Translate - Language

id Indonesian zh-CN Chinese (Simplified) nl Dutch en English tl Filipino fr French de German it Italian ja Japanese ko Korean ms Malay th Thai

Review Buku The Girl Who Takes an Eye for an Eye - David Lagercrantz

Published: Thursday, 23 November 2017 Written by Dipi

 

Judul : The Girl Who Takes an Eye for an Eye

Penulis : David Lagercrantz

Jenis Buku : Novel

Penerbit : Quercus Publishing

Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman :  368 halaman

Dimensi Buku : 15.50 x 23.50 x 2.90 CM

Harga : Rp. 239.000

Edisi Bahasa Inggris

Continuing STIEG LARSSON's MILLENIUM SERIES

Available at Periplus Setiabudhi Bandung Bookstore

 

"First you find out the truth. Then you take revenge."

 

Sekelumit Tentang Isi

Salander berada di penjara khusus wanita Flodberga yang berada di bawah pengawasan ketat dengan pengamanan tingkat tinggi. Di penjara tersebut tentu saja para narapidana terbagi menjadi beberapa kelompok. Salah satu pemimpin kelompok yang paling berpengaruh adalah Benito, wanita kejam berbadan besar dan bersenjata keris. Salander tidak peduli dengan ricuhnya suasana penjara yang penuh dengan konspirasi, dan penyiksaan tersembunyi. Yang ia perhatikan dengan seksama cuma Faria Kazi, seorang narapidana cantik yang kerap disiksa Benito dan sipir seolah-olah tutup mata dengan kejadian itu. Apa yang dilakukan Salander untuk menyelamatkan Faria Kazi? Apa latar belakang kasus Faria Kazi sehingga ia menjadi target utama penyiksaan Benito? Apa yang terjadi pada penjara yang penuh dengan koruptor setelah Salander memutuskan untuk turun tangan?

Sementara itu Salander juga terus berusaha mengungkap misteri masa kecilnya yang membawa ia pada suatu petunjuk tentang seorang wanita yang memiliki tanda lahir di leher. Ia meminta Blomkvist untuk menyelidiki Leo, yang pada akhirnya membuat Blomkvist menjadi saksi mata kematian pelindung Salander yang paling setia, yaitu Holger Palmgreen dan menyeretnya kepada misteri yang lebih dalam tentang eksperimen anak kembar berpuluh tahun yang lalu. Sebuah project yang telah dinonaktifkan serta nyata-nyata menyalahi hukum. Berhasilkan Blomkvist menguak misteri dan konspirasi tersebut? Lalu apa hubungan itu semua dengan Salander? Siapakah wanita dengan tanda lahir di leher tersebut?

Dengan berbagai setting tempat di Stockholm, kisah Salander dan Blomkvist terasa begitu hidup dan menegangkan. Alur cerita yang mengangkat beberapa hal tentang Islam juga menarik untuk disimak.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

Jelas, saya sangat menyukai disain cover buku The Girl who Takes an Eye for an Eye. Warnanya yang putih, perak, hitam, dan kuning terlihat begitu elegan. Belum lagi ilustrasi siluet tubuh wanita yang menjadi latar belakang disain tulisannya. Buku ini pasti akan terlihat menonjol di display toko buku segera begitu saya melihatnya.

Tiga buah gambar peta Swedia dan Stockholm juga didisain dengan baik. Klasik dan personal. Sentuhan yang pas mengingat katanya ada beberapa tempat di peta manual tersebut yang tidak ada di versi peta biasa. Dengan menggunakan peta itu, kita bisa mencari lokasi dimana Salander dibawa oleh Benito dan komplotannya untuk dibunuh.

 

Tokoh dan Karakter

Selain dua tokoh utama Millenium Series, Lisbeth Salander dan Mikael Blomkvist, ada juga beberapa tokoh lainnya misalnya seperti Faria Kazi, Ahmed, Bashir, Leo, Mannheimer, Dan Brody, Benito, Olsen, Malin, Holger Palmgreen, Greitz, dan Benjamin. Semua tokoh yang terlibat ada deskripsinya di halaman depan buku ini. Bagi pembaca yang tidak begitu suka dengan cerita yang memiliki banyak tokoh, buku ini mungkin akan sedikit membingungkan dan melelahkan. Tapi untuk yang menyukai genre thriller, suspense, misteri, yang banyak melibatkan tokoh, buku ini bisa jadi bacaan yang menarik.

Penggambaran tokoh-tokoh antagonis sangat baik menurut saya. Sepertinya Benito memang sedikit sakit jiwa, dan kakak beradik Faria Kazi jelas-jelas penjahat yang "bodoh", tapi predikat pembunuh berdarah dingin yang sebenarnya justru dipegang oleh tokoh wanita dengan tanda lahir di leher. Kali ini selain Salander dan Blomkvist, detektif dari kepolisian juga menjadi pahlawan dalam cerita.

Karakter Salander yang eksentrik juga terasa di sini. Keputusannya memang sedikit berbeda dibanding orang-orang pada umumnya. Meski begitu, situasi tertangkapnya Salander oleh kawanan Benito tampak sedikit kurang pas mengingat betapa jenius dan hebatnya kemampuan beladiri Salander.

 

Alur dan Latar

Bagian terbaik dari alur cerita The Girl who Takes an Eye for an Eye menurut saya berada pada Part 1 yang kejadian-kejadiannya masih terpusat pada Salander dan situasi di penjara. Alur cerita berikutnya terasa lebih lamban, mungkin disebabkan karena David Lagercrantz membutuhkan landasan logika yang baik agar cerita tentang project anak kembar yang ia munculkan bisa menunjang alur secara sempurna. Alhasil saya sebagai pembaca memang jadi dibawa ke berbagai peristiwa masa lampau yang disertai dengan istilah-istilah kedokteran, genetika, bahkan finansial, dan musik.

Untuk pembaca yang suka pada novel berisi dengan kajian masalah yang mendalam, The Girl Who Takes an Eye for an Eye memenuhi kriteria tersebut. Tapi buku ini jelas kurang sesuai untuk pembaca novel suspense, thriller, dan misteri yang menginginkan alur cerita yang ringan saja.

Beberapa ide cerita memang terasa tidak baru, tapi kepandaian David Lagercrantz dalam mengolah cerita dapat menutupi hal tersebut. 

Deskripsi latar tentu sangat menunjang keberhasilan cerita. Pada kenyataannya saya memang menikmati latar-latar tempat yang disuguhkan . Terutama deskripsi penjara tempat Lisbeth Salander dibui.

It was ridiculous to have to travel for forty minutes in an old Scannia bus without air conditioning, given that the prison was situated so close to the railway line, but there was no nearby train station. It was 5.40 p.m. by the time he band to make out the dull-grey concrete wall of the prison. At seven metres high, ribbed and curved, it looked like a gigantic wave frozen in the middle of terrifying assault in the open plain. The pine forest was a mere line on the distant horizon and there was not a human dwelling in sight. There prison entrance gate was so close to the railway-crossing barriers that there was only room for one car at a time to pass in front of it.

Page 44

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Ya, saya tahu buku Stieg Larsson. Ya, saya ingat Millenium Series dengan tokoh Salander dan Blomkvistnya yang fenomenal. Tapi, begitu membuka buku ini saya seperti diingatkan kembali kepada banyak hal tentang itu. Halaman demi halaman yang bertuliskan pujian bagi buku Millenium Series baik yang ditulis oleh David Lagercrantz maupun Stieg Larsson menyegarkan ingatan saya kembali pada keberhasilan buku-buku tersebut.

Beberapa buku yang saya baca sebelumnya juga meletakkan halaman serupa di bagian depan buku, tapi khusus untuk buku ini, karena ini sebenarnya adalah series yang fenomenal dan cukup banyak jumlahnya jika ditotal dengan buku pertama The Girl With Dragon Tattoo, maka halaman yang berisi pujian ini mengesankan buat saya.

Picture : Pujian-pujian untuk buku lanjutan di letakkan di bagian depan buku

Picture : Pujian-pujian untuk trilogi Millenium Series yang ditulis

Stieg Larsson diletakkan di halaman belakang

 

Kejutan lainnya adalah sebuah peta. Ya, peta kota Stockholm, Swedia, dan beberapa bagian dari kota tersebut yang "katanya" tidak ada di peta formal. Mengisyaratkan adanya misteri kan ya 😁. Petanya sendiri menarik untuk ditelusuri, apalagi saat alur cerita bergulir dan tokoh-tokohnya berlakon di berbagai lokasi, saya jadi membalik ke halaman peta hanya untuk melihat di posisi manakah kejadian Salander hampir dibunuh.

Picture : Peta Swedia dan kota Stockholm

 

Tak cukup dengan itu, saya kemudian menemukan halaman lainnya yang bercerita tentang karakter pada tokoh Millenium Series yang terlibat dalam buku ini. Saya jadi teringat dengan gaya beberapa buku jadul yang dulu saya baca, salah satunya buku-buku detektif Agatha Christy yang kerap memberikan gambaran singkat tentang karakter tokoh di awal cerita atau buku detektif S. Mara Gd yang terkenal dengan tokoh polisi Kosasih dan Gozali. 

Picture : Halaman deskripsi tokoh-tokoh cerita

 

Narasi yang dipilih untuk menjadi prolognya juga membuat saya penasaran. Sebagian karena saya merasa gagal untuk menebak alur cerita, dan sebagian lagi karena kata "dragon" yang disebut-sebut dalam narasi itu sejak awal sudah menyimpan daya tarik sendiri bagi saya.

Holger Palmgren was sitting in his wheelchair at the visitors' room.

"Why is that dragon tattoo so important to you?" he said, "I've always wanted to know?"

"It had to do with my mother."

"With Agneta?"

"I was little, maybe six. I ran away from home."

"There was a woman who used to stop by to see you, wasn't there? It's coming back to me now. She had some kind of birthmark."

"It looked like a burn on her throat."

"As if a dragon had breathed fire on her."

 

Tadinya saya mengira sesuatu yang Indonesia sekali ini hanya disebutkan selintas di dalam buku ini. Tapi ternyata saya salah. Teman-teman bisa membaca sendiri bukunya dan menemukan salah satu senjata tradisional kita menjadi benda yang dibawa-bawa oleh salah satu tokoh antagonis. Dan senjata ini memegang peranan yang cukup menonjol di salah satu bagian dari alur cerita. Bangga tidak ya senjata kita disebut dalam buku seterkenal Millenium Series?

Saya bangga sih, meski berharap penggambaran dan penggunaannya bisa lebih positif daripada yang saat ini ada di buku. Selain tentang keris, ada juga satu kalimat yang menyebutkan tentang Jakarta. Selebihnya teman-teman bisa mencari tahu sendiri sejauh dan sebanyak apa buku The Girl Who Takes an Eye for Eye memasukkan unsur-unsur negara kita ke dalam ceritanya 😊.

Benito had- so it was rumoured - murdered three people with a pair of daggers she called Keris, and there was so much talk about them that they became part of the menacing atmosphere in the unit. Everyone said the worst that could happen was for Benito to pronounce that she had her dagger pointed at you, because then you were sentenced to death, or already as good as dead.

Page 28.

 

Rasanya David Lagercrantz memang telah mengaba-abai pembaca dengan menuliskan paragraf ini. Seolah menyiapkan saya untuk menghadapi alur cerita selanjutnya yang lebih berdarah-darah, seperti petir dan angin yang mengisyaratkan adanya badai di depan. Gara-gara membaca paragraf ini, saya jadi merasa tak sabar menanti apa yang akan terjadi. "Pasti seru," pikir saya.

But so far nothing has happened, not even when Salander had been given permission, despite her high-security classification, to work in the garden and the ceramic workshop. Her ceramic vases were the worst he had ever seen. She was not exactly sociable either. She appeared to be living in a world of her own and ignored any looks or remarks that came her way, including furtive shoving and punches from Benito. Salander shook them off as if they were dust or bird droppings.

The only one she looked out was Faria Kazi. Salander kept a close eye on her and probably understood how serious the situation was. This could lead to some sort of confrontation. Olsen could not be sure. But i was a constant anxiety.

Page 29

 

Permainan emosi ini juga terasa di sana-sini di sepanjang alur cerita, salah satunya di bagian ketika Palmgreen yang sedang sekarat berusaha memberikan petunjuk kepada Blomkvist, yang sayangnya nama yang ia berikan hanya sepenggal. Benar-benar membuat saya gemas 😁.

Palmgreen shook his head and gave a hoarse whisper. It was imposible to understand what he was saying. It was a low, almost soundless croacking, terrible to hear. Blomkvist bit his lip and was about to start breathing more air into the old man when he thought he could make out something he was saying, two words:

"Talk to..."

"Who?Who?" And then with his last reserves of strength Palmgreen wheezed something which sounded like "Hilda from..."

"Hilda from what?"

"To Hilda von..."

It had to be something important, something crucial.

"Von who?Von Essen? Von Rosen?"

Palmgreen gave a desperate look. Then something happened to his eyes. The pupil widened. His jaw dropped open. He looked dramatically worse ...

Page 145

 

Tentu saja bagian paling menakjubkan dari tokoh Salander adalah kejeniusannya di dalam meretas data. Keren. Saya senang David Lagercrantzs dapat membawa emosi dan imajinasi saya dengan baik saat adegan ini berlangsung.

Within second the screen went totally black. she was motionless, her breathing heavy and her fingers hovering over the keyboard, like a pianist preparing for a difficult piece.

The she hammered something out with astonishing speed, rows of white numbers and letters on the black screen. Soon after the computer began to write by itself, spewing a flood of symbols, incomprehensible program codes and commands. he could only understand the occasional English word, Connecting database, Search, Query and Response, and the Bypassing security, which was more than a little alarming. She waited, drumming her fingers on the table impatiently. "Shit!" A window had popped up that read ACCESS DENIED. She tried several more times until at last a ripple went across the screen, disappearing inwards, and then a flash of colour: ACCESS GRANTED. Soon things began to happen which Olsen had not imagined possible. It was as if Salander was drawn in through a wormhole into cyber worlds belonging to another time, a time long before the internet.

Page 40.

 

Meskipun ini kedengarannya sepele, tapi pada kenyataannya saya memang suka memperhatikan nama-nama tokoh dan tempat yang ada di dalam cerita. Pilihan nama di beberapa buku yang saya baca ada beberapa yang kurang cocok di imajinasi saya, kadang karena terasa berlebihan atau justru karena terlalu sederhana jika dibandingkan dengan genre buku atau latar cerita.

Di buku ini saya menjumpai nama-nama tempat yang kedengarannya unik, pasti agak sulit dilafalkan, tapi tetap ear-cathing. Contohnya, Riddarfjarden, yang setelah saya browsing di google ternyata memang nama asli sebuah danau di Swedia yang arti dalam bahasa Inggrisnya adalah The Knight Firth 😊.

 

Sebagai penulis, David Lagercrantz juga tampak mumpuni dengan menggali latar belakang keilmuan di bidang keuangan dan bisnis sehingga bisa memasukkannya ke dalam alur cerita dan menjadi logika tersendiri bagi beberapa bagian alur. Kebetulan salah satu tokoh ceritanya berlatarbelakangkan bisnis dan keuangan. Penjelasan-penjelasannya yang mendasari teori genetika dan psikologi anak kembar juga sangat meyakinkan sehingga menunjang keutuhan cerita dengan baik.

These days our savings are numbers on a computer screen, constantly shifting with movement in the market. And we rely completely on them. But imagine if we start to worry that those quotations not only bounce up and down with the markets, but could also quite simply ne erased, like numbers on a slate, what happens then?" Page 105

We had situasion there in which our investments ceased to exist for a short time. They couldn't be found anywhere in cyberspace and the market reeled. The crona fell by 45 per cent."

Page 105

 

Tak banyak humor yang saya temukan dalam buku ini, kecuali satu dua yang selintas tidak dimaksudkan penulis untuk melucu. Tapi karena pilihan kalimatnya memang menggambarkan dengan jelas karakter tokoh yang sedang dilibatkan, mau tak mau saya tersenyum juga.

"What do you mean?"

"She wont say a word about what happened. She has only two things to communicate, she says."

"And what are they?"

"One, that Benito got what she deserved. And two, that Benito get  what she deserved."

Blomkvist laughed, he had no idea why. He knew the situation was serious.

Page 111.

 

Satu isu sensitif yang saya temukan di dalam buku ini adalah tentang Islam. Dari awal saya sudah sangat penasaran, mau dibawa kemana persepsi pembaca oleh David Lagercrantz terkait topik Islam ini. Dua tokoh "jahat" dalam buku jelas-jelas disebutkan sebagai orang-orang Islam, dan salah satu tokoh yang juga beragama Islam di sini tampaknya menjalin hubungan tanpa pernikahan dengan seorang wanita, yang mana hal tersebut jelas bertentangan dengan ajaran agama.

Tapi rupanya David Lagercrantz memang pandai mengajak pembaca menelaah dari berbagai sudut pandang. Setidaknya saya merasa penggambaran yang ia berikan di dalam bukunya terkait agama Islam dan umat muslim terasa seimbang. Teman-teman bisa membaca sendiri bukunya dan menyimpulkan hal tersebut. Pendapat kita bisa jadi sama, tapi boleh jadi berbeda. Semua akan kembali pada perspektif kita masing-masing.

The brothers call themselves believers, but they have more in common with Benito than with Muslims in general...

Page 155

 

Ada beberapa kalimat di buku ini yang mengesankan saya.

First you find out the truth. Then you take revenge. Page 148

Life often looks its best from a distance. He was yet to understand that. Page 241

One can see into a man's eyes, but not into his heart. Page 285

 

Ini buku thriller yang bestseller, puzzlenya benar-benar berserakan menurut saya. Apalagi ternyata buku ini seperti yang memiliki dua puzzle besar. Hanya ketika mendekati akhir ceritalah saya mendapatkan gambaran kira-kira cerita mau dibawa kemana, meski tetap saja gagal menebak detailnya. Antara Part 1 dan Part 2 terasa sekali pergantian topik puzzlenya, dari yang tadinya fokus di seputar kehidupan Salander, kemudian berubah menjadi ke kehidupan Leo dan Dan yang disertai serangkaian penjelasan berlatar ilmu genetika dan pewarisan gen manusia. Blomkvist mengambil alih peran utama di bagian ini.

Buku ini asyik untuk dinikmati jalan ceritanya, dan buku ini juga berisi. Meski favorit saya sementara ini memang masih pada tiga buku pertama seri Millenium.

 

Siapa David Lagercrantz

David Lagercrantz adalah seorang penulis dan jurnalis. Ia adalah penulis buku I am Zlatan Ibrahimovic dan Fall of Man in Wilmslow yang mendapatkan predikat bestselling. David Lagercrantz melanjutkan Millenium Series setelah Stiegh Larsson meninggal dunia. Bukunya lanjutannya yang pertama berjudul The Girl in the Spider's Web dipublikasikan pada tahun 2015 dan menjadi global bestseller serta akan diangkat pula menjadi sebuah film.

Buku kedua yakni The Girl Who Takes an Eye for an Eye mendapat poin 3,77 di Goodreads, dan 3,5 bintang di Amazon.

 

Rekomendasi

Saya rekomendasikan novel ini untuk pembaca yang menyukai genre misteri, suspense, thriller, dengan teka-teki alur yang cukup susah ditebak detailnya, dan yang disertai pemaparan ilmiah untuk melengkapi logika berpikir pembaca. Pembaca yang memang mengikuti Millenium Series, suka pada tokoh yang eksentrik dan jago meretas data, serta yang mencari adegan action yang memacu adrenalin juga saya rekomendasikan buku ini.

 

Catatan : hanya untuk pembaca usia dewasa. Adegan kekerasan dan seksual (tidak erotis) terdapat dalam novel ini.

 

0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh

Sponsored Post, Job Review, Special Request, Postingan Lomba

Review Buku First They Killed My Father …

17-01-2018 Hits:95 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : First They Killed My Father Penulis : Loung Ung Jenis Buku : Novel based on true story Penerbit : Harper Perennial Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  288 halaman Dimensi Buku :  20.32...

Read more

Review Buku Lincoln in The Bardo - Georg…

16-01-2018 Hits:101 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : Lincoln in The Bardo Penulis : George Saunders Jenis Buku : Novel Penerbit : Random House Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman :  368 halaman Harga : Rp. 140.000 Edisi Bahasa Inggris Man Booker Prize Winner Available at...

Read more

Review Buku Rumah Tanpa Jendela - Asma N…

12-01-2018 Hits:189 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : Rumah Tanpa Jendela Penulis : Asma Nadia Jenis Buku : Novel Penerbit : Republika Jumlah Halaman :  221 halaman Dimensi Buku : 13.5 cm x 20.5 cm Harga : Rp. 57.000     Sekelumit Tentang Isi Rara ingin...

Read more

Review Buku

Review Buku Revan & Reina - Christa …

15-01-2018 Hits:67 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Revan & Reina "Look, don't leave" Penulis : Christa Bella Jenis Buku : Novel Remaja Penerbit : Penerbit Ikon Tahun Terbit : Juni 2016 Jumlah Halaman :  halaman Dimensi Buku :  130 x 190 mm Harga...

Read more

Review Buku Para Pendosa (Truly Madly Gu…

01-01-2018 Hits:151 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Para Pendosa Judul Asli : Truly Madly Guilty Penulis : Liane Moriarty Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2017 Jumlah Halaman :  600 halaman Dimensi Buku :  13,5...

Read more

Review Buku Kisah Hidup A.J. Fikry (The …

27-12-2017 Hits:303 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Kisah Hidup A.J. Fikry Judul Asli : The Storied Life of A.J. Fikry Penulis : Gabrielle Zevin Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Cetakan Pertama 2017 Jumlah Halaman :  280 halaman Dimensi Buku :...

Read more

Cerita Dipidiff

J.CO Jatinangor Town Square : Duduk Menu…

11-10-2017 Hits:846 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Book blogger juga manusia, yang terkadang tidak ada ide menulis, hilang fokus, pikiran lelah, serta kurang nafsu makan (padahal tadi sarapan sebakul 😅). Teman-teman pernah merasakan keadaan yang seperti itu...

Read more

Giggle Box Jatinangor - Alternatif Tempa…

11-10-2017 Hits:993 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Dulu sekali, tahun lalu tepatnya, saya pernah menulis tentang J.Co di Jatos. Waktu itu saya sedang hamil moonlight dan saat berkunjung ke sana saya cukup antusias untuk datang kembali mengingat...

Read more

Sudut Buku di Transmart Carrefour Cipadu…

08-10-2017 Hits:1066 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Mungkin tidak semua orang seperti saya, yang setiap berkunjung ke mall atau supermarket pasti langsung mencari book corner. Tentu saya paling bahagia kalau di sana ada toko bukunya. Tapi jika...

Read more