada di antara The Bardo, yang dalam tradisi Tibet berarti suatu kehidupan transisi antara fase mati dan menuju kehidupan di alam selanjutnya, jiwa Willie menghadapi perjuangannya sendiri untuk tetap tinggal demi ayahnya atau pergi ke fase selanjutnya.

Sementara itu roh-roh yang terjebak dan memilih untuk tetap tinggal di alam sementara di pemakaman Georgetown mengamati fenomena ayah dan anak tersebut. Roger Bevins, Hans Vollan, dan Reverend Everly Thomas adalah tiga roh tertua di sana yang pada akhirnya memutuskan untuk mendorong Willie untuk segera pergi bersama malaikat ke alam selanjutnya.

If your father comes, the Reverend said, we will tell him you had to leave. Explain to him that it was for the best

  • roger bevins iii

Page 107

 

Diberitakan pula bahwa kondisi ibu Wilie, Mary Linlcoln, semakin buruk setelah putranya meninggal dunia.

Mrs. Lincoln was unable to leave her room or rise from bed for many weeks after the tragedy.

  • Sloane, op.cit.

Page 182

 

Duka ayah Willie yang membawanya datang berulangkali ke pemakaman anaknya, membuat roh-roh yang ada di sana menjadi tesadarkan, betapa sanak famili mereka sudah meninggalkan mereka dan tidak pernah berkunjung kembali menunjukkan cinta dan kasih sayang mereka seperti saat mereka masih hidup.

Sebagian roh bahkan tak sadar jika mereka sudah mati. Bagi mereka kehidupan seolah berlanjut seperti biasa, yang justru itulah yang membuat mereka menjadi semakin terjebak di dalam the Bardo. Kehadiran jiwa Willie yang masih murni, menarik mereka ke dalam suatu pemahaman baru dan memancing ingatan lama. Mereka yang akhirnya menyadari, kemudian memutuskan untuk pergi dan siap menuju alam selanjutnya.

Tentu saja iblis tak tinggal diam, ada pertempuran terjadi. Selagi malaikat turun dan membukakan jalan bagi mereka yang telah menerima kondisi kematian mereka.

Akankah Presiden Lincoln merelakan Willie pergi? Apakah keputusan Willie kemudian? Bagaiman cara Roger Bevins, Hans Vollan, dan Reveren Everly Thomas membantu Wilie untuk pergi ke alam baka? Apakah mereka juga akhirnya siap untuk pergi ke sana? Roh siapa saja kah yang akhirnya tetap tinggal di pemakaman?

Dan pada akhirnya, pertanyaan terpenting dari kisah ini adalah How do we live and love when we know that everything we love must end?”

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Disain cover buku yang dominan warna biru toska dengan ilustrasi gambar pemandangan alam terbuka yang dipenuhi cahaya membawa saya pada suatu kesan akan kehidupan baru. Mungkin itu erat kaitannya dengan kisah buku ini dimana Willie dan roh-roh lainnya sedang berada di kehidupan transisi setelah kematian dan hendak menuju alam selanjutnya tempat di mana roh-roh tenang dalam cahaya yang terang.

Buku ini mengisahkan cerita yang sangat emosional, hingga kesan di atas pun baru saya dapatkan setelah selesai membaca bukunya dan baru kemudian memperhatikan kembali disain covernya. Coba teman-teman nanti pikirkan, apakah kita punya pendapat yang sama atau berbeda? Yang pasti mau covernya seperti apapun, khusus untuk Lincoln in The Bardo, saya memang sudah tertarik dengan buku ini karena ini buku juara Man Booker Prize 2017 yang review Amazonnya luar biasa bertolak belakang satu dengan yang lainnya. Jelas ini salah satu karya yang fenomenal. 

Picture : Ilustrasi gambar pemakaman Georgetown menjadi pembuka kisah Lincoln in the Bardo

 

Tokoh dan Karakter

Tokoh-tokoh yang ada di buku bisa kita kategorikan menjadi dua, yakni yang hidup dengan yang mati. Tokoh yang masih hidup tentu saja ada Presiden Lincoln, Mary Lincoln (hanya disinggung sedikit di dalam cerita), orang-orang disekitar presiden seperti pejabat sejawat, staff, dan teman-teman yang testimoni dan kesan-kesannya dituliskan di dalam buku sebagai bagian dari saksi mata saat periode kisah ini berlangsung.

Sedangkan tokoh yang sudah mati paling tidak ada tiga yang utama, roh Roger Bevins, Hans Vollan, dan Reverend Everly Thomas. Tiga roh ini lah yang paling banyak muncul narasinya di dalam buku. Satu dengan yang lainnya saling sahut-menyahut, ribut mengomentari segala hal, hingga kepala kita agak sedikit “sakit” karena kata-kata mereka. Selain mereka bertiga, ada beberapa roh lain yang juga berbicara, tapi porsinya hanya sedikit saja.

Meskipun gaya narasi yang unik ini, terutama saat roh-roh gentayangan sedang berbicara, terasa rumit dan kadang mengacaukan alur cerita, pada akhirnya saya memutuskan George Saunders berhasil membuat tiap tokohnya memiliki karakter yang ajeg dan sama sekali tidak mengawang-awang. Bahkan asal-usul dan alasan kenapa roh-roh tersebut terjebak atau memilih tinggal di masa transisi serta hidup “gentayangan” pun dijelaskan di dalam buku.

 

Alur dan Latar

Jelas bahwa Lincoln in The Bardo memiliki alur cerita kombinasi. Kadang maju kadang mundur. Mungkin inilah salah satu penyebab beberapa pembaca merasa kurang nyaman dan kesulitan memahami sudut pandang cerita yang disuguhkan dari bab awal hingga akhir. Kita akan butuh fokus yang lebih kuat untuk dapat memahami konteks bacaan, baru kemudian bisa memetakan alur cerita dengan lebih baik, dan setelah itu barulah bacaan bisa kita mengerti dan dinikmati. Dari keunikan alur cerita saja, Lincoln in The Bardo, jelas menantang untuk pembaca yang mencari pengalaman baru dan tantangan dalam membaca. Sementara sebagian yang lain kemungkinan akan merasa sangat lelah dan kemudian memutuskan berhenti untuk membaca.

Bagian terbaik lainnya dari buku ini adalah ke-brilianan ide George Saunders dalam memadukan model narasi teater dan novel ke dalam bukunya. Berlatarbelakang sejarah perang dunia yang nyata, para arwah yang resah, serta tragedi keluarga Lincoln, George Saunder mengolah itu semua menjadi sebuah cerita yang menggugah dan menguras emosi kita.

Sebagian besar kisah berlatar White House dan Georgetown cemetery. Berbeda dengan novel-novel lainnya yang mendeskripsikan latar dari sudut pandang orang tertentu (pertama, kedua, atau ketiga), latar pada buku ini dideskripsikan oleh beberapa orang sekaligus. Kuncinya adalah menempatkan kita sebagai seseorang yang seperti sedang mendengar “orang-orang berbicara menceritakan kesannya masing-masing”, mungkin cara ini akan membantu kita untuk bisa menempatkan diri dengan benar dari sudut seorang pembaca buku.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Harus diakui saat pertama kali membaca buku ini saya merasa bingung dengan model narasinya. Mengapa? Karena tak jelas siapa yang berbicara, tahu-tahu muncul nama-nama orang yang saya bahkan tidak tahu itu siapa :D. Setelah sampai pada halaman 10 saya lalu berhenti membaca dan membuka-buka review orang-orang di situs Amazon untuk sekadar mencari arahan. Baru setelah membaca review mereka saya memiliki pijakan sendiri untuk memulai membaca lagi dari awal.

Picture : Tiba-tiba ada nama-nama yang muncul, hans vollman dan roger bevins iii,

yang saya tidak tahu itu siapa

 

Keunikan lain dari buku ini adalah bab-babnya yang menggunakan huruf Romawi. Mungkinkah ini disebabkan karena latar cerita yang terjadi di tahun 1892? Bagaimana menurut teman-teman.

Picture : Bab dengan huruf Romawi

 

Lalu, ketika membaca bagian inilah untuk pertama kalinya saya mulai menduga ini buku yang emosional, dan seiring makin banyaknya halaman yang saya baca, mau tak mau saya setuju dengan pendapat reviewer di situs Amazon serta para kritikus dan tokoh-tokoh yang memberikan testimoni untuk karya ini bahwa melalui bukunya ini, George Saunders jelas telah berhasil menghadirkan suatu kisah yang sangat menggugah pikiran dan perasaan kita dengan ide cara bercerita yang benar-benar baru.

We embraced the boy at the door of his white stome home.

  • hand vollman

He gave us a shy smile, not untouched by trepidation at what was to come.

  • the reverend every thomas

Go on, Mr. Bevins said gently. It is for the best.

  • hans vollman

Off you go, Mr. Vollman said. Nothing left for you here.

  • roger bevins iii

Goodbye then, the lad said.

Nothing scary about it, Mr. Bevins said. Perfectly natural.

  • hans vollman

Then it happened.

  • roger bevins iii

An extraordinary occurrence.

  • hans vollman

Unprecedented, really.

  • the reverend every thomas

The boy's gaze moved past us.

  • hans vollman

He seemed to catch sight of something beyond.

  • roger bevins iii

His face lit up with joy.

  • hans vollman

Father, he said.

  • the reverend everly thomas.

Page 42.

# di bagian ini, Willie sebenarnya sudah siap pergi meninggalkan the Bardo. Tiga roh yang ada sudah mendorongnya untuk pergi. Namun Willie tiba-tiba berubah pikiran. “Wajah Willie dibanjiri rasa bahagia,” kata tiga roh tersebut, yakni ketika Willie melihat ayahnya datang ke pemakamannya untuk pertama kalinya.

 

Kneeling before the box, the man looked down upon the lads

  • the reverend everly thomas

He looked down upon the lad's form in the sick-box.

  • hans vollman

Yes.

  • The reverend everly thomas

At which point, he sobbed.

  • hans vollman.

He had been sobbing all along.

  • roger bevins iii

He emitted a single, heartrending sob.

  • hans vollman.

Or gasp, I heard it as more of a gasp. A gasp of recognition.

  • the reverend everly thomas

Of recollection.

  • hans vollman

Of suddenly remembering what had been lost.

  • the reverend everly thomas

And touched the face and hair fondly.

  • hans vollman

As no doubt he had many times done when the boy was –

  • roger bevins iii

Less sick.

  • hans vollman

A gasp of recognition, as if to say: Here he is again, my child, just as he was. I have found him again, he who was so dear to me.

  • the reverend everly thomas

Who was still so dear.

  • hans vollman

Yes.

  • roger bevins iii

The lost having been quite recent.

  • the reverend everly thomas

Page 47.

# Presiden Lincoln datang, menimang Willie, mengusap rambutnya penuh cinta, raut mukanya penuh kedukaan serta rasa kehilangan yang begitu besar, hingga roh-roh yang ada merasa tercekat akan suatu perasaan yang telah lama hilang dari dalam diri mereka.

 

Kesedihan yang dinarasikan oleh banyak orang juga menguatkan emosi yang ada di dalam cerita. Ketika mereka menjadi saksi hidup periode presiden Lincoln mengalami tragedi Willie, kesan-kesan dan kesaksian yang mereka berikan terasa nyata dan membuat kisah ini menjadi lebih sedih lagi.

At about 5 o’clock this afternoon, I was lying half asleep on the sofa in my office, when his entrance aroused me. "Well, Nicolay," said he choking with emotion, "my boy is gone - he is actually gone! and bursting into tears, turned and went into his own offiice.

  • In "With Lincoln in the White House," by John G. Nicolay, edited by Michael Burlingame.

 

I assisted in washing him and dressing him, and then laid him on the bed, when Mr. Lincoln came in. I never saw a man so bowed down with grief. He came to the bed, lifted the cover from the face of his child, gazed at it long and lovingly, and earnestly, murmuring, "My poor boy, he was too good for this earth. God has called him home. I know that he is much better off in heaven, but then we loved him so. It is hard, hard so have him die!"

  • Keckley, op.cit.

Page 49

 

Great sobs choked his utterance. He buried his head in his hands, and his tall frame was convulsed with emotion. I stood at the food of the bed, my eyes full of tears, looking at the man in silent, awe-stricken wonder. His grief unnerved him, and made him a weak, passive child. I did not dream that his rugged nature could be so moved. I shall never forget those solemn moments - genius and greatness weeping over love's lost idol.

  • Keckley, op.cit.

Page 50

 

Willie anak yang baik semasa hidupnya. Tak heran jiwanya begitu murni dan kematiannya menjadi tragedi.

Wille Lincoln was the most lovable boy I ever know, bright, sensible, sweet-tempered and gentle-mannered.

  • In "Tad LIncoln's Father" by Julia Taft Rayne

He was the sort of child people imagine their children will be. before they have children

  • Randall, op.cit

 

Di dalam buku ini kadang Willie yang membawakan sendiri narasinya. Bagian ini juga terasa sangat menyentuh emosi saya. Bagaimana Wilie merasakan cinta ayahnya yang begitu besar, mendengar bisikan-bisikan ayahnya di pemakamannya, kedukaan ayahnya yang dalam atas kepergiannya.

Mouth at the worm's ear, Father said:

We have loved each other well, dear Willie, but now, for reasons we cannot understand, that bond has been broken. But out bond can never be broken. As long as I live, you will always be with me, child.

Then let out a sob

Dear Father crying. That was hard to see. And no matter how I patted & kissed & made to concole, it did no.

You were a joy, he said. Please know that. Know that you were a joy. To us. Every minute, every season, you were a - you did a good job. A good job of being pleasure to know.

Chapter XXI

 

Tak selalu kesedihan yang diceritakan di buku ini. Meski rasanya muskil, ternyata percakapan antar roh kadang-kadang terasa ada lucunya juga. Meski kita harus pandai menempatkan diri agar bisa mengerti lelucan para hantu ini.

Again pushen aside?

Because I am small?

  • abigail blass

Perhaps it is because you are so dirty.

  • roger bevins iii

I live close to the ground, sir. As I believe you –

  • abigail blass

Page 80

 

Percakapan tentang malaikat dan iblis juga menarik untuk disimak, bagaimana penampakan mereka dan peran mereka dalam kisah ini.

At one moment, the angels stepping end masse back into a ray of moonlight to impress me with their collective radiance, I glanced up and saw, spread out around the white stone home, a remarkable tableau of suffering; dozens of us, frozen in misery; cowed, prone, crawling, winging before the travails of the particularized onslaught each was under going

  • the reverend everly thomas

Page 91

 

Dan ketika klimaks terjadi, narasinya dibawahkan oleh para hantu. Menakjubkan menyimak percakapan-percakapan mereka seperti di bawah ini contohnya.

Now came the critical moment.

  • roger bevins iii

Boy and father must interact.

  • hans vollman

This interaction must enlighten the boy; must permit or encourage him to go

  • roger bevins iii

Or all was lost

  • the reverend everly thomas

Chapter LXVII

 

Father. Here I am.

What should I

If you tell me to go   I will

If you tell me stay   I will

I wait upon your advice   Sir)

I listened for Father's reply

Chapter LXXXV

 

Saya terkejut dan senang ketika di akhir halaman saya menemukan adanya tulisan khusus readers guide yang berisi Reading Group Questions and Topics for Discussion. Contohnya saya tuliskan satu di bawah ini.

The presence of a child in the bardo is rare, but what other things about Willie make him different from the other ghosts?

 

Picture : Halaman yang berisi bahan diskusi buku

 

Halaman ini membuat saya berpikir, buku Lincoln in The Bardo tidak hanya merupakan buku berkualitas tapi juga buku yang sangat berguna untuk dijadikan bahan diskusi literasi (kemungkinan besar di tingkat dewasa, misal di SMA atau perguruan tinggi).

Mengenai gaya penuturannya yang unik, pilihan bahasanya yang punya sentuhan emosional yang dalam, dan ide cara penyampaian ceritanya yang benar-benar terasa baru, saya tidak banyak berkomentar kecuali akhirnya mengakui betapa pantasnya buku ini menjadi juara Man Booker Prize 2017.

Mengulang kalimat dari buku “Origin – Dan Brown”, bahwa seni modern tidak terletak pada hasil seninya semata tapi lebih kepada kesegaran, keunikan, dan kecerdasan cara seniman tersebut dalam menciptakan karyanya. Dengan itu saya menyadari, Lincoln in The Bardo, meski bagi sebagian pembaca berpendapat buku ini berisi cerita yang tidak jelas, narasinya kacau, plotnya hancur, tapi harus diakui George Saunders menghadirkan suatu terobosan di dunia kepenulisan lewat karyanya Lincoln in The Bardo.

 

Baca juga : Review Buku Origin – Dan Brown

 

Siapa George Saunders

Berikut buku-buku yang dikarang oleh George Saunders

Fiksi

  1. CivilWarLand in Bad Decline
  2. Pastoralia
  3. The Very Persistent Gappers of Frip
  4. The Brief and Frightening Reign of Phil
  5. In Persuasion Nation
  6. Tenth of December
  7. Lincoln in the Bardo

 

Non Fiksi

  1. The Braindead Megaphone
  2. Congratulations, by the Way

 

George Saudners adalah penulis 9 buku, termasuk Tenth of December, yang menjadi finalis pada National Book Award dan memenangkan inaugural Folio Prize dan Story Prize. Dia telah menerima MacArthuir dan Guggenheim fellowships dan Malamud Prize. Pada tahun 2013 namanya disebut-sebut sebagai salah satu orang paling berpengaruh versi Time Magazine. George Saunders mengajar program creative writing di Syracuse University.

Karir kepenulisan George Saunders sangat banyak. Selain menulis buku-buku, ia juga berkontribusi dan kolom mingguan di American Physche, dan The Guardian antara tahun 2006-2008.Saunders memenangkan National Magazine Awards untuk kategori fiksi di tahun 1994, 1996, 2000, dan 2004, serta O. Henry Awards di tahun 1997. Buku CivilWarLand in Bad Decline adalah salah satu finalis PEN/Hemingway Award tahun 1996. Tahun 2006 Saunders menjadi juara World Fantasy Award untuk cerpennya yang berjudul CommComm. Banyak sekali penghargaan dan juara yang dikantongi oleh Sauders hingga rasanya terlalu banyak untuk dituliskan di sini.

Penghargaan yang dimenangkan oleh George Saunders.

Novel Lincoln in The Bardo mendapatkan rating 3,88 di Goodreads dan 3,8 di situs Amazon dengan jumlah review mencapai seribu lebih. Jelas ini karya yang fenomenal sekaligus kontroversial. Sangat dimaklumi pula rating novel ini belum mencapai 4 karena beberapa alasan yang sudah saya sebutkan sebelumnya.

 

Rekomendasi

Teman-teman, bersabarlah dalam membaca buku ini ya. Kalau sekiranya mengalami bingung dan pusing, tak apa berhenti, mungkin ini memang bukan buku yang tepat untuk dibaca. Tapi bagi yang suka tantangan, ingin membaca buku yang membutuhkan fokus tinggi, emosi yang tergali dengan baik, dengan segala keunikan yang hampir tidak terpikirkan oleh penulis manapun di dunia, maka buku Lincoln in The Bardo berada di urutan nomor satu buku-buku rekomendasi saya.

Catatan : Untuk pembaca remaja dan dewasa

My Rating : 5/5

 

0
0
0
s2sdefault

Sponsored Post, Job Review, Special Request, Postingan Lomba

Review Buku Finding Audrey - Sophie Kins…

31-01-2018 Hits:325 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : Finding Audrey Penulis : Sophie Kinsella Jenis Buku : Novel Remaja (Young Adult) Penerbit : Ember Tahun Terbit : 2015 Jumlah Halaman :  304 halaman Dimensi Buku :  20.83 x 13.97 x 1.52 cm Harga...

Read more

Meraih Kebahagiaan Sejati dengan Jalani …

24-01-2018 Hits:508 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : Jalani Nikmati Syukuri Penulis : Dwi Suwiknyo Jenis Buku : Non Fiksi (Agama dan Spiritual) Penerbit : Noktah (DIVA Press) Tahun Terbit : Cetakan pertama, 2018 Jumlah Halaman :  260 halaman Dimensi Buku : ...

Read more

Review Buku Lincoln in The Bardo - Georg…

16-01-2018 Hits:416 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : Lincoln in The Bardo Penulis : George Saunders Jenis Buku : Novel Penerbit : Random House Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  368 halaman Harga : Rp. 140.000 Edisi Bahasa Inggris Man Booker Prize Winner Available at...

Read more

Review Buku

Review Buku Revan & Reina - Christa …

15-01-2018 Hits:542 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Revan & Reina "Look, don't leave" Penulis : Christa Bella Jenis Buku : Novel Remaja Penerbit : Penerbit Ikon Tahun Terbit : Juni 2016 Jumlah Halaman :  halaman Dimensi Buku :  130 x 190 mm Harga...

Read more

Review Buku Para Pendosa (Truly Madly Gu…

01-01-2018 Hits:449 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Para Pendosa Judul Asli : Truly Madly Guilty Penulis : Liane Moriarty Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2017 Jumlah Halaman :  600 halaman Dimensi Buku :  13,5...

Read more

Review Buku Kisah Hidup A.J. Fikry (The …

27-12-2017 Hits:603 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Kisah Hidup A.J. Fikry Judul Asli : The Storied Life of A.J. Fikry Penulis : Gabrielle Zevin Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Cetakan Pertama 2017 Jumlah Halaman :  280 halaman Dimensi Buku :...

Read more

Cerita Dipidiff

Yuk Yoga dan ngeGym biar "Kencang…

02-02-2018 Hits:235 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Upppsss... apanya ya yang kencang ya? Hahaha. Yah apalagi kalo bukan otot, kulit, lingkar perut, lingkar pinggul, dan bagian-bagian lain yang rentan menggelambir. Maklum lah, habis lahiran wanita pada umumnya...

Read more

Suatu Siang di Wendy's bersama Sahabat

29-01-2018 Hits:263 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Saya masih teringat pada satu lirik lagu yang nge-hits sekali di jamannya, yakni "persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu." Lirik ini banyak disetujui orang-orang karena kebenarannya, dan saya akui...

Read more

J.CO Jatinangor Town Square : Duduk Menu…

11-10-2017 Hits:1144 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Book blogger juga manusia, yang terkadang tidak ada ide menulis, hilang fokus, pikiran lelah, serta kurang nafsu makan (padahal tadi sarapan sebakul 😅). Teman-teman pernah merasakan keadaan yang seperti itu...

Read more